
Ding dong~
Suara bel pulang akademi S.A sudah berbunyi. Aku merapikan bukuku kembali dan memasukkanya ke dalam tas untuk bergegas pulang. Tapi, seperti yang diberitakan ramalan cuaca tadi pagi. Sore ini hujan meengguyur kota Paris.
"Ya, tuhan. Ternyata ramalan cuacanya tepat. Sialnya aku yang tidak membawa payung." Gerutuku.
Karena itu aku menunggu dipintu masuk dan berharap hujan akan segera berhenti. Tapi sayangnya, aku sudah menunggu selama 30 menit dan hujannya tak kunjung berhenti.
'Berapa lama lagi hujannya akan berhenti ? Apakah ini karma untukku karena berbuat licik saat tes pengendalian sihir tadi ?' Pikirku yang melihat hujan tak kunjung reda.
Tiba - tiba seorang perempuan datang dari belakangku dan langsung menendang kakiku.
Buk..
"Aww, sakit...Kenapa menendang kakiku, Alice ?" Tanyaku dengan nada kesal.
"Boleh aku bertanya satu hal padamu, Tristan ?" Ucap Alice dengan wajah serius sambil mendekatkan wajahnya padaku.
"Bo-boleh saja. Apa yang ingin kau tanyakan ?" Jawabku sambil mundur secara perlahan untuk menjaga jarak darinya.
"Tadi pagi, kenapa kau tidak melakukan tes ulang pengendalian sihir ?"
"Hemmm, bagaimana aku mau melakukan tes ulang pa-"
"Jangan mengalihkan topik. Atau kau mau kuubah menjadi daging panggang ?" Ucap Alice memotong kata - kataku.
"Hehh, tu-tunggu dulu. Kita bisa menyelesaikan ini baik - baik." Ucapku menenangkan Alice.
'Sepertinya dia sudah sangat kesal padaku. Apa karena tadi pagi aku mengejeknya ?' Pikirku.
Setelah beberapa detik kami terdiam. Dia mulai membuka pembicaraan lagi.
"Tristan ?"
"Hem, a-ada apa ?"
"Perasaanku saja atau kau memang sedang menyembunyikan sesuatu ?" Ucap Alice sambil menatapku dengan penuh curiga.
"I-itu..." Aku bingung harus menjawab apa.
'Jadi apa yang harus kukatakan padanya ? Aku tahu suatu saat situasi seperti ini akan terjadi. Tapi tetap saja, alasan apa yang harus kukatakan ?'
"Tristan ?" Sahut Alice membangunkanku dari lamunanku.
"Eh ?" Jawabku terkejut
"Ada apa denganmu ? Apa kau sedang tidak enak badan ?"
"A-aku baik - baik saja kok."
"Hemm, kalau begitu bisakah kau menjawab pertanyaanku tadi ?"
"Sebelum itu, bolehkah aku tau kenapa kau ingin mengetahuinya ? Apakah kau selalu memperhatikanku seperti itu ?"
Akupun membalas pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan. Tetap reaksi yang dia tunjukkan benar - benar tidak terduga. Wajahnya tiba - tiba menjadi semerah tomat.
"Heh ! Ti-tidak. Bukannya begitu, aku hanya penasaran saja. Hemm, ya benar aku hanya penasaran saja." jawab Alice dengan suara terpatah - patah dengan wajah merahnya.
'Heh, ini aneh sekali. Kenapa wajahnya memerah ? Apa aku salah bertanya ?' Pikirku melihat reaksi Alice.
Tiba - tiba sebuah suara ledakan terdengar berkali - kalo dari bagian barat akademi S.A. Suara ledakan itu mengalihkan perhatianku dan Alice.
DUARRR !! DUARR !! DUARR!!
"Suara apa itu ?!" Ucapku terkejut mendengar suara itu.
"Entahlah. Tetapi, sebagai siswa akademi ini lebih baik kita memeriksanya."
"Hehh, tu-tunggu dulu, Alice !"
Dengan segera Alice menarik lenganku dengan paksa menuju ke arah suara ledakan itu.
Tidak memerlukan waktu lama bagi kami untuk tiba ditempat ledakan tersebut. Namun yang kami temukan hanya bekas - bekas tanah hancur yang terkena ledakan besar terjadi di mana - mana."
"Apa yang baru saja terjadi disini ?!"
"Sepertinya baru saja terjadi pertarungan antar hunter disini."
'Pertarungan antar hunter ? Bukankah hal seperti itu sudah dilarang di akademi ?' Pikirku setelah mendengar pendapat Alice.
DUARRRR
Sekali lagi, terdengar suara ledakan yang sangat keras. Namun kali ini suaranya terdengar tidak jauh dari kami.
