Rebirth With Fragment Of God

Rebirth With Fragment Of God
Season 2 Chapter 6



Saat ini kami sudah berada di arena pertarungan. Di akademi hunter ini, siswa - siswi tidak diijinkan untuk berkelahi satu sama lain. Tapi akademi mengijinkan siswa - siswi yang memiliki pertikaian untuk bertarung di arena simulasi.


Dalam arena pertarungan simulasi kita akan bertukar dengan tubuh virtual setelah masuk ke dalam sebuah ruang tabung yang terletak di tepi arena.


Tabung ini dilengkapi dengan kristal batu jiwa yang berasal dari dungeon. Kristal ini berfungsi untuk memindahkan jiwa seseorang yang kemudian dimanifestasikan ke dalam sistem sihir yang terpasang di arena.


Ini akan menciptakan replika tubuh kita. Replika dari tubuh kami ini bisa terluka, tapi luka yang diterima maksimal hanya 40% dari luka yang seharusnya diterima.


Ditambah lagi dalam tubuh virtual seseorang tidak akan mati apapun yang terjadi. Itu karena saat seseirang mendapatkan luka diatas batas yang bisa dia terima, maka sistem akan segera mengembalikan jiwanya ke tubuh semula yang berada di luar arena.


Karena itu, dalam arena ini ada 2 cara untuk menang yaitu.


Pertama


Memberi dampak serangan fatal kepada lawan yang akan membuat sistem mendeteksinya sebagai serangan yang memiliki potensi untuk membunuh. Dengan begitu jiwa lawannya akan kembali ke tubuh aslinya dan pemenang adalah yang masih ada di arena.


Kedua.


Dengan membuat lawan menyerah. Jika lawan merasa tidak punya kesempatan untuk menang, dia diijinkan untuk menyerah.


Saat ini tiba di arena pertarungan simulasi. Aku melihat Daniel yang sudah tiba lebih dulu.


"Kuharap kau tidak menyesal !" Ucapnya sinis kemudian masuk ke dalam salah satu ruang tabung.


Aku bisa melihat cahaya biru mudah yang terpancar dari ruang tabung yang dimasuki Daniel dan menyalurkannya ke dalam arena. Kemudian perlahan - lahan cahaya biru itu mulai membentuk wujud Daniel secara sempurna.


"Ahhh, bagaimana ini bisa terjadi ? Si pirang itu benar - benar bodoh." Ucap Alicia dengan jengkel.


"Kenapa kau menyalahkannya ? Kurasa kali ini kau yang salah. Aku tidak tau alasannya, tapi kurasa merekomendasikan seorang hunter rank D sebagai anggota OSIS adalah sebuah kesalahan." Ucap Leona


"Hahh, kau dan Daniel tidak mengerti. Kau akan tau setelah pertarungan ini." Ucapnya tanpa berusaha meyakinkan Leona.


Aku menuju ke salah satu ruang tabung di depanku. Sejujurnya, ini pertama kali bagiku menggunakan ruang tabung ini.


Ketika aku masuk, aku melihat sebuah kursi dengan sandaran dibelakangnya. Aku mencoba duduk di kursi itu.


Kemudian, sebuah Glass seperti sebuah alat Virtual Reality dalam dunia game keluar dari sebelah kanan sandaran kursi.


Alat itu terpasang dan menutupi mataku. Tiba - tiba, sebuah pesan dari sistem muncul di depanku.


'Peringatan ! Jiwa anda akan di ekstraksi. Apakah anda mengijinkan ?'


'Ekstraksi jiwa ? Apakah sistem yang kugunakan untuk skill "shadow creation" hampir mirip dengan alat ini.?' Pikirku setelah melihat jendela pesan dari sistem yang muncul dihadapanku.


"Ijinkan." Ucapku menanggapi permintaan ijin dari sistem.


Kemudian pandanganku mulai kabur. Aku tidak tau apa yang terjadi. Aku merasa seolah tubuhku menjadi sangat ringan.


Perasaan itu berlangsung beberapa detik sampai kesadaranku kembali. Perasaan itu, ini pertama kalinya aku merasakan hal itu.


Saat sadar, aku mendapati diriku sudah berada di dalam arena.


Di hadapanku, aku melihat Daniel yang sudah memasang kuda - kudanya. Dia membawa sebuah pedang berjenis longsword ditangannya. Sepertinya, dia tipe seorang petarung fisik.


