
"Manusia macam apa yang memiliki kekuatan sebesar itu ? Bahkan aku merasa seluruh tubuhku merinding hanya karena merasakan tekanan dari auranya." Gumam Agares yang melihat Tristan bangkit secara perlahan.
Mata Tristan menjadi berwarna biru menyala yang selaras dengan aura yang merembes dari tubuhnya. Aura kebiruan itu merembes dari tubuhnya layaknya tali yang terus terulur hingga menyebar ke berbagai tempat.
"Dia berbahaya. Aku harus segera menghabisinya." Ucap Agares yang bersiap melancarkan sebuah serangan mematikan.
Dia mengayunkan tangannya keatas dengan pergelangan tangan terbuka membentuk sebuah pedang.
"Curse magic black gehena."
Setelah dia mengatakan itu perlahan mana dalam jumlah besar terkumpul tepat diujung jari - jarinya. Mana tersebut terkumpul sedikit demi sedikit hingga membentuk sebuah bola berwarna hitam pekat yang besarnya hanya sekepalan tangan orang dewasa. Meski hanya sebesar kepalan tangan, tapi konsentrasi dari energi yang memadat itu begitu luar biasa.
Semua yang menyaksikan teknik Agares tidak bisa menahan diri untuk mengendalikan tubuhnya yang tengah gemetar hanya karena merasakan aura dari bola energi tersebut. Tanpa peduli manusia atau iblis sebangsanya, mereka semua gemetar merasakan energi murni dari seorang bangsawan tertinggi iblis. Sejauh yang kulihat, hanya shadow soldier milikku yang tidak gemetar melihat kekuatan dengan konsentrasi luar biasa dihadapan mereka. Mungkin, itu karena mereka sudah mati dan jiwa mereka yang sekarang tidak bisa merasakan kengerian dari energi dengan konsentrasi sebesar itu.
"E-energi macam apa itu sebenarnya ? Mampukah kita menangani energi dengan tingkat kepadatan sebesar itu ?!" Ucap Shinobu dengan suara putus asanya.
Tidak heran dia berkata demikian. Energi yang dihasilkan oleh iblis itu mungkin setara dengan seratus ledakan nuklir yang dikonversikan hingga menjadi sebuah kesatuan. Energi mengerikan yang bahkan bisa menghancurkan sebuah negara dalam satu serangan.
"Mustahil. Jika dia melemparkan energi dengan tingkat kepadatan setinggi itu, kita semua mustahil untuk bisa kabur dari sini." Ucap Hyuga yang memikirkan hidupnya yang mungkin akan berakhir.
"Ughhh."
Suara Erza yang menahan rasa sakit ditubuhnya sambil berusaha untuk berdiri menyadarkan yang lainnya dan mereka bergegas membantu Erza.
Iblis yang lain yang tidak ingin kehilangan hidup mereka memilih untuk mundur kebelakang Agares agar tidak terkena serangan dengan konsentrasi energi diluar yang bisa mereka tangani. Hal ini membuat anggota party yang lain bisa membantu Erza.
"Erza, kau baik - baik saja ?" Tanya Leo pada Erza yang terlihat kesakitan sambil memegang bagian disekitar tulang rusuk di dada kirinya yang baru saja terkena pukulan Agares.
"Ugghh, aku baik - baik saja. Hanya saja aku merasa mungkin ada beberapa tulangku yang patah karena pukulan iblis itu. Aku tidak menyangka iblis itu sangat kuat. Aku sudah menahan pukulannya, tapi dampak yang dihasilkan dari pukulannya lebih kuat dari yang ku kira." Jawab Erza sambil menahan rasa sakit ditubuhnya.
"Bertahanlah, aku akan berusaha menyembuhkan lukamu." Ucap Silvia sambil meletakkan tangannya pada dada Erza dengan mengucapkan mantra pemulihan.
"Tingkatan dungeon yang kita masuki ini benar - benar diluar kemampuan kita. Jika saja kita hanya masuk berenam tanpa hunter rank D itu, kita mungkin akan mati konyol disini. Sekarang aku mengerti kenapa dungeon ini tetap terbuka selama lebih dari setahun, kita beruntung Alicia memintanya bergabung dengan tim kita. Satu - satunya yang bisa mengalahkan monster seperti iblis itu hanyalah dengan kekuatan monster yang lainnya. Dan kekuatan itu, aku bisa merasakannya dari dirinya. Kita hanya bisa menyerahkan sisa pertarungan ini padanya." Ucap Erza sambil menatap kearah Tristan yang dipenuhi aura dengan tekanan luar biasa ditubuhnya.
Mendengar ucapan Erza, seluruh rekan tim pun mengangguk setuju pada pendapat Erza. Mereka sadar, dengan kekuatan mereka saat ini, mustahil bagi mereka bisa mengalahkan Agares yang perbedaan kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan mereka. Saat ini, satu - satunya yang bisa mereka lakukan hanyalah berdoa dan berharap Tristan bisa mengalahkan Agares dan menutup dungeon ini.
