
"Astaga, aku sama sekali tidak berpikir untuk melakukan ini." Gumamku sembari menatap pria bertopeng yang sedang melayang di depanku.
"Siapa kau ?" Ucap pria bertopeng itu sambil memandang ke arahku.
"Kau tidak punya hak untuk mengetahui namaku." Ucapku dengan nada meremehkan.
Sejujurnya aku sedikit kesal melihat sikapnya yang begitu sombong yang meremehkan Alice dan kakaknya. Jadi aku sedikit ingin membalas sikapnya itu.
"HAHAHAHAHHAHA"
Mendengarku mengatakan itu pria bertopeng Yang ada dihadapanku itu tertawa begitu keras. Dia tertawa dengan sangat keras seperti kejiwaannya yang mulai terganggu.
"Astaga...aku tidak pernah menyangka hari ini akan ada begitu banyak pengganggu. Sepertinya aku benar - benar diremehkan. Baiklah, kali ini aku akan seri-"
"Gravitasi 5x."
?!
Pria bertopeng itu terkejut karena tiba - tiba gravitasi di sekitar area dengan diameter sektar 5 meter darinya menjadi lebih berat. Peningkatan gravitasi itu begitu berat hingga dia harus mendaratkan kakinya ke tanah.
"Sekarang kita sejajar. Akan lebih sopan bagimu jika bicara dengan posisi sejajar seperti ini." Ucapku sembari menghilangkan tekanan gravitasi berlebih yang ku keluarkan.
Aku bisa dengan jelas melihat tatapan matanya dari balik lubang di topeng yang dikenakannya, dia begitu marah. Aura tekanan disekitarnya juga meningkat dengan tajam. Sikap sombongnya yang dia tunjukkan sejak pertarungan dengan Alice dan kakaknya sekarang mulai menghilang.
"Kau....akan kulenyapkan sekarang juga ! Explosion burst !!"
Dia berteriak sembari mengarahkan tangan kirinya padaku. Kobaran api raksasa keluar dari bawah kakinya dan memutari tubuhnya hingga keatas kepalanya.
Melihat dari intensitas mana yang digunakannya, saat ini dia berniat mengakhiriku.
-------------
Kobaran api itu membentuk kepala seekor naga raksasa. Kepala seekor naga yang diselimuti api yang menyala - nyala. Pria bertopeng itu menggerakkan jarinya kearahku.
Hanya dengan melihatnya saja, aku tahu kalau itu adalah gerakan untuk membuat kobaran api itu menyerangku.
Benar saja perkiraanku, kepala naga api itu menganga seakan akan mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
Sebuah cahaya kemerahan perlahan muncul dari mulut naga api itu. Cahaya kemerahan itu semakin besar dan terus membesar. Intensitas mana yang terkonversi dalam bola api itu benar - benar luar biasa. Itu mungkin sekitar 10 kali lipat dari teknik fire buster yang dia gunakan untuk melawan ultimate rail gun Alice
"Tristan awas !! Aku merasa teknik itu sangatlah berbahaya !!" Ucap Alice yang mengkhawatirkanku.
Begitu pula dengan perempuan berambut putih yang adalah sodara Alice. Matanya terlihat membelalak seakan tidak percaya dengan intensitas mana yang dia rasakan. Bibirnya bergetar berusaha mengucapkan beberapa kata.
"M-mustahil...a-apa manusia bisa mengeluarkan mana dengan intensitas setinggi itu ?" Ucapnya yang tersendat - sendat karena gemetar melihat intensitas mana.
Wajar saja mereka gemetar melihatnya. Intensitas mana sebesar itu mustahil dikeluarkan oleh manusia biasa. Bahkan hunter sekelas rank SSS pun tidak akan sanggup mengeluarkan mana dengan jumlah sebanyak itu sekaligus.
Kepala naga raksasa itu terus mengumpulkan mana yang terus memperbesar bola api di mulutnya.
Pria bertopeng itu kemudian mengayunkan tangannya kearahku. Itu adalah tanda dia akan melepaskan serangan yang mengerikan itu.
Kepala naga api raksasa itu melepaskan bola api dimulutnya dan membuat sebuah gelombang kobaran api yang sangat kuat. Gelombang itu mungkin bisa membuat seluruh akademi S.A menjadi lautan api jika dibiarkan begitu saja.
