
Kini semua penyusup berkumpul di satu titik dan kali ini hanya ada Wilbrand dan beberapa prajuritnya yang masih selamat.
"Kami akan membantu sebisa mungkin, tuan Wilbrand."
Beberapa prajurit memaksakan untuk berdiri dan ingin membantu, mereka terlihat sangat sempoyongan dan terluka parah.
"Tidak perlu," jawaban singkat dari Wilbrand dengan pandangan masih mengarah ke Musuh-musuhnya.
"Tapi Tuan Wilbrand."
"Aku bilang tidak perlu ...! Yang terpenting adalah keselamatan Putri Fiona. Kita adalah keluarga dengan tugas melindungi beliau, jadi urus dia daripada aku."
Mengepalkan kedua tangannya, sang prajurit menggigit bibir. Dia merasa sangat kesusahan apabila membayangkan harus berpisah dengan tuannya.
"Baiklah... Tapi setidaknya ambil ini."
Prajurit tersebut melemparkan sebuah bilah pedang yang tajam. Dia mengetahui bahwa milik Wilbrand telah patah.
"Ya terima kasih ini sangat membantu."
Wilbrand melakukan posisi siap bertarung dengan pedang di tangan kanannya.
"Sekarang pergilah!"
"Dimengerti, Tuan." Menundukkan kepala dengan hormat, prajurit tersebut berlari.
"Tidak akan kubiarkan kalian lari~"
Elli mencoba mengejar dengan berlari dia terlihat percaya diri untuk menangkap prajurit itu hanya saja. Tentu Wilbrand tidak tinggal diam.
< Crimson Blaze >
Dengan tebasan pedang yang diselimuti oleh api panas, Wilbrand menciptakan sebuah dinding api yang membuat Elli dan semua penyerang terperangkap dalam dinding api yang berbentuk lingkaran tersebut.
"Dengan ini kalian tidak bisa pergi kemanapun.," ucap Wilbrand dengan dingin.
Hanya saja dia melupakan satu hal. Melakukan ini sama terkunci dengan lima orang monster yang membuat kehancuran di Kerajaan ini.
Meskipun dia merupakan paladin di masa ini tentu saja hal nekad seperti ini adalah tindakan bodoh.
"Sesuai harapan dari Paladin— Wilbrand Laurent yang bersumpah setia ke keluarga Rosemary. Benar-benar orang bodoh," ucap Joker. Mengira bahwa tindakan ini adalah bunuh diri.
"Meskipun Paladin apa kamu yakin bisa mengalahkan kami semua~?"
Seperti biasa Elli membuat senyuman dan gaya bicara layaknya gadis kecil.
Tapi apakah benar seorang Paladin ini bodoh?
Tentu, tidak..
Wilbrand mengeluarkan aura sihirnya yang sangat pekat membuat semua orang yang di sana spontan terkejut dan berkeringat dingin.
Kecuali Elli dia masih bisa tersenyum walau menerima tekanan besar ini.
'Anak ini masih bisa tersenyum walau menerima tekanan seperti ini.' pikir Wilbrand dia bingung akan sosok gadis kecil tersebut. Dia juga entah kenapa menyadari bahaya sesungguhnya dari gadis ini.
"Cih, banyak bacot! Makan ini."
Seperti yang diharapkan oleh otak otot. Sosok besar yang membawa kapak tersebut langsung menyerang tanpa pikir panjang.
"Bodoh! Mundur!"
Joker memberi peringatan namun sudah terlambat.
Dengan pedang yang dilapisi api sangat panas, Wilbrand menebas kepala orang tersebut dan membuat tubuhnya terbakar hingga menjadi abu.
Melihat temanya baru saja mati tidak membuat ekspresi empat orang ini berubah. Ya ini merupakan hal wajar mengingat sosok besar itu yang terlemah dari mereka semua.
Wilbrand sendiri tampak tidak peduli dengan respon empat orang tersebut. Dia justru mengangkat pedangnya dan meletakkan di depan dadanya dengan satu tangan.
"Selanjutnya siapa yang ingin menjadi abu."
"Jangan terlalu percaya diri dasar—"
Swosh
Tidak membiarkan satu musuh selesai berbicara Wilbrand sekali lagi menebaskan pedangnya membuat orang tersebut ikut terbakar karena terkena apinya.
"Cih dasar monster."
Elli, Joker, dan satu orang lainnya mengatakan hal yang sama dan melompat mundur. Kini semua tahu kekuatan sejati dari sosok Paladin.