"Boleh aku bertanya ?"


"Katakan saja !" Jawabnya dengan ketus.


"Darimana pedang yang kau pegang itu ?"


"Kau bisa mendapatkannya dengan mengatakan senjata yang kau mau. Karena arena ini adalah sebuah ruang virtual arena ini akan menyediakan apa yang kau butuhkan dalam pertarungan. Contohnya jika kau mengatakan pedang, sebuah pedang akan terwujud secara nyata seperti milikku ini."


"Hoo, kau cukup jujur dalam pertarungan ini. Kupikir kau tidak akan mengatakannya untuk mendapat keuntungan dalam pertarungan kita." Ucapku dengan santai menanggapi sikapnya.


"Cih, untuk melawan hunter rank D sepertimu, aku yakin akan menang tanpa kesulitan melawanmu." Jawabnya dengan penuh percaya diri.


Aku mengagumi kepercayaan dirinya yang tinggi dan sportivitasnya. Hanya saja aku tidak suka dengan kesombongannya.


Dengan seenaknya mengatakan aku tidak akan pernah bisa menolong temanku meskipun aku mau, itu benar - benar menyakiti perasaanku.


Jika saja dia tidak mengatakan itu, mungkin aku akan pergi walaupun tidak bisa menjadi anggota OSIS.


Diluar arena virtual, terdapat 4 layar TV berukuran sangat besar. Layar TV itu terlakan memproyeksikan semua yang kami lakukan di dalam ruang virtual sehingga penonton diluar arena bisa melihat pertarungan yang terjadi.


Arena virtual memang terlihat transparan. Tetapi bagi mereka yang duduk di barisan belakang tidak akan bisa melihat pertarungan dalam arena virtual secara langsung dikarenakan keterbatasan jarak pandang. Karena itu disediakan 4 Layar tv raksasa di setiap sudut arena.


--------------


Saat ini aku dan Daniel sudah melakukan duel kami.


Daniel berlari membentuk sebuah lingkaran yang mengelilingiku dengan lincahnya untuk berusaha mengecoh pandanganku. Aku yang menyadari hal itu hanya diam ditempat menunggu saat yang tepat untuk bisa melancarkan sebuah serangan yang bisa melumpuhkannya.


Ketika Daniel berlari kearah kiriku, tiba - tiba dia menghentakkan kakinya dengan sekuat tenaga. Dia melompat dengan sangat cepat dari tempat dia berdiri yang berjarak sektar 10 meter dariku dengan sangat cepat dia sudah berada diatas kepalaku.


Dengan sigap dia mengayunkan pedang virtualnya dari atas kebawah dengan niat menebasku.


'Dia sangat cepat.' Pikirku setelah melihat gerakannya itu.


Pantas saja dia disebut sebagai salah satu dari 7 orang terkuat di akademi ini. Tapi, dia salah karena memilih untuk melawanku.


Aku yang melihat arah pedangnya datang dari atas dengan cepat melayangkan tinju dari tangan kananku ke arah pedangnya.


Cting


Bunyi benturan antara knuckle di tangan kananku dengan pedangnya terdengar di telinga kami.


Tidak berhenti disitu, dengan tangan kiriku sebuah tinju yang kuat dan cepat melesat kearah perutnya.


Daniel yang sedang dalam posisi tidak diuntungkan, tidak bisa menghindari pukulan tangan kiriku.


Buk


Sebuah suara keras terdengar olehku. Pukulanku mengenai Daniel tanpa halangan apapun.


Itu membuat Daniel terhempas keatas. Melompat mundur dengan menggunakan udara sebagai tumpuannya. Dia terlihat tidak bisa menyembunyikan raut wajah kesakitannya.


Di sebuah bangku penonton Leona terkejut melihatku yang bisa mengatasi kecepatan Daniel.


"Dia tidak hanya bisa menahannya ? Dia bahkan bisa menyerang balik Daniel secara sempurna ?" Ucap Leona yang melihat pertarungan kami dari sebuah layar TV raksasa.


"Luar biasa. Kupikir dia seorang hunter tipe sihir, karena waktu itu dia menggunakan sihir yang luar biasa. Tapi, saat ini dia bisa mengimbangi Daniel yang seorang tipe petarung dalam pertarungan fisik ?!" Ucap Alicia yang terkejut melihatku bisa mengimbangi kemampuan Daniel.


"Tristan...dia sangat kuat. Bahkan aku tidak yakin bisa menang melawan kecepatan kak Daniel." Ucap Alice.