Harus kuakui, pria bertopeng itu kuat bahkan sangat kuat karena bisa mengeluarkan sihir seperti ini. Bahkan jauh lebih kuat dari orang - orang yang ku kenal selama ini.
Tapi bagiku yang bisa menggunakan api hitam yang mampu membakar segalanya, api itu hanya terlihat seperti api kecil untukku. Aku telah melatih pengendalian skill "Flame of Purgatory" yang kumiliki secara diam - diam selama setahun ini.
"Wall of purgatory flame." Ucapku.
Kemudian aku menarik kedua tanganku ke pinggang dan membenturkannya dengan kuat ke tanah.
Dalam seketika api hitam raksasa setinggi 20 meter seperti dinding penghalang dihadapanku. Api hitam itu bagaikan sebuah perisai absolut yang tidak akan bisa ditembus. Itu jelas, karena api hitam itu akan membakar apapun yang menyentuhnya hingga lenyap tak berbekas.
----------
Gelombang kobaran api pria bertopeng itu melesat dengan cepat kearahku. Gelombang itu bagai sebuah rudal yang tidak bisa ditahan. Menahannya dengan elemen biasa akan sia - sia karena intensitas yang sepadat itu akan meledak jika membentur sesuatu. Dan ledakan yang dihasilkan mungkin setara dengan sebuah ledakan nuklir.
Gelombang kobaran api itu dengan cepat membentur dinding api hitam yang melindungiku. Dengan cepat api hitam menyebar dan menghapus api kobaran api pria bertopeng itu. Dalam sekejap kobaran api itu lenyap dan berganti menjadi api hitam milikku.
Tidak berhenti disitu, api hitam milikku terus membakar sisa - sisa kobaran api pria bertopeng itu dan menjalar kearah kepala naga api raksasa yang menyemburkan gelombang kobaran api tadi.
Seperti deskripsi dalam jendela status. Flame of purgatory akan membakar apapun yang mengenainya hingga tak tersisa. Saat inipun kepala naga api yang berada di atas pria bertopeng itu mulai diselimuti api hitam itu dan lenyap.
Pria bertopeng di hadapanku menyadari dirinya akan dalam bahaya jika sampai terkena api hitam itu. Dia melepaskan tekniknya dan melompat mundur kebelakang.
"Siapa kau sebenarnya ?!" Ucap pria bertopeng itu dengan menatap tajam kearahku.
Aku hanya diam. Sejujurnya, aku merasa tak berkewajiban untuk menjawab pertanyaannya. Dan aku juga tidak ingin mengungkapkan identitas yang sudah susah payah dirahasiakan biro penanganan dungeon dari akademi ini.
--------------
Alice yang melihat pertarunganku sangat terkejut. Itu terlihat dari matanya yang membelalak seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"B-bagaimana...bagaimana bisa Tristan sekuat itu ? Aku tahu seperti ada hal yang dia sembunyikan, tapi aku tidak menyangka dia sekuat itu. Dia bahkan bisa mendesak pria bertopeng itu mundur tanpa terlihat kesulitan." Ucapnya dengan tidak lancar karena terkejut melihat pemandangan dihadapannya.
"Alice !"
Alice menoleh melihat keara datangnya suara itu. Dia melihat kakaknya yang berlari menghampirinya.
"Ka-kakak." Jawabnya dengan terbata - bata karena perasaannya yang masih dipenuhi rasa keterjekutan.
"Si-siapa sebenarnya teman yang kau bawa itu ? Apa peringkatnya di akademi ?" Tanya kakaknya sembari memandangku yang tengah berdiri berhadapan dengan pria bertopeng itu.
"Pria itu...namanya Tristan. Dia berasal dari kelas yang sama denganku. Dia adalah hunter rank....D" Ucap Alice seakan tidak percaya seorang hunter rank D bisa sekuat itu.
"Apa ?! Rank D ?! Kau serius dia rank D?!" Teriak kakaknya yang tidak percaya bahwa orang sekuat itu hanyalah seorang hunter rank D.
"Aku tau mungkin itu sulit dipercaya. Tapi itulah kenyataannya. Aku tidak tau kenapa selama ini dia menyembunyikan kekuatannya yang luar biasa itu." Ucap Alice yang menatapku dengan penuh keheranan.
"2 perempuan yang disana ! Bisa aku meminta satu hal pada kalian ?" Ucapku yang mendengar pembicaraan mereka tanpa menurunkan kewaspadaanku dari pria bertopeng yang sedang mencari celah untuk menyerangku.
