
Kini keduanya sudah berada di sebuah Mall, Rayyan berjalan sambil menggandeng tangan Syera.
" Bang kita ke toko itu dulu yuk " Syera menunjuk toko pernak-pernik dll
" Mau beli apa? kita nggak makan dulu." Rayyan menatap istrinya yang berada di sebelahnya.
" Kita makan dulu ya." Ucap Rayyan yang melihat istrinya tampak berpikir.
" Abang janji nanti kita ke toko itu setelah makan." Syera pun mengangguk.
Rayyan pun mengajak Syera menuju restoran Jepang. Begitu masuk pelayan pun mengantar mereka berdua ke meja.
" Silahkan menunya." ucap pelayan memberikan buku menu.
" Mau pesan apa yang ?." Tanya Rayyan.
" Ramen enak kayanya deh bang."
" Mau ramen apa?."
" Spicy ramen aja minumnya ice lemon tea."
" Spicy ramen 1, miso ramen 1, gyoza 1, tempura 1, lemon tea 2." Ucap Rayyan.
" Baik mohon di tunggu." Pelayan itu pun pergi.
" Besok mau kasih kado ke nenek Jasmine kapan?." Tanya Rayyan.
" Paling sore di pesantren."
" Gini aja besok kita ajak kakek nenek buat makan bersama gimana?." usul Rayyan.
" Tapi nggak apa-apa bang, hari ini Sye udah keluar masa besok keluar lagi."
" Nggak apa-apa nanti Abang yang minta izin."
Tak lama makan mereka datang.
" Enak bang, Sye baru pertama kali makan ramen tahu bang. biasanya makan ramen yang kaya mie instan." ucap Syera di tengah-tengah mereka sedang menikmati makanan mereka
" Masa sih kan ramen nggak mahal juga." ucap Rayyan yang nggak percaya istrinya belum makan ramen di tempat seperti ini.
" Bukan masalah nggak kebeli bang, Sye tuh sayang kalau mau beli apa-apa yang bukan Sye butuhkan. Kasihan kakek nenek cari uang masa Sye seenaknya menghamburkan uang. Jadi lebih senang uangnya Sye tabung. Abang tahu nggak."
" Nggak." Jawab Rayyan.
" Ihs...orang Sye belum ngomong ya mana Abang tahu." kesal Syera.
" Ya udah apa?."
' Sebenarnya tuh Syera kalau lulus mau buka toko kue gitu bang." jelas Syera.
" Memang kamu bisa bikin kue?." Tanya Rayyan.
" Bisa tahu, kalau libur itu aku suka bikin kue terus aku jualin. Banyak tahu yang beli kata mereka kue buatan Sye enak." ucap Syera membanggakan diri.
" Kok kamu nggak pernah bikinin abang kue kalau ada di rumah." Tanya Rayyan.
" Hehehe... bukan nggak mau bang Sye takut lihat peralatan di rumah Abang itu bagus-bagus semua." Syera menggaruk kepalanya yang tertutup hijab.
" Kamu tuh kalau di rumah nggak usah sungkan kamu boleh pakai dapur di rumah. kalau kamu nggak mengerti pakai peralatan yang ada di dapur kamu tinggal tanya ke koki atau bibi. Mommy sama Oma justru senang kalau kamu mau masuk ke dapur. " ujar Rayyan.
" Pokoknya weekend besok Abang pingin coba masakan kamu." ujar Rayyan.
" Iya .... iya."
" Dan kalau ada apa pun yang dulu kamu pingin coba atau pingin kamu beli. Kamu bilang ke Abang insyaallah Abang pasti akan belikan selama Abang mampu."
" Terimakasih bang, Sye bersyukur punya suami kaya Abang." ucap Syera tersenyum bahagia.
Selesai makan Rayyan pun menemani kemanapun istrinya mau.
" Yang kalau lagi tidur sama Abang pakai itu dek." Bisik Rayyan.
Syera mengikuti arah mata suaminya ternyata arah mata suaminya menuju ke dimana deretan lingerie terpajang. Tiba-tiba Syera bergidik ngeri.
Syera tak menjawab dia memilih untuk pergi dari sana menuju ke bagian pakaian muslim.
Rayyan yang melihat istrinya pergi hanya tertawa dalam hati. Dia berpikir pasti istrinya malu makanya berlalu pergi dari sana.
Lagi-lagi Rayyan iseng menggoda istrinya yang sedang memilih gamis.
" Yang jadi beli nggak."
" Beli apa." jawab Syera bingung.
" Yang tadi yang "
" Auwh..Sakit yang." Rayyan meringis karena di cubit pinggangnya oleh Syera.