"Ah ?! Aku ingat." Ucap Alice yang tiba - tiba mengingat sesuatu di pikirannya.


Mengabaikan semua suara mereka, aku terus memfokuskan diriku pada gerakan Daniel. Gerakannya yang sangat cepat membuatku yakin jika dia seorang hunter tipe Assassin.


Hunter tipe Assassin memiliki kecepatan yang luar biasa. Namun daya tahannya lemah. Karena itu pukulanku tadi membuatnya kesakitan.


Dengan status kekuatanku yang sekarang, mustahil dia bisa menahan pukulanku tanpa merasakan sakit sedikitpun.


Daniel kembali melesat kearahku. Dia mengayun - ngayunkan pedangnya ke arahku. Aku berhasil menghindari semua serangannya karena status sense ku yang sudah sangat tinggi.


"Cih, bagaimana bisa tidak ada satupun seranganku yang mengenaimu." Ucapnya yang jengkel melihatku menghindari seluruh serangannya.


Tapi saat ini hari sudah mulai larut. Aku ingin segera menyelesaikan ini dengan cepat. Dengan satu serangan yang tidak akan pernah bisa dia lupakan.


"Sihir ekstrim."


?!


"Hahh ?! Dia apa dia gila ?! Dia akan menggunakan sihir ekstrim untuk melawan Tristan ?!" Ucap Alicia yang terlihat marah saat melihat Daniel menggunakan sihir ekstrimnya.


"Anak itu sudah berakhir. Dia membuat Daniel mengeluarkan sihir ekstrimnya. Dia beruntung jika setidaknya dia bisa pulih dalam 3 hari." Ucap Leona.


"Kau salah, Leona. Aku mengkhawatirkan keselamatan Daniel. Bukan Tristan." Ucap Alicia.


Leona tidak bisa memahami maksud perkataan Alicia. Bagaimana bisa dia malah mengkhawatirkan Daniel dalam kondisi pertarungan seperti itu. Dilihat dari sisi manapun sudah jelas Daniel yang memenangkan pertarungan simulasi ini.


"Apa kau tahu, menggunakan sihir ekstrim berarti kau harus menggunakan niat membunuh. Bukan hanya untuk mencederai, sihir ekstrim adalah sihir pamungkas seorang hunter yang digunakan untuk membunuh lawan dalam sekali serang. Aku harap Tristan tidak marah melihat Daniel yang berusaha membunuhnya menggunakan sihir ekstrimnya." Ucap Alicia menjelaskan.


"Apa kau tahu, Leona. Baru - baru ini aku dan adikku hampir mati di tangan pria bertopeng yang baru kita tangkap." Lanjut Alicia.


"Aku tahu itu. Tapi kalian berdua sudah mengalahkan pria bertopeng itu. Kenapa membahasnya sekarang ?" Tanya Leona yang tidak memahami perkataan Alicia.


"Menurutmu, bagaimana bisa aku yang sudah terluka parah dan kehabisan mana, juga adikku yang sudah terluka sama sepertiku bisa mengalahkan monster seperti pria bertopeng itu ?"


?!


"Apa maksudmu ? Lalu siapa yang mengalahkan pria bertopeng itu jika bukan kau dan adikmu...tunggu, jangan bilang yang mengalahkannya..." Ucap Leona yang terputus.


Leona akhirnya menyadari sesuatu yang terlewat darinya.


Kondisi Alicia dan Alice saat ditemukan sudah terluka parah. Dibanding kondisi pria bertopeng itu yang saat masih prima, mustahil pria bertopeng itu kalah dalam kondisi sebaik itu dan mereka berdua yang dianggap mengalahlannya malah terluka begitu parah.


"Kau benar. Tristan lah yang mengalahkan pria bertopeng itu. Pria bertopeng itu dengan kekuatan yang seperti monster buas itu bisa mengalahkanku dengan mudahnya. Tapi monster seperti pria bertopeng itu, bahkan tidak berdaya dihadapan kekuatan Tristan."


?!


Leona terkejut setelah mendengar penjelasan Alicia. Alicia adalah salah satu hunter top rank SS juga menjabat sebagai ketua OSIS. Dia juga salah satu orang terkuat di akademi. Tapi dia bilang dia hampir mati di hadapan pria bertopeng itu.


Dan belum lagi fakta bahwa Tristan yang mengalahkan pria bertopeng itu dan memaksanya menyerah.