"A-apa itu ?" Jawab Alice dengan terbata - bata.
"Berjanjilah untuk tidak mengatakan apapun yang kalian lihat saat ini kepada siapapun. Anggaplah aku tidak pernah menolong kalian." Ucapku dengan raut serius.
"Baiklah." Ucapnya dengan singkat namun dengan mantap seakan dia sudah bertekad untuk melakukan permintaanku untuk tidak pernah mengatakan pada siapapun bahwa aku sudah membantunya.
Kakak Alice juga mengangguk menandakan dia menyetujui permintaanku.
"Bagus." Jawabku singkat dengan sedikit tersenyum padanya.
Sebenarnya itu hanya permintaan egoisku, saat ini aku dianggap sebagai hunter yang hilang dan Amerika masih terus memburuku karena aku melukai beberapa hunter mereka.
Dengan mereka sibuk mencariku, mereka tidak akan sempat meletakkan tangannya pada teman - temanku.
-------------
"Kemudian, saatnya aku menyelesaikan pertarungan ini." Ucapku sambil kembali menatap pria bertopeng dihadapanku.
Pria bertopeng itu sama sekali tidak mengganggu percakapanku dengan Alice seolah dia tidak menemukan celah sedikitpun untuk menyerangku.
"Ini sudah lama semenjak aku bertarung dengan serius. Mungkin sekitar setahun. Kuharap kau tidak membuatku bosan." Ucapku kemudian melesat pria bertopeng dihadapanku.
?!
"Dia menyerangku secara langsung ?! Bukankah dia seorang hunter tipe mage ?! Apa dia gila ?!" Pikir pria bertopeng itu melihatku melesat secara langsung kearahnya.
"Bagus. Ini saatnya, akan kuakhiri ini dengan sihir ekstrimku." Ucapnya sambil mempersiapkan kuda kudanya.
Dia memindahkan kaki kanannya kebelakang dengan posisi seperti seorang petinju. Dia mengepalkan tangan kirinya dengan sangat kuat ke pinggangnya dan tangan kanannya berada di depannya seakan mengunci gerakanku.
"Sihir ekstrim. Inferno dragon buster !!"
?!
"Inferno ?! Itu salah satu dari teknik sihir api tertinggi yang ada di dunia. Dia bisa menggunakan sihir inferni ?!" Ucap kakak Alice yang gemetar melihat sihir yang dikeluarkan oleh pria bertopeng itu.
Benar saja, aura tekanan yang kurasakan dari pria bertipeng itu sangat kuat. Kobaran api berwarna merah gelap seperti darah berkobar menyala - nyala. Kobaran api itu membentuk sebuah naga raksasa dengan sempurna.
Bukan hanya itu saja, seluruh tubuh pria bertopeng itu juga diselimuti oleh api dengan warna yang berbeda. Aku benar - benar merasakan kekuatan yang luar biasa dari diri pria bertopeng itu.
"Seorang penyihir berniat menyerang langsung diriku dengan kekuatan fisiknya ?! Kau benar - benar gila !! Terimalah serangan terkuatku ini !!!" Teriaknya.
Dia melepaskan tinjunya ke arahku. Pukulan itu di ikut oleh sebuah gelombang api yang menjalar tanpa putus seperti diulur secara terus menerus.
Tidak hanya itu naga api yang berada diatasnya juga melepaskan semburan gelombang kobaran api yang dari tadi dikumpulkannya.
Kedua gelombang kobaran api itu memuyar bagai sebuah pusaran yang menjadi sebuah entitas yang utuh.
Gelombang kobaran api raksasa berintensitas sangat tinggi itu melesat kearahku.
"Hehh, itu memang teknik yang kuat. Tapi bagiku, itu hanyalah sekdar api kecil yang tidak layak untukku."
Aku memfokuskan api hitamku ke seluruh dan membuatnya menyelimuti seluruh tubuhku. Api hitam ini tidak melahapku, tapi melahap seluruh benda luar yang berada disekitarku selain tanah tempatku berpijak. Bahkan air hujan yang mengenaiku lenyap tak berbekas.
Dalam sekejap aku melihat gelombang kobaran api raksasa itu mendekat dan dengan cepat melahapku. Tidak berhenti disitu, kobaran api itu terus melesat seperti sebuah tembakan meriam yang tidak terkalahkan.
Alice yang melihat itu berteriak karena mengira diriku yang terkena serangan sihir ekstrim milik pria bertopeng itu.
