Reincarnated Into Weak Noble

Reincarnated Into Weak Noble
Chapter 20. Pewaris ke delapan



“Tamus!”


Arthur berteriak dengan sekuat tenaga, pemandangan yang dia lihat adalah hal yang tidak enak. Saat ini gurunya- Tamus. Mengalami luka yang serius.


Dadanya tertusuk oleh kuku tajam dari Elli, darah berceceran dari dadanya yang bolong itu. Dan mata Tamus menjadi pucat seolah hampir mati.


Elli mencabut tangannya dan bersamaan dengan itu, Tamus tergeletak lemah. Dia menjatuhkan diri sendiri karena menerima serangan yang mematikan.


Arthur berlari menuju Tamus, air matanya sudah berjatuhan tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi.


“Huh~ Dengan ini semua persiapan selesai. Tubuh satu pewaris teknik kegelapan dan ribuan jasad manusia. Hahaha~ wahai raja iblis dengan ini kamu akan bangkit.”


*Swoosh


Arthur membuat tebasan kegelapan yang berbentuk bulan purnama. Serangan itu mengarah ke Elli yang sedang merasa senang, menyadari sebuah serangan menuju sini. Elli melompat untuk menghindari serangan tersebut.


Berkat itu, Arthur punya waktu untuk berbicara dengan Tamus.


“Tamus apakah! Jangan mati!”


“Uhuk. uhuk.”


Tamus mulai mengeluarkan batuk dan darah segar keluar melalui mulutnya itu. Tatapan Arthur semakin menggambarkan kesedihan.


“jangan tatap aku seperti itu… jika kamu punya waktu untuk bersedih pertama uruslah- uhuk.. uhuk..”


“Oi! Jangan paksakan diri untuk bicara!”


“Aku tidak memaksakan diri. Dengar aku sudah pasti akan mati, organ dalamku sudah tertembus, daripada pikirkan tentangku lebih baik kamu mengurus, anak sialan itu!”


Arthur menatap Elli yang seperti merampalakan sihir, dia dapat merasakan bahwa Elli punya niat buruk dengan sihir yang hendak ia keluarkan.


“Lihat, cepat hentikan anak itu! Dia akan membangiktan hal yang terlarang sekarang.”


Merasakan kebenaran dari perkataan sang guru. Arthur menggigit bibirnya, dia tidak punya pilihan lain. Dia harus menghentikan Elli sebelum berhasil dengan sihirnya.


“Aku pinjam ini sebentar!”


Arthur mengambil pedang merah milik Tamus, karena miliknya sudah rusak barusan. Tamus hanya mengangguk.


Arthur berlari menuju Elli dan memberikan tebasan dengan sangat kuat. Namun sangat disayangkan.


Sebuah pelindung berwarna keemasan sudah mengitari tubuh Elli sehingga serangannya tidak berfungsi.


“Sial! Sial!”


Dia terus mengayunkan pedang berharap pelindung emas ini bisa hancur, di sisi lain Elli masih merapalkan sihir dan ruangan menjadi dingin serta berat. Aura jahat dapat Arthur rasakan.


‘ini benar-benar gawat.’


Cring


Dia memberikan satu serangan dengan tebasan kegelapan, namun itu masih belum cukup. Arthur ingin sekali lagi memberikan serangan.


Saat pedang itu hampir mengenai pelindung, tiba-tiba sebuah angin kencang membuat Arthur terhempas. Angin ini berasal dari Elli, tanda bahwa sihir yang ingin dikeluarkan sudah berfungsi.


Lantai-lantai mulai mengeluarkan kegelapan. Atap menjadi hancur dan roboh. Cahaya kegelapan itu menjulang tinggi sampai ke langit-langit. semua orang yang diluar dapat melihat cahaya gelap yang menjulang tinggi tersebut.


Melihat itu elli tertawa puas dan tersenyum penuh kejahatan.


“hahaha, dengan ini kamu terlahir kembali raja kami!”


“Hahahaha… hahaha.”


Karena bangunan dungeon semakin runtuh elli pergi dari situ.


“Tunggu!” Arthur berusaha menghentikan, namun sia-sia. Dari pada memikirkan Elli ada yang lebih penting lagi, yaitu Tamus.


“Oi, kamu bisa berdiri?”


“.....”


“Katakanlah sesuatu!”


“Tidak bisa.. tinggalkan saja aku.”


Dengan suara lirih dia menjawab. Arthur menolak dengan keras saat dia ingin mengeluarkan ucapannya, tiba-tiba dungeon semakin runtuh. Atap-atap berjatuhan, hampir mengenai Tamus. Tapi Arthur menghancurkan atap-atap itu dengan sekali serangan.


“Hah… hah.. hah..”


Menyadari murid yang mulai kelelahan, Tamus tersenyum dengan wajah kesakitan.


“Kesini murid bodoh!”


Air mata Arthur menetes deras. Dari kondisi dan keadaan Arthur tahu sekali, bahwa masternya akan mati kali ini. Meskipun begitu, dia masih tidak menerima fakta.


