Reincarnated Into Weak Noble

Reincarnated Into Weak Noble
Chapter 40. Rei Vezalius VS Arthur Midnight part 2



Arthur mengigit bibirnya, dia merasakan rasa keputusaan yang mendalam bahkan rasanya seperti ribuan jarum menusuk tubuhnya.


Bagaimana tidak sosok di depannya mengatakan tidak bisa menggunakan pedang. Itu artinya dia bukan pengguna pedang, tapi dia saja kesusahan melawan dia yang tidak pintar menggunakan pedang apalagi melawan Rei yang sekarang serius dengan petir miliknya.


Dia pasti akan kalah.


“Ada apa? Kamu takut?”


Dengan petir yang menyelimuti tubuhnya Rei menatap tajam Arthur dengan dingin seolah menatap sampah. Arthur meneguk ludah dia menyadari kemampuan yang bukan levelnya.


“Hahaha sudah kuduga, dia pasti akan mati.”


“Itu benar. Sehebat-hebatnya dia. Dia tetap saja hanyalah sampah bagi Tuan Rei.”


“Inilah yang didapat jika berani melakukan tindakan pembunuhan di sini, dasar bangsawan gagal!”


“Menjijikan.”


“Orang seperti dia lebih baik lenyap, dasar pengganggu pemandangan!”


“Benar, itu benar… tuan Rei tolong bunuh dia.”


“Bunuh, bunuh, bunuh, bunuh.”


Melihat ketidak berdayaan Arthur semua murid berakata demikian. Ini membuat Arthur secara alami menundukan kepala, lagi-lagi dia mengingat kejadian tidak mengenakan di kehidupan sebelumnya.


Dia seharusnya paling tahu, dimanapun dia berada, tidak ada tempat yang mau menerimanya.


Tapi….


Ketika dia terhanyut akan pemikiran negatif, suara seorang gadis terdengar sangat jelas, meskipun dia gemetaran dan ketakutan, tapi dia mengatakan satu kalimat yang berhasil membuat pikiran Arthur berubah. Ini hanyalah satu kalimat simpel, tapi sangat bermakna.


“J-jangan kalah, bodoh! Kalau semisal kamu kalah dan mati. Aku pasti akan membunuhmu hingga ratusan kali! Jadi jangan mati Arthur!”


Teriakan ini berasal dari Fiona, dia satu-satunya orang yang mau memberikan pertolongan demi Arthur. Ucapan itu membuat sebagian siswa terdiam serta hening, bingung akan kelakuan dari Fiona.


Bahkan seorang paladian- Vincent yang sedari tadi mengharapkan kematian Arthur secepatnya kini membuka mata lebar. Dia tidak percaya sang putri yang harus ia lindungi berani mengatakan hal tersebut.


Semua terkejut, namun Arthur menerima perkataan itu dengan respon yang baik. Wajahnya yang penuh keputusaan perlahan berubah menjadi hidup dan tatapannya seolah memiliki keyakinan untuk menang.


Kalau aku sudah mati. Mana bisa kamu membunuhku? Hahaha.., tapi terima kasih Fiona, berkat ucapanmu aku menjadi lebih baik. Berpikir demikian Arthur membuat senyuman.


Rasa percaya Arthur perlahan kembali dia menaikan tubuhnya dan menatap Rei dengan tatapan berbeda dengan sebelumnya.


Menyadari bahwa musuhnya belum menyerah membuat Rei semakin emosi.


“Sepertinya kamu adalah orang bodoh. Baiklah akan kubunuh kau sekarang juga!”


Rei mengeluarkan kekuatan petirnya dengan gesit, mengirimkan kilat berbahaya menuju Arthur. Serangan tersebut sempurna, dapat menghanguskan siapapun yang terkena petir tersebut.


Namun Arthur terlihat diam saja, seolah petir itu bukan masalah. Perlahan pedang miliknya berubah warna menjadi hitam.


< Dark Sword Technique: First style: Dark Slash >


Kegelapan menerjang saling beradu dengan petir tersebut, menciptakan kepulan asap. semua orang baik itu Rei dan Vincent membuka mata lebar karena tidak percaya akan teknik dari Arthur.


‘Sudah kuduga kemampuan itu adalah…’ sambil memikirkan hal tersebut Vincent mendecakkan bibirnya.


