
"Should I stop now? I will, but I can't. And I am confused."
🏅Kayla Syafira🏅
🏅🏅🏅
Aku berdiri di samping gerbang sekolah untuk menunggu Ayahku datang menjemput.
Satu-dua murid keluar menggunakan sepeda maupun jalan kaki untuk pulang.
Reta sudah pulang terlebih dahulu, ia sempat menawariku tumpangan tapi aku menolaknya. Yah karena rumah kami beda arah.
Sebenarnya agak aneh sih, kenapa Ayahku tiba-tiba mau menjemputku padahal beliau tidak berangkat ke kantor.
Aku menatap ke arah kiri, mobil sedan berwarna abu-abu terlihat mendekat ke arahku. Itu mobil Ayahku.
Kendaraan roda empat itu berhenti tepat di depanku dan tanpa tunggu lama lagi, aku langsung memasukinya.
Ayahku tersenyum kala melihatku. "Siang, Sayang," sapanya ramah.
"Siang juga, Yah." Aku memasang sabuk pengaman usai menutup pintu mobil.
Dua detik setelahnya, mobil yang aku naiki mulai bergerak maju membelah jalanan kota yang lumayan renggang.
"Kamu makan dulu ya, Sayang. Itu Ayah udah bawain makanan kesukaan kamu di jok belakang." Tatapan mata Ayahku masih fokus ke jalanan.
Kepalaku bergerak menoleh ke belakang. Ada kotak makanan disana. Aku mengambil dan memangkunya, hendak membuka kotak bekal ini.
Dahiku berkerut membentuk sebuah gelombang kecil. "Eh? Kan aku bisa makan di rumah, Yah. Kenapa harus makan disini segala?" tanyaku bingung.
Aku mulai curiga kalau Ayah menjemputku ada maksud lain. Terbukti dengan pakaian yang beliau kenakan. Jas rapi dengan dasi melingkar di lehernya. Selain itu, dia juga mengenakan sepatu yang biasanya digunakan untuk ke kantor.
Ayahku menginjak rem, mobil berjalan lebih lambat karena lampu lalu lintas berwarna merah. Dia menatapku. "Ayah ada meeting dadakan, Kay. Mungkin Ayah memerlukan bantuanmu untuk menyelesaikan program yang sedang kantor Ayah jalankan ini."
Sudah aku duga. Pasti ada tujuan lain Ayahku menjemputku. Padahal tadi pagi beliau tidak berangkat kerja.
Sebelas alisku terangkat. "Tapi, Yah. Kenapa harus aku? Bukankah ada orang lain yang lebih ahli di bidang tersebut?"
"Iya, Ayah tau. Tapi Ayah lebih percaya sama kamu. Selain itu, Ayah tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar orang lain. Dan Ayah juga sudah tau seperti apa kemampuanmu. Ini menyangkut jabatan Ayah, Kay," jawabnya mulai menjalankan kembali mobil.
"Tapi, Yah. Aku lelah."
"Sudah. Hanya sebentar, Sayang. Ayah janji bakal beliin kamu apa aja setelah pekerjaan Ayah selesai." Iming-iming kembali aku dengar, dan itu berasal dari mulut orang tuaku sendiri.
Aku tidak ingin apa-apa, Yah. Aku hanya ingin istirahat. Hanya itu. Tidak bisakah aku mendapatkannya? Kumohon.
Aku hanya menjawabnya di dalam hati. Melawan pun, tidak ada gunanya. Pasti aku tetap melakukan apa yang Ayah ucapkan, apapun alasannya.
Mengangguk lemah aku lakukan agar Ayahku tidak lagi memaksaku. "Iya, Ayah," balasku tak semangat.
Tangan Ayahku bergerak mengelus rambutku. "Nah gitu dong, baru anak kesayangan Ayah. Udah gih dimakan dulu nasinya."
Aku mengembuskan napas. Semuanya akan baik-baik saja, Kayla. Kataku memberi semangat pada diri sendiri.