"Ini belum kemampuan penuhku."
Mengatakan hal tersebut Wilbrand mengangkat pedang ke atas setinggi-tingginya. Setelah melakukan hal tersebut, tekanan sihir milik Wilbrand menjadi lebih tinggi berhasil membuat semua bergetar karena ketakutan.
"Wahai roh kesopanan dan kesetiaan aku perintahkan kepadamu. Dengan menggunakan manaku, berikanlah kekuatan yang besar padaku. Keluarlah, Amon!"
Amon merupakan roh api tingkat tinggi yang diwariskan dari keluarga Laurent tentu roh ini bukanlah sembarangan, namanya saja sudah melegenda.
Sebuah api sangat besar muncul di pedang milik Wilbrand dan tidak hanya itu saja, tanah juga ikut terbakar dan membentuk sebuah ring api yang sangat panas. Melelehkan segalanya yang terkena kobaran api tersebut.
'Cih dasar monster.' Elli berdecak setelah sekian lama akhirnya dia merasakan aura kematian yang sangat pekat.
"Aku mulai dari kamu, Joker!"
Wilbrand menancapkan pedangnya ke tanah bersamaan dengan itu tanah menjadi terbelah dan api dengan daya hancur luar biasa kuat muncul dari tindakan tersebut.
Menerjang tiga orang tersebut lebih tepatnya menerjang ke Joker. Serangan yang dimiliki oleh Wilbrand sangat sempurna, Joker sudah pasti mati jika terkena, hanya saja.
Elli menciptakan sebuah pelindung berwarna keemasan di telapak tangannya. Membuat serangan tersebut lenyap begitu saja.
Melihat serangan tersebut ditahan dengan mudahnya tentu Wilbrand sangat terkejut.
'Tidak mungkin!' Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Api penghancur yang cukup kuat. Tapi itu tidak berfungsi untukku."
Ini merupakan sebuah penghinaan bagi Wilbrand. Meskipun begitu dia tidak tersinggung sama sekali, dia masih memiliki satu lagi serangan rahasia yang sangat kuat, bisa dibilang kemampuannya yang paling kuat.
“Lalu bagaimana dengan ini?”
Joker menelan ludah, meskipun dia pemimpin dari penyerangan ini tentu dia bukanlah tandingan sosok paladin.
Elli pun bergidik ngeri. Dia mengeluarkan keringat dingin karena merasakan tekanan yang bukan main. Tatapan dan hawa yang tajam dari pria ini mengingatkannya kepada seseorang yang menyebalkan.
“Rasakan ini!”
[Extreme Magic: Amol Zei Saika]
Sebuah lingkaran sihir warna keemasan dengan ukuran besar tergambar di depan tubuh Wilbrand, dan Wilbrand menusukan pedang ke arah lingkaran tersebut.
Duar
Sebuah kobaran api melesat dengan kecepatan tidak normal, seperti cahaya bahkan Elli dan lainnya tidak punya kesempatan untuk kabur. Tusukan kobaran api itu menghancurkan banyak bangunan dan tanah ikut tersapu dengan bersih.
Segalanya menjadi hangus tanpa tersisa apapun dalam radius beberapa puluh meter. Benar-benar sihir tidak kenal ampun, sihir yang menghancurkan segalanya yang disentuh.
'Uhuk!'
Wilbrand batuk darah ini merupakan batasnya. Dia terlalu banyak mengeluarkan sihir di umur yang cukup terbilang tua. Sejak awal Wilbrand telah mengalami penyakit.
Api dinding yang berbentuk lingkaran menjadi pudar dan Wilbrand menjadi sedikit berlutut. Karena kehabisan kemampuan.
Tap
Tap
Terdengar langkah sebuah hentakan kaki dan ketika Wilbrand menoleh ternyata terlihat sosok pemuda berambut pirang sedang menggendong seorang gadis yang berperawakan mirip dengannya. Dia merupakan James dan Fiona.
James berniat untuk keluar dari kerajaan sambil membawa sang adik.
“Anda… Tuan Wilbrend.”
Tampak ada raut khawatir dan terkejut dari wajah pangeran james anak kedua dari kerajaan ini. Dia tentu tidak pernah melihat sosok kuat seperti Wilbrand berlutut.
“Apakah anda baik-baik saja?” tanya James dengan khawatir.
“Uhuk.. uhuk… tidak perlu khawatir tuan muda. Semua penyusup sudah saya basmi.”
