Rebirth With Fragment Of God

Rebirth With Fragment Of God
Season 2 Chapter 3



DUAR....DUAR....DUAR !!


Aku melihat kekuatan railgun Alice yang dikeluarkannya secara beruntun.


"Hoho, gadis kecil kau tangguh juga. Tapi dibandingkan kakakmu yang sudah tidak berdaya itu, kau bukanlah apa - apa. Tidak lebih dari seekor semut bagiku." Ucap pria bertopeng itu meremehkan Alice.


Tidak heran dia begitu meremehkan Alice. Serangan railgun Alice bisa dia hindari semuanya dengan mudah.


"Hoho, sekarang giliranku untuk menyerang bukan ?"


"Fire lance !"


Pria bertopeng itu mengarahkan tangan kanannya ke depan. Dari belakang tubuhnya muncul 6 kobaran api yang membentuk tombak. Kobaran api berbentuk tombak itu dengan cepat melesat menuju ke arah Alice.


Alice yang melihat merapalkan salah satu skill bertahannya.


"Shield"


Mananya dengan cepat berkumpul di depannya dan membentuk sebuah perisai listrik dengan tinggi 5 meter dan ketebalan sekitar 1 meter. Itu setengah dari sihir pertahanan milik kakaknya.


Tapi mungkin itu berhasil jika melihat teknik yang pria bertopeng itu gunakan saat ini yang tidak terlalu kuat.


DAP DAP DAP DAP.


Suara dari kobaran api berbentuk tombak yang dikeluarkan pria bertopeng itu terdengar dengan cukup keras.


"Hoho, lumayan. Bagaimana dengan ini. Fire buster."


Kali ini dia membuat sebuah kuda - kuda yang kuat dengan kedua kakinya. Dia menyatukan kedua tangannya dipinggangnya. Terlihat percikan api bola api yang semakin membesar.


?!


Dia mengkonversi bola api itu menjadi sebuah energi dengan intensitas tinggi. Itu akan menjadi serangan dengan daya perusak yang sangat besar.


'Apakah Alice akan mampu menahan serangan itu ?' Pikirku mengkhawatirkan Alice jika sampai terkena serangan dengan intensitas setinggi itu.


"Tsk, Ultimate railgun !"


Alice menggenggam kedua tangannya ke depan membentuk seperti sebuah pistol. Dari ujung jarinya keluar kilatan listrik yang terus memadat dengan tingkan konversi yang sangat tinggi. Itu terlihat seperti railgun, namun intensitas energi yang dikumpulkan mungkin sekitar 5 kali lebih tinggi daripada railgun yang baru saja dia gunakan.


"Aku tidak menyangka dia bisa memadatkan senergi dengan intensitas setinggi itu. Dia benar - benar hebat." Gumamku mengagumi kemampuan Alice.


"Bagus juga ! Kau ingin melawan teknik milikku dengan teknik milikmu ?! Kalau begitu mari kita lihat teknik siapa yang lebih kuat ?!!"


Teriak pria bertopeng itu sembari mendorang tangannya ke depan dengan kuat yang melepaskan sebuah kibaran api yang yang sangat padat seperti sebuah laser. Kobaran api itu melesat dengan sangat cepat menuju ke arah Alice..


Alice yang tidak mau kalah juga melepaskan energi listrik yang sudah dia konversi menjadi sangat padat dan menembakkan sebuah laser listrik dengan intensitas energi yang sangat tinggi.


DUAAAAARRRRRRR


Kedua serangan dengan intensitas energi yang sangat besar menimbulkan ledakan yang sangat besar. Alice memang sangat kuat, tapi jika pria bertopeng itu bisa mengalahkan kakaknya yang seorang hunter rank SS, mustahil bagi Alice untuk mengalahkannya.


'Aku benci mengakui ini, tapi Alice bukanlah tandingan pria bertopeng itu.' Pikirku setelah melihat benturan energi dengan intensitas yang sangat tinggi itu.


