
"Terlalu rancu untuk mendapatkan petunjuk dan terlalu sulit untuk menemukan jawaban."
๐ Kayla Syafira๐
๐ ๐ ๐
Matahari bersinar menelisik masuk mataku, menembus ruang pandang dan memberikan tusukan lembut pada Indra penglihatan. Otak mulai bekerja memberi perintah pada kelopak untuk terbuka.
Aku beranjak duduk, mengumpulkan energi untuk bisa mencerna apa yang terjadi.
Seingatku, baru saja aku menutup mata. Kenapa sekarang aku sudah terbangun lagi? Apakah ini mimpi? Jika iya, maka imajinasiku sangatlah tinggi. Kenapa harus mimpi bangun tidur coba? Aneh memang. Aku baru tidur dan aku mimpi bangun tidur! What the ....
Aku menyingkap selimut yang menutupi tubuhku. Begitu terkejutnya saat aku melihat pakaian yang aku kenakan saat ini.
Baju apa ini? Kenapa bentuknya seperti ini? Dan kenapa harus biru? Haduh, aku sedikit mengutuk imajinasiku kali ini.
Baju ini menempel sempurna di kulitku, elastis dan nyaman itulah yang aku rasakan ketika merasakan pakaian aneh ini. Bersyukur tidak ada cermin disini. Jika ada mungkin aku sudah berteriak dan melepas dari tubuhku.
Aku beranjak turun dari kasur, memutar tubuhku agar tau seisi ruangan yang berbentuk lingkaran ini. Ada meja kayu yang terletak di sebelah kanan kasur, bentuknya mengikuti sudut lingkaran bangunan ini dan sebuah perapian tepat di depan kasur. Sofa kecil juga terlihat disana. Kumpulan benda-benda antik tertata rapi di atas dan di sekitar perapian, mengisi ruangan berbentuk lingkaran ini. Beberapa gorden berwarna kuning emas nampak menutupi dinding bangunan ini.
Aku berjalan mendekati perapian. Sangat aneh, kenapa harus ada perapian? Memangnya akan ada musim salju disini?
Aku mendongak ke atas. Ada sebuah lukisan yang melekat di dinding. Bukan hanya satu lukisan, terlihat lebih dari tiga disana dengan ukuran lebih dari 2 kali 3 meter itu.
Taman bunga tulip mengisi lukisan pertama. Bermacam-macam warna ada disana. Putih, pink, emas, biru, kuning, ungu, dan warna lainnya terlihat mewarnai dinding itu. Bahkan lebih kumplit dari taman milik Ibuku. Selain itu, sebuah kerajaan yang terletak di atas bukit kecil juga menghiasi tembok tersebut.
Lukisan tersebut sangatlah terlihat nyata. Aku yakin jika pelukisnya adalah orang yang memiliki bakat di atas rata-rata.
Dan di lukisan kedua juga terdapat bunga tulip, hanya saja latar waktunya yang berbeda. Kali ini malam dan bulan purnama terlukis di lukisan kedua. Titik-titik berwarna kuning emas, kunang-kunang terlihat di beberapa sisi lukisan. Semua tulip itu masih menguncup, sama dengan lukisan pertama.
Dan di lukisan ketiga, cahaya bulan terlihat bersinar menuju salah satu bunga yang berwarna biru tua, mirip dengan ungu. Bunga tersebut telah mekar sempurna dengan kunang-kunang mengelilinginya. Bintang dan cahaya langit lainnya juga terlihat di lukisan ketiga.
Aku melihat ke lukisan ke-empat. Ada gorden yang menutupi, membuatku harus menyingkirkannya agar bisa melihat dengan jelas lukisan tersebut.
Kali ini semua bunga tulip telah mekar sempurna. Dan satu diantaranya, yang aku yakini adalah bunga tulip di lukisan ke-tiga terlihat melayang mengikuti cahaya bulan. Kedudukannya lebih tinggi daripada bunga lainnya. Kerajaannya tak lagi terlukis disana. Kini bukan hanya kunang-kunang yang ada disana. Kupu-kupu dan serangga malam juga turut serta di lukisan tersebut.
Ke-empat lukisan tersebut tergambar memutari dinding-dinding bangunan ini, membuatnya terlihat seperti roda yang terus berputar dari awal ke akhir lalu kembali lagi seperti semula.
