Reincarnated Into Weak Noble

Reincarnated Into Weak Noble
Chapter 39. Rei Vezalius vs Arthur Midnight



...Ilustrasi The Wacthers...


...----------------...


...



—Rei Vezalius...


...



—Olivia Charlotte...



—Elisa Isabella



—Maria Nightray


...----------------...


Seorang pria dengan rambut pirang dan mata kebiruan bagaikan langit tampak sedang berjalan menuju akademi Reinhard, dia menggunakan armor ringan di tubuhnya dan membawa great sword, sebuah pedang besar di pundaknya. Dia memiliki pesona yang dapat menarik perhatian semua orang dengan tubuh gagahnya, orang tersebut tidak lain adalah seorang paladin.


Atau lebih dikenal dengan nama Vincent. Dia berencana datang ke akademi Reinhard untuk mengawasi segala tindakan dari Arthur karena dia masih belum percaya seratus persen dengan remaja itu. Terlebih dia sekarang bersama dengan Tuan yang harus dia lindungi.


Tanpa mengetahui apa yang baru saja terjadi di akademi tersebut. Dia melangkahkan kaki.


“Hah, saya tidak boleh masuk begitu saja?”


Ketika sampai di akademi, Vincent dihalang oleh dua orang penjaga di sana. Dia mengerutkan kening karena kebingungan.


“Iya. Saya mohon maaf Tuan paladin yang terhormat, tapi di dalam akademi baru saja terjadi kegaduhan.”


“Apa itu?”


Kedua penjaga tersebut saling menatap seolah berpikir apakah ini layak untuk diceritakan dan pada akhirnya mereka saling menganggukan kepala. Tanda kesepakatan.


“Salah satu keluarga bangsawan. Liliana Silveria terbunuh pada pagi hari ini.”


Mendengar kabar mengejutkan dari penjaga Vincent membuka mata lebar, dia tidak menyangka keluarga bangsawan seperti Silveria terbunuh begitu saja.


“Apakah pelaku sudah ditemukan?”


Kedua penjaga itu menggelengkan kepala. “Belum, tapi ada satu siswa yang dicurigai sebagai pelaku.”


“Siapa orang itu?” tanya Vincent dengan pandangan serius seolah siap melenyapkan sosok yang dicurigai tersebut.


Terdapat jeda sekitar beberapa detik sebelum penjaga menjawab.


“Arthur Midnight.”


Mendengar jawaban tersebut membuat Vincent tersenyum, dengan ini jika dia melakukan eksekusi maka dia tidak akan bersalah karena memiliki alasan.


“Tapi anda tidak perlu khawatir. Karena Rei Vezalius sudah melakukan duel dengannya.”


“Duel?”


Mendengar itu, Vincent memiringkan kepala seolah kebingungan.


“Ya sebuah duel? Dengan ini si Midnight itu pasti tidak akan menang, bahkan kemungkinan dia akan mati,” jawab sang penjaga dengan nada yang dingin. Menakan bahwa Arthur adalah serangga yang layak mati.


“Cih! Anak itu merebut peranku..” gumam Vincent sembari mendecakan lidah.


“Apa anda mengatakan sesuatu?”


“Tidak! Biarkan aku masuk. Aku tidak akan membiarkan anak itu mengambil mangsaku.”


Vincent terlihat sangat tertarik untuk membunuh Arthur dia tidak akan membiarkan siapapun merebutnya karena itulah dia memaksa untuk menerobos.


“A-ah.. jangan Tuan Paladin.”


Tapi dua penjaga kelas rendah seperti mereka tentu tidak bisa menghalanginya, seperti bukan apa-apa dia masuk dengan sangat santai.


...***...


Di halaman sekolah yang lebar terlihat banyak siswa akademi yang berkumpul. Mereka sangat menantikan akan duel ini. Pada dasarnya sistem duel adalah pertarungan hidup atau mati hampir sangat jarang hal seperti ini terjadi.


Dan kali ini duel dilakukan siapapun pasti akan gembira, terutama orang yang berduel adalah Rei Vezalius siswa paling terkuat di akademi ini, sedangkan lawannya adalah Arthur orang paling tidak disukai di kerajaan ini.


