Rebirth With Fragment Of God

Rebirth With Fragment Of God
Season 2 Chapter 5



Berita adanya penyusup yang tertangkap menghebohkan berita di Paris. Tentu saja itu menjadi pembicaraan. Umumnya akademi hunter dilakukan pengawasan yang sangat ketat oleh tim pengamanan akademi.


Karena pengawasan yang sangat ketat itu yang melarang adanya bentuk pertarungan apapun selain pada ujian atau tes yang diawasi instruktur bersertifikasi membuat akademi hunter menjadi tempat paling aman di seluruh dunia.


Namun kejadian baru - baru ini membuat akademi harus bekerja keras dan meningkatkan sistem keamanan mereka. Pria bertopeng dengan kekuatan luar biasa yang berhasil diamankan pihak keamanan akademi membuat reputasi akademi tidak jatuh dengan terlalu buruk.


Berita tentang pria bertopeng dengan kekuatan luar biasa dan organisasi algorytm menjadi pemberitaan untuk headline berita harian paris.


Kedua gadis berambut putih yang ku kenal juga tidak luput dari pemberitaan berita. Mereka menganggap kedua gadis itu sebagai orang yang bisa menangkap pria bertopeng itu.


'Syukurlah mereka menepati janjinya.' Pikirku saat melihat berita televisi di sebuah toko elektronik yang biasa kulewati.


Saat ini terdapat banyak petugas dari divisi keamanan disekitar akademi. Keamanan di akademi ini benar - diperketat.


Menurutku itu hal yang bagus. Mengingat jika kejadian itu terulang kembali, itu akan menjadi hal sangat buruk. Saat itu beruntung aku bisa menghentikannya, tapi aku tidak ingin melakukan lagi.


"Hei, kau !" Teriak seseorang padaku.


Aku menoleh kearah suara yang memanggilku. Dia adalah seorang perempuan berambut putih yang kukenal. Dia adalah kakak Alice yang kutolong kemarin.


Seperti rumornya hunter top rank SS benar - benar hebat. Bahkan luka separah itu yang di deritanya dalam pertarungan kemarin sembuh dalam waktu sehari.


"Kau, Tristan bukan ? Yang kemarin bersama adikku." Ucapnya sambil berjalan menghampiriku.


Secara sadar aku melihat sebuah badge bunga mawar merah di dadanya.


'Jadi, dia adalah bagian dari divisi pengamanan akademi.' Pikirku sambil melihat badge bunga mawar itu.


Aku melihatnya untuk beberapa detik, sebelum perempuan itu mengagetkanku.


"Apa yang sedang kau lihat ?" Ucapnya mengagetkanku.


"A-ah, bukan apa - apa." Ucapku dengan ragu.


Mustahil aku mengatakan sedang melihat badge mawar yang terletak di bagian dadanya dihadapannya. Aku membayangkan hal buruk yang akan menimpaku jika saja aku mengatakan yang sejujurnya.


"Ahh, bagaimana kondisi Alice ? Apakah lukanya sudah sembuh ?" Ucapku mengalihkan pembicaraan.


"Hemm, Alice baik - baik saja. Lukanya tidak terlalu parah. Dia bahkan sudah bisa mengikuti kelas."


"Syukurlah jika dia baik - baik saja" Ucapku.


Kemudian perempuan itu mendekatkan wajahnya padaku. Dia terus memandangiku dan membuatku gugup.


"Hemm, apa kau menyukai adikku ?" Tanyanya sambil memandangiku.


"Hahh ? Kenapa kau berpikir begitu ?" Tanyaku sambil mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dari perempuan itu.


"Yahh, karena sejujurnya aku akan merestui hubungan kalian jika kau menyukai adikku. Kau terlihat cukup tampan dari segi penampilan, dan dari segi kekuatan aku yakin keluarga kami tidak akan mempermasalahkanmu. Dan lagi, Alice juga sepertinya menyukaimu" Ucapnya dengan penuh keyakinan.


