
"Perubahan yang selama ini aku inginkan akhirnya terjadi. Tapi kenapa kesedihan yang datang setelahnya?"
π Kayla Syafiraπ
π π π
Hari ini terlihat berbeda dengan hari sebelumnya. Bukan karena usiaku yang baru bertambah satu, melainkan dengan kejadian-kejadian yang menimpa diriku. Aku semakin takut jika perkataan wanita dalam mimpi itu benar adanya.
Terbukti dengan sikap kedua orang tuaku yang seolah tidak mengenalku. Dan sekarang teman-temanku juga bertindak seperti itu.
Upacara bendera yang membosankan tanpa ada perbincangan. Jika biasanya Reta selalu berdiri di sampingku, kini dia berada di depanku, berdiri dengan siswa lain dan terlihat asik mengobrol. Dia, teman sekaligus sahabat juga melupakanku.
Waktu seakan berjalan lebih lama. Menyebalkan. Hanya berdiam dan berdiri selama satu jam pelajaran tanpa adanya percakapan. Lupakan tentang aturan tidak boleh berbincang saat ada upacara, hal itu sangat berbanding terbalik dengan diriku.
Aku dan Reta sudah sering ketahuan berbincang-bergurau saat ada guru piket yang berpatroli di lorong-lorong murid, tapi hanya teguran dan lirikan yang kami dapatkan. Kami hanya diam sebentar, menunggu guru piket itu pergi dan semuanya kembali diulang.
Tapi tidak dengan hari ini. Kali ini bukan Reta, melainkan Bobi. Siswa berbadan gempal dan jarang bicara. Aku dengannya tidaklah terlalu dekat, hanya sebatas kenal namanya saja ketika di kelas, jadi aku bingung ingin memulai dengan topik apa.
Empat puluh menit berlalu dengan sangat lama, hingga pemimpin upacara membubarkan barisannya dan semua murid kembali ke kelas. Upacara selesai.
Berjalan sendiri, itulah yang aku lakukan saat ini. Semuanya terlihat senang dan terus berbincang membahas hal menarik ketika kembali ke kelas. Namun, kali ini aku berdiri sendiri di dalam keramaian.
Tidak ada lagi Kayla yang selalu dikerubungi murid-murid SMP Kita Bisa, dan mungkin sebentar lagi namaku hanyalah sebatas huruf yang tertulis di dalam buku absensi, atau bahkan terlupakan untuk selamanya.
π π π
Sepi. Itulah yang aku rasakan saat ini. Jika biasanya banyak siswa-siswi yang datang ke kelas dan menemuiku untuk meminta bantuan, kini tak lagi terjadi.
Jam istirahat, siswa-siswi telah keluar kelas menuju kantin untuk mengisi perutnya yang telah meminta jatah.
Sendiri di dalam kelas membuatku bingung ingin melakukan apa. Nafsu makanku hilang karena memikirkan hal ini.
Segalanya telah berubah. Jika biasanya banyak murid yang menyapaku saat aku berjalan di lorong kelas, sekarang tidak, semuanya terlihat biasa saja saat aku melewatinya. Jika biasanya guru-guru memanggilku untuk datang ke ruangannya, kini murid lain yang menggantikannya. Dan jika biasanya aku dan Reta pergi membeli makanan bersama, kini dia telah pergi tanpa diriku.
Bahkan saat jam pelajaran, Reta selalu menengok ke belakang untuk bisa bergurau. Dia melupakanku. Bukan hanya dia, tetapi semua orang yang pernah ada. Guru-guru pun seperti itu. Biasanya mereka selalu mengandalkanku saat ada pertanyaan yang tak bisa dijawab, tapi kini mereka sendiri yang bergerak.
Aku jadi teringat dengan kedua orang tuaku. Pikiran buruk telah menodai kalbu. Kebencian telah terukir saat aku tidak tau kebenaran. Bertanya terlihat sungkan. Dan akhirnya prasangka buruk menjadi ujung dari perdebatan hati.
Taman belakang sekolah menjadi pilihanku untuk beranjak. Tempat yang cocok untuk menyendiri dan menyesali segalanya yang telah terjadi.
Kursi besi tua dan berkarat aku duduki dengan beralaskan kertas yang aku temukan di dekat sini. Semak belukar nampak menutupi bunga yang seharusnya mekar dengan indah.
Tak terawat menjadikan tempat ini jarang dikunjungi. Terlupakan seperti diriku. Terabaikan karena tak ada yang mau mengeluarkan sedikit kesadaran untuk merawat.
Sebuah pesawat kertas tiba-tiba terbang dan menabrak bahuku. Terjatuh, membuat refleksi otakku bekerja untuk mengambilnya.
Mataku berkelana mencari siapa pengirim pesawat tanpa pilot ini. Nihil. Tidak ada siapapun selain diriku disini.
Aku membuka lipatan kertas berwarna putih susu ini dan menemukan sebuah tulisan tangan di dalamnya. "Ganbatte, everythings will be fine."
