
"Aku sungguh tidak pernah membayangkan seorang hunter rank D bisa mengalahkan Daniel yang seorang rank S dengan begitu mudah. Anak bernama Tristan itu benar - benar luar biasa." Ucap Leona yang seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya kemarin.
"Hahh, kalian benar - benar suka menilai buku dari sampulnya." Ucap Alicia sambil memegang dahinya seakan sudah lelah dengan kedua rekannya.
"Hei, semua orang juga akan bereaksi seperti kami jika belum melihat kemampuannya. Kau bisa mengatakan itu karena kau sudah melihat kemampuannya lebih dulu." Jawab Leona membantah pernyataan Alicia.
"Hei, Daniel. Menurutmu bagaimana kemampuan Tristan ?"
Daniel yang dari tadi hanya diam bersandar di balkon rang itu menoleh ke arah Leona.
"Anak itu...dia benar - benar seperti monster. Awalnya aku hanya bermain - main dengannya, tapi kemudian aku mulai serius. Meski aku sudah menggunakan seluruh kemampuanku, tidak ada satupun seranganku yang mengenainya." Ucap Tristan dengan murung setelah kekalahannya dalam pertarungan simulasi.
"Apa alasan dia menyembunyikan kekuatannya yang luar biasa itu ?" Tanya Leona pada Alicia.
"Entahlah, tapi aku benar - benar ingin menjadikannya anggota OSIS. Sayangnya dia pergi begitu saja setelah Daniel menyerah." Ucap Alicia.
"Hei, Ketua. Apa benar yang menangkap pria bertopeng itu dia ?" Tanya Daniel.
"Ya, itu benar. Aku bahkan hampir mati saat melawan pria bertopeng itu." Jawab Alicia dengan santainya.
"Hemm, jika bisa mengalahkanmu dengan mudah berarti kekuatannya berada di atas rank SS. Kemungkinan setara dengan hunter rank SSS. Aku bertanya - tanya, ada berapa orang di kelompoknya yang memiliki kekuatan sebesar itu ?" Ucap Daniel.
Daniel memang seorang yang selalu penuh dengan segala perhitungan. Sebelumnya dia mengira Alicia dan adiknya yang mengalahkan pria bertopeng itu.
Tapi saat dia mendengar fakta yang sebenarnya dari Alicia dan Leona, dia menyadari betapa berbahayanya organisasi Algorytm itu.
Di dunia ini diketahui hanya ada 7 orang rank SSS di dunia ini dan hanya 21 orang rank SS. Dan pria bertopeng itu bisa mengalahkan kedua rank SS tanpa kesulitan. Organisasi Algorytm bisa menjadi sebuah bencana tingkat nasional yang sulit untuk dihentikan.
"Saat ini kita tidak perlu cemas, pemerintah perancis saat ini terus melakukan introgasi pada orang itu. Meskipun, dari informasi yang kudapat dia tidak mau mengatakan apa - apa meski sudah dilakukan kekerasan terhadapnya." Ucap Alicia.
"Aku hanya berharap pemerintah menemukan petunjuk darinya. Aku merasa Algorytm ini akan akan menimbulkan bencana bagi seluruh dunia." Ucap Alicia sembari menyandarkan kepalanya pada kedua tangannya diatas meja.
"Aku akan berusaha membujuk Tristan untuk bergabung dengan OSIS. Akademi ini akan sangat membutuhkan kekuatannya." Lanjut Alicia yang kembali menegakkan kepalanya.
Kedua rekannya yang berada didekatnya tidak lagi menolak keputusan Alice setelah mengetahui fakta sebenarnya tentang insiden pria bertopeng. Ditambah mereka juga telah melihat dengan mata mereka sendiri kekuatan luar biasa yang dimiliki Tristan.
-------------
Pertarungan simulasi dengan Daniel sudah berakhir dengan kemenanganku. Kini aku kembali menjalani hari - hariku seperti biasa.
Hari ini adalah hari minggu, kegiatan pembelajaran diliburkan. Tapi aku datang ke akademi karena bosan dirumah.
Berjalan - jalan di sekeliling danau buatan yang terletak di tengah - tengah akademi. Di pagi hari, udara disini terasa begitu sejuk.
Angin sepoi - sepoi yang berhembus dengan lembut, ditambah suara gemericik dari air mancur yang tepat di tengah - tengah danau mampu menenangkan pikiran.
Saat ini aku duduk di sebuah tempat duduk di pinggir danau. Kursi yang kududuki terbuat dari kayu yang memanjang dengan sandaran dibelakangnya.
Dibelakangku ada sebuah pohon dengan batang yang bercabang dan daun yang rindang. Pohon itu mengurangi silau cahaya matahari yang menyinariku.
"Hahhh, aku ingin tau kabar teman - temanku." Ucapku sambil menghela nafas panjang.
