
"No one will win this time
I just want you back
I’m running to your side
Flying my white flag, my white flag
I surrender..."
🏅Natalie Taylor-Surrender🏅
🏅🏅🏅
Awalnya semua berjalan dengan normal. Kami-aku dan teman-temanku-menikmati acara ulang tahun dengan berbincang sembari menikmati makanan yang ada, dan anak-anak kecil sibuk dengan permainan yang mereka buat sendiri.
Hingga, ketika Ayahku menyalakan kembang api dan memberitahukan jika acara ini sudah selesai, firasat buruk mulai muncul di hatiku.
Teman-temanku yang datang tanpa undangan itu masih saja belum bubar meskipun tamu undanganku telah bubar, Reta salah satunya. 20 anak ini masih saja berdiri dan berbincang di taman, bahkan beberapa diantaranya masih sibuk makan.
"Kenapa kalian belum pulang? Acaranya sudah selesai, anak-anak," tanya Ayahku. "Apakah kalian mau nginep disini?"
Dion, siswa yang aku kenal beranjak berdiri, menghadap ke Ayahku dan berkata, "Maaf, Om. Kami masih ada perlu dengan anak Om. Kami mau minta les dadakan, hehe..." kata anak itu.
"Tapi kan ini sudah malam." Ayahku melihat arloji di tangannya. "Sudah jam 10, anak-anak. Tidak bisakah keperluan kalian itu ditunda besok saja?"
"Aduh, Om. Ini masalahnya waktu, Om. Besok harus dikumpulkan. Cuma ada malam ini waktu yang tersisa." Salah satu dari mereka mengatakan alasan jika mereka tidak bisa pulang sebelum tugasnya selesai.
"Sudahlah, Ayah. Ibu yang mengatakan jika mereka boleh belajar disini." Ibuku ikut nimbrung meskipun setelah itu beliau masuk ke dapur untuk membereskan semuanya.
Aku memejamkan mata. Selalu ada tujuan lain ketika seseorang menemuiku. Apapun alasan dan kondisinya, akan mereka lakukan. Seakan tidak ada sumber lain selain diriku.
"Nah betul tuh, Om. Masa kami mau belajar gak boleh," timpal anak lain.
Itu Ibuku yang bilang, bukan aku! Jadi kalian minta saja kepada Ibuku untuk mengajari kalian! Ingin aku mengatakan kalimat itu, tapi aku tahan karena ini adalah rumahku, dan aku tidak ingin membuat citra keluargaku rusak karena perkataanku.
"Haduh, terserah kalian lah. Om capek, mau istirahat saja. Kayla, kamu ajarin mereka, ya."
Apa?! Ayah, kenapa Ayah malah mengizinkan mereka?! Bagaimana dengan aku? Aku juga lelah, Yah.
Ya Tuhan. Apakah aku bisa mengajari mereka yang jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang itu? Sedangkan mataku saja sudah berat untuk terbuka dan tubuhku juga lelah.
"Asikkk. Ayuk kita ke ruang tamu. Disana lebih nyaman, udara di luar juga semakin dingin."
Kenapa mereka bertingkah seperti pemilik rumah ini?
"Ayuk, Kay. Semakin cepat semakin baik," ajak seorang yang langsung menarik tanganku.
Aku hanya bisa menurut. Menolak pun terasa enggan. Yang bisa kulakukan hanyalah mengikuti arus hingga tubuh dan hatiku yang berkata, 'menyerah.'
Kini mereka sudah berada di dalam ruang tamu rumahku. Beberapa diantaranya sudah siap dengan buku dan LKS-nya.
"Sini, Kay. Ajarin aku," kata seorang murid perempuan menepuk-nepuk sofa agar aku duduk disana.
Lagi-lagi aku menurut. Melihat soal yang ada dan mulai menjelaskan.
"Aduh, kok mudah banget sih. Penjelasan kamu itu, wow banget. Tidak bertele-tele dan to the point'. Makasih, Kayla," kata siswi itu setelah mendengar semua yang aku katakan.
Siswi itu beranjak, mengemas bukunya dan meminta izin untuk pulang.
Semudah itukah mereka melakukan itu? Apakah mereka tidak pernah memikirkan perasaanku?
Dua jam telah aku lalui. Penat sudah menumpuk di bahuku. Mataku juga sudah panas karena melihat soal-soal yang silih berganti. Begitu juga dengan otakku. Kepalaku mulai terasa pusing karena terus bekerja di waktu yang tidak benar, tanpa jeda pula.
Pukul dua belas. Ibuku keluar dari dalam mengenakan baju tidur. Sudah ke lima kalinya beliau bolak-balik ke ruang tamu untuk melihat apakah semuanya sudah selesai.
Makanan di meja juga sudah ludes, menyisakan sampah yang berhamburan di kolong dan meja.
Masih ada tiga orang lagi. Tetapi untuk saat ini aku sudah tidak kuat lagi. Aku perlu istirahat.
"Aku lelah. Bisakah tugas kalian dikerjakan sendiri? Aku butuh istirahat," tanyaku lemah, energiku sudah terkuras.
Satu dari mereka menepuk dahi. "Aduh, Kay. Kami sudah menunggu dari tadi. Dua jam lamanya dan kamu bilang kalau kami harus mengerjakan di rumah? Ayolah, Kay. Hanya tiga tugas lagi."
ASTAGA!! Jika kamu mengatakan itu bagaimana dengan aku? Kalian enak hanya duduk-duduk dan bermain HP, tapi aku?! Aku daritadi harus berpikir keras untuk menyelesaikan soal-soal yang jumlahnya tidak sedikit? Apakah kalian tidak memikirkanku? Kalian egois!