Setelah itu aku melaksanakan perintah Ayahku, memakan makanan yang Ayah bawa dan mulai menggunakan kembali otakku yang sudah lelah.
🏅🏅🏅
Pukul sepuluh malam aku baru sampai di rumah. Hampir empat jam pikiranku terus bekerja ketika Ayahku mengandalkan keahlianku dalam bidang matematika dan fisika. Meskipun ada jeda waktu istirahat, tapi tetap saja otakku serasa diperas saat itu.
Menjelaskan detail-detail pembangunan pabrik baru di depan lima belas pimpinan beberapa bidang di kantor juga menguras keberanianku. Sekali salah bicara, nasib pekerjaan Ayahku langsung berubah.
Aku masuk ke dalam rumah. Ibuku sudah tertidur di sofa. Mungkin beliau lelah menungguku pulang.
Aku mengambil selimut dan menutupkannya ke tubuh Ibuku. Aku tersenyum menatapnya, aku sayang Ibu, ujarku lirih, kemudian mengecup keningnya.
Tidak mau membuat tidur Ibuku terganggu, aku memilih menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar.
Aku meletakkan tas di kursi belajar, mengganti seragam dengan baju tidur, tanpa mandi.
Aku membanting tubuhku di atas kasur. Sekarang aku bisa bernapas dengan tenang, dan mengistirahatkan otak serta fisik.
Mungkin malam ini aku akan tidur lebih cepat, tanpa belajar dan berlatih soal untuk olimpiade yang tidak lama lagi akan aku hadapi. Aku ingin istirahat lebih cepat malam ini.
Mataku menoleh ke samping, tepat ke sebuah gulungan kertas dengan tali berwarna merah darah.
Aku mengambilnya. Mengamatinya lebih detail benda yang muncul tiba-tiba saat aku bangun tidur.
Dua menit hanya melihatnya, memutar-mutar gulungan ini tanpa ada niat untuk membukanya.
Aku masih ragu. Rasa takut juga mengerubungi tubuhku saat ingin menarik pita tersebut. Pikiran aneh selalu muncul saat ini.
Bagaimana kalau tiba-tiba aku tertarik masuk ke dalam kertas ini dan terjebak dalam dunia antah-berantah? Bagaimana kalau ini alat pelacak? Jika aku membukanya alien akan datang dan merusak bumi? Atau jangan-jangan saat aku membukanya, benda ini langsung meledak..
Oke, mungkin aku berlebihan untuk hal tersebut.
Aku menutup mata, menghirup udara dan mengembuskannya.
Aku tidak akan tau isi gulungan kertas ini jika aku tidak membukanya.
Satu, aku mulai menghitung dalam hati untuk menarik pita berwarna merah darah ini.
Dan tiga, pita merah ini benar-benar terlepas dari gulungan kertas ini.
Oke, tidak terjadi apa-apa. Aku bisa bernapas dengan lega.
Aku langsung membuka gulungan kertas ini. Saking keponya. Dan what?! Kenapa kosong? Serius kertas ini kosong?
Aku memutar dan membolak-balik kertas sedikit usang ini. Berharap ada tulisan yang tertera disana. Dan hasilnya masih sama. Kosong!
Terus kenapa benda ini muncul dan ada di tanganku jika hanya sebuah kertas usang kosong? Sialan.
Aku meletakkan kertas kosong ini, hendak merebahkan kembali tubuhku untuk istirahat.
Namun, kertas itu tiba-tiba bersinar danmembuatku mengurungkan niat untuk tidur. Cepat-cepat beranjak lalu melihat apa yang terjadi pada kertas tersebut.
Sebuah tulisan mulai tertera pada kertas tersebut.
Satu kata, dua kata, tiga dan seterusnya hingga membetuk sebuah kalimat sempurna.
Cahaya itu mulai meredup dan menghilang tepat setelah huruf terakhir selesai tertulis.
Aku melihat dan mulai membacanya dalam hati.
