
Beberapa jam sebelumnya.
Bruakkk
Sebuah pukulan yang kuat mendarat tepat di dinding belalangku dan menyebabkan lubang besar pada dinding tersebut.
"Kau cukup pandai berkelit rupanya." Ucap pria tersebut dengan tangan besarnya yang masih menancap di dinding.
"Kalian dari Algorhytm bukan?" Sambil terus mengamati kedua pria berjubah merah tersebut. "Apa yang kalian lakukan disini sebenarnya?"
"Hahaha, orang yang akan mati tidak perlu mengetahui apapun." Ucapnya dengan sombong. "Tapi, aku akan bermurah hati, saat ini seluruh anggota organisasi kami berkumpul di kota ini dengan satu tujuan, menangkap keturunan keluarga Valentine."
?!
Aku sedikit terkejut pada ucapan pria berjubah tersebut. Sejauh yang kutahu keluarga Valentine beranggotakan para hunter tingkat tinggi. Dan bukan hanya itu, kepala keluarga yang memimpin keluarga tersebut juga merupakan salah satu dari 7 hunter terkuat di dunia ini. Dan baru saja pria di depanku ini mengatakan organisasinya memburu keluarga Valentine? Apa mereka pikir mereka mampu melawan seluruh keluarga Valentine?
Tapi, jika dia mengatakan seluruh anggota organisasinya sudah bergerak untuk melakukan perburuan mereka, itu berarti saat ini seluruh kota sedang mengalami kekacauan.
"Apa yang kalian inginkan dengan memburu keluarga Valentine?"
Menurutku untuk secara terang - terangan memburu keluarga Valentine, jelas mereka memiliki tujuan besar. Bahkan negara - negara besar akan berpikir dua kali untuk mengibarkan bendera perang pada keluarga Valentine. Inu dikarenakan kepala keluarga mereka yang bisa menjaga keseimbangan kekuatan dalam sistem hunter dunia.
"Ariel! Berhenti membocorkan rencana organisasi!" Ucap pria berjubah lainnya.
"Hahh, baiklah - baiklah. Kau tidak perlu berteriak padaku Velajuel. " Pria tersebut berkata dengan santainya sambil menarik lengannya keluar dari lubang di dinding yang diakibatkan pukulannya.
"Ariel kita harus segera membereskan bocah ini dan memburu sebanyak mungkin keluarga Valentine." Ucap pria bernama Velajuel dengan tatapan tajam yang mengarah padaku.
"Baiklah, aku akan menyelesaikan bocah ini dengan cepat." Ucap pria bernama Ariel.
Kemudian pria tersebut melesat kearahku. Melihat cara bertarungnya, aku bisa menilai dia seorang hunter tipe petarung. Dan lagi dua orang ini cukup kuat. Tapi, kali ini mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka menemukan lawan yang buruk.
"Rasakan ini bocah!"
Blarrrrrrr
Sebuah pukulan yang kuat mendarat padaku. Harus kuakui pukulan tersebut sangat kuat. Bahkan tanpa menambahkan mana pada pukulannya, pukulannya masih bisa membuat tanganku kesemutan.
"Apa-apaan bocah ini?" Pria tersebut terkejut melihat pukulannya berhenti padaku. "Bagaimana bisa kau menahan pukulanku hanya dengan sebelah tanganmu?"
Aku bisa melihat dia yang cukup terkejut melihat kepalan tinjunya yang mendarat ditelapak tanganku.
Tanpa banyak berpikir, aku menggenggam kepalan tangannya, dan melemparkannya ke arah temannya yang bernama Velajuel.
"S-sial?!"
Aku hanya mendengar sedikit teriakannya saat aku melemparkannya dengan sekuat tenaga kearah temannya.
"Konyol sekali."
Pria berjubah bernama Velajuel tersebut melangkahkan kakinya ke arah kiri dan merubah posisinya sedikit kesamping untuk menghindari tubuh temannya yang kulemparkan kearahnya.