Menyadari ini adalah hari terakhir bercakap dengan masternya. Arthur berjalan ke arah Tamus yang terbaring lemah.


“Sepertinya ini sudah saatnya… untuk memindahkan ‘itu’ ke dirimu.”


Mendengar ucapan mendadak dari Tamus tentu membuat Arthur terkejut. Dia menaikan alis. “‘itu’? Apa maksudnya itu?”


Bersamaan dengan pertanyaan Arthur, Dungeon semakin runtuh. Mereka sudah tidak punya banyak waktu untuk berbicara, jadi Tamus langsung ke intinya.


“Aku tidak bisa menjelaskan dengan timing seperti ini. Pokoknya cepat pegangan tanganku dan ambil pedang merah itu!”


Arthur hanya mengikuti perintah dari Tamus. Mengingat sebentar lagi ruangan ini akan hancur. Ketika Arthur memegan tangan Tamus. Dia merasakan sesuatu mengalir ke tubuhnya, sesuatu. Tampaknya kurang sosok, ini seperti sosok yang sangat gelap.


Makhluk yang sangat gelap seperti menuju tubuh Arthur, dari tangan ke tubuh.


“Ambilah itu… Dia pasti akan membantu, dan sebagai pewaris kuharap dia mengakuimu Arthur.” ucap Tamus, tapi tidak terdengar oleh Arthur karena sekarang dia sedang berada di alam pikirannya sendiri.


...***...


Arthur membuka mata. Hal pertama kali yang dia lihat adalah ruangan tanpa cahaya dan hanya ada kegelapan tanpa ujung. Ketika dai bertanya-tanya ada di mana dia, tiba-tiba suara bergema dengan kuat.


{Yo, jadi kamu pewaris kedelapan? Kamu terlihat naif, Nak!}


Arthur menoleh. Dia tidak bisa melihat dengan jelas sosok di depannya karena terlalu gelap, tapi mata merah menyala dengan cerah di tengah kegelapan. Dan matanya saja sudah sangat besar, Arthur bisa membayangkan sosok yang berada di sana pasti bukankah sesuatu yang boleh dianggap remeh.


“Siapa, kamu?  Dan ada di mana ini?”


{Aku Shutaru.}


Shutaru, di dunia ini tidak ada yang tidak mengenal nama itu. Sebuah naga hitam yang merupakan tangan kanan raja iblis, itu lah Shutaru.


Menyadari sosok mengerikan Arthur menjadi berkeringat. “Apa yang mau dilakukan olehmu di sini? Tangan kanan raja iblis?”


{Tidak ada hal yang khusus. Sebagai pewaris teknik pedang kegelapan sudah sewajarnya kamu memiliku. Sekarang cukup sampai di sini, aku akan membahas yang lain nanti.}


“Tunggu!”


Bersamaan dengan ucapan Shutaru dunia gelap itu menghilang dan Arthur kembali ke dunia aslinya.


‘apa-apaan barusan itu?’ pikir Arthur.


“Barusan adalah Shutaru. Sosok yang membuat kita, orang tanpa mana bisa menggunakan kegelapan, dengan kata lain kita meminjam kemampuan dari naga itu.”


Ini adalah hal yang tidak terduga bagi Arthur. Jadi dia terdiam. Atap-atap semakin hancur, mereka berdua sudah tidak punya waktu lagi.


“Tamus ayo segera pergi.”


Tamus menggelengkan kepala. “Tidak bisa… aku sudah ditakdirkan mati.”


“Jangan katakan hal bodoh seperti itu!”


“... Arthur ambil pedang ini.. aku mengakuimu sebagai pewarisku.”


Ini sebenarnya mengharukan, air mata Arthur sudah menjadi basah, Tapi keselamatan tentu lebih penting, dia sudah memaksa Tamus untuk pergi, tapi Tamus menolak beralasan bahwa dia sudah tidak memiliki kesempatan untuk sembuh.


“... aku… aku serahkan selanjutnya untukmu. Ingat ini Arthur, tujuan para pewaris adalah ……”


Setelah selesai mengatakan tujuan sebenarnya dari pewaris, Tamus menutup mata perlahan dan dinyatakan mati. Arthur menangis, Tamus sudah dianggap seperti ayahnya.


Tapi tampaknya dunia tidak membiarkan untuk bersedih satu detik pun. Karena dungeon semakin hancur dan atap-atap akan berjatuhan.


Dengan perasaan berat dia berdiri, mengenakan jubah coklatnya dan menggenggam pedang merah yang diwariskan Tamus. Hari ini dia bertekad untuk menyelesaikan semua yang diinginkan oleh para pewaris teknik pedang kegelapan. Karena dia sudah mendengar semuanya dari Tamus barusan.


Tamus dan pewaris sebelumnya. Aku Arthur Midnight akan melanjutkan perjuangan kalian pada hari ini..


Pada saat itu Arthur terlalu fokus akan pikirannya, sehingga tidak menyadari tentang lehernya yang memiliki semacam benjolan kecil berwarna merah.


Ya, pada hari ini juga. Arthur terinfeksi 'umbral plague'