Berkat kepulan asap tersebut Rei tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi. Kebingungannya berjalan beberapa detik. Dan kemudian secara mengejutkan Arthur muncul dari balik asap kemudian memberikan serangan tebasan seperti sebelumnya.


‘orang ini …!’


Tidak percaya akan apa yang terjadi, Rei tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan petir yang menyambar tubuhnya sendiri agar terhindar dari Arthur yang menyerang.


Terkena petir, Arthur mental beberapa meter, sedangkan Rei sendiri tampak aman karena pada dasarnya tubuh dia tahan dengan petir.


“Cih! Dia sekilas membuatku panik…” gumam Rei. Sekilas saat melihat Arthur dibalik kepulan asap, Rei merasakan sesuatu yang lain dari tatapannya, itu adalah tatapan dari pembunuh.


Sekali lagi Rei melancarkan petir kuning miliknya ke Arthur, secara keberuntungan dia bisa menghindar. Namun, petir yang digerakkan dengan keahlian Rei membuatnya kesulitan untuk mendekat dan mengenai target. Kilatan petir yang cepat dan kuat menghalangi setiap langkah maju Arthur, menyebabkan dirinya terdesak dan kewalahan.


Rei yang merasa percaya diri dengan keunggulan kekuatannya, terus menerus menggempur Arthur dengan serangan petir yang menakutkan. Setiap kali Arthur hampir mendapatkan kesempatan untuk menyerang, dia harus menghindari serangan balasan Rei yang berbahaya.


Saat pertarungan berlangsung, Arthur mulai merasa putus asa dan kelelahan. Keterampilan pedangnya menjadi kurang efektif karena dia tidak dapat mendekati musuh dengan cukup dekat untuk melancarkan serangan. Dalam hati, Arthur merenung tentang apa yang sebenarnya membuatnya begitu terusik dan hampir putus asa di hadapan tantangan Rei.


Kemudian, di tengah-tengah pertarungan yang panas, dia tiba-tiba memusatkan perhatiannya pada dirinya sendiri. Dia ingat pelatihan dan nasihat dari Tamus, yang mengajarkannya bahwa seorang pengguna pedang harus menguasai keseimbangan dalam tubuh dan pikiran. Dengan tenang, Arthur mencoba mengendalikan napasnya dan menenangkan pikirannya.


Saat itulah, dia menyadari kelebihan dan kelemahan Rei dalam menggunakan petir. Meskipun petirnya kuat dan cepat, Rei memerlukan waktu untuk mengisi ulang mana miliknya setelah serangan beruntun. Dia menyadari bahwa ada celah dalam serangan Rei yang bisa dimanfaatkannya.


Dengan penuh keyakinan. Dia terdiam untuk beberapa saat dan tentu melihat musuh yang diam adalah celah yang sangat bagus, tanpa mengenal apa tujuan dari Arthur. Rei mengeluarkan serangan petir berikutnya, Arthur dengan cekatan menghindarinya dan berlari cepat ke arah Rei.


Setelah mengeluarkan sihir pasti ada jeda beberapa detik. Itulah yang Arthur incar, dengan gerakan yang sangat bagus, Arthur berusaha menebaskan pedang miliknya.


Tapi apa akan berjalan selancar itu? Tentu tidak! Jeda waktu bagi top kelas seperti Rei itu hanya masalah yang bisa dia labuhi.


“Menyerang saat jeda waktu? Itu adalah ide yang bagus dan aku beri pujian kamu menyadari akan kelemahanku, tapi..”


Duar


Petir dengan kemampuan diluar akal manusia menyerang Arthur membuat dia mental beberapa meter.


“Kalau masalah jeda waktu, aku bisa melakukannya dengan mengorbankan langsung sebagian banyak mana. Dengan begitu masalah jeda waktu akan lenyap.”


“Aku akui, dari segi kekuatan kamu mungkin selevel kelas B, tapi keahlian dan cara berpikir tenang itulah kehebatanmu…”


Mengatakan segalanya tentang Arthur Rei memejamkan mata lalu membukanya dan menghela napas. Dia merasa sangat rugi akan membunuh potensi seperti Arthur.


“Jujur membunuhmu adalah hal yang merugikan, tapi… sebuah fakta bahwa kamu adalah sosok yang membahayakan.”