Benar dugaanku, energi serangan kobaran api pria bertopeng itu sedikit demi sedikit mendorong energi listrik yang dikeluarkan Alice.


"Ini buruk, Alice bisa terluka parah jika dia sampai terkena serangan energi dengan intensitas setinggi itu." Gumamku.


Wajah perempuan berambut putih di sebelahku terlihat sangat tegang. Dia seakan sangat marah, namun dengan kondisinya saat ini tidak ada apapun yang bisa dilakukannya.


Perlahan tapi pasti kobaran api milik pria bertopeng itu semakin memojokkan Alice.


"Alice !! Menghindar sekarang ! Bisa gawat jika kau sampai terkena serangannya !!"


Teriakanku menyadarkan Alice bahwa kobaran api pria bertopeng itu lebih kuat dari ultimate railgun miliknya. Dia mengalirkan mana listriknya ketubuhnya dan menghindar secepat kilat dari kobaran api itu.


BLEDAMMMMMM


Kobaran api itu menghantam tanah tempat Alice sebelumnya berdiri. Hasilnya, serangan pria itu menimbulkan lubang yang sangat besar. Mungkin diameternya sekiat 70 meter dengan kedalaman sekitar 30 meter.


Itu jelas kemampuan yang berbahaya. Beruntung Alice bisa menghindari serangan mematikan itu.


"Aku memujimu yang bisa menghindar dari teknikku dalam jarak sedekat itu." Ucap pria bertopeng itu dengan sombong.


Alice memang berhasil menghindar dari serangan mematikan itu. Tapi bukan berarti dia tidak terluka. Tangan kanannya mendapat luka bakar yang cukup parah akibat serangan pria bertopeng itu.


"Kau tidak apa - apa, Alice ?" Tanyaku yang khawatir setelah melihat dia yang sedang menahan rasa sakit akibat luka bakar ditangannya.


"Aku tidak apa - apa." Jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya sedetikpun dari pria bertopeng itu.


Aku sangat memahami sikap Alice. Kami ada dikelas yang sama selama satu tahun, dan karena itu aku sangat mengenal sifatnya.


Saat Alice tidak melepas pandangannya dari lawannya meski untuk sedetik sekalipun, itu berarti dia merasa ada kemungkinan dirinya dikalahkan.


Melihat situasi saat ini, Alice yang mendapat luka bakar ditangannya, juga kakaknya yang seorang hunter top rank SS dikalahkan oleh pria bertopeng itu tanpa kesulitan, sulit untuknya memenangkan pertarungan ini.


"Alice ! Larilah. Orang itu sungguh berbahaya !" Teriak kakaknya.


Namun Alice sama sekali tidak menghiraukannya. Dari hembusan nafasnya yang tidak teratur aku bis mengetahui saat ini dia hampir mencapai batasannya.


Itu wajar karena dia sudah bertarung selama sekitar 1 jam. Pria bertopeng itu yang terlalu kuat untuknya. Menurutku pria bertopeng itu bahkan sekuat hunter rank SSS. Jika itu benar, mustahil kami bisa lolos dengan mudah dari pertarungan ini.


"Kenapa gadis kecil ? Kau sudah kelelahan ? Aku bisa menemanimu bermain lebih lama jika kau mau ?" Ucap pria bertopeng itu dengan penuh kepercayaan diri.


Tidak heran dia bersikap seperti itu. Bagaimanapun dia telah mengalahkan 2 orang hunter rank SS tanpa kesulitan. Dia benar - benar seperti monster.


Dia memang tidak menatapku, tapi raut wajahnya menjelaskan bahwa dia akan mempertaruhkan segalanya dalam serangan terakhir ini.


"Apa ?! Alice, jangan lakukan itu hanya untuk menyelamatkanku. Saat ini masih ada kesempatan bagimu untuk lari dari sini. Gunakan sihirmu dan larilah sejauh mungkin untuk mencari pertolongan." Ucap kakaknya yang tidak ingin melihat Alice mengorbankan dirinya untuknya.


