
KRIIIINNNNGGGG
Suara jam weeker yang sudah ku setel pukul 05.00 membangunkanku dari tidurku.
"Hoammmm"
Aku yang masih setengah sadar menggerakkan tanganku untuk mencar - cari arah suaranya dan mematikannya dengan menekan tombol diatas jam.
Kemudian aku bangkit dari tempat tidurku dan meregangkan seluruh badan dan otot - ototku.
Setelah aku benar - benar sadar dari tidurku, aku bergegas menuju kamar mandi yang terletak di pojok kamarku.
Saat ini aku tinggal di sebuah tempat kos dengan luas kamar sekitar 4x4 dengan kamar mandi dalam.
ZASSSSSHHHH
Terdengar suara air yang keluar dari shower dan membentur lantai - lantai kamar mandiku.
--------------
Tak lama kemudian, aku keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membalut dari perut hingga lututku.
Kemudian aku membuka lemari bajuku dan mengambil seragam akademiku. Seragam akademiku terdiri sebuah kemeja putih dengan blazer yang di dominasi warna hitam dengan garis - garis putih di beberapa bagian seperti di kerah dan bawah lengan. Terdapat logo bunga matahari dengan 12 kelopak di bahu yang menjadi simbol dari akademiku. Celananya adalah celana hitam polos tanpa desain yang mencolok.
Setelah mengenakan seragam, aku mengambil sepotong roti dari kulkas dan mengolesinya dengan selai coklat kacang untuk mengisi perutku. Bagaimanapun mengisi perut adalah hal pokok sebelum memulai aktivitas.
Setelah selesai aku mengambil tas yang menggantung di belakang pintu dan bergegas ke akademi.
Seperti yang biasa kulakukan, aku melewati beberapa perumahan untuk sampai ke sebuah jembatan penyeberangan. Jembatan penyeberangan ini terlihat ramai oleh orang - orang yang berlalu lalang.
Aku melewati jembatan penyeberangan dan berjalan ke arah pertokoan yang terletak tidak jauh dari sini.
Seperti biasa, aku berhenti sebentar di sebuah toko elektronik di sekitar area pertokoan. Toko elektronik itu ditutupi oleh sebuah kaca transparan dan di dalamnya terdapat sebuah televisi yang meramalkan cuaca hari ini.
"Kembali lagi dengan ramalan cuaca hari ini, cuaca di kota paris hari ini akan diselimuti awan mendung yang disertai hujan pada sore nanti. Jadi pastikan kalian membawa payung sa-"
'Sore ini hujan kah' gumamku dalam hati.
Aku melanjutkan perjalanan hingga sampai pada sebuah jembatan yang menghubungkan area pertokoan dengan akademi.
Dari tempatku berdiri tampak siswa - siswi berlarian masuk menuju gerbang akademi. Melihat hal itu akupun turut mempercepat langkahku.
Seperti yang biasa terjadi, tepat saat aku memasuki gerbang, gerbang menutup secara otomatis.
'Syukurlah aku tepat waktu. Tapi, tidak biasanya bel tanda masuk yang berbunyi 5 menit sebelum gerbang ditutup tidak berbunyi.' Gumamku dalam hati.
Akademi Sun Authority adalah akademi khusus hunter yang terletak di pusat kota Paris di Perancis. Akademi Sun Authority atau biasa disebuat S.A adalah salah satu dari beberapa akademi yang di dirikan oleh beberapa negara besar untuk melatih hunter - hunter mereka menjadi hunter yang berbakat. Banyak hunter yang mendapat kenaikan peringkat setelah lulus dari akademi.
Kenaikan tingkat tidak didapat dengan kebangkitan ulang. Melainkan dengan meningkatkan kemampuan kontrol pada kemampuan yang disebut "Mana" yang menjadi suplai dalam menggunakan kekuatan seorang hunter.
