
"Hemm, jadi begini kediaman keluarga paling terkenal di perancis. Cukup mengesankan." Ucap seorang pria berjubah putih dengan beberapa corak keemasan di beberapa sisinya.
Pria berjubah tersebut berjalan dengan santainya melewati puluhan orang yang terbaring di bawahnya. Ya, mereka adalah anggota keluarga Valentine yang berjaga di kediaman keluarga tersebut.
Sebelumnya, keluarga Valentine terkenal sebagai keluarga hunter terbesar di Perancis. Namun sekarang seorang pria yang tidak dikenal berani memasuki kediaman mereka dan melukai beberapa hunter rank S yang berjaga disana.
Kegaduhan yang disebabkan olehnya terdengar ke seluruh penjuru hungga seluruh wartawan lokal meliput kejadian tersebut.
"Hemm, mereka cukup berharga untuk ritual pemanggilan. Jadi melumpuhkan mereka seperti ini kurasa sudah cukup." Ucap pria tersebut dengan santainya.
?
Pria tersebut melihat seorang pria berdiri tepat di pintu masuk mansion. Dia adalah Viktor Valentine. Kepala keluarga Valentine dan hunter terkuat di Perancis. Rambutnya berwarna putih yang menjadi ciri khas dari keluarga Valentine. Matanya berwarna biru dengan badan yang gagah. Benar - benar sosok yang sangat tangguh.
"Kau kepala keluarga Valentine?" Tanya pria berjubah putih tersebut.
"Ya. Katakan, kenapa kau membuat kekacauan di kediaman keluargaku?" Tanya Viktor Valentine pada pria berjubah putih tersebut.
"Kau bertanya kenapa aku melakukannya? Tentu saja untuk memburu sebanyak mungkin keluarga Valentine. Bukan cuma di kediamanmu, aku dan seluruh anggota organisasi menyebar ke seluruh sudut kota untuk memburu anggota keluargamu."
"Memburu keluargaku? Aku tidak pernah mendengar kata - kata seberani itu sampai sekarang. Apakah kau pikir kau dan organisasimu memiliki kemampuan untuk memburu keluargaku?"
Aura biru yang sangat mengintimidasi keluar dari tubuhnya. Aura ini sangat kuat karena berasal dari salah satu hunter terkuat di dunia. Bahkan siapapun yang berdiri di hadapannya akan jatuh pingsan setelah merasakan aura intimidasi yang dikeluarkan olehnya.
?
Viktor Valentine cukup terkejut melihat pria berjubah putih dihadapannya yang tidak bergeming sedikitpun. Padahal dia sudah mengeluarkan aura yanh cukup untuk membuat seorang hunter rank SS berlutut.
"Luar biasa. Jadi ini kengerian dari seorang hunter rank SSS. Aku yakin jika bawahanku yang melawanmu, bahkan mereka akan cukup kesulitan menahan aura sekuat ini. Sayang sekali karena aku sendiri yang datang ke sini." Ucap pria berjubah putih tersebut sembari menatap dengan tenang ke arah Viktor Valentine.
"Begitu ya, jadi kau punya kemampuan. Kalau begitu majulah." Ucap Viktor Valentine.
"Dengan senang hati." Jawab pria berjubah putih tersebut.
---------------------------
Kembali ke tempat pertarungan Alice dan kawan - kawannya.
Mereka berenam terlihat sangat kelelahan setelah mengeluarkan serangan gabungan mereka. Hal tersebut terlihat jelas dari nafas mereka yang tidak beraturan.
Sementara itu ditempat Eviel hanya terlihat debu yang beterbangan ke segala tempat. Debu tersebut menutupi pandangan semua orang sehingga tidak dapat melihat dengan jelas kondisi Eviel.
Alice dan yang lain terus mengamati tempat yang tertutup debu akibat serangan mereka dengan seksama.
Beberapa saat kemudian debu yang menutupi area tersebut mulai memudar. Mereka melihat siluet hitam dari balik debu tersebut.
?!
Mata ke enam orang tersebut terbelalak seakan tidak percaya akan apa yang mereka lihat. Serangan gabungan dari 4 hunter rank tinggi bahkan tidak dapat membunuh Eviel.
