
Selesai berbicara Rayyan langsung membawa istrinya Syera yang sudah banjir air mata ke kamar tamu.
Rayyan pun mendudukkan Syera di pinggir ranjang dan Rayyan berlutut di hadapan Syera.
" Lihat Abang sayang." ucap Rayyan lembut sambil menggenggam tangan Syera.
Syera pun perlahan mengangkat wajahnya untuk menatap sang suami.
Rayyan menghapus air mata Syera dengan jarinya. Jujur Rayyan sangat sakit melihat istrinya menangis seperti ini.
" Yang kenapa kamu nangis, Kamu tahu nggak melihat kamu menangis hati Abang tuh sakit yang." Ucap Rayyan.
" Sye cuma sedih bang dan Sye nggak bisa ngebayangin bagaimana nasib Sye kalau Abang nggak menikahi Sye bang." Ucap Syera sedih.
" Dengarkan Abang, Allah tuh sayang sama kamu makanya Allah langsung menunjukan ke kamu bahwa dia bukan laki-laki yang Baik. Walaupun Allah menunjukkannya di pas hari H tapi kalau tidak begitu kita nggak akan menikah. Abang nggak akan bisa meluk kamu walaupun sekarang juga jarang meluk kamu cuma weekend aja." Ucap Rayyan yang pura-pura sedih.
" Abang ih.., sini Sye peluk." Syera merentangkan kedua tangannya agar Rayyan masuk ke dalam pelukannya.
" Coba kalau setiap hari begini wah Abang bakal jadi kaum rebahan karena pingin di peluk terus." ucap Rayyan manja.
" Emang Sye guling apa! Di peluk terus nggak di kasih makan." Ucap Rayyan kesal.
Tapi setelah itu mereka tertawa.
" Kan makan cinta." ucap Rayyan.
" Ogah mana kenyang makan cinta masa CEO al-Fatir corp ngasih makan istrinya cuma makan cinta. Padahal ayam geprek cuma 15 ribu loh bang."
" Hahaha... kamu ngomongin ayam geprek jadi pengen makan ayam geprek."
" Yuk bang kita beli ayam geprek Sye belum makan bang. Nanti Sye bilang deh ke orang -orang kalau suami Sye ini paling sayang sama istrinya mau membelikan ayam geprek."
" Kamu tuh ya!." Rayyan memencet hidung Syera.
" Abang nanti hidung Sye panjang kaya Pinokio."
Cup
Rayyan mencium sekilas bibir Syera.
" Kamu ganti baju gih Abang ajak kamu makan di cafe gimana kamu mau nggak atau mau ke mall." ucap Rayyan.
" Ke mall emang boleh bang." Tanya Syera.
" Boleh, memang apa yang kamu mau beli di mall nanti."
" Sye mau beli baju buat Nenek Jasmine bang. Soalnya besok nenek ulang tahun."
" Ya udah sana balik ke asrama."
" Kamu balik lah ke asrama karena Abang nggak mau bawa kamu ke mall masih pakai seragam sekolah. Nanti Abang di kira jalan sama adiknya bukan sama istrinya."
" Hahaha... iya iya Sye balik ke asrama."
Mereka berdua pun keluar dari kamar tamu, Syera kembali ke asrama sedangkan Rayyan gabung dengan para orang tua yang masih mengobrol di ruang tamu.
" Loh Syera nya kemana mas? " Tanya Mommy khayra ke putranya.
" Syera balik ke asrama soalnya Rayyan mau ajak ke Mall." jawab Rayyan.
" Tapi Syera nggak apa-apa kan mas." tanya Mommy khawatir.
" Nggak apa-apa Mom."
" Syukurlah."
*
*
*
Syera begitu sampai di kamar langsung di berondong oleh teman-temannya. Tidak hanya teman satu kamar dan teman yang lainnya yang juga menunggu kedatangan Syera.
" Sye kamu nggak apa-apa kan." Tanya Raisa begitu Syera masuk kamar.
" Nggak apa-apa terus kok pada kumpul di sini ada apa?." Tanya Syera balik.
" Kita semua mengkhawatirkan kamu Sye." Ucap Nike .
" Khawatir kenapa?.'
" Kita khawatir sama kamu apalagi saat kita tahu kalau di Ndalem ada si cowok brengsek dan keluarganya." ujar Raisa emosi.
" Mereka ngapain Sye?." Tanya Ilmi.
Melihat teman-temannya begitu sangat mengkhawatirkan dirinya. Akhirnya Syera pun menceritakan apa yang terjadi tadi di Ndalem.
" Astaghfirullahaladzim, mereka itu nggak punya perasaan apa! Seenaknya aja." omel Icha
" Ngobrolnya di lanjut nanti aja ya, Soalnya aku mau bersih-bersih ganti baju soalnya sudah di tunggu mau di ajak pergi." Ucap Syera yang tak enak hati dengan teman-temannya.
" Oh Ya udah sana jangan lama-lama." Ucap Ilmi.
Teman-teman yang lainnya pun membubarkan diri karena mereka mengerti dan mereka tak pernah iri dengan Syera.