Brukkk
Tubuh pria bernama Ariel tersebut terhempas dan menabrak dinding dengan cukup kuat.
"Ahhh, sial." Gerutunya sambil bangkit dan menepuk - nepuk jubahnya untuk membersihkannya dari debu. "Velajuel sialan, dia tidak menghentikanku, malah membiarkanku terlempar begitu saja."
"Hei, Ariel. Jangan terlalu santai." Ucap Velajuel sambil melirik ke arah rekannya. "Kau pasti paham apa yang akan terjadi jika kita terlalu lama dan membuat ketua marah."
"Cih, baiklah. Aku tidak akan bermain - main lagi." Dia menatap kearahku dengan tatapan liciknya. "Harus kuakui, bocah sepertimu cukup kuat karena bisa melemparku. Tapi kali ini kau akan tamat karena aku akan mulai serius."
"Aku akan membantumu." Ucap Velajuel dengan tenang.
"Apa?!! Kau pikir aku tidak bisa mengalahkannya?!!" Ariel berteriak marah karena merasa dirinya diremehkan.
"Aku tidak berpikir begitu. Aku hanya ingin ini berakhir lebih cepat." Ucap Velajuel menjelaskan dengan tenang.
"Huh." Ariel menghela nafas sambil menangkat tangannya menandakan dia sudah menyerah dengan keputusan rekannya. "Terserah kau saja."
"Hei, bocah. Kuharap kau tidak berpikir kami membully mu. Kami harus menyingkirkanmu dan melanjutkan perburuan. Kuharap kau paham." Ucap Ariel padaku.
Aku bisa merasakan hembusan angin yang kuat setelah dia mengucapkan nama tekniknya. Aku bisa tahu dia seorang pengguna elemen angin hanya dengan melihat aura angin yang menyala kehijauan menyelimuti tangannya.
Dia kemudian mengayunkan tangannya ke arahku berkali - kali sehingga menyebabkan beberapa pisau angin yang menuju kearahku.
Kupikir pria bernama Ariel ini terlalu meremehkanku. Pada pukulan pertama dan keduanya dia sama sekali tidak menggunakan mana, dan sekarang dia menggunakan serangan payah seperti ini? Pria bertopeng yang kulawan dulu mungkin lebih baik daripada dia.
"Flame of purgatory, wall."
Api hitam mulai keluar dan mengelilingiku. Kemudian aku mengarahkan tanganku kedepan untuk membentuk dinding api dengan api hitamku. Dengan cepat api hitamku membesar dan membentuk dinding yang menutup seluruh ruangan di depanku dan menghalangi pisau angin milik Ariel.
Pisau angin tersebut membentur dinding api hitam milikku dan dalam sekejap lenyap tanpa bekas setelah api hitam tersebut membakarnya.
"Api hitam apa itu? Aku tidak pernah melihat api yang mengerikan seperti itu." Velajuel memandangi api hitam tersebut. "Ariel, berhati - hatilah. Bocah ini tidak sesederhana yang kita pikir. Berhenti bermain - main dan kita selesaikan dia secepatnya."
" Sihir es, tombak suci es."
Kemudian sebuah tombak yang terbentuk perlahan dari elemen esnya yang membeku. Tombak es tersebut terlihat berkilauan layaknya permata yang disinari matahari.
"Hehhh, sampai mengeluarkan tombak suci es yang menjadi senjata andalanmu." Ariel melirik rekannya dan tersenyum. "Baiklah kukira aku akan benar - benar serius sekarang."
"Bukankah kalian berdua terlalu banyak bicara? Cobalah untuk mengalahkanku jika kalian memang mampu." Ucapku memanas - manasi mereka berdua.
"Bocah sombong. Fiery wind blade!"
Cahaya hijau berkilauan cerah menyelimuti tangan pria bernama Ariel. Cahaya hijau tersebut melapisi tangannya dan memanjang membentu sebuah pisau yang tersambung langsung dengan tangannya.
