Rayyan

Rayyan
37. Akhir LDR



Pernikahan Rayyan dan Syera tak terasa sudah menginjak bulan ke sepuluh. Dan selama ini Rayyan dan Syera merasa bersyukur mereka tak pernah bertengkar. Walaupun mereka hanya memiliki waktu bersama hanya di Sabtu dan Minggu atau tanggal merah.


Hari ini Hari terakhir Syera ujian nasional dan hari ini Syera akan di jemput oleh suaminya. Dan akan mulai pindah tinggal ke rumah mertuanya.


Rayyan dan Syera memang sudah memutuskan untuk tetap tinggal di kediaman keluarga al-Fatir bersama kedua orang tua Rayyan. Walaupun Mommy dan Deddy nya Rayyan tak melarang anaknya untuk pindah ke rumah sendiri. Tapi baik Rayyan atau pun Syera sendiri lebih senang tinggal bersama orang tua Rayyan.


Begitu kelar ujian Syera pun langsung kembali ke asrama.


" Sye kamu langsung pulang hari ini." Tanya Raisa yang melihat Syera sedang membereskan barang-barangnya.


" Iya Abang nanti jemput selesai pulang kerja." jawab Syera.


" Ya kita nggak temu lagi dong." keluh Raisa.


" Kan nanti kita bakal ketemu lagi pas kelulusan." ucap Syera yang masih membereskan semua barang - barangnya.


" Tapi ingat loh kita tetap harus sering komunikasi loh." Ucap Ilmi.


" Sip." Ucap Syera dan Raisa bersama.


" Kamu nanti kuliah di mana?." Tanya Ilmi.


" Abang nyuruh kuliah di kampus wisindu." jawab Syera.


" Aku udah nebak pasti kamu bakal kuliah di sana secara kan kampus milik keluarga suami kamu. Aku sebenarnya juga pingin masuk sana tapi sayang orang tua aku ingin aku kembali ke kota Y." ucap Raisa sedih.


" Kalau kamu IL.


" Kayanya aku masuk sana juga deh biar bisa bareng kamu lagi." Jawab Ilmi.


" Ya udah yuk sudah adzan Dzuhur tuh kita ke masjid " Ajak Syera.


Mereka bertiga pun pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. Selesai shalat mereka pun langsung menuju ke kantin untuk makan siang.


" Wah kayanya nanti kita bakal kangen makan di kantin ini lagi." ucap Raisa.


" Iya nanti kangen suasana harus ngantri padahal kita sudah amat lapar." Timpal Ilmi.


Mereka pun tertawa mengingat keseruan tinggal di asrama.


*


*


Sore hari Rayyan pun menjemput Syera, dan mereka langsung pulang setelah pamitan dengan kakek dan nenek.


Jalan sore cukup lumayan macet, dan mereka masih di Jalan begitu adzan Maghrib berkumandang. Terpaksa Rayyan pun mencari masjid untuk mereka melakukan kewajibannya.


Sampai di masjid mereka pun berpisah Rayyan kebagian pria sedangkan Syera kebagian wanita. Rayyan pun mengambil wudhu terlebih dahulu baru dia masuk ke dalam masjid. Rayyan langsung shalat sunah dulu, setelah itu duduk menunggu shalat berjamaah di mulai.


Tiba-tiba salah satu jamaah menanyakan ada yang bisa jadi imam nggak.


" Maaf ada yang bisa jadi imam." Tanya seorang bapak-bapak kepada orang-orang yang sudah berada di masjid tersebut.


Rayyan melihat tidak ada yang mengajukan diri untuk menjadi imam.


" Boleh saya saja yang menjadi imam nya." ucap Rayyan.


" Oh iya silahkan." ucap bapak itu mempersilahkan Rayyan untuk menjadi imam.


Rayyan pun langsung mengambil posisi dan siap mengimami jamaah di masjid tersebut.


Selesai shalat berjamaah magrib banyak para jamaah yang mengagumi suara Rayyan yang sangat bagus.


Syera sendiri selesai shalat langsung keluar dari masjid dan memilih menunggu suaminya di teras masjid.


Sedangkan Rayyan selesai shalat dan berdoa ternyata sudah di tunggu oleh berapa bapak-bapak yang ada di sana.


" Maaf nak, Kamu bukan warga sini ya nak." Tanya salah satu bapak-bapak itu.


" Oh pantas soalnya baru pertama kali lihat."


" Kalau boleh tahu tinggal dimana?." tanya yang lainnya.