"Ehh ? Bagaimana bisa kau memutuskan hal itu seenaknya ? Dan lagi darimana kau bisa bilang begitu ? Alice mana mungkin menyukaiku. Mengingat sikapnya yang kasar itu padaku."


"Hahaha, jadi begitu ya. Dasar pria tidak peka." Ucapnya sambil tertawa lepas.


Sikapnya benar - benar berbeda dengan Alice. Alice memang kasar padaku, tapi dihadapan orang lain dia terlihat sangat anggun.


"Baiklah lupakan, nanti saat jam pelajaran berakhir datanglah ke ruang OSIS akademi. Aku akan menunggumu disana." Ucapnya.


"Hah, kenapa aku harus keruang OSIS ?" Tanyaku pada perempuan itu.


"Hahahaha, sudah datang saja kesana nanti. Aku akan menunggu disana." Ucapnya sambil berlalu meninggalkanku.


"Hei, setidaknya beritahu namamu supaya bisa mengatakan alasannya saat harus pergi ke ruang OSIS."


"Ahh benar. Namaku Alicia Valentine, siswa akademi tingkat 3. Karena kau siswa tingkat 2, jadi kau bisa memanggilku kak Alicia." Ucapnya dengan percaya diri.


"Hahh, seenaknya memintaku memanggilnya kakak dan memintaku pergi keruang OSIS." gerutuku sambil kembali melanjutkan perjalanan menuju kelas.


Saat tiba di kelas, Siswa - siswi di kelas ini mengabaikanku seperti yang biasa terjadi. Tapi kali ini ada yang sedikit berbeda. Alice yang biasa datang setelahku, kali ini dia datang lebih awal dariku.


Aku mengabaikannya seperti biasa dan duduk di tempat dudukku.


"Hei, Tristan." Ucapnya padaku dengan wajah memerah seperti tomat.


'Kenapa wajahnya memerah ?' Pikirku yang melihat wajahnya.


"Hah ? Apa ?"


"Ahh, te-terimakasih untuk yang ke-kemarin. Aku belum mengucapkan terimakasih karena sudah menolongku dan kakakku." Ucapnya dengan reaksi yang tidak bisa dijelaskan.


"Ya, kau tidak perlu mempermasalahkannya. Asal kau mengingat janjimu." Jawabku sembari mengalihkan pandangan keluar jendela.


"Tentu, aku dan kakak akan menjaga janji kami. Tapi...apa kau bisa memberi tahu alasan kenapa kau menyembunyikan kekuatanmu yang luar biasa itu ? Bukankah semua hunter di dunia mengharapkan kekuatan mereka diakui ?"


"Mungkin di negara kalian begitu. Itu wajar menginfat perancis adalah salah satu dari negara dengan sistem hunter terkuat. Tapi tidak denganku. Jangan tanyakan hal itu lagi." Ucapku sembari melarangnya untuk bertanya lebih lanjut.


Alice kemudian diam dan hanya menatapku sebentar. Kemudian kami mengalihkan pandangan ke depan kelas karena guru pengajar sudah datang.


-------------


Ding dong~


Tak terasa jam pulang sekolah sudah berbunyi. Aku segera merapikan buku dan beranjak dari tempat dudukku.


"Apa ?"


"Kau akan pergi ke ruang OSIS kan ?" Tanya Alice padaku.


"Bagaimana kau mengetahuinya ?" jawabku yang menjawab pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan.


"Ahh, sebenarnya aku juga dipanggil untuk keruang OSIS, jadi mungkin kita bisa pergi bersama." Ucapnya dengan wajah yang kembali memerah.


Aku tidak mau mengakuinya, tapi sikapnya itu terlihat menggemaskan untukku.


"Hahh, terserah kau saja." Jawabku kemudian segera meninggalkan kelas.


Mendengar jawabanku, Alice terlihat senang dan dia segera mengikutiku dari belakangku menuju ke ruang OSIS.