"Velajuel, ayo kita bereskan bocah ini!"
"Kau tidak perlu mengatakannya padaku. Aku memang berniat untuk mengakhirinya."
?!
'Sekilas aku merasakan aura yang cukup kuat di luar. Mengingat dari ucapan pria bernama Ariel ini, kemungkinan terjadi pertarungan diluar.'
"Tuan Velajuel! Tuan Ariel!"
Seseorang berlari kearah dua orang dihadapanku. Ahh, bukan seseorang aku melihat 3 orang yang berlari dengan tergesa - gesa.
Ketiga orang tersebut mengenakan jubah yang sama. Hanya saja jubah tersebut berwarna hitam. Melihat perbedaan warna tersebut, kupikir mungkin warna jubah tersebut melambangkan tingkatan posisi mereka di organisasi. Dan dilihat bagaimanapun aku bisa tahu jubah merah memiliki posisi lebih tinggi daripada jubah hitam.
"Kalian bertiga? Kenapa kalian kemari?" Tanya Ariel pada ketiga orang tersebut.
"Tuan Eviel meminta kami untuk mencari anda dan tuan Velajuel." Ucap salah satu dari ketiga orang tersebut.
"Mencari kami? Untuk apa Eviel sialan itu mencari kami?" Tanya Ariel dengan sinis.
"Tuan Eviel diperintah oleh ketua. Ketua merasakan aura keluarga Valentine. Di sekitar mall, ditambah aura tersebut cukup kuat yang menandakan pemilik aura tersebut adalah keturunan langsung keluarga Valentine." Pria tersebut menjelaskan dengan tergesa - gesa. "Tuan memerintahkan tuan Ariel dan tuan Velajuel bekerja sama dengan tuan Eviel dan segera membawa keturunan keluarga Valentine yang ada disini."
Eviel ini, aku bisa menebak dia pria bertopeng yang dulu menyerang Alicia. Kekuatannya terlalu kuat jika dibandingkan ketiga orang dengan jubah hitam di depanku ini wajar jika dia diangkat ke posisi yang lebih tinggi setelah melihatnya bisa mengalahkan Alice dan Alicia dengan mudah.
Pria yang disebut Eviel dulu bisa mengalahkan Alicia dan Alice yang seorang hunter rank SS dengan mudah. Jika kedua orang ini bergabung mustahil Alice dan teman - teman yang lain bisa melawan mereka.
"Kami memang merasakan aura tersebut. Karena itu kami kesini, tapi meminta agar bekerjasama dengan Eviel? Bukankah tuan terlalu meremehkan kami?" Ucap Ariel kesal.
"Ariel berhentilah." Ucap Velajuel mengingatkan "Eviel sudah diangkat menjadi eksekutif di organisasi. Sekarang posisinya setara dengan kita."
"Cih, hanya karena dia sedikit lebih kuat. Ketua benar - benar tidak bisa melihat kemampuan orang." Ucap Ariel sambil mengangkat kedua tangannya dengan raut wajah meremehkan.
"Jaga ucapanmu Ariel. Jika ketua mendengar ucapanmu barusan, mungkin lidahmu sudah terlepas dari mulutmu."
"Hahh, baiklah." Ariel membalas ucapan Velajuel dengan santai.
Mendengar ucapan ketiga orang itu, aku merasa tidak bisa berdiam diri lagi. Meskipun awalnya aku berniat sedikit lembut pada mereka agar bisa mendapat informasi tentang organisasi Algorhytm ini, tapi setelah mendengar niat mereka untuk membunuh Alice, aku tidak bisa lagi membiarkan mereka.
Aku merasa darahku mendidih dan merasakan emosi yang begitu gelap mulai memenuhi perasaanku.
"Kalian ingin menangkap temanku? Aku tidak bisa membiarkan kalian lagi." Aku menatap kelima orang di hadapanku dengan niat membunuh yang kuat. "Akan kulenyapkan kalian semua."