Dari ke-empat gambar itu, aku sama sekali tidak mengerti apa maksudnya. Apakah ada pesan tertentu di gambar tersebut? Entahlah, pelukisnya terlalu pandai menyampaikan pesan sampai-sampai aku tidak bisa memahaminya.
Aku berjalan menuju balkon bangunan ini, satu-satunya celah cahaya masuk ke ruangan ini.
Begitu terkejutnya saat aku mengetahui keadaan sebenarnya.
Astaga, jadi sedari tadi aku berada di atas menara yang tingginya lebih dari 30 meter?!
Tanaman merambat terlihat saling berkejaran untuk membungkus bangunan ini. Hampir kaki bangunan ini dipenuhi oleh tanaman rambat tersebut. Bahkan ada beberapa tanaman rambat ini telah masuk dan menutup sisi balkon ini.
Bunga wisteria juga terlihat menjuntai dari atap balkon. Bunganya yang berwarna pink terlihat bersinar kala matahari menyiramnya.
Bukan hanya itu, tanaman bunga morning glory juga terlihat merangkak naik di pagar balkon ini, bunganya yang bermekaran di setiap pagi memberikan harum yang khas di bangunan ini.
Dinding-dinding tinggi dengan warna hijau di beberapa titik terlihat melingkari bangunan tinggi ini. Daratan rumput hijau terlihat dari atas sini. Matahari berdiri tegak di atas dinding tak berujung itu.
Tanpa aku sadari, seekor burung phoenix terbang dari arah belakang menara, mendekatiku. Paruh burung mitologi itu membawa sebuah gulungan kertas berwarna merah.
Aku mengangkat tangan ketika burung itu mengepak-kepakkan sayapnya di depanku.
Phoenix itu hinggap di tanganku. Ada rasa hangat yang menjalar ketika kaki burung itu menginjak lenganku.
Aku mengelus kepala burung itu lalu mengambil gulungan kertas di paruhnya. Entah apa yang ada di dalamnya, tetapi naluriku mengatakan kalau aku harus mengambilnya.
Burung itu berbunyi, kemudian mengepakkan sayapnya, terbang di hadapanku dan lenyap menjadi abu.
Aku membuka gulungan kertas tersebut. Sebuah tulisan tercetak disana.
"Permainan dimulai. Sebuah petualangan besar sudah menantimu."
Sesingkat itu. Memangnya permainan apa? Dan apa yang harus aku lakukan?
Otakku tidak bisa mencerna kalimat yang ada di gulungan ini. Rancu, itu yang selalu aku temui setiap bermimpi.
Ah sudahlah. Daripada aku memikirkan kalimat itu lebih baik aku menikmati suasana yang ada di menara ini. Terlalu sayang untuk diabaikan.
Tidak ada orang dan benda-benda pembuat onar udara memberikan rasa nyaman tersendiri bagiku. Ditambah dengan sinar matahari yang terasa hangat dan sangat pas untuk berjemur.
Aku menghirup udara panjang-panjang lalu mengembuskannya. Huh. Sangat segar sekali.
Andaikan aku memiliki menara setinggi ini, mungkin aku tidak perlu berpergian lagi untuk menghibur diri. Sesuatu yang aku inginkan sejak dulu sudah ada disini. Ketenangan. Sangat sulit aku menemukan keadaan seperti ini.
Banyaknya kendaraan dan pabrik menjadi alasan utamanya. Meskipun Ibuku telah membuat taman bunga, tapi tetap saja bunyi-bunyian dari luar masih terdengar.
Ah, andai tempat ini bukan cuma ada di dunia mimpi, pasti aku akan mendatanginya setiap hari. Dan kalau boleh aku ingin membelinya dan menjadikannya rumahku. But, it's impossible.
Aku kembali masuk ke dalam bangunan karena matahari terus bergerak naik, panas, tidak baik untuk kesehatan kulitku.
Aku memilih merebahkan tubuh di atas ranjang. Rasanya sangat nyaman ketika aku menempelkan punggungku di kasur ini. Nyaman dan nyaman. Hal yang aku rindukan sebelum semuanya terjadi.
Aku ingin lebih lama disini.
-To be Continued-
A/n: Terima kasih sudah membaca cerita Please don't forget me. Semoga kalian suka dengan part kali ini.
Vote dan comment selalu aku tunggu. Jadilah pembaca yang bijaksana.
See you on next chapter :)
Salam, Nu_Khy