Ruang OSIS terletak di gedung lain di akademi. Letaknya ada di gedung administrasi yang terletak di barat akademi. Jadi kami berjalan sedikit jauh untuk bisa kesana.


Jujur saja karena biasanya aku langsung pulang setelah pembelajaran di kelas selesai, aku tidak pernah sekalipun berjalan - jalan di akademi. Aku baru sadar bahwa akademi ini sangat luas. Mungkin luasnya sekitar 20 hektar.


Wajar saja ada beberapa gedung di akademi ini sekaligus beberapa fasilitas pendukung seperti lapangan olahraga, halaman tes, arena pertarungan, juga danau buatan yang berada di tengah tengah akademi.


Aku melirik Alice yang kini berjalan disampingku. Aku merasa dia menjadi semakin pendiam sejak kejadian kemarin. Tapi aku mengabaikan pemikiran tidak berguna itu.


Tanpa disadari kami sudah sampai di gedung atministrasi. Ruang OSIS ada di lantai 2 gedung administrasi. Di gedung ini disediakan lift yang mempermudah staff akademi. Meski ada lift, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan saat terjadi hal buruk seperti bencana alam, digedung ini juga ada tangga darurat.


Kami memilih menggunakan lift agar lebih cepat.


Kami sudah tiba di depan ruang OSIS. Akupun mulai mengetuk pintu.


Tok tok tok.


"Masuk !"


Aku membuka pintu setelah mendengar suara yang mengizinkan kami masuk. Saat membuka pintu, aku melihat Alicia, dan seorang pria berambut pirang yang kulihat kemarin, serta seorang gadis berambut merah panjang mengenakan bando berwarna hitam dengan mata merah bagai sebuah batu ruby yang menghiasi wajah cantiknya.


"Ahh, kalian berdua datang. Masuklah." Ucapnya sambil mempersilahkan kami masuk.


Kamipun masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan itu begitu besar dan rapi. Di beberapa sudut terdapat sofa dengan meja di depannya. Ada juga rak buku besar yang terletak menempel di dekat dinding di sebelah kiriku. Sementara ditengah ada sebuah meja besar yang diduduki Alicia dan beberapa kursi berjajar di depannya. Hanya dari melihatnya aku sudah tahu itu adalah meja ketua OSIS.


'Eh ? Apakah kak Alicia adalah ketua OSIS akademi ini ?' Pikirku melihat kak Alicia yang duduk di depanku.


"Baiklah, aku memanggil kalian untuk merekomendasikan kalian sebagai anggota OSIS sekaligus divisi keamanan akademi ini."


'Hahh ? Wanita ini benar - benar seenaknya. Dia sama sekali tidak mengatakan apapun padaku.' Pikirku setelah mendengar perkataannya.


"Alicia, aku tahu kemampuan adikmu. Aku juga sudah mendengar berita dia baru saja menjadi seorang rank SS ke 21 di dunia. Aku tidak masalah dia menjadi anggota kita, tapi bagaimana bisa kau membawa seorang hunter rank D dan merekomendasikannya menjadi anggota OSIS ?" Ucap gadis berambut merah itu.


"Ahahaha, Leona kau tidak bisa menilainya dari luar. Percayalah padaku, dia itu lebih hebat dari yang kau kira." Ucap Alicia meyakinkan gadis berambut merah itu.


Sebenarnya aku setuju dengan gadis berambut merah yang tidak kukenal itu. Aku tidak ingin repot - repot bergabung menjadi anggota OSIS. Jika kak Alicia membicarakan ini saat kami bertemu tadi pagi, aku tidak akan datang kesini.