Dalam akademi ini ada peraturan yang harus patuhi oleh negara - negara di seluruh dunia. Salah satu peraturannya adalah bahwa negara manapun dilarang untuk menangkap, melukai, atau melakukan kontak apapun dengan siswa dari akademi. Dengan kata lain, meskipun dia seorang penjahat kelas atas, polisi negara manapun tidak boleh menangkapnya. Mereka harus menyerahkan otoritas penangkapan pada tim pengamanan akademi dengan bukti dokumentasi kejahatan yang telah dilakukan.
Hal itu dilakukan agar tidak ada pihak luar yang mencampuri urusan siswa - siswi di akademi, karena saat mereka lulus mereka akan bekerja di lembaga - lembaga hunter pemerintahan di berbagai negara.
Karena peraturan itu, Amerika tidak akan bisa mengejarku ke akademi ini. Hal ini juga berkat bantuan ketua Edward yang merekomendasikanku pada pihak akademi.
Gedung utama di akademi ini, terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama untuk siswa tingkat 1, lantai 2 untuk tingkat 2, dan lantai 3 untuk tingkat 3. Ini sudah 1 tahun sejak aku menjadi siswa di akademi ini dan aku sudah menjadi siswa tingkat 2. Jadi kelasku ada di lantai 2 gedung utama.
Untuk sampai ke kelas, aku harus melewati tangga gedung utama. Seperti biasa, terdengar suara ramai dari dalam pintu kelasku.
Saat aku membuka pintu, suasana mendadak berubah menjadi hening. Semua pandangan siswa - siswi di kelas tertuju kearahku.
"A-ah, selamat pagi." Ucapku berusaha mencairkan suasana yang canggung.
Namun seperti biasa, tidak ada seorangpun yang menjawab sapaanku. Mereka kembali berbincang dengan teman - teman mereka.
'Hahh, dimanapun tempatnya pasti selalu ada diskriminasi.' Gumamku sambil berjalan kearah tempat dudukku yang ada di pojok belakang di dekat jendela.
Tidak berselang waktu lama pintu masuk terbuka kembali. Kali ini terlihat seorang gadis yang memasuki pintu.
"Selamat pagi semua." Ucapnya dengan senyum yang menempel di wajahnya.
Tapi atmosfir yang kurasakan benar - benar berbeda. Seolah - olah kami berasal dari dunia yang berbeda.
"Selamat pagi, Alice."
"Selamat pagi."
"Seperti biasa, kau selalu terlihat cantik Alice." ucap seorang siswa di kelas.
"Terimakasih, tapi aku biasa aja kok." Jawabnya dengan senyum.
Setelah selesai menyapa, dia berjalan ke arah tempat duduknya yang secara kebetulan terletak di sebelahku.
"Selamat pagi, Tristan."
"Hem, pagi." Jawabku singkat.
Untuk menyembunyikan diriku dari para hunter Amerika, biro penanganan dungeon mengubah sedikit identitasku. Di akademi S.A ini aku dikenal sebagai Tristan Wijaya. Seorang hunter rank D dari Indonesia.
"Kenapa kau selalu cuek padaku ? Tidak bisakah kau baik seperti sikap mereka padaku ?"
"Untuk apa ?" Jawabku singkat.
"Ya, mungkin untuk mempererat hubungan."
"Tidak butuh." Jawabku singkat sambil mengalihkan pandangan keluar jendela.
"Hem, terserah !" Jawabnya jengkel dengan memalingkan wajahnya dariku.
Alice Valentine, dia adalah salah satu hunter dia adalah seorang hunter rank S dan sangat berbakat.
Wajahnya cantik dengan kulit seputih salju. Rambutnya putih panjang tanpa diikat. Matanya berwarna Hijau seperti batu permata yang menghiasi kecantikannya.
Dia pintar, atletis, dan cantik. Tidak heran banyak siswa di akademi menaruh hati padanya.
Tapi bagiku, dia terlalu indah untuk dipandang sampai - sampai membuatku bosan. Lagi pula aku tidak punya waktu untuk melakukan sesuatu sia - sia seperti mendekati seorang gadis. Aku memiliki janji pada teman - temanku yang harus kulakukan.