"TRISTANNNN !!!!"
?!
Namun mereka mulai melihat sebuah titik hitam dari gelombang api yang terus melesat itu. Titik hitam itu semakin besar dan semakin menyebar menampakkan wujud aslinya. Titik hitam itu menampakkan wujud aslinya yang adalah api hitam yang menyala - nyala dan melahap seluruh kobaran api itu. Dalam sekejap kobaran api yang begitu luar biasa hingga bisa meluluh lantakkan seluruh kota ini lenyap begitu saja ditelan api hitam itu.
"Mustahil. Monster macam apa kau sebenarnya ?" Ucap pria bertopeng itu padaku yang kini berada tepat di depannya.
"Kau tidak perlu tahu. Saat ini kau harus menceritakan semua yang kau ketahui tentang organisasi algorytm." Ucapku dengan tatapan tajam yang seolah - olah bisa membunuhnya kapanpun aku mau.
"Hahahahaha, baiklah aku akan mengatakannya. Aku bukan orang yang cukup gila untuk melawan orang yang bisa membunuhku kapan saja." Jawab pria bertopeng itu dengan santainya.
Aku pikir dia orang yang cukup aneh karena masih bisa bersikap santai seperti itu di depanku yang bisa membunuhnya kapan saja.
"Siapa disana ?!! Menyerahlah !! Kami dari divisi keamanan akademi !!"
Sebuah suara muncul tiba - tiba dan mengagetkanku.
'Divisi keamanan akademi. Gawat, akademi tidak boleh mengetahui identitasku.' Pikirku.
Aku dengan cepat melesat meninggalkan area pertarungan menggunakan kekuatan fisikku. Status kecepatanku saat ini sudah sangat tinggi hingga bisa membuatku bergerak sangat cepat jika aku mau. Bahkan mungkin jauh lebih cepat dari sihir lighning speed yang digunakan Alice.
"Sungguh mengerikan. Seorang dengan kemampuan sihir yang bisa menghentikan sihir ekstrimku dengan mudah, bahkan memiliki kemampuan fisik untuk bergerak secepat itu. Itu benar - benar curang." Ucapnya dengan santai sambil mengangkat tangannya setelah dia menyadari bahwa dirinya di kepung oleh beberapa orang.
Seorang pria berambut pirang dengan mata biru berjalan dengan santainya. Dia mengenakan seragam yang sama dengan akademi ini, namun dengan tambahan badge berbentuk mawar berwarna merah yang menandakan dirinya adalah salah satu anggota dari divisi keamanan akademi.
Dia kemudian membungkuk pada kakak Alice.
"Ketua Valentine, maafkan kedatangan kami yang terlambat." Ucapnya sambil membungkuk dengan sopan pada kakak Alice.
"Tidak apa - apa. Yang lebih penting, segera amankan dia. Pria bertopeng itu sangat berbahaya, jadi jangan lengah sedikitpun." Ucapnya kepada pria berambut pirang itu.
"Alice, ayo kita kembali. Karena kau sudah sangat lelah sebaiknya kau ikut kakak ruang divisi keamanan akademi dan memulihkan kekuatanmu disana." Ucap perempuan berambut putih itu pada Alice.
"Ahh, ba-baik kak." Ucap Alice terbata - bata.
Dia terus memandangi salah satu pohon yang rindang di dekat area pertarungan itu.
"Tristan...siapa kau sebenarnya." Gumamnya sambil memandangi pohon rindang itu.
"Kemampuan perasa gadis itu tinggi juga. Aku sudah menyembunyikan keberadaanku, tapi sepertinya dia masih bisa merasakan hawa keberadaanku." Ucapku yang merasa bahwa Alice sedang menatapku.
"Yahh, setidaknya Alice dan kakaknya sudah berjanji tidak akan mengatakan apapun tentang ini. Kalau begitu karena hujannya sudah reda, sebaiknya aku pulang." Ucapku yang melihat hujan yang telah reda.
"Ahh sial, bajuku jadi basah seperti ini." Gerutuku
Hari - hari menegangkan pun mulai berakhir dengan dihiasi oleh cahaya pelangi yang begitu indah setelah hujan yang lebat ysng menutupi langit akademi berhenti.
Dalam hatiku yang terdalam, meski aku tidak ingin menggunakan kekuatanku, tapi aku bersyukur kedua perempuan itu selamat.