"Maaf menyela. Tapi anda adalah seorang ketua OSIS, anda harus bisa mengambil keputusan yang baik untuk akademi. Anda tahu tugas dari anggota OSIS tidaklah mudah. Orang - orang yang menjadi anggota OSIS hanyalah mereka yang menduduki peringkat 1% dari jumlah seluruh siswa akademi. Sedikitnya orang yang menjadi anggota OSIS karena OSIS adalah bagian dari divisi pengamanan akademi dan bertugas menjaga akademi dari ancaman luar ataupun dalam." Ucap pria berambut pirang itu.


"Adik anda yang sudah menjadi salah satu rank SS jelas memenuhi syarat, tapi pria ini ? Dengan berat hati saya menolaknya." Ucapnya.


"Hei, Leona, Daniel, ayolah. Aku janji kalian tidak akan menyesal menjadikannya anggota OSIS." Ucap Alicia berusaha meyakinkan mereka berdua.


"Maaf ketua. Seperti yang saya katakan, sebagai anggota OSIS yang menjabat sebagai divisi keamanan akademi kita harus memiliki kemampuan untuk mencegah terjadinya perkelahian antar siswa, ataupun serangan pihak luar seperti yang terjadi kemarin. Orang seperti dia bahkan tidak akan bisa melindungi temannya bahkan walaupun dia mau." Ucap Daniel sambil menatapku.


Aku memang tidak berminat untuk menjadi anggota OSIS. Tapi, kata - kata yang dia keluarkan sudah keterlaluan. Dan itu menyinggungku.


"Ahahaha, maaf. Aku juga tidak berminat menjadi bagian dari OSIS. Ku kira OSIS akademi ini hebat karena mlihat nama akademi S.A yang begitu besar. Aku tidak tahu kalau ternyata didalam OSIS ada pembual yang suka merendahkan orang." Ucapku sambil tertawa santai.


"Hei, apa maksudmu mengatakan itu ?!" Ucap Daniel yang terpancing dengan kata - kataku.


"Daniel ! Hentikan !" Teriak kak Alicia yang melihat kemarahan Daniel.


"Hahh, kau beruntung. Jika Ketua tidak membelamu, kau akan menyesal telah menyinggung anggota OSIS." Ucapnya menatap sinis padaku.


"Hahh, aku penasaran siapa yang sebenarnya beruntung. Dasar mulut besar." Ucapku dengan santai.


"Keparat sombong !!" Teriaknya sambil melesat kearahku yang berniat memukulku.


Melihat hal itu, kak Alicia segera melompat dan menggenggam tangan Daniel.


"Daniel...apa yang kau lakukan ?! Sebagai wakil 2 dari OSIS tindakanmu sungguh tidak terpuji !" Ucap kak Alicia dengan nada tinggi.


"Hahh, kau lihat bukan. Bahkan kau tidak sempat menghindar. Jika Ketua tidak menahanku, aku tidak jamin kau tidak akan terluka." Ucapnya sombong.


"Hahh, sepertinya kau salah sangka. Jika kak Alicia tidak menghentikanmu, mungkin kau sudah sekarat sekarang." Jawabku dengan santai.


"Hem ! Dasar keparat sombong !" Ucapnya sambil beranjak pergi.


"Hei, aku tidak terima dengan perkataanmu."


"Terserah kau, ******** sepertimu hanya membuatku semakin marah."


"Hei, apa kau mau melakukan pertarungan simulasi denganku ?"


Pertanyaanku membuatnya menghentikan langkahnya. Aku bisa melihat kemarahannya yang tidak tertahankan. Hawa kemarahan terpancar jelas dari dirinya. Bagi orang dengan harga diri tinggi sepertinya, dia tidak akan memaafkan orang dengan rank yang lebih rendah darinya yang berani menentangnya dalam pertarungan simulasi.


"Heh ! Berengsek ! Kau benar - benar meremehkanku...Baiklah, aku akan membuatmu melihat kekuatan dari siswa siswi akademi yang terpilih sebagai OSIS. Datanglah ke arena bertarung jika kau sungguh berani." Ucapnya sambil melanjutkan langkahnya meninggalkanku.