Selain ingin melihat pertarungan dan kehebatan dari Rei para murid juga berharap atas kematian Arthur.


“Kya~ Tuan Rei.”


“Betapa indahnya anda. Sungguh menyilaukan!”


Para gadis di sana tampak kehebohan atas kehadiran Rei, melihat sang top akademi adalah hal yang sangat jarang. Siapapun pasti sangat gembira.


Ya siapapun kecuali Fiona. Di kerumunan orang dia terlihat mengepalkan tangan dan menggigit bibir.


Rei tersenyum dan membalas sapaan dari semua gadis dengan memberikan lambaian tangan. Hanya lambaian tangan saja sudah berhasil membuat sebagian murid perempuan terpesona dan pingsan.


“Ah, aku tidak kuat~”


“Dia terlalu keren.”


Itulah perkataan terakhir dari para gadis sebelum mereka pingsan akan pesona dari Rei.


“Kamu sangat terkenal ya.”


Arthur berkata, tidak bisa menyembunyikan tatapan dingin dan suaranya yang sangat tidak suka akan situasi ini.


Menjawab pertanyaan dari Arthur, Rei hanya tersenyum hangat, tapi tidak terlihat ramah bagi Arthur. Baginya itu seperti senyuman penghinaan.


“…Aku tidak peduli. Yang lebih penting ayo cepat mulai.”


Senyuman hangat dari Rei perlahan memudar dia kini menatap Arthur dengan sangat serius dan memberikan tekanan yang sangat besar.


“Kamu terburu-buru sekali. Yah kamu tidak punya tempat disini jadi kamu mungkin ingin mati secepatnya.”


Seperti yang Rei katakan. Di sini bukan tempat untuk Arthur, ini semua terbukti dengan suara ejekan dan kebencian yang dilontarkan kepada Arthur.


“Matilah Midnight rendahan!”


“Kuharap dia mati kali ini.”


“Bukan hanya pangeran gagal dia juga menderita penyakit itu, benar-benar menjijikan.”


“Tuan Rei, kumohon bunuh makhluk menjijikan ini.”


“Bunuh, bunuh, bunuh.”


Seperti sebuah sorakan, semua yang menonton mengharapkan atas kematian Arthur, kecuali Fiona yang hanya menatap dengan kesedihan. Dia meneteskan air mata dan menundukan kepala, dia sangat sedih melihat sosok yang pernah menyelamatkannya kini menjadi bahan ejekan.


Menyadari Fiona masih berada di sisinya meskipun dalam situasi seperti ini membuat bibir Arthur terangkat.


Aku bersyukur setidaknya kamu masih ada disisiku.


“Kenapa kamu malah tersenyum? Dasar orang aneh.”


Menyadari Arthur yang tiba-tiba tersenyum membuat heran Rei. Tapi pada akhirnya dia tidak peduli dan tersenyum.


“Baiklah mari kita mulai duelnya… Aku Rei Vezalius dengan ini menyatakan bahwa saya siap akan pertarungan.”


“Aku Arthur Midnight dengan ini menyatakan bahwa saya siap akan pertarungan.”


Swoosh


Rei memulai serangannya. Seolah udara di sekitar membeku, Arthur merasakan nafsu membunuh yang mencekat mendekatinya. Jarak di antara mereka sekitar sepuluh meter, namun dengan kecepatannya Rei dapat mendekati hanya dalam satu tarikan napas.


Ini membuktikan perbedaan kekuatan antara mereka. Meskipun begitu secara keajaiban Arthur dapat menghindari ayunan pedang berkecepatan gila tersebut dengan jarak setipis kertas.


“He~ Lumayan.”


Menyadari dapat menghindari serangannya, Rei tersenyum. Meskipun itu hanyalah keberuntungan, tapi adalah hal yang sangat hebat.


{Bocah! Anak ini bahaya.}


‘Ya aku juga tahu.’


Cring


Sekali lagi Rei menerjang dan berada di depan Arthur seolah tidak membiarkan kesempatan untuk berpikir dia menebaskan pedang secara vertikal. Saat itu, meskipun sedikit telat dan posisi kurang bagus, Arthur dapat menahan tebasan itu walaupun dia terlempar beberapa langkah.


