
Setelah mengantar menantunya Syera ke ruangan suaminya, Mommy pun pergi ke ruangan Deddy.
Ceklek..
" Assalamualaikum sayang." Sapa Mommy begitu memasuki ruangan suaminya.
" Walaikum salam." Deddy pun menghentikan pekerjaannya saat tahu siapa yang datang.
" Tumben nggak bilang mau datang." Ucap Deddy setelah mencium kedua pipi dan kening Mommy yang merupakan kebiasaan mereka.
" Princess mendadak mau ke suaminya jadi sekalian deh kita ke sini sekalian bawa makan siang."
" Terus princess sama Syera mana?." tanya Deddy karena tidak melihat anak dan menantunya.
" Sudah berada di ruangan masing-masing."
" Jadi kita makan siang berdua aja nih."
Ceklek
Muncullah kedua anaknya yaitu Sakti dan juga Zafran. Memang tadi sebelum masuk ke dalam ruangan suaminya. Mommy memberikan makan siang untuk sekretaris suaminya dan meminta tolong untuk membagikan makan siang untuk kak Hilman asisten suaminya. Juga untuk sekretaris dan juga asisten kedua anaknya. Mommy juga meminta kedua anaknya untuk datang ke ruangan suaminya.
" Loh...loh kalian mau ngapain." Tanya Deddy yang melihat kedua anaknya masuk dan langsung duduk di sofa.
" Makan siang lah " jawab mereka berdua kompak
" Hay...siapa yang suruh?."
" Mommy." Jawab mereka yang sudah membuka makan siang mereka.
Sedangkan Mommy hanya tertawa melihat suaminya kesal.
" Dasar pengganggu baru Deddy mau pacaran sama Mommy." yang ikut duduk bergabung dengan istri dan kedua anaknya.
Sakti dan Zafran tidak menanggapi omongan Deddy nya.
" Sudah Ded ayo makan."
" terima kasih sayang." Ucap Deddy sambil mencium pipi Mommy.
" Aduh jadi pengen minta Mara kemari." celetuk Sakti.
" Sudah telpon sana istrinya suruh cepat ke sini biar jangan ganggu Deddy berduaan sama Mommy. Kalau perlu pinjam pintu Doraemon." Ucap Deddy
" Kalau mas Sakti manggil kak Amara ke sini. Terus Zafran panggil siapa dong."
" Hahaha... sana telpon si manis suruh ke sini." Ucap Deddy yang menyuruh anaknya menelpon kucing peliharaan Zafran.
" Hahaha...setuju Ded." Sakti yang ikut menggoda Zafran.
" Mommy itu suaminya coba rese banget sih." Adu Zafran.
" Sudah-sudah ayo makan."
Selesai makan mereka pun memutuskan untuk shalat Dzuhur berjamaah di mushola kantor.
Perusahaan al-Fatir memang mempunyai musholla sendiri di tiap-tiap lantai. Dan juga mempunyai masjid yang letaknya di samping gedung yang sengaja di buat agar pegawai yang berada di sekitar tak perlu jauh-jauh untuk shalat terutama ketika shalat Jumat.
Selesai shalat Mommy mendengar para pegawai yang membicarakan Anggun. Yang tidak tahu malu masih menunggu Rayyan padahal Rayyan sendiri tidak mau menemuinya.
Saat kembali ke ruangan suaminya Mommy pun bercerita ke Deddy mengenai Anggun dan meminta izin ke suaminya untuk berbicara dengan Anggun.
" Mommy mau berbicara dimana?." Tanya Deddy.
" Di sini boleh."
" Ya udah Deddy akan minta Sifa untuk meminta anggun untuk diantar ke sini karena Mommy mau bicara." ucap Deddy.
Deddy pun langsung menelpon sekretarisnya.
Sedangkan di lobby perusahaan al-Fatir para resepsionis mulai sebal dengan anggun karena tak kunjung pergi.
Sampai akhirnya resepsionis itu mendapat telpon dari mbak Sifa yang menyuruh mengantar anggun ke ruangan Presdir.
Dengan langkah malas resepsionis itu pun menghampiri Anggun.
Awalnya anggun tidak tahu siapa Bu Khayra tapi saat mendengar ruangan Presdir. Senyum Anggun langsung merekah karena dia menebak kalau itu mamanya Rayyan.
" Kan saya bilang juga apa saya itu calon suaminya pak Rayyan. Pokoknya saya tidak terima saya bakal bilang ke calon mertua saya untuk memecat kalian semua." ucap Anggun congkak sambil menuju para resepsionis.
Para resepsionis hanya memutar bola mata malas.
Resepsionis yang bernama Hera harus merelakan kupingnya panas karena selama di dalam lift Anggun terus saja ngomel.
