
Semua kelas tampak tidak percaya dengan apa yang baru mereka lihat, seorang murid baru tiba-tiba mengajak bertarung dengan Leon Reinhard, guru yang terkenal mengerikan itu.
Arthur sendiri tentu tidak selevel, bahkan kemampuannya sekarang mungkin setara dengan murid kelas C tentu dia tidak punya kesempatan menang.
“D-dasar bodoh kenapa kamu mengajak bertarung seorang Guru?”
Fiona adalah yang paling terkejut, dia membisikan hal tersebut, mencoba agar Arthur tidak melakukan tindakan bodoh seperti barusan.
Tapi, faktanya dia menyerang Fiona yang notabenanya seorang putri, dia sendiri juga adalah muridnya tentu tidak ada Guru normal yang akan melakukan hal tersebut.
“TIdak, apa benar orang seperti dia Guru? Dia hampir membunuhmu, Fiona.”
Tatapan Arthur menatap tajam ke arah Leon, seperti menatap seorang yang patut diwaspadai.
“Jaga ucapanmu, dasar bodoh!” Fiona menjitak kepala Arthur hingga dia mengaduh kesakitan.
Arthur memegang kepalanya bekas pukulan tersebut, sedangkan Leon sendiri sedikit tersenyum.
“Apanya yang lucu? Apa kamu kecewa tidak bisa membunuh muridmu, Guru sadis?”
Ini pertama kalinya ada yang berani dengan Leon Reinhard, teman satu kelas Arthur sendiri menggelengkan kepala, berpikir bahwa dia adalah orang udik yang tidak tahu sosok di depannya.
“Murid? Hahaha, sangat disayangkan kelas F tidak layak disebut dengan murid, kalian hanyalah sampah tidak berguna, keberadaan kalian sendiri tidak diinginkan, kalian tidak punya tempat dimanapun.”
Perkataan tersebut memberikan luka paling dalam bagi semua orang disini, semua murdi secara alami menundukan kepala, menunjukan bahwa perkataan tersebut adalah kenyataan terutama Arthur dia paling sensitif jika membahas perihal tersebut.
“Tidak punya tempat? Itu bukanlah hal yang patut anda putuskan, meskipun kami gagal, tapi setidaknya kami tidak gagal sebagai manusia.”
Seperti sihir perkataan itu memberikan suatu keberanian untuk para kelas F mereka membuka mata lebar tidak menyangka akan ucapan tersebut.
“Baiklah tampaknya kamu sangat ingin didisiplinkan, Arthur Midnight.” Dengan senyuman dingin Leon berkata demikian.
“Kalian keluarlah untuk sementara waktu, aku akan membuat Midnight ini tahu akan tempatnya.”
Dengan perasaan berat hati semua orang berdiri dan pergi dari kelasnya, meinggalkan Arthur, Fiona, dan Leon.
“Kenapa kamu tidak pergi Nona Fiona?” tanya Leon sambil membenarkan posisi kacamata.
“Pak Leon, bisakah hentikan ini? Arthur tidak memiliki niat jahat.”
“Apakah kamu tidak dengar? Aku memberi perintah untuk keluar!”
Dengan bentakan yang keras, Fiona gemetaran dan menundukan kepala. Dia secara perlahan menatap Arthur dengan wajah sedih serta khawatir.
“Tidak apa-apa. Tidak akan terjadi hal buruk.”
Fiona tersenyum hangat, dia percaya dengannya bahwa Arthur tidak akan mengalami hal buruk.
“Berjanjilah untuk tidak melakukan hal yang sembrono.”
“Ya, aku tahu.”
“Kalau begitu aku akan pergi dulu.”
Fiona pergi meninggalkan Arthur sendiri di kelas. Kini hanya tersisa Arthur serta Leon di kelas, hawa dingin dan berat mengitari ruangan tersebut.
Dua orang itu saling menatap dengan tajam seperti melihat musuh bebuyutan.
“Pak Leon apakah kita tidak pergi ke tempat lain, jika di sini-“
Sebelum Arthur selesai berbicara dua orang tersebut berpindah di dimensi yang dipenuhi oleh bongkahan es, tidak ada keberadaan orang di sini hanya ada kekosongan dan hawa dingin yang menyerang kulit.