Eviel berdiri tepat diposisinya sebelum menerima serangan tersebut. Dia berdiri disana tanpa mundur satu inci pun. Jubah merah yang dikenakannya robek dan menyisakan beberapa helai kain yang selamat dari serangan gabungan sebelumnya.
Kini tubuhnya yang dipenuhi otot terlihat dengan jelas. Terlihat beberapa luka ditubuhnya yang menandakan Eviel adalah seorang petarung veteran yang telah mengalami banyak pertarungan sulit. Namun, ditubuhnya sama sekali tidak terlihat luka yang dihasilkan dari serangan gabungan sebelumnya.
"Hahahaha." Eviel tertawa dengan sangat keras.
"Kalian cukup mengagumkan. kalian terlalu naif jika berpikir bisa melukaiku dengan serangan seperti itu. Sekarang giliranku untuk menunjukkan kekuatanku." Ucap Eviel sambil menatap tajam kearah Alice dan yang lain.
Blaaarrrrr
Energi yang begitu besar terpancar dari tubuh Eviel. Energi tersebut memberikan tekanan yang begitu mengerikan.
Beberapa saat setelah energi tersebut pudar tubuh Eviel diselimuti oleh api merah yang membara. Api tersebut menyelimuti tangannya, dan membentuk dua tanduk runcing di kepala serta sayap api di punggungnya serta kobaran api yang terus mengitari tubuhnya.
Kini wujud Eviel benar - benar berbeda. Mata merah menyala dan kobaran api yang menyelimutinya menimbulkan tekanan bagi siapapun yang melihatnya.
"Baiklah. Kalo begitu ronde selanjutnya dimulai." Ucap Eviel yang kemudian melesat ke arah Alice dan yang lain.
Leo yang melihat hal tersebut maju untuk melindungi teman - temannya. Dia menyadari teman - temannya sudah tidak memiliki banyak mana yang tersisa. Bahkan Erza sudah benar - benar kehabisan mana dan tidak bisa bertarung lagi.
Dengan perisai di tangan kiri dan pedang besar ditangan kanannya, Leo melakukan serangan secara ceroboh tanpa memahami kekuatan Eviel.
"Konyol! Kau pikir bisa menahanku?!"
Dengan api membara yang terpusat di tangan kanannha dia melayangkan sebuah pukulan keras ke arah Leo.
Leo dengan sigap menahan pukulan Eviel dengan perisainya.
Tidak berhenti disana, Eviel melayangkan pukulan bertubi - tubi ke arah perisai Leo. Dampak dari pukulan tersebut masih bisa dirasakan Leo meski pukulan tersebut berhasil ditahan.
Melihat Leo yang kewalahan, Shinobu berusaha membantu dengan seluruh kekuatan yang masih tersisa ditubuhnya.
"Wind step!"
Aura angin yang berwarna kehijauan menyelimuti sepatu yang dikenakannya dan membuat langkahnya menjadi semakin ringan Dengan dua pedang ditangannya dia melesat kearah Leo.
"Cih, dasar pengganggu." Ucap Eviel yang melihat Shinobu datang untuk menyerangnya.
Dia dengan sigap menangkap ayunan pedang Shinobu dengan tangan kirinya. Dengan berbekal otot - otot yang kokoh ditubuhnya, dia mengayunkan Shinobu dan melemparnya hingga membentur dinding di sampingnya dan membuatnya tidak sadarkan diri.
"Shinobu!!" Ucap Hyuga yang melihat rekannya dilempar dengan sangat keras hingga membentur dinding sebuah gedung di samping mereka.
"Sial! Fire blade"
Elemen api keluar menyelimuti pedang ditangan Hyuga.
Dengan pedang ditangannya dia berlari ke arah Eviel yang sedang beradu fisik dengan Leo.
"Bagus, bagus. Keluarkan seluruh kemampuan kalian. Fire explosion wave."
Eviel membuat kuda - kuda tekniknya. Dengan tangan kanannya yang diselimuti oleh api dia melayangkan sebuah pukulan kuat ke depan.
Pukulan tersebut memunculkan gelombang api yang begitu besar dan kuat. Api tersebut bagaikan ombak yang menyapu segala yang ada dihadapan mereka.
