
Aku datang menemui Alicia permintaan darinya sendiri.
"Hahh ? Ke-kenapa kau disini ?!" Ucap Daniel yang terlihat kaget saat melihatku.
"Alicia yang memintaku datang." Jawabku singkat.
"A-ah baiklah, ka-kalau begitu a-aku pergi dulu." Ucapnya kemudian meninggalkan ruang OSIS dengan terburu - buru.
Aku yang melihat sikap Daniel, merasa sikapnya aneh dan bertanya pada Alicia.
"Kenapa dia terlihat ketakutan begitu ?"
"Ahahaha, setelah kau membuat kepercayaan dirinya hancur dalam pertarungan simulasi. Dia jadi sangat ketakutan dan bersumpah tidak ingin berurusan denganmu lagi." Ucap Alicia dengan santainya.
'Hemm, jadi dia takut padaku ?' Pikirku setelah mendengar jawaban dari Alicia.
"Hei, Tristan, ambil ini." Ucap Alicia yang tiba - tiba memberikan sebuah badge merah padaku.
Itu adalah sebuah badge OSIS di akademi ini. Badge ini berbentuk bunga mawar berwarna merah dengan diameter sekitar 2 Cm.
Di akademi, murid biasa dilarang menggunakan sihir kecuali dalam keadaan terdesak. Dengan badge ini, kita diijinkan menggunakan sihir untuk mengatasi masalah - masalah yang terjadi di dalam akademi.
Aku memasang badge itu di seragamku. Tanpa di duga persyatatan menjadi OSIS sangat mudah. Hanya dengan memasang badge ini, aku sudah diakui bagai anggota OSIS.
"Baiklah Tristan. Sekarang kau sudah secara resmi menjadi anggota OSIS. Kau bisa kembali ke kelasmu." Ucap Alicia.
Akupun pergi meninggalkan ruang OSIS menuju kelasku.
Setibanya di kelas, aku merasakan atmosfir yang berbeda dari yang biasa kurasakan. Siswa - siswi dikelas yang biasanya mengabaikanku, sekarang mereka menatapku dengan seksama.
"Hei, lihat bajunya. Bukankah itu badge OSIS akademi ?"
"Bagaimana bisa seorang pecundang seperti dia menjadi anggota OSIS ?"
Suara bisik - bisik dari siswa - siswi di kelas terdengar jelas ditelingaku. Tanpa mempedulikan ucapan mereka, aku meneruskan langkahku menuju tempat dudukku.
Tidak berselang lama, kehadiran guru pengajar di kelas membuat siswa - siswi di kelas menyudahi obrolan mereka.
Kegiatan pembelajaran pun dimulai.
-----------
"Baiklah semuanya, pembelajaran hari ini selesai. Kalian bisa meninggalkan kelas."
Pengajar itupun meninggalkan kelas setelah mengatakan itu.
Aku merapikan buku dan bergegas keluar meninggalkan ruang kelas.
Tringgg~
Aku mendengar suara berdering dari badge yang ku kenakan.
'Hah ? Suara dering apa ini ?' Pikirku setelah melihat ternyata badge yang terpasang di seragamku yang berdering.
"Halo, Tristan. Aku mendapat informasi ada sebuah perkelahian di gedung olahraga di sebelah timur gedung utama. Bisakah kau memeriksanya. ?"
Sebuah suara yang ku kenal terdengar dari badge setelah aku mengangkat badge yang kukenakan. Tidak ada tombol apapun pada badge itu, aku pikir mungkin badge itu menggunakan sensor. Jadi begitu aku menyentuhnya, telepon akan langsung terangkat.
'Jadi, badge ini juga berfungsi sebagai alat komunikasi ya. Perempuan itu benar - benar tidak mengatakan apapun dan menyuruhku pergi begitu saja.' Pikirku yang sedikit jengkel pada Alicia karena tidak memberitahu apapun tentang fungsi dari badge OSIS ini.
"Baiklah. Tapi apa aku harus menggunakan kekuatanku ?" Tanyaku yang sedikit ragu untuk menggunakan kekuatanku.
"Jika kau merasa bisa mengatasinya tanpa menggunakan sihir. Kau bebas melakukannya." Ucap Alicia dengan santai menanggapi pertanyaanku.
Dia memang selalu santai seperti ini. Sebagai ketua OSIS, sikapnya adalah yang paling menyenangkan dibanding 2 petinggi lainnya.
"Baiklah." Jawabku singkat kemudian memasang badge kembali pada pakaianku.
Kemudian aku segera berlari menuju gedung olahraga. Kebetulan letak gedung olahraga tidak jauh dari gedung utama. Aku hanya butuh waktu sekitar 5 menit dengan berlari dari gedung utama menuju gedung olahraga.
Saat aku memasuki gedung, aku melihat siswa - siswi akademi yang berdesakan di dalamnya. Aku penasaran apa gedung olahraga selalu seramai ini.
Akupun menyerobot mereka selangkah demi selangkah hingga kemudian sampai ke barisan paling depan.