Saat aku memalingkan pandangan ke depan kelas. Aku melihat seorang gadis yang berdiri sedang meminta perhatian.
"Teman - teman, hari ini kita akan menjalani tes pengendalian sihir di gedung belakang. Instruktur sudah menunggu kita di gedung belakang. Jadi segeralah kesana" Ucap gadis itu.
"Hahh ? Tes pengendalian sihir lagi ? Bukankah kita sudah melakukan itu saat tes masuk akademi ini ?"
"Ahh, begitu."
"Ngomong - ngomong kau ada di rank D kan. Mungkin saja kau akan mengalami kenaikan peringkat" Ucapnya padaku.
"Ahh, itu tidak mungkin."
"Kenapa tidak ? Mendapatkan kenaikan tingkat adalah hal bagus. Itu adalah impian hunter di seluruh dunia. Semakin tinggi tingkat kita, dunia akan semakin menghormati kita."
Karena itulah aku tidak suka. Mereka yang kuat dihormati dan bisa melakukan apapun yang mereka mau. Dan mereka yang lemah tidak bisa melawan sama sekali. Itu menimbulkan rantai diskriminasi yang tidak bisa diputus.
"Hahh, bagus untukmu. Tapi sama sekali tidak untukku."
Kemudian aku beranjak dari tempat dudukku dan keluar dari ruang kelas menuju gedung belakang.
Aku beruntung bisa sampai lebih dulu. Di halaman gedung belakang terdapat sebuah pohon yang rindang di sudut halaman. Aku duduk bersandar di pohon itu.
Tidak lama kemudian aku melihat yang lain datang. Aku juga melihat Alice yang terlihat sedang jengkel.
'Apa aku terlalu berlebihan dan menyinggungnya ?' Pikirku.
Kemudian tes pengendalian sihirpun dimulai. Seperti yang dikatakan Alice. Beberapa hunter mendapat kenaikan tingkat dari C ke B atau dari B ke A.
'Perkembangan yang menakjubkan.' Pikirku.
Kemudian tiba giliran Alice untuk melakukan tes pengendalian sihir.
"Alice Valentine !" Ucap Instruktur dengan memegang papan absen yang meminta Alice untuk maju menjalani tes.
Alice pun maju ke tengah halaman. Sasarannya adalah sebuah patung yang terbuat dari sebuah kristal khusus yang berasal dari dungeon.
Tes nya dilakukan dengan menghantamkan sihir terkuat yang bisa dikeluarkan ke arah patung itu. Kenapa di sebut menghantam daripada menghancurkan, karena patung yang terbuat dari kristal khusus itu tidak bisa dihancurkan bahkan oleh seorang hunter rank S sekalipun. Hanya hunter diatas rank S yang bisa menghancurkan patung itu. Karena itu instruktur menyebutnya menghantamkan, bukan menghancurkan.
Didalam patung itu telah dipasang sebuah alat ukur yang bisa mengukur kekuatan seorang hunter. Alat ukur itu bekerja dengan menyerap energi sihir yang dihasilkan seorang hunter dan mengkonversikannya dalam bentuk angka.
Entah kenapa atau memang karena semua orang tau kekuatan Alice, mereka mundur ketempat berlindung semacam bunker yang dilapisi kaca transparan yang sangat kuat. Bukan hanya itu, bunker itu juga dilapisi dengan sihir pelindung yang dipasang oleh ke 7 hunter rank SSS. Jadi tidak perlu diragukan lagi kekuatan sihir pelindung dari bunker itu.
"Bersiap !!! 3...2...1...Mulai !!!" Teriak Instruktur sebagai tanda dimulainya tes.
Alice mulai mempersiapkan kuda - kudanya. Dia meletakkan kedua tangannya ke samping pinggangnya. Dia mulai mengkonversikan energi mananya menjadi energi listrik yang sangat kuat.