" Abang bisa diam nggak sih, Sye malu tahu kalau ada yang dengar." Ucap Syera pelan.
" Maaf Abang becanda."
" Ya udah yuk ke kasir Sye udah Nemu kado buat nenek." mereka pun berjalan ke kasir.
" Abang pakai ini aja." ucap Syera saat Rayyan memberikan kartunya ke kasir.
" Ada yang mau kamu beli lagi nggak." Tanya Rayyan saat mereka keluar dari toko baju.
" Mau beli kue ulang tahun."
" Kue ulang tahun itu urusan Abang aja. Sekarang ikut Abang yuk." Ajak Rayyan.
Syera pun mengikuti suaminya dan ternyata Rayyan mengajak Syera masuk ke toko perhiasan.
" Selamat sore, mau cari apa?." Tanya pegawai toko perhiasan.
" Yang nenek Jasmine suka gelang atau kalung yang." Tanya Rayyan.
" Nenek sih lebih suka kalung bang." jawab Syera.
" Mbak saya mau cari kalung yang cocok untuk orang tua." ucap Rayyan.
" Oh mari bisa ke sana." Pegawai toko itu menyuruh kami ke bagian kalung.
" Ini mas biasanya yang di sukai para orang tua." Pegawai memberi tahu berapa model kalung.
" Yang kamu pilih yang mana buat nenek Jasmine." Pinta Rayyan ke sang istri.
Syera pun mulai melihat-lihat kalung yang cocok untuk neneknya.
" Yang ini aja gimana bang?." Syera bertanya ke suaminya.
" Bagus, mbak saya ambil yang ini aja. Dan saya minta tolong keluar kan satu set perhiasan keluaran terbaru." Ujar Rayyan.
" Baik mas."
Tak lama pegawai itu pun mengeluarkan perhiasan keluaran terbaru.
" Yang pilih mana yang kamu suka." Pinta Rayyan ke Syera.
" Abang mau beliin Sye perhiasan." tanya Syera
" Iya."
" Nggak usah bang." Syera nggak enak hati karena dia tahu pasti harganya mahal.
" Pilih aja yang kan lagi nikahi kamu Abang belum belikan kamu perhiasan." Rayyan meyakinkan istrinya supaya mau memilih perhiasan yang ada di hadapannya.
Akhirnya Syera pun terpaksa memilih perhiasan untuk dirinya.
Setelah dari toko perhiasan mereka pun memutuskan untuk pulang tapi sebelumnya kami sholat magrib terlebih dahulu.
" Abang boleh mampir beli martabak dulu nggak buat teman-teman Sye."
" Mau beli martabak dimana?." Tanya Rayyan.
" Yang dekat pesantren aja bang."
Rayyan pun membelokkan mobilnya ke tukang martabak. Mereka berdua pun turun dari mobil.
" Mau rasa apa yang." Tanya Rayyan.
" Coklat keju 1 sama martabak telur 1." Jawab Syera.
" Cukup cuma segitu."
" Cuma buat teman sekamar aja."
" Emang di luar Kamis nggak punya teman dekat." Tanya Rayyan lagi.
" Sebenarnya ada sih bang tadi pas mereka tahu kyai Awaludin datang mereka semua kumpul di kamar Sye mereka khawatir." jelas Syera.
" Pakde pesan martabat manis coklat keju 7, telur 8, coklat kacang 2 ya pakde."
" Baik Gus. silahkan duduk dulu."
" Saya tunggu di mobil aja pakde."
" Oh iya yang telpon nenek masih di pesantren atau sudah di rumah." Tanya Rayyan.
Syera pun menelpon neneknya.
" Gimana?."
" Ada di rumah."
" Pakde tambah lagi tapi di pisah coklat keju 1 sama telur 1."
" Iya Gus."
Rayyan pun mengajak Syera menunggu di mobil.
Martabak pesanan mereka pun jadi, Setelah membayar Rayyan pun kembali menjalankan mobilnya.
Di gerbang pesantren Rayyan pun berhenti memberikan martabak untuk para penjaga pesantren. Dan Rayyan juga meminta tolong ke salah satu penjaga untuk mengantarkan martabak ke rumah kakek dan neneknya Syera.
Rayyan menghentikan mobil di depan rumah kakeknya.
Syera pun pamitan ke suaminya lalu keluar dari dalam mobil suaminya. Rayyan juga ikut keluar dari mobil untuk mengantar martabak ke kakek dan juga martabak untuk keponakannya. Setelah itu baru dia pulang ke rumah.