Dari tempatku, aku bisa melihat seorang wanita berambut hitam dengan rambut dikuncir kuda. Bola matanya berwarna coklat cerah dan memiliki wajah yang lumayan cantik dengan kulit putihnya khas wanita Asia. Dugaanku dia berasal dari jepang.
Kemudian dihadapannya seorang pria dengan badan yang lebih besar dari gadis itu menjadi lawannya. Pria itu berambut merah, dia memiliki bola mata berwarna merah dan memiliki penampilan seperti seorang yang tangguh.
"Hemm, bukankah ini terlihat seperti olahraga biasa ? Aku akan menghentikannya saat mereka sudah berlebihan. Untuk saat ini, aku hanya akan mengamati mereka."
"Hei, Shinobu. Berhentilah orang sepertimu tidak pantas berada di klub kendo." Ucap pria berambut merah pada gadis dihadapannya.
"Kau, tidak berhak memutuskan itu !"
Teriak gadis itu kemudian bergerak maju ke arah pria dihadapannya. Dia mengayunkan pedangnya yang terbuat dari kayu ke arah pria dihadapannya. Menurutku kemampuan pedangnya lumayan hebat.
Pria berambut merah dihadapannya dengan sigap menangkis semua serangan gadis itu dengan gerakannya yang cepat.
Mereka saling menyerang dan bertahan untuk beberapa saat. Namun kemudian setelah serangan gadis itu ditangkis, dia dengan cepat mengubah arah pedangnya ke atas dan mengayunkannya pada pria berambut merah yanh menjadi lawannya.
"Skakmat !" Ucap gadis itu saat menghentikan ayunan pedangnya yang hanya berjarak satu jengkal dengan kepala pria itu.
"Aku menang, Kouji. Sudah ku bilang kau tidak berhak menjadi ketua di tim kendo." Ucap gadis berambut hitam itu sambil memalingkan pandangannya dan beranjak pergi.
"BERHENTI, SHINOBU !! AKU AKAN MENGALAHKANMU DETIK INI JUGA !!"
Teriak pria berambut merah itu dengan amarah yang meledak - ledak. Aku bisa melihat kemarahan itu yang terpampang jelas di raut wajahnya.
"Flame sonic blade."
Sebuah kobaran api yang sangat panas berkobar menyelimuti pedang kayunya. Api berwarna kemerahan itu menyala - nyala menyelimuti pedangnya yang terbuat dari kayu. Api itu sangat panas, namun tidak membakar pedang kayu yang diselimutinya.
Gadis berambut hitam itu terkejut melihat api yang berkobar di pedang kayu milik pria berambut merah itu.
"Persetan denganmu !! Aku akan membuatmu tidak bisa mengayunkan pedangmu lagi !!" Ucap Hyuga yang melesat kearah Shinobu.
Aku yang melihat ini memutuskan untuk melibatkan diri. Menurut aturan di akademi, penggunaan sihir tanpa ijin itu dilarang. Saat ini pria berambut merah itu telah melanggar peraturan akademi. Jadi aku bisa melibatkan diriku.
Aku melompat kehadapannya dan mengayunkan tangan kananku ke depan yang memberi isyarat padanya untuk menghentikan langkahnya.
"Kau...anggota OSIS ? Tapi aku tidak mengenalmu."
"Kau sudah melanggar aturan akademi dalam penggunaan sihir. Menyerahlah dengan baik - baik dan aku tidak akan mempermasalahkan tindakanmu." Ucapku padanya.
Yahh aku berkata begitu supaya dia menyerah dan aku tidak harus mengambil jalan kekerasan. Selama dia tidak mengayunkan pedangnya padaku, dia belum bisa di sebut melakukan pelanggaran penggunaan sihir. Aku memanfaatkan celah dari peraturan itu untuk bernegosiasi dengannya.
Namun, hal yang kupikirkan ternyata tidak berjalan lancar. Pria berambut merah dihadapnku benar - benar mengabaikan peringatanku.
"Hahahaha, yang benar saja. Hentikan saja aku jika kau memang bisa." Ucapnya padaku dengan penuh percaya diri.
Setelah mengatakan itu, 4 orang dibelakangnya sekarang ikut maju dan mengacungkan pedang kayu kearahku. Aku menduga mereka berempat adalah temannya.
"Baiklah. Jika memang itu yang kau inginkan." Ucapku kemudian melangkahkan kaki kiriku kedepan dan mempersiapkan kuda - kuda bertarung.
Pria berambut merah itu maju melesat kearahku. Dia benar - benar melesat tanpa basa - basi.
Tapi bagiku, gerakannya terlalu sederhana. Tidak sulit untuk menghentikan serangan seperti itu.
Pria berambut merah yang bernama Hyuga itu mengayunkan pedangnya dari belakang keatas untuk menyerangku.
Aku mengayunkan tangan kiriku keatas dengan menggunakan sedikit api dari skill purgatory flame milikku untuk menahan sihir api yang menyelimuti pedang kayu yang digenggamnya.