Melihat pertarungan ini, para murid yang menganggap rendah Arthur mulai berkeringat serta terdiam, memang dia bukanlah tandingan Rei, tapi tetap hal luar biasa dia bisa menghindari dan menahan serangan dari Rei yang terbilan top akademi.


Meskipun benci mengakui ini tapi mereka menganggap bahwa Arthur tidak terlalu lemah seperti yang dirumorkan.


Kembali ke Arthur. Dia terlihat memiliki pernapasan yang berantakan dan tubuhnya terlihat sangat ternodai.


Dia menopang tubuhnya dengan pedang.


Dia sangat kuat.’


Tidak membiarkan Arthur beristirahat satu detik pun. Rei menyerang dengan tebasan horizontal yang sangat garang, diteruskan dengan tusukkan cepat saat Arthur berusaha menjaga jarak. Pipi Arthur tergores dan darah menetes keluar dengan deras.


"Yang ini pun juga bisa dihindari, ya?”


Bergumam seperti itu. Rei menyerbu sekali lagi dengan kecepatan gilanya, dia menyerang dengan tebasan vertikal ke bawah. Itu adalah gerakan sederhana, tapi dengan kecepatannya yang seolah sudah melebihi batas manusia, bahkan gerakan sederhana tersebut menjadi terlihat mematikan.


Membalas serangannya, Arthur juga menebaskan pedang secara horizontal. Dia tahu jika menahan serangan semacam itu secara langsung adalah tindakan bodoh, tapi terus menghindar tidak akan bisa membawa pada kemenangan. Dengan gerakan gilanya, Arthur tidak akan bisa terus menghindar sampai waktu habis.


Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk menggunakan itu..


Sesaat setelah pedang mereka bertemu, Arthur merasakan tekanan hebat yang seolah akan meremukkan pergelangan tangannya. Berusaha menyesuaikan gerakannya, Arthur mengikuti aliran kekuatan dari pria gila itu. Memiringkan pedangnya dengan menyamakan ritme serangan Rei, Arthur mengalirkan tebasannya mengikuti bilah pedang yang Arthur pegang ke samping.


Dan dengan begitu, pedang yang seharusnya ditujukan kepada Arthur kini berubah arah dan berakhir dengan menghujam langsung ke lantai. Bersamaan dengan lantai yang hancur, bunyi keras seperti ledakkan terdengar. Pedang Rei menjadi tertancap di lantai dan dia harus menariknya untuk bisa kembali bertarung.


Sekarang..


Mengambil pedang yang tertancap tentu butuh waktu ini adalah kesempatan, Arthur tidak akan menyiakan waktunya. Dengan kuda-kuda yang mantap, Arthur memegang pedangnya dan ingin menebas Rei.


Posisinya sempurna, timing juga sempurna.


Tapi…


“Sepertinya aku harus serius sekarang.”


Duar


Tepat setelah Rei selesai bergumam dalam jarak sekitar beberapa centimeter muncul petir kuning yang menyambar sangat kuat, seolah melindungi dirinya dari Arthur yang ingin menyerang.


Petir tersebut terbilang sangat kuat sehingga semua orang terkejut dan membuka mata.


Sedangkan Arthur. Dia terhempas dan terjatuh karena menerima serangan petir tersebut.


“Argh!”


Menatap dingin Arthur yang terbaring di lantai, Rei berjalan dengan tubuhnya yang diselimuti oleh petir, dia juga mengeluarkan senyuman.


“Tampaknya aku memang tidak berbakat di dunia pedang.”


Mengatakan hal tersebut dia membuang pedangnya, melemparkan  ke sembarang tempat dan menancap dengan rapi di lantai.


“Sudah kuduga sihir petir memang lebih cocok denganku,” ucapnya dengan senyuman mengerikan.


Rei Vezalius, kini Arthur menyadari sosok monster sebenarnya. Dia sejak awal tidak serius sekalipun karena pada dasarnya dia bukanlah pengguna pedang seperti dirinya, melainkan dia adalah pengguna sihir petir.


Menyadari keputusasaan yang mendalam Arthur menggigit bibirnya. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.