Arthur membuka mata lebar, dia tentu kebingungan dengan apa yang terjadi, kenapa mereka bisa pindah tempat dengan secepat ini? Dia tentu tidak tahu jawabannya.
“Ini adalah kemampuan khusus para keluarga Reinhard, kemampuan untuk menciptakan ruangan khusus yang dapat digunakan untuk bertarung.” Seolah menyadari kebingungan Leon menjelaskan dan setelah itu.
Ini artinya tempat ini adalah sebuah dimensi yang tidak berada di Bumi. Dan ini berarti tempat ini memiliki kebesasan sesuai keinginan pengguna, jila berada di area ini sama saja dengan berada di dunianya lawan. Tidak ada kesempatan menang.
Sebuah pedang es besar menerjang Arthur, membuatnya terkejut dan hampir saja memberikan luka fatal, beruntung dia melompat sehingga terhindar.
Serangan selanjutnya terjadi kali ini Arthur menebaskan pedang miliknya membuat pedang es tersebut hancur menjadi butiran es.
Namun tentu itu bukan segalannya, sekali lagi pedang es itu menerjang menancap ke arah pundak Arthur.
Darah berceceran di pundak tersebut dan Arthur mengigit bibir, ia dapat merasakan rasa sakit yang luar biasa. Pergerakannya terhenti karena luka tersebut.
“Ini belum berakhir.”
Leon berpindah tempat dengan sangat cepat, berada di belakang Arthur dan memberikan tendangan mematikan, membuat dia mental untuk beberapa meter.
Arthur terhempas dia terkana beberapa bongkahan es di tempat tersebut dan pada akhirnya dia terkunci dan terbentur di dinding penuh akan es.
Dia dapat merasakan hawa dingin yang mengigil, bahkan berhasil membuat tulangnya mati rasa.
“Lemah, sangat lemah. Tidak heran kalian para kelas F dijauhi.”
Leon berjalan dengan tenang dan menghampiri Arthur.
“Berisik!”
Arthur memaksakan diri untuk keluar dari bongkahan es dan memberikan tebasan kegelapan ke arah Leon.
Tentu serangan selevel itu tidak berguna bagi Leon, dia dengan mudahnya melompat menghindari serangan milik Arthur.
“Hah… hah… hah…”
Napas Arthur telah menjadi berantakan, dia baru saja bertarung tidak kurang dan lebih dari satu menit, tapi sudah kehabisan tenaga.
Ini membuktikan bahwa dia dan Leon memiliki kemampuan yang sangat beda level. Jika dibandingkan mungkin seperti bumi dan langit. Setidaknya untuk sekarang.
“Apa ini semua yang kamu punya Arthur Midnight, aku bahkan belum memberikan 15 persen dari kekuatanku.”
Ini adalah hal wajar tidak ada alasan bagi seorang Guru serius melawan muridnya apalagi jika dia adalah orang dari kelas F, seharusnya akan sangat mudah bagi mereka untuk membunuh, tapi Leon tidak melakukannya. Dia memiliki alasan tertentu.
“sebenarnya untuk apa kamu berada di sini?”
Slash
Satu pisau kecil yang terbuat dari es menancap di bahu Arthur yang mencoba untuk bangun. Darah segar dengan cepat mengalir, dia kembali di posisi jongkoknya.
“Alasan aku di sini itu bukan urusanmu.”
“Argh!”
Sekali lagi Arhtur menerima pisau kecil dari es di bahu kirinya, saat dia menderita dan berjerit kesakitan. Leon hanya menatap tajam saja, tanpa memberikan rasa ampun sama sekali.
“Apakah kamu punya telinga? Aku bertanya kenapa kamu bisa ke sini dasar tikus penyusup.”
Arthur masih mengatur napas karena merasakan rasa Lelah dan sakit yang menjular di seluruh tubuhnya darah sudah tidak bisa ditahan lagi, seperti sungai terus mengalir di kakinya.
Arthur dan Leon diposisi ini untuk waktu sekitar satu menit hingga akhirnya Leon menghela napas.
“Baiklah… ini pertanyaan terakhir, kamu terlihat cukup dekat dengan Fiona rosemary, apa kamu punya niat buruk untuk dia?”
“Jangan bercanda! Jelas yang ingin membunuh adalah kamu! Apa alasan aku-“
Slah
“Argh!”