Berkata demikian Rei memusatkan jari telunjuknya untuk membentuk cahaya kecil yang berupa petir. Itu merupakan serangan petir yang dikumpulkan dalam satu titik dan apabila dilepaskan akan menghasilkan daya hancur yang sangat kuat, bahkan mungkin bisa menghancurkan akademi ini sendiri.


Menyadari potensi dari sihir milik musuh Arthur mencoba untuk berdiri tapi percuma. Dia sudah pada batasnya.


Cahaya kuning makin berkumpul di jari Rei dan beberapa saat lagi akan dapat diluncurkan. Kematian Arthur makin dekat.


“H-Hentikan!”


Fiona sekali lagi berteriak dengan wajah ketakutan dan berkeringat. Meskipun berusaha tegar, tapi dia tidak bisa menyembunyikan tubuh yang gemetaran.


Melirik dengan dingin rei berkata.


“Apa maksud anda?”


“A-aku berani taruhan bahwa dia adalah o-orang yang dapat dipercaya. Jadi tolong hentikan ini semua!”


Normalnya ucapan seperti putri adalah hal mutlak. Tapi karena Fiona sendiri adalah orang yang dianggap sebagai pembawa ketidak beruntungan tentu ucapannya tidak didengar dengan baik. Dia sendiri juga dibenci oleh kerajaan nya sendiri. Sungguh gadis yang menyedihkan.


“Atas hal apa yang membuat anda berpikir demikian? Kenapa anda membela keluarga yang seharusnya musuh? Apakah anda memiliki martabat sebagai bangsawan!? Mereka adalah musuh!” tanya Rei dengan sangat tegas.


Fiona terdiam dan menundukan kepala. “I-itu…”


“Aku yakin anda tidak tahu. Sungguh putri yang tidak berguna, di sini ada Pangeran tidak berguna dan disini  pun ada, sungguh nasib kami sangat buruk.”


Perlahan tapi pasti dengan pose menunduk, Fiona meneteskan air mata dengan deras.


“Cukup! Apa yang kamu katakan sudah keterlaluan!” Arthur berkomentar dengan penuh amarah.


Rei mengerutkan kening. “Keterlaluan? Apa yang kamu katakan? Bagiku menyingkirkan sampah yang membawa bahaya akademi adalah kewajiban.”


“Apakah Fiona termasuk yang ingin kamu hilangkan?”


“Ya… mari hentikan atas ucapan ini. Dan matilah!”


Perlahan cahaya kuning yang berada terkumpul di jarinya mengecil dan…


Duar


Terciptalah sihir petir yang luar biasa kuat dengan skala yang sangat lebar. Siapapun yang mengenai itu pasti mati.


 “Arthur!”


Dan menyadari hal tersebut Fiona secara alami berlari ke arah Arthur walaupun dia tidak bisa melakukan apapun, tapi dia ingin melindunginya. Dia sedari tadi menahan rasa amarah ketika melihat duel yang sebelah mata ini.


“Bodoh pergilah!”


“TIdak mau! Bukankah sudah kubilang jangan mati!”


Fiona berdiri di depan Arthur dan merentangkan kedua tangannya seperti ingin melindunginya.


“Cih, dasar bodoh! Woi, Rei. Hentikan sihir itu, Fiona akan-“


“Dia pasti menjadi korban… tapi siapa peduli. Dia juga adalah ancaman akademi ini, jadi mati adalah hal yang layak.”


Arthur berdesis kesal, apapun yang dikatakan tampak percuma. Petir itu semakin dekat dan tentu Arthur tidak akan membiarkan gadis itu terluka.


Secara naluri dia berlari dan memeluk tubuh gadis tersebut, melindunginya dari serangan petir yang sangat kuat tersebut.


Mereka berdua menutup mata, petir semakin dekat dengan jarak sangat tipis.


Walaupun tidak mau mengakui ini, tapi mereka dapat mengatakan bahwa setelah ini mereka pasti akan mati.


Namun tampaknya takdir berkata lain. Sosok Vincent yang merupakan paladin berlari dengan kecepatan cahaya, mengayunkan pedang dengan elegan, membuat serangan dari Rei berbelok ke arah langit.


Rei berdesis, marah karena gagal melakukan eksekusi.


“Apa yang kamu rencanakan Rei Vezalius? Tanya Vincent dengan nada keras.


Mendengar kegaduhan kedua mata Arthur dan Fiona terbuka lebar, mereka kini menyadari bahwasannya mereka telah diselamatkan oleh Sang paladin itu.