Rebirth With Fragment Of God

Rebirth With Fragment Of God
Season 2 Chapter 12



Sebuah pertempuran berskala besar meletus di dalam dungeon. Dari segi jumlah, pertempuran ini sangat berat sebelah. Meskipun kami dibantu seribu pasukan bayangan yang ku panggil, tapi tetap saja tidak sebanding melawan ribuan iblis yang ada disini.


Tapi perbedaan jumlah yang jauh itu tertutup oleh kemampuan regenerasi pasukan bayanganku. Selama manaku masih belum habis, mereka akan terus beregenerasi seperti semula meskipun terkena serangan fatal sekalipun.


Dibelakang para iblis yang sedang bertempur dengan pasukan bayanganku, aku bisa melihat demon duke yang hanya berdiri melihat pasukannya yang tengah bertarung. Matanya merahnya terus menatap pertarungan dihadapannya dengan seksama.


Iblis ditingkat demon duke berwujud hampir menyerupai manusia. Demon duke yang menjadi boss dungeon disinj memiliki penampilan layaknya manusia. Rambutnya merah dengan tanduk yang menghadap ke depan. Matanya merah menyala seperti mata para iblis pada umumnya. Soal kekuatan tidak perlu diragukan lagi, semua orang di dungeon merasakan kengerian yang luar biasa hanya dengan keberadaannya.


'Untuk segera menutup dungeon, aku harus segera mengalahkannya.' Pikirku sambil menatap demon duke yang berdiri di samping portal berwarna ungu gelap disebelahnya.


Saat ini sangat beresiko menyerang demon duke itu saat jumlah pasukan iblisnya masih sebanyak ini. Tapi, jika menunggu pertarungan selesai akan memakan waktu yang cukup lama. Belum lagi, aku tidak tau kapan portal itu akan terbuka sepenuhnya.


Mempertimbangkan hal itu, aku melesat kearah demon duke itu. Dengan tangan kananku, aku melancarkan sebuah pukulan kuat kearahnya.


BLARRRR


Sebuah ledakan terjadi saat pukulanku mengenainya. Entah karena kesombongannya atau apa, dia menerima pukulanku secara mentah dan membuatnya terpental ke dinding dibelakangnya.


"Dia...berhasil memukul iblis sekuat itu hingga terpental seperti itu ? Sebenarnya sekuat apa kekuatan fisiknya ?" Ucap Leo yang terbelalak melihat demon duke yang terpental jauh ke belakang.


Tidak berselang lama, demon duke itu bangkit dari reruntuhan dinding yang dia tabrak. Seperti yang kupikirkan, pukulanku tidak berdampak banyak padanya.


"Manusia...aku tidak menyangka akan terpental hanya karena pukulan dari manusia sepertimu. Kau memang menarik. Baiklah, aku akan meladenimu." Ucapnya sambil bangkit dari reruntuhan dinding.


Intensitas energi yang merembes dari dirinya semakin menguat hingga dititik yang membuat semua orang gemetar hanya dengan merasakannya.


"Katakan, siapa namamu manusia ?" Ucap demon duke itu.


"Kau bisa memanggilku Tristan untuk saat ini." Jawabku menanggapi pertanyaannya.


"Tristan ya...Namaku Agares. Salah satu dari bangsawan tertinggi di duniaku. Sekarang, aku akan menunjukkan padamu kekuatan dari bangsa kami."


Setelah dia mengucapkan kata itu, aura ungu gelap meledak dari tubuhnya. Aura dengan intensitas tinggi yang sangat kuat. Iblis dihadapanku ini, jelas salah satu iblis terkuat di dunianya.


"Dark matter."


Setelah mengucapkan itu, dia mengarahkan tangan kanannya kearahku. Sebuah bola energi berwarna keunguan keluar dari telapak tangannya.


Dalam sekejap dia melepaskan bola energi itu kearahku. Bola energi itu tidak terlalu besar. Hanya sebesar sebuah bola basket. Namun, intensitas energi yang terkandung di dalamnya jelas sangat besar. Bahkan lantai dungeon ini membekas begitu dilewati bola energi itu. Hanya melihatnya, aku merasa bola energi yang hanya sebesar bola basket itu mampu menghancurkan sebuah kota dalam sekejap.


Tanpa berpikir panjang, aku segera mengeluarkan salah satu skillku untuk menahan bola energi tersebut.


"Wall of purgatory flame."


Aku menghentakkan tanganku ketanah. Dalam sekejap api hitam menyala - nyala keluar di hadapanku dan membentuk dinding setinggi 10 meter dengan ketebalan sekitar 3 meter. Dinding api hitam itu, layaknya sebuah perisai yang melindungiku dari serangan iblis bernama Agares itu.


Bola energi itu melesat dan membentur dinding api hitam milikku. Api hitamku melahap bola energi itu dan membakarnya hingga tanpa meninggalkan sisa dalam sekejap.


Agares menatap tajam kearahku setelah melihat api hitamku melenyapkan serangannya.


"Api hitam yang membakar segalanya. Bagaimana bisa manusia sepertimu mampu mengeluarkan api mengerikan itu ?" Ucapnya sambil menatap tajam kearahku.


Agares menoleh kesekelilingnya dan melihat pasukan bayanganku yang tengah bertarung dengan pasukan iblisnya.


Mendengarnya mengatakan itu, jelas sekali dia mengetahui kekuatanku. Menurut sistem kekuatanku memang berasal dari pecahan kekuatan dewa yang utuh. Tapi saat aku menanyakan lebih dalam, sistem tidak mau menjawabnya dengan alasan levelku belum mencukupi. Padahal saat ini aku ada di level 147. Tapi tidak ada gunanya untuk memikirkan ucapan dari iblis dihadapanku ini. Tujuanku saat ini adalah mengalahkannya secepat mungkin dan menutup dungeon ini.