"Dari arah sana !" Ucap Alice sambil menunjuk ke arah hutan di bagian barat akademi.
"Baik, ayo kesana."
Kami berdua segera bergegas pergi ke arah yang ditunjuk Alice untuk memastikan apa yang terjadi disana.
Setelah sampai ditempat ledakan yang kami dengar, memang benar ada pertarungan antar para hunter disebuah tempat yang luas tanpa ada satupun pepohonan yang menghalangi.
Dari posisi kami, kami bisa melihat disebelah kiri ada seorang perempuan berambut putih berambut putih tanpa ikat yang mengenakan seragam seperti kami. Dia siswi akademi S.A, namun dia terlihat terluka cukup parah akibat pertarungan tersebut. Disebelah kanan, ada seorang lelaki dengan jubah hitam mengenakan topeng yang sedang melancarkan serangan.
"Explosion fire ball !! Teriak pria bertopeng itu.
Sebuah bola api muncul dari tangannya dan melesat ke arah perempuan itu. Bola api itu melesat sangat cepat bagaikan sebuah meriam dengan kekuatan yang dahsyat.
WUUUSSSSHHH
"Ice wall !!" Ucap perempuan tersebut sambil menghantamkan tangannya ke tanah. Sebuah dinding es setinggi 10 meter dengan ketebalan sekitar 2 meter muncul didepannya seperti sebuah perisai yang menghadang bola api tersebut.
Namun...
DUASSSSS
Dinding es yang ia buat tertembus tanpa bisa menahan bola api tersebut.
Tanpa kehabisan akal, perempuan berambut putih itu mengangkat tangannya dan segera melancarkan sihirnya kembali.
"Melt !!" Teriak perempuan tersebut
ZEESSSSSHHHH
Luka yang dia dapatkan dalam pertarungan tersebut sudah bereaksi, dan dia juga terlihat sudah kelelahan. Terlihat dari nafasnya yang mulai tidak beraturan.
Perempuan itu sudah pada batasnya. Dia tidak bisa lagi melanjutkan pertarungan tersebut. Tapi pria bertopeng itu tidak memberinya kesempatan untuk istirahat.
"Lumayan untuk orang yang sudah sekarat sepertimu." Ejek pria bertopeng itu.
"Sekarang, apa kau masih sanggup menahan seranganku selanjutnya ?!"
Lelaki bertopeng itu mulai membuka lebar kedua kakinya. Dia mengepalkan kedua tangannya. Percikan api muncul dari kedua tangannya dan semakin membesar hingga menyelimuti kedua tangannya.
"Dragon breath !!"
WUUUSSSSHHH
Dia membuka kedua telapak tangannya dan mengarahkannya pada perempuan dihadapannya itu.
Sebuah kobaran api yang sangat panas menuju ke arah perempuan dihadapannya. Berbeda dengan serangan sebelumnya, kobaran api itu terus berkobar dari tangannya sepeeti tali yang terulur tidak ada habisnya.
Dengan kondisi luka yang parah dan darah yang mengucur dari seluruh tubuhnya yang membuat kesadarannya semakin memudar, perempuan itu menyadari hanya bisa menggunakan satu sihir lagi. Dia sudah jelas tidak akan bisa menang.
Aku hanya bisa melihat pertarungan itu tanpa bisa berbuat apa - apa. Jika bisa aku ingin menggunakan sihirku untuk membantu perempuan itu. Tapi, sepertinya mustahil saat ada Alice di dekatku.
Berbeda denganku, Alice terlihat ingin masuk dan melibatkan dirinya dalam pertarungan itu. Terlihat dari wajahnya yang nampak sangat kesal dan marah pada lelaki bertopeng itu. Tapi dia tidak bergerak sama sekali dari posisinya seakan dia sudah diikat oleh rantai yang membuatnya tidak bisa bergerak.
"Alice." Tegurku.
"Hah ? A-ada apa Tristan ?" tanyanya terkejut.
"Kalau kau memang ingin membantunya, lebih baik kau lakukan sekarang. Jika kau tidak melakukannya, dia pasti akan mati setelah terkena serangan itu."
"Akan...mati ?"
Wajahnya yang sebelumnya terlihat sangat marah dan kesal, berubah menjadi pucat setelah aku mengatakan hal itu.
'Heh ? Kenapa wajahnya menjadi pucat seperti itu ? Apakah aku mengatakan hal yang salah lagi ?' Pikirku melihat wajah Alice yang memucat setelah mendengar perkataanku.
"Ta-tapi aku..."
"Tenang saja, aku akan melindungimu dari belakang. Kalau aku di depan, aku pasti tidak akan berguna melawan orang seperti itu. Jadi kuserahkan dia padamu."