Beruntung tak memerlukan waktu lama pintu lift sudah terbuka.
" Mbak Sifa, ini mbak Anggun nya." ucap Hera.
" Terima kasih ya."
" Iya mbak saya balik dulu ya." Hera pun kembali ke lantai bawah.
" Mari mbak Anggun." Sifa pun membawa anggun ke ruangan Presdir.
Ustad Gibran memilih kembali ke mejanya meninggalkan istrinya yang duduk di sofa. Nantinya istrinya yang akan berbicara dengan Anggun.
Tok..tok...tok...
" Masuk." Jawab Mommy saat mendengar pintu ruangan suaminya di ketuk.
Ceklek
masuklah Sifa.
" Maaf Bu saya mengantar mbak Anggun." ucap Sifa.
" Iya Sifa terima kasih kamu bisa kembali ke meja kamu." ucap Mommy dan Sifa pun kembali ke tempatnya.
" Mari silahkan duduk." Mommy mempersilahkan Anggun untuk duduk .
" Perkenalkan saya Khayra saya istrinya pak Gibran." Mommy memperkenalkan diri.
" Anggun."
" Oh iya Anggun ada yang ingin saya bicarakan tapi nggak apa-apa kan menunggu sebentar. Kayanya kamu juga sedang tidak sibuk ya soalnya sudah sejak pagi ya berada di sini." Ucap Khayra sedikit menyindir Anggun.
" Iya Tante nggak apa-apa." Ucap Anggun yang merasa tersindir.
Tiba-tiba yang di tunggu pun datang, Anggun yang berpikir kalau Rayyan yang datang pun memamerkan senyumnya.
Tapi senyuman itu hilang saat melihat siapa yang datang.
" Mari pak daniel silahkan duduk, maaf kalau saya merepotkan pak Daniel." ucap Deddy yang mempersilahkan pak Daniel untuk duduk.
" Oh nggak apa-apa pak Gibran kebetulan saya sedang berada di dekat sini kok."
Sedangkan Anggun hanya diam membisu tak berani bersuara.
" Maaf sebenarnya ada apa ya pak Gibran." Tanya pak Daniel yang penasaran .
" Begini pak Daniel saya Khayra istrinya pak Gibran. Tapi maaf sebelumnya saya juga tidak tahu nak Anggun ini sudah dari jam berapa berada di kantor ini. Tapi sebelumnya keberadaan nak Anggun yang terus-menerus berada di sini dan sudah berulang kali bahwa anak saya Rayyan tidak bisa menemui nak Anggun. Menjadi bahan gosip para pegawai, Saya cuma kasihan dengan nak Anggun. Saya tahu nak Anggun menyukai anak saya dan nak Anggun juga sudah tahu kalau anak saya sudah dengan secara halus menolak nak Anggun."
" Maaf pak Daniel bukan kami tidak menyukai nak Anggun. Nak Anggun itu cantik tapi maaf anak saya Rayyan sudah mempunyai calon istri yang di pilih sendiri saat itu. Tapi sekarang saya tahu kenapa dia buru-buru meminta kami untuk menikahkan dia dengan pilihannya. Padahal rencana kami masih tahun depan ternyata dia cukup terganggu karena nak Anggun tak juga bisa kasih tahu."
pak Daniel wajahnya sudah memerah.
" Ini ada lah buku nikah Rayyan dan istri, mereka sudah menikah kemarin memang baru akad nikah saja karena memang rencana awalnya itu nanti tahun depan untuk resepsinya." Ucap Khayra sambil memperlihatkan buku nikah Rayyan dan Syera.
Khayra melihat Anggun wajahnya memerah menahan marah.
Rayyan dan Syera pun masuk sebelum mereka berdua sudah berada di luar sambil mendengarkan Mommy nya bicara.
" Oh iya nak Anggun dan pak Daniel kenalkan ini istrinya Rayyan namanya Syera."
Anggun yang menunduk menahan marah langsung mengangkat wajahnya dan langsung menatap Syera dengan sinis apalagi saat itu Rayyan merangkul pinggang Syera. Membuat Anggun makin marah dan cemburu.
Pak Daniel yang sudah malu dan di tambah dia melihat wajah anaknya yang tampak sudah marah. Pak Daniel pun langsung pamit setelah mengucapkan selamat ke Rayyan dan istrinya. Dia harus cepat-cepat membawa anggun pergi dari sana sebelum Anggun mengamuk dan bisa mengacaukan kerjasama yang terjadi antara perusahaannya dengan perusahaan al-Fatir corp. Kalau sampai perusahaan al-Fatir corp tidak mau kerjasama lagi maka perusahaannya terancam gulung tikar.
Sepeninggalan Anggun dan pak Daniel, Mommy , daddy, Rayyan dan Syera bisa bernapas lega.