"Kalau begitu, bocah itu..." Ucap Leona sambil menatap Tristan.


"Ya, Leona. Dia adalah monster sebenarnya yang bersembunyi di akademi ini. Kuharap dia tidak menganggap kita sebagai musuhnya setelah Daniel mengarahkan sihir ekstrim padanya."


----------


Daniel memajukan kaki kirinya. Dia menggenggam pedangnya secara horizontal dan mengarahkan ujungnya padaku.


Percikan - percikan kilat berwarna kuning keluar dari kakinya.


"Chain critical strike !!"


Dia berteriak menyebut nama dari sihir ekstrimnya dan melesat dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa.


'Kecepatan yang luar biasa' Pikirku setelah melihat kecepatannya yang bahkan tidak bisa kulihat.


Namun.....


"Time control, Aktif. Slower 10x."


Dengan skill time controlku, aku bisa memperlambat kecepatan Daniel menjadi 10 kali lebih lambat. Meskipun saat ini kecepatan Daniel luar biasa cepat, tapi dihadapan pandanganku yang menggunakan skill perlambatan waktu sampai 10x kecepatannya terlihat sangat lambat untukku.


Aku bisa melihat dia menyerangku menggunakan ujung tajam dari pedang itu. Dengan mudahnya aku menahan ujung pedangnya itu dengan jari telunjuk dan ibu jari tangan kiriku.


"Time normal." Ucapku setelah memastikan menghentikan pedangnya.


BLARRRRR


Sebuah benturan antara pedangnya yang melaju dengan kecepatan tinggi dengan kedua jariku melepaskan gelombang dengan daya hancur tinggi ke dinding dibelakangku.


?!


"Mustahil ! Apa ini nyata ?! Dia bisa menghentikan serangan daniel hanya dengan dua jari ?! Bahkan aku tidak bisa melakukan hal itu !" Teriak Leona terkejut melihatku yang memegang pedang daniel dengan kedua jariku.


"Seperti yang kuduga. Dia benar - benar monster." Ucap Alicia seakan dirinya sudah tidak lagi kaget melihat hal luar biasa yang dia lihat dariku.


"Tristan...sebenarnya sejauh mana batas kekuatanmu." Gumam Alice sambil menatapku.


Dibanding semua keterkejutan yang ditunjukkan ke 3 orang itu. Daniel yang ada dihadapanku jauh lebih terkejut.


Matanya terbelalak seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Keringat dingin mengucur deras membasahi tubuh virtualnya. Dan tubuhnya menggiggil gemetar. Aku bisa merasakan dengan jelas dirinya yang sedang gemetar dari ujung pedang yang kugenggam.


'Ini berhasil.' Pikirku setelah melihat raksi Daniel.


Sejak awal, aku menangkap serangannya hanya dengan 2 jari tangan kiriku bukan untuk pamer. Tapi untuk mematahkan kepercayaan dirinya yang begitu tinggi. Aku sudah mengincar saat - saat seperti ini dari awal.


Bagi orang sepertinya yang memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi. Akan terjadi tekanan luar biasa pada dirinya saat melihat lawannya bisa dengan mudah menghentikan serangan terkuatnya.


Sekarang dihadapannya aku adalah monster. Monster buas yang bisa menghancurkannya kapanpun aku mau. Dengan begini, dia tidak akan berani menunjukkan sikap arogannya dihadapanku lagi.


"Apa kau masih ingin melanjutkan pertarungan ?" Ucapku dengan santai.


Aku mengucapkan kata - kata itu dengan mengeluarkan skill ruler dominator.


Skill ruler dominator adalah sebuah skill sistem yang mengaktifkan aura kekuatanku dalam jumlah maksimum untuk menekan mental lawan. Skill ini sangat efektif pada lawan yang mentalnya sudah down sepertinya.


Dia melihatku bagaikan melihat bayangan monster dengan mata biru bersinar yang sedang berdiri dihadapannya. Tubuhnya gemetar hebat dan dia tidak berani menatap mataku.


"Ti-tidak. A-aku me-menyerah." Ucapnya dengan terbata - bata karena ketakutan.


Aku melepaskan genggamanku dari pedangnya yang membuatnya tersungkur karena kedua kakinya sudah tidak mampu menopang badannya akibat gemetar hebat.


Dengan dirinya yang sudah mengaku kalah, pertarungan simulasi ini dimenangkan olehku.