"Tidak. Aku tidak bisa membiarkan orang itu menyakiti kakak. Dengan sihir ekstrimku ada kemungkinan aku bisa membuat celah untuk lari saat waktunya tepat. Tapi kakak keadaan kakak saat ini begitu buruk. Aku takut jika kakak tidak lari sekarang pria bertopeng itu bisa mengejar kakak nantinya." Ucap Alice sambil menatap kakaknya dengan serius.


"Tristan, aku percayakan kakak padamu." Lanjutnya


"Apa ?"


Perempuan ini selalu bersikap semaunya. Bagaimana bisa dia memberiku tugas seberat itu tanpa merundingkan hal itu padaku. Tapi aku paham apa yang dirasakannya. Jika aku ada disituasi yang sama dengannya, aku mungkin akan melakukan hal yang sama dengannya.


Aku sangat mengenal Alice. Dia tidak akan menggunakan sihir ekstrimnya untuk membuat celah agar dirinya bisa lari. Dia melakukannya agar kami berdua bisa lari. Dia berniat mengorbankan dirinya untuk kami.


'Sial...apa yang harus kulakukan ?' Pikirku setelah mengetahui maksud Alice yang sebenarnya.


"Hei, kau ? Siapa kau sebenarnya ? Kenapa kau mengejar kakakku ?" Tanya Alice sambil menatap pria bertopeng itu dengan tatapan haus darah.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku dan apa tujuanku memburumu dan kakakmu. Tapi karena sebentar lagi kau akan mati, aku akan sedikit bermurah hati. Aku adalah anggota dari Algorytm."


'Algorytm ? Apa itu ?' Pikirku setelah mendengar pria bertopeng itu menyebut dirinya sebagai anggota Algorytm.


Dia bilang dia adalah anggota dari Algorytm, itu berarti dia tidak seorang diri. Aku tidak bisa membayangkan jika di organisasinya ada banyak orang yang memiliki kekuatan setara dengan hunter rank SSS sepertinya.


"Algorytm ? Apa itu ?! Aku sama sekali tidak mengenal dan tidak merasa punya masalah dengan nama organisasi yang kau sebutkan." Ucap Alice.


"Kau memang tidak memiliki masalah dengan kami, tapi kau memiliki darah dari keluargamu yang berarti kalian berdua layak untuk dijadikan pengorbanan."


"Pengorbanan ?! Pengorbanan apa yang kau maksudkan ?!" Tanya Alice


"Hahaha, kau tidak perlu tau. Seperti yang kubilang, kalian semua akan mati disini. Karena itu, tidak ada gunanya kau mengetahuinya. Anggap saja perkataanku tadi sebagai kebaikan yang kuberikan pada kalian saat kalian menghadapi kematian kalian. Dan setelah itu, kau dan kakakmu akan kami jadikan pengorbanan." Ucap pria bertopeng itu.


Aku melihat raut wajah Alice yang benar - benar marah. Kemarahannya saat ini terlihat sangat jelas.


"Pengorbanan katamu ? Kau bisa menjadikan kami pengorbanan jika kau mampu." Ucap Alice dengan dingin.


Meski kata - katanya terdengar biasa tanpa kemarahan sedikitpun, sejujurnya saat ini kemarahannya begitu besar hingga tak tertahankan.


Alice mulai mengambil kuda - kuda untuk sihir ekstrimnya. Kedua tangannya dia kepalkan dengan sekuat tenaga di pinggangnya.


"Chain dragon lighning" Ucapnya dengan dingin.


Ztztztztztztztzt


Kilatan petir yang sangat kuat muncul dari kedua tangannya. Ini sama seperti saat menjalani tes pengendalian sihir. Tapi saat ini, sihir yang dia keluarkan terasa jauh lebih kuat dari sebelumnya.