Saat pedangnya membentur pergelangan tangan kiriku, seketika sihirku melenyapkan sihir api yang dikeluarkannya.
"Apa ?!"
Hyuga terkejut melihat sihirnya yang dilenyapkan dengan mudah dan serangannya yang bisa ditahan hanya dengan satu tangan.
Tanpa memberi waktu untuk terkejut, aku melancarkan tinjuku kearah perutnya.
"Ugghh"
Tinjuku mengenai perutnya yang tanpa pertahanan. Dia terlempar jauh kebelakang dan membentur dinding gedung olahraga hingga tidak sadarkan diri.
"B-berengsek !!" Ucap temannya yang turut maju menyerangku.
Bagiku, gerakan mereka hanya seperti seorang amatiran. Jadi meski mereka berempat sekaligus menyerangku, aku bisa dengan mudah mengalahkan mereka.
Dua orang dari mereka melesat dari atasku. Aku menangkap pergelangan tangan mereka dengan kedua tanganku, kemudian melemparkan mereka pada kedua teman mereka yang melesat dari arah kiri dan kananku membuat mereka jatuh menabrak temannya.
Hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 menit untuk mengalahkan 5 orang hunter sekaligus anggota klub kendo yang mengacau. Hal itu membuat heboh siswa - siswi yang melihat perkelahian di sekitar.
"Wahh, hebat."
"Dia mengalahkan 5 orang dalam sekejap."
"Sepertinya dia anggota baru."
"Memang semua anggota OSIS itu luar biasa."
Bisik - bisik siswa siswi yang melihat pertarungan kami.
Aku memanggil bantuan untuk mengamankan ke 5 orang itu. Setelah bantuan tiba, aku pergi meninggalkan gedung olahraga melewati tatapan puluhan orang yang memperhatikanku.
-------------
UAAAAAHHHH
Ditengah kegelapan langit malam, terdengar sebuah teriakkan yang sangat keras di dalam penjara hunter yang terletak di kota Paris.
"Wah - wah, padahal penjara ini sebut salah satu penjara dengan tingkat keamanan tertinggi di dunia. Tapi penjaganya benar - benar lemah." Ucap seorang dengan siluet gelap menutupi seluruh wajahnya. Hanya mata merahnya yang bersinar tajam dari balik kegelapan.
"Ayo, kita harus segera menemukan Eviel" Ucap seorang lainnya.
Dalam kegelapan terlihat 4 siluet hitam yang sedang berjalan - jalan menyusuri lorong penjara dengan santainya.
Mereka terus berjalan hingga tiba disebuah ruang dengan pintu yang terbuat dari baja yang sangat tebal.
"Apakah ini tempat Eviel ditahan ?" Ucap seorang diantara mereka.
"Hanya ada satu cara untuk memastikannya kan. Kita harus menghancurkan pintu ini. Kalian minggirlah."
Salah satu dari mereka terlihat melakukan sebuah kuda - kuda. Dia memukul pintu baja setebal 4 meter itu hingga terpental membentur dinding di dalam ruangan.
Dari dalam penjara gelap yang hanya disinari oleh sebuah obor yang menempel di dinding ruangan itu, terlihat seorang pria dengan beberapa luka ditubuhnya yang berotot dipenuhi dengan tato dengan tangan terantai menggenatung keatas.
Pria itu membuka mata melihat ke 4 siluet dihadapannya. Matanya berwarna merah yang menyala dalam kegelapan. Aura yang ada disekitarnya sangat kuat hingga bisa meremukkan tubuh orang yang tidak bisa menahan tekanannya.
"Kalian lama sekali. Sudah hampir seminggu aku tersiksa disini." Ucapnya dengan santai kearah 4 orang di depannya.
"Hehh, itu salahmu sendiri. Bisa - bisanya tertangkap oleh siswa di akademi."
Ucap salah satu temannya kemudian memotong rantai yang mengikat pria itu. Rantai itu sangat kuat yang ketahanannya 10 kali dari baja biasa. Dan rantai itu terus menerus menyerap mana yang membuat tahanan yang dirantai tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk melepaskan diri dari ikatannya.
Krincing
Suara rantai yang terputus dan membentur ke lantai penjara terdengar di telinga mereka.
"Sebagai salah satu eksekutif di Algorytm kau terlalu ceroboh sampai bisa tertangkap." Ucap temannya yang lain.
"Sudahlah, berhenti memojokkannya. sekarang ayo kembali ke organisasi Eviel. Ketua akan segera mengumumkan rencana besar yang akan diambil organisasi." Ucap salah satu temannya.
"Hemm, baiklah." Ucap pria itu dengan santainya mengabaikan kata - kata kedua temannya yang mengejeknya.
Mereka kemudian berjalan pergi keluar dari penjara dengan santainya. Melewati ratusan mayat penjaga yang tergeletak dilantai penjara yang disinari kilauan cahaya bulan.