🌿🌿🌿
"Disinilah nasibmu akan berubah dan disinilah keinginan terbesarmu terwujud.
Kayla Syafira, tidak semua orang bisa seberuntung dirimu. Kamu spesial. Hanya orang spesial yang bisa mendapatkan surat ini.
Ikutlah bersamaku, dan aku akan mengabulkan semua mimpimu, semua keinginan terbesarmu. Bagiku, semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin."
Mr. KoDW
☑️. ❎.
🌿🌿🌿
Ada sebuah tanda centang dan silang dibawahnya. Aku paham. Jika aku memilih tanda centang, berarti aku menyetujui ajakannya, dan jika aku memilih tanda silang, berarti aku menolaknya.
Entahlah, aku kurang tau maksud dari kalimat tersebut. Keinginan terbesarku? Memang dia bisa mengabulkannya? Impossible.
Tetapi bagaimana dia bisa mengetahui namaku? Dan bagaimana dia tau kalau aku menginginkan sesuatu yang tidak mungkin?
Aku meletakkan kertas tersebut di nakas. Masa bodoh dengan kalimat aneh tersebut. Toh aku juga tidak tau siap yang mengirim gulungan itu. Mr. KoDW. Siapa dia?
Tidak mau mengambil pusing, aku memilih merebahkan tubuhku, menarik selimut dan sesegera mungkin tidur. Mengistirahatkan jiwa dan ragaku yang lelah ini.
🏅🏅🏅
"Hai." Seseorang menyapaku.
Aku membuka mata, pemandangan asing langsung terlihat di depanku.
Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik. Dan detik ke enam aku sudah paham jika aku sedang berdiri di kuil yang dikelilingi oleh danau yang sangat luas.
Kuil ini berbentuk lingkaran dan memiliki diameter sekitar 15 meter dengan lantai marmer yang berwarna putih.
Tidak ada jalan ataupun jembatan menuju tempat ini. Air dan air. Hanya ada air dimana-mana.
Di sekeliling kuil ini, tumbuhan teratai tertata acak di setiap sudut danau. Berbagai warna terkuas di bunga air tersebut. Tebing-tebing tinggi berjajar rapi mengelilingi danau ini. Langit terlihat cerah tanpa ada awan sedikit pun.
"Hai, Kayla Syafira." Seseorang kembali menyapaku.
Aku membalikkan badanku. Seorang wanita cantik tengah berdiri menatapku.
Dia mengenakan pakaian ala putri kerajaan yang semuanya berwarna putih susu dengan selendang yang berwarna putih gading tersampir di kedua lengannya.
Dia tersenyum. Sangat anggun dan cantik. Aku sangat terkagum dengannya. "Kenapa kamu masih ragu?" tanyanya.
Ya Tuhan. Kenapa nada bicaranya bisa selembut ini? Apakah dia Dewi dari kayangan? Jika iya, aku sangat beruntung bisa bertemu dan berbicara dengannya.
"Maksudnya?" Aku balik bertanya. Bingung dengan pertanyaannya.
"Cepatlah ambil keputusanmu dan kamu tidak akan menderita lagi seperti ini. Semuanya akan berubah jika kamu menyetujuinya." Dia tidak menjelaskan pertanyaanku. "Aku menunggumu disana, Kayla. Cepatlah datang. Aku menunggumu."
"Tapi? Apa yang Anda katakan? Dan-"
Belum selesai aku berkata, perempuan tersebut sudah terbang meninggalkanku seorang diri disini.
Tunggu, dia terbang? "Hei, Dewi! Apa maksud dari perkataanmu itu?! Hei!"
Sia-sia. Dia tetap pergi meninggalkanku.
-To be Continued-
A/n: Terima kasih sudah membaca cerita Please don't forget me. Semoga kalian suka dengan part kali ini.
Jangan lupa untuk menekan tombol vote dan memberikan komentar. See you on next chapter :)
Salam, Nu_Khy.