Rebirth With Fragment Of God

Rebirth With Fragment Of God
Season 2 Chapter 18



Blarrrrr


Suara ledakan terdengar menggema ke dalam seluruh ruangan mall.


"Apa itu?!"


"Apa yang terjadi?!"


"Suara ledakan apa itu?!"


Semua orang di dalam mall bertanya - tanya asal dari suara ledakan yang mereka dengar begitu keras.


Suara ledakan itu berasal dari lantai 1 mall. Tepatnya dari salah satu pintu masuk mall yang sekarang sudah hancur berkeping - keping.


Dari tempat tempat itu terlihat 4 orang mengenakan jubah bertudung dengan warna merah menyala yang dihiasi corak berbentuk api berwarna keemasan dibagian bawahnya. Ke empat orang itu berjalan dengan santainya melewati dua orang penjaga keamanan yang berjaga di pintu masuk mall.


Kedua penjaga keamanan itu terbaring tidak bergerak sedikitpun. Tidak ada yang tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Tapi semua orang tahu kalau keempat orang itu yang telah menyebabkan dua penjaga keamanan itu tidak sadarkan diri.


"Sial, dimana Velajuel dan Ariel? Mereka tidak menjawab telepatiku. Jika mereka menjawab aku tidak perlu sampai melakukan hal merepotkan ini." Gumam salah seorang diantaranya.


Seluruh pengunjung mall ketakutan melihat keempat orang itu yang berjalan dengan santainya. Naluri semua orang tahu bahwa keempat orang itu bukan manusia biasa.


"Kalian berpencarlah dan cari Velajuel dan Ariel." Ucap salah seorang diantaranya dengan nada memerintah yang menjelaskan bahwa dia adalah pemimpinnya.


"Baik tuan Eviel." Ketiga bawahannya menjawab serentak sambil kemudian pergi meninggalkan pemimpin mereka seorang diri.


"Hahh, dasar dua orang yang merepotkan. Tuan sampai memerintahku untuk mencari mereka. Padahal rencananya akan dimulai." Gerutu orang yang bernama Eviel.


Sementara itu Alice, Gale, Hyuga, Shinobu, Silvia, dan Erza mencari tahu asal suara ledakan yang mereka dengar. Saat ledakan itu terjadi, mereka merasakan aura mana yang cukup kuat yang membuat mereka khawatir akan kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi.


Mereka berlima memutuskan untuk mengecek kearah suara ledakan itu dan melihat Eviel yang berdiri dengan bersandar ke salah satu tiang dinding di dalam mall. Banyak orang di mall yang melihat Eviel namun tidak ada seorangpun yang berani mengganggunya.


Itu wajar semua orang tidak berani mengganggu Eviel, mengingat dua penjaga keamanan yang terkapar di dekatnya dan pintu mall yang terbuat dari kaca hancur menjadi beberapa kepingan kecil menandakan Eviel bukanlah manusia biasa.


Semua orang tahu tentang beberapa penyerangan yang terjadi di kota Paris. Pertama seorang dari salah satu anggota Algorhytm yang menyerang akademi Sun Authority yang adalah salah satu akademi Hunter di dunia. Akademi Hunter merupakan akademi untuk melatih hunter yang memiliki kemampuan diatas rata - rata. Orang yang berani menyerang akademi jelas bukanlah orang biasa.


Yang kedua adalah penyerangan di penjara hunter di kota Paris. Penjara dengan tingkat penjagaan yang sangat tinggi itu berhasil ditembus dan menewaskan ratusan penjaga yang bertugas.


Dari kedua berita itu, semua orang mulai berpikir bahwa orang yang berdiri di depan mereka saat ini mungkin saja adalah salah satu anggota dari organisasi kriminal yang mereka dengar akhir - akhir ini, Algorhytm.


Alice dan yang lainnya mengamati Eviel dengan hati - hati. Mereka berharap aura mereka tidak terdeteksi oleh Eviel. Normalnya seorang hunter memiliki aura yang memancar dari tubuhnya. Sesama hunter bisa mendeteksi aura yang dipancarkan hunter lainnya.


Tapi mereka sama sekali tidak bisa lihat aura kekuatan terpancar dari tubuh Eviel.


"Ini aneh. Apa orang itu menekan aura kekuatannya? Aku sama sekali tidak bisa melihatnya." Ucap Hyuga yang mengamati dari kejauhan.


"Aku juga penasaran kenapa aku tidak bisa melihat aura kekuatannya. Tapi itu bukan yang terpenting untuk saat ini. Saat ini yang terpenting adalah mengalahkannya sebelum ketiga bawahannya kembali." Ucap Erza


"Itu benar. Tapi bukankah terlalu gegabah jika kita menyerangnya tanpa mengetahui tingkat kekuatannya." Ucap Leo yang meragukan pendapat Erza.