"Tristan, tolong jaga kakakku." Ucapnya dengan dingin.


Aku hanya diam tanpa mengatakan apapun. Ini kali pertama aku melihat Alice semarah ini. Dalam hati yang terdalamku, aku benar - benar marah pada pria bertopeng itu.


"Hoo, keuatan yang sungguh hebat. Keturunan dari keluarga Valentine memang sangat kuat. Aku kagum pada keluarga kalian yang masing - masing memiliki kekuatan yang tak terbayangkan. Tapi, ini adalah kesempatan terakhirmu untuk membunuhku. Cobalah jika kau merasa sanggup membunuhku." Ucap pria bertopeng itu memprovokasi Alice.


"Diam kau !! Detik ini juga aku akan memusnahkanmu tanpa tersisa !!!"


Alice mendorong tangannya kedepan dengan sekuat tenaga. Dua naga kembar dengan kilat yang menyambar seluruh area disekitarnya melesat dari tangan Alice ke arah pria bertopeng itu.


Ztztztztztzt


"Hahahaha ! Bagus sangat bagus ! Ini baru menyenangkan !! Explosion meteor !!!" Teriak pria bertopeng itu.


Dia menggenggam tangannya diatas kepalanya. Kobaran api yang sangat kuat membentuk bola api di atas kepalanya. Bola api yang sangat besar yang mungkin seluas sebuah lapangan bola. Dia kemudian mengayunkan tangannya dengan kuat kedepan.


Bola api berukuran raksasa itu melesat kearah Alice.


Sihir ekstrim Alice yang membentuk dua naga kembar melesat dengan cepat dan membentur bola api raksasa milik pria bertopeng itu.


Terjadi kilatan cahaya yang sangat terang saat sihir ekstrim Alice menabrak bola api itu. Cahaya itu begitu terang hingga membuat kami harus menutup mata.


Aku merasa cahaya itu memudar, aku membuka mata dan melihat sihir ekstrim Alice yang lenyap meninggalkan sisa - sisa sambaran listrik. Sedangkan bola api raksasa milik pria bertopeng itu terus melesat kearah Alice bagai sebuah meteor yang tidak bisa dihentikan.


Alice yang melihat sihir ekstrimnya dikalahkan oleh lawannya yang tidak menggunakan sihir ekstrim itu hanya bisa pasrah melihat bola api itu semakin dekat kearahnya.


Buk


Kakinya yang gemetar membuat dirinya tidak bisa menopang tubuhnya dan terjatuh. Dia benar - benar telah jatuh kedalam keputus asaan.


"ALICE !!!!" Teriak kakaknya melihat bola api itu yang semakin dekat kearah adiknya.


Saat bola api raksasa itu sudah sangat dekat dengannya Alice hanya pasrah dan menutup mata.


Begitu pula kakaknya, dia yang tidak sanggup melihat adiknya mati di dedpannya menutup matanya sambil mengepalkan tangannya karena menyadari betapa lemahnya dirinya.


"Flame of purgatory, aktif"


Alice dan kakaknya yang mendengar suaraku meskipun hanya secara samar membuka matanya.


Mereka melihat sebuah api hitam raksasa yang berkobar begitu besar hingga mampu menyelimuti seluruh bola api yang berukuran sebesar lapangan sepak bola itu.


Api hitam itu dengan mudahnya melahap bola api raksasa itu dalam sekejap tanpa meninggalkan sepercik api kecilpun.


Alice hanya bisa menatap bahuku yang saat ini berdiri dihadapannya. Bahu yang tidak terlalu lebar namun jelas lebih lebar jika dibandingkan bahunya. Melihatku yang berdiri dihadapannya dan melenyapkan bola api raksasa itu, tidak ada sepatah katapun yang bisa dia ucapkan. Hanya satu kata yang dia ucapkan.


"T-tristan." Ucapnya yang tidak bisa menahan rasa terkejutnya saat melihatku berdiri dihadapannya.