-------------------
Perasaan yang kurasakan ini, ini kedua kalinya aku merasakan seperti ini. Yang pertama adalah saat melawan demon Viscount yang menyerang Jakarta tahun lalu.
Saat ini, aku merasa tidak ada seorangpun yang mampu menghentikanku. Setidaknya itu satu - satunya yang bisa kupikirkan.
Aku menatap Agares yang berdiri di hadapanku. Aku melihat bola energi berwarna hitam pekat dengan energi yang begitu besar yang terus berkumpul diujung jarinya.
Sungguh kekuatan yang luar biasa. Mungkin itu yang akan kupikirkan dalam situasi biasa. Tapi, dalam kondisiku saat ini aku merasa bisa menghancurkan apapun yang menghalangiku. Aku sama sekali tidak merasakan ancaman dari dahsyatnya kekuatan Agares yang akan digunakannya untuk menyerangku.
"Flame of purgatory aktif."
Setelah aku mengucapkan sandi untuk mengaktifkan skillku. Api hitam berkobar mengelilingiku. Api hitam itu berkobar bersama aura biru yang juga menyembur ke berbagai tempat. Kombinasi dari kedua warna itu terlihat sangat kontras.
"Wings of purgatory flame."
Dengan tingkat pengendalian api hitamku yang sudah meningkat, aku bisa mengendalikan api hitamku hingga di tingkatan merubah bentuk dan cara penggunaannya.
"A-apa itu ?! Tristan, dia mampu membentuk api mengerikan itu menjadi sayap ?!" Ucap Silvia yang melihat sepasang sayap terbentuk dari api hitam yang ku keluarkan.
Karena sayap itu berasal dari kobaran api hitam, sayap itu berwarna hitam dengan 2 pasang sayap yang berbentuk seperti sayap malaikat yang pernah kulihat. Aku bisa melihat raut wajah Agares yang terkejut melihat 2 pasang sayap dipunggungku yang berasal dari api hitam.
"Bisa memanipulasi api hitam sampai seperti itu. Ditambah lagi jumlah sayapnya itu, sepasang sayap menyimbolkan ras malaikat, dan 2 pasang sayap adalah simbol dari seraphim yang juga dikenal sebagai 7 Malaikat agung. Manusia itu...dia pernah bertemu dengan malaikat agung. Aku harus membunuhnya disini atau dia akan menjadi ancaman bagi kami para iblis." Ucap Agares yang melihat 2 pasang sayap dibelakangku sebagai simbol dari kekuatan malaikat agung.
Saat Agares merasa energi yang dia kumpulkan sudah mencapai titik puncaknya, dia merubah energi itu dari sebuah bola yang hanya berukuran satu kepalan tangan menjadi sebuah pedang yang menjulang. Pedang energi itu menjulang setinggi 10 meter.
Agares mengambil nafas sesaat sebelum dia akan melancarkan serangan terkuatnya. Curse magic yang dia keluarkan hampir sama dengan Extreme magic milik manusia. Jika Extreme magic adalah sihir terkuat yang bisa dikeluarkan manusia, maka Curse magic adalah sihir terkuat yang bisa dikeluarkan para iblis.
Intensitas energi yang digunakan untuk Curse magic jauh lebih tinggi dari Extreme magic. Hal ini normal karena pada dasarnya kapasitas mana para iblis berkali - kali lipat dari manusia. Terlebih Agares adalah seorang demon duke. Dia jelas memiliki kapasitas mana yang begitu besar hingga mampu menciptakan serangan yang bisa meluluh lantakkan sebuah negara dalam satu serangan.
"Tristan, aku mengakuimu sebagai salah satu manusia terkuat yang bisa membuatku mengeluarkan seluruh kekuatanku. Sekarang terimalah hukuman dariku karena telah menantang kami para iblis. Black Gehena !!"
Agares mengayunkan pedang energi dengan konsentrasi tinggi diatasnya kearahku dengan begitu kuat. Pedang energi itu mengayun kearahku dengan sangat kuat. Hanya dengan ayunannya, tanah di dibawahku retak dan tenggelam kebawah menimbulkan cekungan lubang sedalam 10 meter.
Serangan yang begitu mengerikan. Aku harus akui, serangan itu mungkin bisa membunuhku. Bahkan skill flame of purgatory milikku akan membutuhkan waktu membakar energi sepadat itu. Serangan ini bisa membunuh seluruh hunter sebuah negara bersama dengan seluruh penduduknya dengan seketika.
"Harus kuakui, sebagai seorang demon duke kau sungguh sangat kuat. Mungkin kau bisa saja membunuhku tadi. Tapi, mustahil untuk sekarang." Ucapku yang tersenyum pada Agares dengan senyuman remeh saat pedang energi dengan konsentrasi tinggi itu melaju kearahku.