Mendengar hal itu James menatap ke segala arah dan terkejut melihat pemandangan pertarungan ini. Api berkobar dengan ganas dan tanah yang subur menjadi abu tanpa tersisa apapun dalam jarak beberapa meter ke depan.
Melihat ini tentu siapapun tahu bahwa musuh tidak mungkin selamat.
“A-anda benar,” ucap James dengan senyuman terpaksa. Jujur dia sedikit ngeri melihat pemandangan ini.
Di dalam hati paling dalam James ingin menjadi sosok kuat seperti Wilbrand, namun tampaknya itu hanya mimpi belaka. Dia terbilang cukup lemah dan hanya bisa menggunakan sihir cahaya saja.
Dia secara alami menundukan kepala melihat perbedaan kemampuan bagai langit dan bumi.
“Ayah, ayah!”
Suara kecil terdengar bersamaan langkah kaki yang tampak panik. Ini adalah suara Max yang berumur empat belas tahun saat itu.
“Oh, Max. Lihat, kan? Ayah pasti bisa selamat apa yang membuatmu ke sini?”
“Aku awalnya khawatir tapi tampaknya tidak perlu khawatir lagi mengingat betapa mengerikannya, ayah.”
Max melihat sekeliling yang penuh dengan kehancuran melihat ini tentu dia tahu siapa pemenangnya.
“Yosh… Musuh telah terbasmi mari pulang, kamu juga Tuan James.”
“Ya Ayah~”
“Y-Ya Tuan Wilbrand.”
Mereka bertiga tersenyum merasa semua telah usai. Mencoba untuk berjalan menjauh dari kejadian ini.
Tapi tiba-tiba ketiganya merasakan hawa seperti ribuan jarum yang menusuk kulit mereka.
“Siapa yang kamu kira telah terbasmi~?”
Suara gadis kecil yang bersenandung, layaknya sedang bernyanyi. Elli terlihat muncul melalui portal kegelapan. Tidak ada bekas luka sama sekali.
Kemungkinan sebelum terkena Extreme magic dari Wilbrand Elli telah berpindah tempat menggunakan portal sihir itu.
“Huh yang tadi benar-benar nyaris. Yah meskipun aku terkena… Mana mungkin sosok sepertiku mati karena sihir selevel itu~”
Melihat gadis kecil yang masih bisa mengeluarkan senyuman seperti anak kecil di situasi ini membuat bulu kuduk semua orang naik. Wilbrand kini menyadari sesuatu, portal sihir kegelapan itu, cara dia menciptakan pelindung emas yang membuat sihirnya lenyap begitu saja. Dan ucapan serta gaya merendahkan manusia layaknya sampah.
Dalam pengalaman hidupnya dan ilmu pengetahuan akan sejarah dia tahu satu sosok yang mungkin saja bisa melakukan hal dewa seperti ini.
Sosok di depannya bukanlah warga Midnight, dia dirasuki oleh sesuatu. Dan Wilbrand tahu sosok dibalik tubuh gadis kecil ini.
‘Glek’
“Jangan bilang kamu—“
Slash
Elli mengayunkan tangan jarak mereka lima meter. Tapi dia berhasil menciptakan tebasan angin yang berhasil memotong rapi kepala Wilbrand, membuat darah berceceran seperti sungai dan tubuh tanpa kepala itu menjadi jatuh di tanah.
Elli menatap dingin Wilbrand, tidak ada lagi senyuman ala anak kecil yang biasa diberikan.
“Jangan pernah ucap nama itu lagi!”
James menjadi gemetaran karena melihat sosok kuat seperti Wilbrand dibunuh hanya dengan tebasan angin level kecil. Meskipun itu hanyalah tebasan angin sederhana, tapi jika digunakan oleh orang kuat tentu dampak yang dihasilkan bukan main.
Apalagi Max dia menatap kosong mayat ayahnya sudah tidak terbayang lagi bagaimana rusak hatinya melihat sosok ayah mati di depannya.
Elli perlahan menatap mereka dengan senyuman mencengkan dan mata merah yang menyala berhasil memberikan ketakutan yang amat dalam. Dia melirik ke arah Fiona yang tertidur lemah di pundak James. Dia tersenyum.
“Bos mungkin akan marah karena banyak orang mati, tapi di depan mata ada putri yang dicari. Mati empat orang sepertinya adalah hal murah~”
Dua orang anak ini kini tidak tahu apa yang harus dilakukan di depan monster seperti ini. Sungguh mereka bahkan tidak memiliki bagaimana cara kabur dari makhluk tidak diketahui ini.