" Saya tinggal di komplek gardenia pak." jawab Rayyan tapi dia mulai gelisah karena sudah pasti istrinya menunggu tapi dia nggak enak hati kalau harus pergi.


" Wah jauh ya, tadi bacaan suara kamu bagus loh."


" Terima kasih pak."


" Mungkin bisa jadi imam lagi untuk shalat isya nanti."


" Maaf pak tapi saya harus segera pulang."


" Oh ya udah kalau begitu semoga bisa bertemu lagi."


" Insyaallah pak, kalau begitu saya pamit dulu, Assalamualaikum." Rayyan pun bernafas lega karena kasihan kalau istrinya menunggu lama sedangkan kunci mobilnya ada sama dia.


Setelah pamitan Rayyan pun bangun dan berjalan keluar masjid.


" Nak tunggu." Rayyan pun menghentikan langkahnya ternyata bapak-bapak yang pertama tadi yang memanggil.


" Iya pak ada apa?" Tanya Rayyan.


" Kita barengan keluarnya." Mereka pun berjalan keluar.


" Maaf nak namanya siapa?."


" Saya Ray pak."


" Nak Ray mau tidak saya kenalkan dengan putri saya, dia lulusan pesantren walaupun bukan pesantren terkenal seperti pesantren Al hikmah, tapi ilmu agamanya juga bagus nak, bapak yakin nak Ray nggak akan kecewa." Ujar bapak itu sambil berjalan keluar masjid.


Rayyan yang begitu keluar pintu masjid sudah melihat istrinya menunggu. Dan menanggapi bapak tersebut yang menawarkan untuk menjodohkan dengan anaknya. Dalam hati Rayyan hanya bisa tertawa saja bagaimana bisa orang tua ingin menjodohkan anaknya dengan laki-laki yang baru ia temui.


" Mohon maaf pak tapi saya sudah menikah dan istri saya sedang menunggu di sana." Rayyan menunjuk keberadaan istrinya.


" Tapi kan laki-laki boleh mempunyai istri lebih dari satu." Ucap si bapak itu.


" Memang di boleh kan tapi tidak untuk saya, Karena bagi saya menduakan istri saya sama saja saya menyakiti hati ibu saya dan saudara perempuan saya. Sekali lagi terima kasih tawarannya semoga anak bapak mendapatkan jodoh yang Soleh, Saya permisi dulu pak Assalamualaikum." Rayyan pamit dan pergi menghampiri istrinya.


Saat Syera menunggu suaminya tidak sendiri tapi ada berapa ibu-ibu juga.


" Eh Luh lihat dasar nggak bisa lihat laki-laki keren dan kelihatan banyak duitnya langsung aja di dekati." Ucap salah satu ibu-ibu menunjuk ke Rayyan dan bapak-bapak yang mengobrol dengan Rayyan.


" Iya kepingin banget sih punya mantu orang kaya." Timpal ibu yang lainnya.


Karena Syera merasa ada sesuatu dengan orang yang sedang ngobrol dengan suaminya. Syera pun bertanya kepada ibu-ibu yang duduk bersamanya.


" Maaf Bu ada apa ya dengan orang yang di sana." Tanya Syera.


" Oh itu neng namanya pak Bejo, dia tuh kalau ada laki-laki yang necis shalat di sini. Langsung deh di pepet buat di jodohin ke anaknya. Nanti dia bilang anaknya tuh lulusan pesantren, ilmu agamanya bagus, Orang anaknya cuma masuk pesantren kampung aja belagu." jawab si ibu.


" Iya neng , Gara-gara dia iri sama tetangga kami yang di lamar Sama orang kaya dari Arab. Kalau tetangga kami mah anaknya lulusan pesantren Al hikmah terus ikut program apa gitu ke Arab. Eh malah dapat jodoh di sana. Makanya pak Bejo selalu menjodoh-jodohkan anaknya." Timpal ibu yang lainnya.


" Oh iya ngomong-ngomong Si neng bukan orang sini ya." Tanya si ibu baru ngeh.


" Iya Bu kebetulan lewat."


" Oh ini mau langsung pulang."


" Lagi nunggu suami saya Bu."


" Masih di dalam suaminya."


" Itu yang sedang ngobrol." Tunjuk Syera.


Para ibu-ibu pun saling pandang tak lama mereka menahan tawa. Syera pun langsung pamit ke ibu-ibu yang ada di sana saat melihat suaminya sudah berjalan meninggalkan bapak tersebut.