Sakli lagi pisau itu tertancap di pundak Arthur membuat dia berteriak kesakitan.
“Aku tidak menyuruhmu untuk berteriak… jawab kalimat itu dengan nada yang normal dan masalah yang barusan aku memang sengaja. Lagipula dia adalah pembawa ketidak beruntungan. Saat kabar dia diculik aku harap dia mati.”
Arthur mengigit bibirnya, emosi akan ucapan tersebut.
“Dia adalah orang penting di negara ini dan kamu menganggapnya seperti itu, apa kamu beneran manusia?”
“Apa kamu bersimpati karena gadis itu memiliki nasib yang sama denganmu.”
“… Kamu benar karena dia adalah orang yang mirip denganku makannya aku ingin dia setidaknya memiliki tempat untuk dirinya. Aku tidak ingin Fiona menjadi pusat kebencian sepertiku.”
“Menurut sudut pandangku kamu memang layak untuk mati, Arthur Midnight kamu penderita Umbral Plague, Musuh kerajaan, dan adalah orang gagal. Tidak ada lagi alasan untuk membuatmu hidup.”
Arthur hanya bisa tersenyum karena ucapan itu semua adalah kebenaran.
“Kamu sangat benar, karena itulah jika ingin membunuh. Bunuhlah aku jangan sentuh Fiona lagi.”
{WOi, Bocah! Aku sudah menahan diri untuk tidak ikut campur, tapi bodoh ada batasnya! Kenapa kamu-}
“Diamlah Shutaru!”
Leon membuka mata lebar baginya Arthur seperti berbicara sendiri. Tentu dia tidak bisa mendengar ucapan dari Shuataru yang bergema di telinganya.
“Lupakan tentang jeritan tadi, mari kembali ke topik utama. Pak Leon reinhard, tolong bunuh lah aku.”
Leon memegang dagunya tampak memikirkan sesuatu.
{Bocah. Betapa bodohnya kamu. Apa kamu lupa dengan misi pewaris-}
‘Diamlah Shutaru. Aku tahu, aku tidak sebodoh itu. Ini adalah jebakan, jika dia mendekatiku dengan lebih dekat maka akan kuahiri dia dengan serangan Teknik pertama.’
Arthur tentu tidak berencana mati, seperti yang dikatan olehnya. Dia memiliki rencana, namun tampaknya dia lupa dengan siapa sedang berhadapan.
Aura dingin mengelilingi tempat tersebut dan dengan cepat membekukan kaki serta tangan Arthur, ini adalah kekuatan milik Leon. Tentu dengan ini dia tidak bisa menyerang, Leon sadar akan rencana Arthur.
{Lihat! Betapa bodohnya kamu!}
‘Cih, gagal.’
{Kamu yang bodoh karena berpikir cara simpel seperti itu akan berguna!}
{Sudahlah berikan tubuhmu kepadaku. Dan akan kuakhiri ini semua}
Arthur tidak menjawab dan memutuskan untuk diam. Dia sangat tahu apa yang akan dilakukan oleh Shutaru jika mengambil tubuhnya. Yang pertama Leon akan mati dan pasti Shutaru mencari keberadaan Fiona untuk membunuhnya maka dari itu dia memutuskan untuk diam.
{Ini bukan saatnya memikirkan hal tersebut! Dasar Bocah!}
Sebagai makhluk yang bersarang di tubuhnya tentu Shuataru paham akan pemikiran Arthur.
“Akan kuberikan hal yang kamu inginkan Arthut Midnight.”
Leon menciptakan pedang es di tangan kanannya dan bersiap untuk menusuk di jantungnya.
{Ini gawat cepat tukar tubuh!}
‘Tidak apa-apa.’
Tanpa adanya ketakutan Arthur menutup kedua bola matanya.
“Tampaknya kamu sudah siap mati. Apa ada kalimat terakhir?”
“…….”
“Baiklah… mati.”
{Bodoh! Lakukan sesuatu.}
Pedang es itu hampir tertusuk serta kena di jantung Arthur, jarak sekitar beberapa CM, tapi Leon menghentikannya.
Arthur membuka mata lebar, bingung karena tindakan ini. Sedangkan Leon sendiri tertawa kecil.
“Selamat kamu lulus.”
Satu kalimat yang berhasil mengejutkan Shuataru maupun Arthur.