Cepat, tubuhku langsung tergerak untuk berdiri. Memutar tubuh sekali untuk menemukan orang dibalik kertas ini. Lagi-lagi hasilnya sama. Tidak ada siapapun.
Siapakah pengirim pesawat kertas ini? Apakah dia tau apa yang sedang terjadi pada diriku? Kenapa dia memberiku kalimat semangat seakan dia mengetahui masalahnya?
Entah siapa pengirim kertas ini, yang jelas ada sedikit energi positif yang memberikan semangat dan dukungan untuk terus melangkah menjalani hidup.
Bell berbunyi, mengakhiri aktivitasku di tempat ini. Melipat kertas ini lalu memasukkannya ke dalam saku. Aku segera kembali ke kelas.
π π π
Pulang sekolah aku menuntun sepedaku masuk menuju pekarangan rumah.
Ada Ibuku disana. Seperti kegiatan biasanya di sore hari, beliau sedang asik dengan bunga-bunganya di taman. Semakin banyak dan semakin lebat membuat Ibuku tersenyum karena usahanya untuk merawat selama ini tidak sia-sia.
Menyapa-pun terlihat sungkan karena aku tau apa yang terjadi. Namun, melewatinya seakan tidak melihat pun tak bisa aku lakukan.
Aku menyetandarkan sepedaku, membenarkan tas ransel yang sedikit merosot lalu berjalan untuk menyalami Ibuku. Apapun yang terjadi, meskipun orang tuaku sendiri melupakanku, aku tak akan melupakan mereka balik. Mereka adalah orang yang luar biasa bagiku. Tidak ada tandingannya di dunia ini.
"Assalamu'alaikum, Ibu," ucapku yang membuat Ibuku mendongak dan menatapku. Bukan, lebih tepatnya ke name tag di bajuku.
Ibuku berdiri. Aku langsung mengambil tangan kanannya, kotor bukanlah menjadi masalah untuk menciumnya.
"Wa'alaikum salam, Kay-la." Nada bicaranya ketika mengucapkan namaku terlihat seperti orang yang baru bertemu, kaku.
Aku tersenyum kepadanya. Tak apa. Itu memang yang pantas aku dapatkan dari keinginanku ini. "Bunganya makin cantik ya, kayak Ibu."
"Ibu?" Beliau mengulangi kata terakhir yang aku ucapkan. "Eh, iya. Ibu kan selalu merawatnya, jadi bisa cantik dan subur deh."
Rasanya seperti ada ribuan bilah pisau yang terbang menghujami hatiku ketika mendengar perkataannya yang sama sekali tidak mengenalku. Menusuk-nusuknya hingga tak tersisa. Sakit yang tak terkira.
"Aku masuk dulu, Bu."
Secepat yang aku bisa, kakiku melangkah masuk ke rumah. Naik ke atas tangga, masuk ke kamar dan menguncinya.
Aku menyenderkan punggungku ke pintu, merosot turun dan berakhir duduk di bawah pintu.
Air mataku mulai menetes karena rasa panas yang tak bisa ditahan lagi. Kenapa? Kenapa takdir bisa sekeji ini? Aku tau aku menginginkan mereka melupakanku, tapi bukan seperti ini yang aku inginkan. Aku hanya ingin semua orang lupa dengan kecerdasan yang aku miliki, bukan melupakan segalanya tentang diriku. Bahkan orang tuaku juga menjadi korban atas permintaan bodohku ini.
Aku menundukkan kepala untuk bisa mengeluarkan semuanya. Hanya dengan seperti ini hatiku bisa sedikit lebih lega, meskipun hanya sementara.
Duukkk...
Aku mendongak ketika ada sesuatu yang menabrak kepalaku. Sebuah pesawat kertas berwarna merah kembali menyapa kesedihanku.
Aku mengambilnya lalu membuka kertas tersebut. "You can definitely get through it all, Kayla. So, don't be sad. Everything will be fine."
Lagi-lagi kalimat penyemangat yang aku dapat. Meskipun ada yang peduli denganku, tapi tetap saja aku tidak bisa melihatnya. Sungguh, meskipun aku mencari kemanapun, orang itu takkan pernah menampakkan tubuhnya. Aku ingin bertemu dengannya, bercerita tentang luka yang baru saja menimpa.
Ah sudahlah, tidak akan mungkin orang itu tiba-tiba datang memelukku dan memberi semangat. Pengecut memang.
Baiklah. Mungkin aku bisa melewatinya. Bukankan ini yang aku inginkan? Tidak ada orang yang mengganggumu lagi, berteriak memanggil namamu dan tak ada lagi yang menelponmu di tengah malam.
Kamu bebas, Kayla. Ini yang kamu inginkan bukan?
-To be Continued-
A/n: Terima kasih sudah membaca cerita Please don't forget me. Semoga kalian suka dengan part kali ini.
Jangan lupa untuk menekan tombol vote dan memberikan komentar. And see you on next chapter :)
Salam, Nu_Khy