Aku melihat Agares yang dengan cepat melesat kearahku.


'Dia tahu sihir apapun tidak akan bisa melukaiku, jadi sekarang dia memutuskan untuk melakukan pertarungan fisik denganku.' Pikirku yang melihatnya melesat kearahku.


Dia melayangkan pukulan dari atas ke arahku. Aku bisa mengetahui pukulan itu sangat kuat bahkan sebelum pukulannya mengenaiku. Aku melangkahkan kaki dan melompat mundur kebelakang untuk menghindari pukulannya.


Pukulannya mengenai tanah dan membuat lubang yang dengan diameter sekitar 5 meter dan cukup dalam.


Tidak berhenti disitu, dia melangkahkan kakinya dan mengejarku untuk melancarkan pukulan selanjutnya. Aku tidak dalam posisi yang bagus untuk menghindari pukulan keduanya. Aku hanya merentangkan tanganku kedepan dengan posisi menyilang untuk menahan pukulannya.


Pukulan dengan kekuatan luar biasa mendarat di lenganku dengan sangat kuat. Aku yang tak kuasa menahan kekuatan dari pukulannya terlempar jauh kebelakang hingga membentur dinding dungeon dibelakangku.


"Tristan !!" Teriak Alice yang mengkhawatirkanku setelah melihatku terlempar akibat pukulan dari iblis Agares.


Meski mengkhawatirkanku, dia tidak bisa membantuku karena dia harus bertarung dengan pasukan iblis Agares yang jumlahnya begitu banyak.


Tidak hanya Alice, anggota partyku yang lain juga cemas melihatku terlempar akibat pukulan Agares. Mereka mencemaskanku yang bertarung seorang diri melawan iblis tingkat tinggi seperti Agares, namun mereka tidak bisa membantu karena mereka harus terus bertarung dengan iblis - iblis yang menyerang mereka.


"Storm pulse"


Sebuah gelombang listrik berwarna biru terang melesat menerjang para pasukan iblis yang berkerumun hingga ke arah Agares. Gelombang energi listrik itu adalah serangan Erza yang dia keluarkan untuk melenyapkan gerombolan pasukan iblis yang mengelilinginya.


Gelombang energi listrik itu cukup kuat dan mampu membunuh beberapa iblis yang terkena serangannya. Tapi dihadapan iblis tingkat tinggi seperti Agares energi seperti itu bisa dia tahan hanya dengan mengeluarkan sedikit energi ditangan kanannya untuk memblock serangan Erza.


Erza melesat kearahku dan berusaha membantuku. Tapi Agares segera melesat dan mendaratkan pukulan keras padanya. Pukulan itu membuatnya terpental sangat jauh.


"Uhhh, sial. Iblis itu sangat kuat." Ucapnya yang bersandar pada reruntuhan dinding tempat dia mendarat.


Melihat Erza yang dijatuhkan hanya dalam satu serangan oleh Agares membuat mental yang lainnya down. Erza adalah yang terkuat di party kami. Dia juga sebelumnya telah berhasil membunuh ratusan iblis seorang diri dalam pertarungan saat yang lain saling bekerjasama untuk mengalahkan pasukan iblis yang jumlahnya tak terkira ini.


Bahkan Erza yang mampu bertarung melawan ratusan iblis seorang diri dijatuhkan hanya dalam satu pukulan oleh Agares. Itu bisa diartikan, kekuatan tempur Agares jauh lebih tinggi dari ratusan iblis yang dikalahkan Erza. Atau bahkan jauh lebih tinggi dari kekuatan gabungan pasukan iblis yang saat ini kami lawan.


Meskipun dengan bantuan seribu orang pasukan bayanganku, tetap saja jumlah mereka masih belum seimbang. Bahkan meski mereka berhasil membunuh ribuan pasukan iblis hingga saat ini, pasukan iblis yang tersisa masih berkali - kali lipat lebih banyak dari yang mereka kalahkan.


"Uhhh. Itu pukulan yang sangat menyakitkan. Baiklah, mungkin sekarang aku tidak boleh menahan diri lagi."


Sebuah suara menyadarkan mereka dari keputusasaan yang mereka rasakan.


"T-tristan ?" Ucap Alice.


"A-aura kekuatan luar biasa besar ini berasal darinya?!" Ucap Hyuga melihat kearahku.


"Sungguh kekuatan yang menakutkan. Ini pertama kalinya aku melihat orang yang mampu melepaskan aura kekuatan sebesar ini." Ucap Leo yang juga menatapku.


"Dia...terlihat sangat berbeda." Ucap Silvia yang juga menatapku.


Dari reruntuhan dinding, mereka melihat Tristan yang perlahan bangkit. Aura biru merembes keluar dari tubuh Tristan. Bola mata berwarna biru menyala yang seakan mengancam siapapun yang menatapnya. Saat ini, mereka menatap Tristan dengan mata penuh keterjekutan. Mereka memang tau jika Tristan sebenarnya memang sangat kuat setelah melihat kemampuan Tristan sampai sekarang. Namun mereka seakan tidak bisa behenti terkejut melihat Tristan yang sekarang. Mereka melihat sosok manusia bagaikan monster yang mungkin mampu merubah arah jalannya pertarungan.


"Berserker mode, aktiv." Ucapku yang memecahkan suasana keheningan disekitarku.