Entah kenapa ucapanku membuatnya bengong untuk sesaat. Namun dia kemudian kembali tersenyum seperti biasanya.
"Baiklah, kalau begitu akan kubiarkan kau melindungiku dari belakang." Ucapnya dengan santai.
Jujur saja, sebenarnya permintaanku tadi adalah keinginan egoisku. Bukannya aku tak mau menyelamatkan perempuan itu sendirian. Aku hanya tidak mau menjadi seorang tokoh utama baik hati yang menolong seorang perempuan yang sedang terluka.
----------------
Kobaran api yang begitu besar terlihat akan menerjang perempuan itu. Perempuan itu menyiapkan sihir terakhirnya untuk menangkis kobaran api itu.
"Ice Reeff !"
Seketika dari bawah tanah, muncul jarum - jarum es yang menahan pergerakan kobaran api tersebut.
ZEEEESSSSHHH
Terdengar bunyi es yang menguap. Ia pikir jarum es itu bisa menghentikan kobaran api itu. Tapi tidak lama dia melihat kobaran api itu menembus jarum - jarum es yang dia buat.
Wajahnya berubah menjadi tegang dan pucat. Saat ini, dirinya sudah tidak bisa menggunakan sihir lagi. Mananya sudah habis dan penggunaan sihirnya sudah mencapai batasnya. Karena kedaannya saat ini, dia pasti tidak bisa menghindari kobaran api itu.
Kobaran api itu tinggal beberapa meter lagi untuk mengenai perempuan itu. Namun Alice dengan segera menuju kearah perempuan itu dengan bantuan sihirnya.
"Lighning speed !!"
Dengan kecepatan kilatnya, saat ini dirinya sudah berdiri di depan perempuan itu.
"A-lice ?!" Ucap perempuan itu yang terkejut dengan kedatangan Alice.
Tanpa ragu, Alice mengeluarkan salah satu sihir yang dimilikinya.
"Railgun !!"
Ztztztztztzt
Sebuah kilatan listrik muncul dari jarinya dan dengan cepat melesat kearah kobaran api tersebut.
PSYUU...DUAAAARRR
Sebuah ledakan besar terjadi di tengah - tengah kedua hunter yang sedang bertarung itu. Merekapun terdiam sejenak karena asap ledakan yang menutupi jarak pandang mereka.
Memanfaatkan situasi itu, aku segera berlari kearah Alice, dan membantu perempuan berambut putih yang terluka parah itu.
"Kau tidak apa - apa ?" Tanyaku pada perempuan itu sambil membantunya berdiri.
"Hem, aku tidak apa - apa" Jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
Lalu dia kembali menatap Alice.
"Alice, kenapa kau berada disini ?! Lebih baik kau dan temanmu segera lari dari sini. Dia bukan lawan yang bisa kau dan temanmu kalahkan dengan mudah !"
Namun, tidak ada reaksi apapun dari Alice. Dia tetap fokus dengan yang ada di depannya.
'Apa perempuan ini salah satu kenalan Alice ? Sepertinya dia sangat mengenal Alice ?' Pikirku
Asap hitam yang menutupi area sekitar pun perlahan mulai menghilang karena tetesan air hujan. Sekarang sosok lelaki bertopeng itu terlihat jelas di depan kami.
"Siapa kau ?!" Ucap pria bertopeng itu.
"Kau tidak perlu tau siapa aku ! Tapi aku tidak akan membiarkanmu menyakiti kakakku lagi !!"
Ekspresi Alice sekarang terlihat sangat marah seakan - akan dia sangat ingin membunuh pria bertopeng itu.
'Heh, kakak ? Jadi dia kakaknya Alice ?' Pikirku setelah mendengar perkataan Alice.
Aku pernah mendengar rumor bahwa kakaknya Alice adalah seorang top hunter dari Perancis. Dia adalah seorang hunter rank SS yang sangat kuat, dan dikatakan dirinya hampir mencapai rank SSS. Yang mana hanya 7 orang di dunia ini yang berhasil mencapai tingkat itu. Namun sekarang dia telah dikalahkan oleh seorang pria tak jelas yang mengenakan jubah dan topeng.
'Apa itu benar - benar hanya rumor ? Atau musuh yang sedang dia hadapi jauh lebih kuat darinya ? Sial, kami tidak akan mudah untuk selamat dari tempat ini.' Pikirku memikirkan keadaan yang terjadi.
"Ohh, jadi kau adalah adik dari perempuan yang disana itu ? Hahaha sungguh beruntung diriku bisa bertemu kalian berdua disini tanpa harus repot mencari - cari kalian lagi. Majulah, akan kubuat kau menderita seperti kakakmu itu !"