Ztztztztzztzt
Dari kedua telapak tangannya terlihat aliran listrik berwarna biru yang menyambar - nyambar area sekitar dan saling menyambung seperti seutas tali.
"Energi yang luar biasa."
"Dia sungguh berbakat."
"Aku tahu Alice itu sangat kuat, tapi aku tidak menyangka sampai sekuat ini"
Sorak - sorak kekaguman semua orang terdengar dari arah bunker. Namun Alice tidak mendengarkannya dan tetap dalam keadaan fokus pada pengendalian sihirnya.
"Chain dragon lighning !!"
Teriak Alice sekaligus mendorong tangannya kedepan dengan sekuat tenaga.
Ztztztztztzt
Energi listrik itu membentuk dua ekor naga kembar yang melesat dari tangannya ke arah patung kristal itu.
'Luar biasa. Perbedaan kemampuannya bahkan lebih kuat dari hunter rank S di Indonesia.' Gumamku melihat kekuatan Alice yang luar biasa.
DUAAARRRRR
Naga listrik yang dikeluarkan Alice membentur patung kristal yang digunakan untuk ujian dan membuatnya hancur berkeping - keping bersamaan dengan alat pengukur di dalamnya.
Semua orang yang melihatnya terbelalak seakan tidak percaya pada apa yang mereka lihat.
"I-ini ?! Aku tidak menyangka, seorang hunter rank SS baru ada di akademi kita." Ucap Instruktur yang terkejut melihat kemampuan Alice.
Mendengar perkataan instruktur, seluruh siswa - siswi didalam bunker keluar menyoraki Alice.
"Selamat, Alice."
"Selamat, telah menjadi rank SS yang baru." Ucap siswa - siswi yang menghampiri Alice.
"Benarkah ? Aku...menjadi hunter rank SS ?" Ucap Alice yang seakan tidak percaya pada apa yang dia dengar, tapi rasa bahagia yang terpancar dari wajahnya tidak bisa dia tutupi.
"Woww, dia benar - benar kuat. Beruntung aku tidak terluka terkena ledakan dari sihir itu." Ucapku dari sudut halaman disamping pohon besar yang sekarang hanya tersisa akarnya.
"Ini, saat yang tepat. Aku harus memanfaatkan situasi ini." Ucapku sambil mendekati instruktur yang terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Pak instruktur ?"
"A-ah, iya. Ada apa ?"
Sepertinya dia masih terkejut dengan kejadian barusan.
"Karena patungnya hancur. Bagaimana kalau tes untuk peserta terakhir dilewatkan saja ?" Ucapku menyarankan
"Ahh, sebenarnya itu tidak boleh dilakukan. Tapi..."
"Tenang saja pak. Peserta terakhir itu aku." Ucapku meyakinkan instruktur.
"Benarkah ? Baiklah kalo itu yang kamu inginkan. Tapi, apa yang harus kutulis di laporanmu ?"
"Tulis saja tingkat D pak. Tahun lalu aku masuk akademi ini dengan nilai itu." Ucapku mencoba membujuk instruktur untuk membuat data palsu tentangku.
"Ahh, baiklah." Jawab instruktur menerima saranku.
Instruktur segera menghampiri siswa siswi yang sedang merayakan kenaikan tingkat Alice.
"Baiklah, semuanya. Tes hari ini sudah cukup sampai disini. Kalian bisa kembali ke kelas kalian." Ucap instruktur.
"Ta-tapi pak. Masih ada yang belum-" Ucap Alice karena merasa ada yang janggal.
"Bubar jalan !!" Ucap instruktur tanpa mempedulikan asal suara tersebut.
Seperti yang kuduga, mereka sama sekali tidak menyadariku yang belum menjalani tes pengendalian sihir tersebut. Kami pun mulai kembali ke kelas.
Tapi, aku merasa sejak saat itu Alice terus menatapku dengan tatapan penuh curiga.