Aku merindukan teman - temanku di Indonesia. Ini sudah lebih dari setahun aku meninggalkan mereka. Tidak ada berita yang mengatakan tentang masalah antara hunter Amerika dengan Indonesia. Jadi kupikir mereka baik - baik saja.
"Kalau kau ingin tau kabar teman - temanmu, kenapa kau tidak menelvon mereka saja ? Atau kau bisa libur beberapa hari dari kegiatan pembelajaran dan menemui mereka."
Sebuah suara lembut membuatku menoleh kearah datangnya suara itu. Aku sangat mengenal suara ini.
"Alice ? Apa yang kau lakukan disini saat kelas libur ?" Tanyaku setelah mengetahui suara itu berasal darinya.
"Ahh, saat ini aku sudah menjadi anggota OSIS. Anggota OSIS diwajibkan untuk tetap ke akademi meski kegiatan pembelajaran libur. Ini untuk mengantisipasi adanya hal tidak diinginkan yang terjadi di akademi saat hari libur." Ucapnya menjawab pertanyaanku.
"Hahh, aku tidak tau kau suka hal - hal yang begitu merepotkan." Ucapku yang sedikit menyindirnya.
Kami terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya Alice membuka percakapan yang mengakhiri keheningan diantara kami.
"Hei, Tristan ?" Ucapnya dengan suara lembutnya.
"Apa ?" Jawabku singkat.
"Kenapa kau tidak menemui mereka saat libur ? Jika kau sungguh merindukan mereka, kau bisa menemui mereka bukan." Ucapnya memberiku saran.
"Seandainya aku bisa melakukannya semudah yang kau katakan pasti aku melakukannya. Sayangnya aku tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa ?" Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya ke samping.
"Karena ada beberapa alasan tertentu." Ucapku menjawab pertanyaan Alice.
Alice yang melihat Tristan menyadari ada yang tidak beres. Seperti ada sebuah beban berat yang sedang dibawa. Dia bisa melihat dari tatapan kosong dimatanya.
"Aku tau kau mungkin tidak mempercayaiku dan menganggapku orang asing. Tapi aku menganggapmu temanku. Sejak saat pertama melihatmu di akademi, aku selalu melihatmu yang menatap keluar jendela di kelas. Aku pikir kau memiliki banyak beban dipikiranmu. Aku selalu mencoba mendekatimu, tapi kau selalu bersikap dingin padaku. Kau terus bersikap dingin sampai 2 hari yang lalu. Saat kau meyakinkanku untuk menolong kakakku." Ucap Alice dengan lembut.
"Kau tau, dari kecil hubunganku dengan kakakku tidaklah baik. Kakak yang jauh lebih berbakat padaku selalu mendapat begitu banyak kasih sayang dari keluargaku. Aku benci mengakuinya, tapi aku merasa iri padanya. Tapi saat melihatnya hampir mati 2 hari yang lalu, aku menyadari perasaanku yang sebenarnya pada kakakku. Tapi aku sadar, dibanding kakakku aku hanyalah orang yang tidak berguna. Aku takut, aku berpikir bahkan kakak tidak bisa melawan, apalagi diriku yang tidak berbakat ini." Ucap Alice dengan raut wajah yang menyimpan kesedihan
Saat mendengar cerita Alice, aku menyadari bahwa seorang yang sempurna sepertinya bahkan memiliki hal - hal yang bisa membuatnya sedih.
"Tapi, saat kau berkata akan melindungiku dari belakang. Kata - kata singkat itu sangat berarti untukku. Sebuah kata - kata singkat itu memberiku keberanian untuk menolong kakakku. Dan lagi, saat aku hampir mendekati jurang kematian. Sekali lagi kau menolongku. Kau berdiri di depanku disaat aku sudah pasrah menerima kematianku. Kau tahu, kau yang berdiri di depanku dan melindungiku saat itu terlihat sangat keren." Ucap Alice sambil tersenyum kearahku.
Dia tersenyum, namun air mata juga mengucur membasahi pipinya yang lembut itu.
"Setelah kejadian itu, kini hubunganku dan kakakku perlahan semakin membaik. Aku sangat bersyukur saat itu bisa menolong kakakku. Aku sangat berterimakasih padamu yang memberiku keberanian saat itu. Aku berterimakasih padamu yang menyelamatkan kami berdua saat itu. Aku tahu kau menyembunyikan kekuatanmu, tapi aku senang kau menggunakan kekuatanmu untukku dan kakakku. Aku sangat berterimakasih, Tristan."
Alice menceritakan segala masalahnya dan rasa terimakasihnya yang begitu dalam padaku. Tak pernah terbayangkan olehku, sebuah tindakan kecil yang kulakukan menjadi sangat berarti baginya.
"Hahh, baiklah aku akan menceritakan masalahku padamu." Ucapku sambil menghela nafas panjang.
"Semua bermula dari......"