"Tidak, Aku setuju dengan Erza. Kita tidak tahu kapan dia akan mulai melukai orang - orang di dalam mall. Sebagai seorang hunter, kita harus melindungi orang - orang di dalam mall yang tidak memiliki kemampuan." Ucap Alice.


"Tapi Tristan belum kembali." Ucap Silvia yang mengkhawatirkan keadaan Tristan.


"Hahh, kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Jujur saja dia jauh lebih kuat dariku. Apa kau pikir ada orang yang mampu melukainya yang bahkan mampu menaklukkan dungeon rank S yang bahkan membuat kita semua kesulitan?" Ucap Erza mencoba menenangkan Silvia.


"Erza benar. Tristan sangat kuat. Aku yakin dia akan baik - baik saja nanti. Saat ini kita harus fokus untuk mengalahkannya." Ucap Shinobu.


"Baiklah, pertama - tama kita harus membuatnya menjauhi orang - orang disini. Kita harus memancingnya keluar dari mall agar bisa bertarung dengan lebih leluasa." Ucap Alice


"Aku juga setuju."


"Aku juga."


Semuanya setuju dengan pendapat Alice untuk menjauhkan Eviel dari warga sipil di dalam mall.


"Baiklah karena semuanya sudah setuju, ayo kita lakukan." Ucap Alice.


Eviel masih terlihat santai dengan berdiri menyandar pada tiang dinding mall.


?!


Dia melihat sebuah cahaya biru yang diselimuti aliran listrik disekitarnya. Cahaya biru itu membentuk sebuah tombak panjang yang melesat kearahnya.


Eviel yang melihatnya bergegas melompat menghindar.


Blaaaarrrrr


Cahaya biru itu menabrak tiang dinding tempat Eviel bersandar sebelumnya.


Ztztztztztztzt


Terlihat kilatan listrik yang menyala membekas akibat cahaya biru tersebut.


"Kekuatan petir ini, sepertinya familiar." Ucap Eviel mengamati bekas - bekas listrik kecil yang menyambar.


Dia melihat kearah serangan sebelumnya berasal dan melihat Alice yang berdiri bersama 5 orang lainnya. Dia bisa tahu kelima orang di dekatnya adalah seorang hunter hanya dengan melihat aura yang menyelimuti tubuh mereka.


"Hooo, lihat ini. Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya gadis kecil?" Ucap Eviel yang melihat Alice.


"Apa? Kau mengenalnya Alice?" Ucap mendengar ucapan Eviel.


"Tidak, aku tidak merasa pernah bertemu dengannya." Ucap Alice yang tidak mengingat pernah bertemu Eviel.


"Hemm, ayolah. Bukankah dulu aku menghajarmu dan kakakmu? Itu belum lama, bagaimana kau bisa lupa?" Ucap Eviel.


?!


Mendengar Eviel mengatakan itu, Alice bisa mengingatnya dengan jelas. Saat dimana dia dan kakaknya hampir mati saat melawan seorang pria bertopeng.


"K-kau...kau pria bertopeng itu?!" Ucap Alice yang kaget mengingat pria bertopeng yang susah payah dia dan kakaknya lawan sekarang berdiri dihadapannya.


"Hahaha. Aku senang kau mengingatnya." Ucap Eviel tertawa dengan santainya.


"Semuanya, waspadalah. Dia orang yang berbahaya. Bahkan aku dan kakakku tidak sanggup melawannya." Ucap Alice yang memperingatkan yang lainnya.


"Apa?! Bahkan kau dan kakakmu tidak bisa menandinginya? Bukankah kakakmu seorang hunter rank SS?" Ucap Hyuga yang terkejut mendengar pernyataan Alice.


Tidak hanya Hyuga. Semuanya juga terkejut mendengar Alice dan kakaknya tidak mampu melawannya. Semua tau Alice itu kuat, tapi kakaknya dikenal jauh lebih kuat. Bahkan mereka berdua tidak mampu melawan Eviel seorang diri. Itu sangat mengejutkan bagi semuanya.


"Ya, dan bahkan kami hampir mati. Jika saja saat itu Tristan tidak membantu, aku tidak tau apa yang akan terjadi pada kami." Ucap Alice.


"Hahahaha, aku senang kau mengingatku. Jika bukan karena bocah sialan itu aku pasti sudah menangkap kalian berdua. Aku beruntung karena kau datang sendiri kepadaku. Jadi aku tidak perlu repot - repot mencarimu." Ucap Eviel.


Kemudian api berwarna merah berkobar dari tangan kanannya yang begitu besar. Terlihat jelas otot - otot ditangannya yang menjalar di lengannya yang diselimuti api yang menyala - nyala.


"Sekarang aku akan memburumu, pemilik darah keluarga Valentine." Ucap Eviel dengan tekanan yang luar biasa kuat dan api yang berkobar menyala - nyala di tangan kanannya.