Rebirth With Fragment Of God

Rebirth With Fragment Of God
Chapter 13 " Rank S baru "



Aku maju mendekati kristal orb yang digunakan untuk menilai peringkat kekuatan seseorang.


Aku meletakkan tanganku pada tempat yang disediakan dan mengalirkan kekuatanku.


BLAAARRRR


"?!"


"Ya tuhan, kekuatan macam apa ini ?!"


"Siapa dia ?! Bagaimana dia bisa mengeluarkan tekanan sebesar ini ?!"


"Lantai di sekitarnya sampai retak hanya karena aura kekuatannya ?!"


"Siapa dia ?! Rank apa yang dia miliki ?!"


Pertanyaan - pertanyaan tentang siapa aku dan apa rank ku mulai bermunculan.


Aku benar - benar tidak habis pikir. Padahal beberapa dari mereka itu teman sekelasku.


Sementara itu warna kristal orb itu berubah-ubah dengan semakin cepat dan kemudian..


PRAANNGG


?!


Aku sedikit tersentak karena kristal orb itu hancur tepat dihadapanku.


"?!"


"Apa yang terjadi ?!"


"Kenapa kristal orb nya hancur ?!"


Semua orang semakin terheran - heran.


"Mustahil ?! Kristal orb yang digunakan bisa mengukur kekuatan seseorang sampai rank A. Jika itu hancur berarti dia...Rank S."


"Apa ?! Maksudmu dia kemungkinan adalah rank S kesebelas di negara ini ?!"


?!


Mendengar ucapan salah satu anggota pemverifikasi semua orang tersentak.


"Rank S ?!"


"Aku selalu mendengar rank S itu sangat kuat, tapi baru kali ini aku melihatnya dengan mataku sendiri !"


"Luar biasa ! Siapa dia ?"


Semua orang semakin terheran - heran hingga sebuah teriakan dari orang yang ku kenal terdengar.


?!


Teriakan itu membuat suasana hening sejenak. Namun kemudian sorak sorai orang - orang mulai terdengar.


"Apa ?! Dia Azel ?! Bukankah dia rank F ?!"


"Dia pecundang itu ?! Bagaimana bisa dia mendapat kekuatan sebesar itu ?!"


"Kuharap dia melupakan apa yang telah kuperbuat padanya."


Reaksi terkejut dan takut keluar dari orang - orang yang pernah membully ku. Mereka terkejut karena tiba-tiba aku mendapat kekuatan yang begitu besar. Dan mereka juga takut jika aku membalas perbuatan mereka selama ini. Itu terlihat jelas dari raut wajah mereka.


"Yaampun, dia Azel ?! Dia jadi lebih keren !"


"Aku sampai tidak mengenalinya !"


Reaksi para gadis berbeda dari yang selama ini mereka tunjukkan padaku. Biasanya mereka menatapku dengan tatapan jijik, merendahkan dan lain sebagainya. Tapi kini mereka menatapku dengan tatapan kagum.


Jujur saja itu membuatku merasa jijik dan menjengkelkan.


"Ehem, tuan Azel pradana. Karena kristal orb biasa tidak bisa mengukur kekuatan anda. Jadi kami tidak bisa mengukur peringkat kekuatan anda. Untuk mengukur kekuatan anda kita harus menggunakan kristal orb tingkat tinggi. Namun untuk penggunaannya hanya bisa dilakukan di pusat. Bisakah anda datang ke Biro Penanganan Gate Indonesia divisi Monitoring Awaker Indonesia 3 hari lagi ?" Ucap salah satu staff dengan sopan.


Seperti yang kuduga. Dunia ini menggunakan hukum rimba. Siapa yang kuat merekalah yang dihormati dan siapa yang lemah mereka akan ditindas. Aku memahami siklus ini dengan sangat baik karena aku sendiri sudah merasakannya.


"Baiklah, saya akan hadir ke pusat Biro Penanganan Dungeon Indonesia"


"Terimakasih, tuan Azel !" ucap staff itu.


Kemudian mereka mengambil kristal orb lain dan melanjutkan verifikasi ulang.


Aku mundur dari tempat verifikasi. Di belakang aku disambut oleh satu - satunya temanku yang mendukungku selama ini.


"Kau hebat, Azel ! Aku tidak menyangka kau seorang rank S !"


"Itu masih belum bisa dipastikan. kau lupa, verifikasiku ditunda."


"Ahahaha, jangan bercanda. Melihat tekanan yang disebabkan auramu tadi semua orang tahu bahwa setidaknya kau ada di rank S. Hanya rank S yang bisa mengeluarkan tekanan sekuat itu di negeri ini."


Aku hanya tersenyum singkat.


"Hei, Rafael. Apa kau ingat aku berniat membentuk guild milikku sendiri ? Kau ada di rank A. Maukah kau bergabung dengan guildku ?"


Saat aku bertanya padanya, raut wajah bahagia keluar darinya.


"Azel, aku pernah bilang. Jika demi kau teman terbaikku. Aku akan selalu mengikutimu tanpa kau minta. Setelah guild mu berdiri aku akan dengan senang hati bergabung dengan guild mu."


Aku tersenyum mendengar perkataannya.


"Yaa, kau selalu seperti itu Rafael. Selalu menjadi satu-satunya orang yang mendukungku." Gumamku sambil memandang langit.