Leo dengan menggunakan perisainya berusaha menahan gelombang api tersebut.
"ugghhh... Hyaaaaa!!"
Dengan seluruh kekuatan yang tersisa ditubuhnya dia berusaha menahan gelombang api dihadapannya. Namun...
Prankk
Perisainya yang kokoh hancur menjadi beberapa kepingan kecil. Perisai yang dia gunakan untuk melalui berbagai pertarungan hancur dihancurkan oleh kekuatan layaknya monster di depannya.
Tidaj berhenti disitu, gelombang api tersebut terus melesat kedepan menyapu segala yang menghalanginya. Gelombang tersebut berlangsung tidak lama. Tapi dalam waktu tidak lama tersebut, seluruh area pertarungan menjadi lautan api. Gedung - gedung di sekitar terbakar oleh api luar biasa milik Eviel.
Kini Alice, Erza, Leo, Hyuga, Shinobu, dan silvia terkapar kesakitan dihadapannya. Terlihat luka beberapa luka bakar yang terlihat jelas ditubuh mereka.
"Hemm, kau keturunan keluarga Valentine bukan? Aku akan membawamu." Ucap Eviel sambil menunjuk Alice yang terkapar ditanah sambil menahan rasa sakit dari luka bakar ditubuhnya.
"T-tidak. J-jangan seenaknya membawa temanku." Ucap Erza dan Leo yang mencoba berdiri dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki.
Dengan luka bakar yang cukup parah ditubuh mereka, mereka sadar tidak akan bisa melawan Eviel. Tapi mereka tidak bisa membiarkan Eviel membawa teman mereka. Bahkan jika harus mempertaruhkan nyawa, mereka mencoba untuk menghentikan Eviel.
"Usaha yang sia - sia." Ucap Eviel sambil terus berjalan mendekat dengan mengeluarkan tekanan yang luar biasa.
Tekanan tersebut membuat Leo dan Erza yang sudah kelelahan dan penuh luka tidak bisa menahannya dan membuat mereka berdua terjatuh tidak berdaya.
Dihadapan kekuatan luar biasa tersebut mereka hanya berharap dewa masih berpihak pada mereka.
Sekarang Eviel sudah berdiri tepat di depan Alice. Matanya yang berwarna merah menyala mampu mengeluarkan rasa takut dari hati Alice yang berada dibawahnya.
"Kau ikut denganku." Ucap leo sambil mencengkram leher Alice dengan tangannya yang bahkan lebih besar dari tubuh Alice.
Blaaaarrrrr
Sebuah ledakan terdengar dari lantai dua mall di dekatnya. Eviel melihat kearah ledakan tersebut dan dia melihat lima orang yang dikenalnya terlempar dari gedung mall tersebut.
Dari kelima orang tersebut tiga diantaranya mengenakan jubah hitam dan dua diantaranya mengenakan jubah yang sama seperti yang dikenakannya sebelumnya.
Dia bisa melihat ketiga orang berjubah hitam yang merupakan bawahannya sudah terbujur kaku tidak bernyawa lagi. Namun dua yang memakai jubah merah masih bernafas meski terdapat beberapa luka ditubuhnya.
"Eviel! Pergi dari sini! Panggil ketua kesini! Kita harus membereskan monster itu! " Ucap salah satu dari orang berjubah merah yang baru saja terlempar tersebut.
"Apa yang terjadi?! Siapa yang kalian lawan sampai kalian terluka seperti itu?!" Ucap Eviel yang seakan tidak percaya kedua orang rekannya yang merupakan eksekutif organisasinya bisa terluka begitu parah.
"Hem? Jadi kalian berdua masih hidup. Aku benar - benar terlalu meremehkan kalian."
Eviel yang mendengar kata - kata tersebut melihat kearah asal suara tersebut. Dia melihat siluet hitam dari lantai dua gedung tempat kedua rekannya terlempar.
"Glek."
Keringat dingin menetes deras dari tubuhnya. Dia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Orang yang membuatnya mengalami mimpi buruk selama berhari - hari muncul di depannya.
"B-bocah monster itu. K-kenapa bisa ada disana?" Ucap Eviel yang terbata - bata melihat Tristan berdiri sambil menatapnya dengan mata birunya menyala.