
" Kalau tidak kenapa? " Semua orang langsung menatap ke asal suara itu.
Rayyan memutuskan untuk ikut bergabung di sana. Rayyan berdiri di dekat pembatas tembok ruang tamu Dan ruang keluarga.
Keluarga kyai Awaludin kaget dengan kedatangan seorang laki-laki yang menggandeng tangan Syera.
" Kalau tidak kenapa?." Rayyan mengulangi pertanyaannya lagi sambil mengajak Syera duduk di dekat neneknya.
" Kamu siapa kenapa kamu pegang-pegang calon istri saya." Ucap Gus iksan.
Rayyan tersenyum sinis mendengar pertanyaan Gus Iksan.
" Perkenalkan nama saya Muhammad Rayyan shaqeed al-Fatir suami Syera."
" Apa?." teriak semua keluarga kyai Awaludin yang kaget.
" Maksud nya gimana kyai Azzam, al-Fatir bukannya nama keluarga dari menantu kyai Azzam. Kenapa orang itu bisa menikahi Syera? Dan kenapa kyai Azzam membiarkan! kan kyai Azzam tahu anak saya yang akan menikahi Syera." serentetan pertanyaan dari kyai Awaludin tanyakan.
" Kenapa nggak bisa? " Bukan sang kakek yang menjawab tapi Rayyan yang menjawab.
" Saya cucunya kyai Azzam, anak dari Gibran al-Fatir dan khayra." Ucap Rayyan dingin. " Kenapa saya nggak bisa menikahi Syera?" Rayyan menatap Keluarga kyai Awaludin dengan tatapan mengintimidasi.
" Kalian tahu apa yang orang-orang bicarakan tentang Syera serta kakek dan neneknya. Saat semua tamu sudah berdatangan, Tapi Tiba-tiba anda hanya mengirim orang untuk menyampaikan pesan bahwa kalian tidak bisa datang karena mempelai laki-lakinya akan menikahi wanita lain."
" Kalian pikir hanya karena Syera cucu dari seorang pengajar di pesantren. Anda pikir mereka tak punya harga diri, Hanya orang-orang seperti anda yang hanya punya harga diri. Jangan kira saya tidak tahu maksud kalian?." Terlihat keluarga kyai Awaludin sudah salah tingkah.
" Saya tahu wanita yang kemarin anak anda hamil lalu wanita itu minta tanggung jawab dan terpaksa kalian menikahi anak kalian dengan wanita itu dengan tertutup. Supaya tidak ada yang tahu kalau anak anda menikahi wanita yang bekerja di club malam dan ibunya bekerja sebagai tukang cuci."
" Saya juga tahu kenapa kalian baru datang ke sini hari ini. Satu karena kalian sudah sering di tanya oleh orang-orang kapan rencana resepsinya dia adakan. Karena kalian bilang dengan orang-orang di kota anda bahwa anak anda sudah menikah dengan Syera cucu dari orang kepercayaan kyai Azzam yang sudah di anggap anak oleh keluarga al-Fatir. Padahal bukan Syera yang anak kalian nikahi!."
" Yang kedua kenapa kalian baru muncul karena kalian harus membuat kesepakatan dengan keluarga wanita itu. Karena kalian takut rahasia kalian terbongkar dan sampai semua tahu aib dan wanita yang anak kalian nikahi." Ucapan Rayyan membuat keluarga Awaludin makin pucat pasi.
" Kalau kalian malu dan takut harga diri kalian jatuh. Sama itu yang di lakukan oleh saya, Saya saat itu mencoba mengangkat harga diri syera dan kakek neneknya karena di injak-injak oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Dan Saya sangat amat bersyukur karena bisa mendapatkan sebuah berlian yang sangat berharga. Jadi maaf untuk keluarga kyai Awaludin yang terhormat saya minta jangan lagi mengganggu istri saya dan juga keluarganya. Mereka sudah bahagia bersama saya." Rayyan langsung bangun dari duduknya dan pergi dari sana mengajak istrinya.
Keluarga kyai Awaludin yang sudah malu bercampur marah langsung pergi tanpa pamit.
Setelah kepergian keluarga kyai Awaludin, Ustadzah Jasmine langsung menangis di pelukan nenek. Begitu juga dengan ustad Soleh dia merasa amat bersyukur cucunya tak jadi menikah dengan anak kyai Awaludin.
" Ya Allah kalau Gus Rayyan saat itu tidak mengambil keputusan untuk menikahi cucu saya. Saya nggak tahu bagaimana nasib Syera saat ini." ucap ustadzah Jasmine yang menangis lirih memikirkan nasib cucunya.
" Soleh, Jasmine sudah ini memang sudah jalan cerita hidup Syera yang ditulis oleh Allah SWT. Yang terpenting sekarang Syera sudah ada di tangan laki-laki yang insyaallah akan bertanggung jawab. Sekarang lebih baik kita lupa semuanya, lebih baik sekarang kita doakan rumah tangga Syera dan Rayyan selalu langgeng dan bahagia hingga maut memisahkan." ucap Kakek Azzam.