Aku menceritakan segalanya pada Alice. Soal kematian orang tuaku. Bagaimana aku mendapat kekuatanku. Soal teman - temanku dan alasanku menyembunyikan kekuatanku di akademi karena telah melukai hunter dari Amerika.
Aku menceritakan segalanya padanya dengan menyembunyikan fakta bahwa aku bertemu dewa absolut saat terbunuh oleh serangan demon knight. Dan fakta soal kekuatan sistem.
Alice mendengarkan ceritaku dari awal hingga akhir. Di akhir cerita tiba - tiba dia memelukku dengan erat.
"Kehilangan orang tua yang kau cintai, melawan sebuah kekuatan besar seperti Amerika untuk melindungi teman - temanmu. Dan bahkan rela mengasingkan diri demi keselamatan teman - temanmu. Kau tahu, Tristan. Kau adalah pria paling keren yang pernah ku kenal." Ucapnya sambil tersenyum manks menatapku.
Dia memelukku dengan erat untuk beberapa saat. Dia menangis mendengar ceritaku.
'Dia benar - benar gadis yang baik.' Pikirku sambil menatapnya yang tengah memelukku.
Melihat sikapnya yang seperti ini, aku menyadari aku mungkin bisa saja jatuh hati padanya. Tapi aku segers mengabaikan pemikiran itu.
Setelah beberapa saat memelukku, dia melepas pelukannya dari tubuhku. Pipinya merah karena memelukku secara tidak sadar.
Aku tersenyum kecil melihat sikapnya yang menggemaskan itu.
"Tristan, bergabunglah dengan OSIS. Akademi akan membantu sekuat tenaga untuk melindungi teman - temanmu. Akademi bisa meminta bantuan pemerintah perancis untuk melindungi teman - temanmu." Ucapnya setelah menenangkan dirinya.
"Apa itu bisa ? Perancis adalah teman baik Amerika. Aku ragu mereka mau berkonflik dengan Amerika hanya karenaku." Jawabku menanggapi permintaan Alice.
"Itu bisa dilakukan."
Sebuah suara memotong pembicaraan kami.
"Kakak ? S-sejak kapan kakak ada disana ?" Ucap Alice yang melihat kakaknya keluar dari balik pohon dibelakang kami.
"Jangan khawatir. Aku baru datang. Aku tidak melihat apapun soal kalian yang berpelukan." Ucapnya dengan santainya yang menyindir Alice secara halus.
Wajah Alice memerah semerah tomat setelah mendengar jawaban Alicia.
"Hei, Tristan. Bergabunglah dengan OSIS. Aku akan menjamin keamanan teman - temanmu." Ucap Alicia padaku.
"Bagaimana kau akan menjamin keamanan teman - temanku ?" Tanyaku yang tidak yakin dengan kata - kata Alicia.
"Kau tahu, keluarga Valentine adalah keluarga paling dihormati di perancis. Dari ketujuh hunter rank SSS di dunia, kami Ayah kami yang menjadi kepala keluarga kami adalah salah satunya. Ditambah fakta keluarga kami memiliki 3 hunter rank SS yang hanya ada 6 orang diperancis. Pemerintah perancis sangat menjaga hubungan dengan keluarga kami, karena keluarga kami adalah kekuatan tempur utama pemerintah perancis. Jika ayahku meminta pemerintah untuk melindungi teman - temanmu. Aku yakin mereka akan bersedia." Ucap Alicia menjelaskannya.
Aku tidak pernah menyangka kalau keluarga Valentine sangat terpandang di negara ini. Saat ini perancis memang hanya memiliki seorang hunter rank SSS, tidak seperti Amerika, Rusia, dan China yang masing - masing memiliki 2 hunter rank S.
Namun kekuatan perancis diperhitungkan karena mereka juga mempunyai 5 hunter rank SS dan bahkan sekarang menjadi 6 hunter rank SS setelah Alicia mendapat kenaikan tingkat. Amerika hanya mempunyai 3, Rusia dan China hanya mempunyai 2 dan sisanya tersebar ke berbagai negara.
"Apa kau benar - benar bisa menjamin keamanan mereka ?" Tanyaku dengan menatap mata Alicia dengan serius.
"Ya, jika kau bersedia menjadi anggota OSIS akademi ini." Ucapnya yang membalas tatapanku.
'Tidak ada kebohongan yang terdeteksi dalam diri perempuan itu.'
Sebuah jendela status yang mengatakan bahwa Alicia berkata jujur berhasil meyakinkanku.
"Baiklah, aku bersedia." Ucapku menanggapi perkataan Alicia
Hari ini berlalu dengan perasaan ringan yang kurasakan. Beban berat yang selama ini kubawa seakan berkurang.
Tidak terasa matahari mulai membenamkan dirinya kembali. Langit biru mulai berganti gelap dengan perlahan. Kami memutuskan untuk kembali pulang kerumah kami masing - masing.
'Hari ini benar - benar terasa menyenangkan' Pikirku sembari berjalan pulang.