"Tapi, Kay. Tugas ini harus kami kumpulkan besok. Jika tidak, kami akan mendapat hukuman."
Mereka tetap saja memaksaku.
"Aku tidak bisa, maaf."
"Kay. Please, Kay. Kalau bukan kamu kepada siapa lagi kami bertanya. Ini sudah malam dan waktu kami semakin mepet."
Ya Ampun! Kenapa kalian tidak mengerjakannya jauh jauh hari sebelum hari H?! Kenapa harus sekarang? Aku kesal sendiri dengan mereka bertiga.
"Ayolah, Kay. Kamu hanya perlu menjelaskan beberapa soal saja. Dan setelah itu kami akan pulang dan mengerjakan sisanya sendiri."
Kata demi kata terus mereka rangkai agar aku mau. Namun kali ini aku akan kekeh pada pendirianku.
Aku melihat jam. Sudah pukul dua belas lebih tiga puluh malam. Terlalu larut untuk berpikir.
"Bukankah kalian punya HP? Kenapa kalian tidak memanfaatkan benda itu?" Kali ini aku berkata sedikit ketus. "Atau kalian tidak punya kuota? Perlu Wi-Fi? Hospot?"
"Ya, kami punya-"
"Jika punya, kenapa kalian tidak memanfaatkannya, hah?! Malas untuk membaca artikel karena jawaban soal kalian tidak langsung ada di internet? Iya?!" Oke, aku benar-benar kesal sekarang.
Nampaknya mereka juga ikut terbakar emosi karena perkataanku. Bodo amat dengan hal tersebut. Aku tidak peduli sekarang!
"Keterlaluan kamu, Kay! Apa maksud dari perkataanmu itu?!"
"Kami tau kalau kami bodoh. Makanya kami meminta bantuanmu untuk mengerjakan tugas dan mengajari kami. Tapi apa yang kamu katakan kenapa kami? Hinaan, celaan. Kalau kami pintar kami gak butuh bantuanmu, dasar manusia sombong!" Satu dari gadis itu mengambil bukunya asal dan menggendong tas-nya pergi.
"Aku gak butuh bantuanmu, sombong! Pilih kasih! Dari tadi kamu gak bilang lelah saat mengajari teman lainnya. Tapi ketika giliran kami, kamu bilang lelah, bilang ngantuk. Cih. Gak sudi aku."
"Aku bisa mengerjakannya sendiri tanpa bantuanmu. Aku kira kamu akan ramah kepada siapa saja, meskipun kamu gak kenal. Ah, pikiranku tentang dirimu terlalu positif ternyata. Pilih kasih. Dari tadi aku tau kalau kamu gak iklas membantu. Makanya teman-temanmu kamu dulukan biar kami terakhir. Dan apa yang kami dapat?! Penolakan!"
"Dan satu lagi, munafik! Berpura-pura baik di depan orang banyak dan berbuat sesuka hatimu saat tidak ada banyak orang! Caper!"
Usai mengatakan kata-kata pedas, mereka bertiga pergi dari rumahku, membanting pintu dengan kasar.
Aku berdiri dengan gemetar di ruang tamu. Menahan tangis yang sedari tadi aku tahan agar mereka puas menghinaku. Dan sekarang tangis ini pecah begitu saja, benteng pertahanan yang selama ini aku bangun sudah runtuh rata dengan tanah. Sudahkah kalian puas menghinaku?!
Aku berlari menaiki tangga, masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Aku benci semua orang. Aku benci mereka! Semua orang sama saja. Selalu datang mendatangiku saat ada masalah dan pergi melupakan setelah semuanya selesai.
Aku menangis membelakangi pintu, berharap semuanya bisa kembali normal.
Kenapa saat aku menolak selalu ada kebencian yang datang setelahnya? Kenapa? Apakah mereka tidak bisa menghargai perasaan orang lain? Haruskah aku melaksanakan semua yang mereka minta sedangkan hati ini terus meronta untuk menolaknya?
Cukup lama aku berdiam diri di balik pintu, mencoba untuk menghapus air mata yang tak mau berhenti. Sudah terlalu larut bagi seorang anak yang baru saja berusia 14 tahun untuk membuka mata. Kenapa semua terjadi di waktu yang seharusnya aku bahagia?
Aku beranjak berdiri dengan tenaga yang tersisa. Lemas dan pusing langsung aku rasakan saat itu juga. Hampir saja aku terjatuh karena kakiku tidak bisa menyeimbangkan berat badanku.
Aku berjalan ke kasur dan langsung membaringkan ragaku. Mencoba memejamkan mata, tetapi rasanya sangat sulit. Pukul dua malam.
Aku menoleh ke kanan, tepat di nakas yang ada gulungan kertas aneh itu. Aku mengambil gulungan kertas itu, dan tanganku menyenggol gelas, tapi beruntung benda tersebut tidak jatuh.
Mungkin hanya ini satu-satunya benda yang bisa merubah hidupku. Meskipun awalnya aku tidak percaya dengan kata-kata yang ada kertas tersebut. Tapi tidak ada pilihan lain malam ini.
Aku membuka gulungan kertas itu, mengambil pena yang ada di nakas dan menebali tanda centang yang ada di kertas tersebut.
Tidak ada apa-apa setelah aku memberi tanda pada kertas tersebut. Sepuluh menit, sebelas, dua belas menit. Tidak ada hal aneh terjadi.
Terlalu lama aku menunggunya hingga mataku menutup seutuhnya, terlelap tidur.
Semua resiko akan aku tanggung asalkan aku bisa terlepas dari semua belenggu kehidupan ini. Aku sudah lelah. Dan aku menyerah.
-To be Continued-
A/n: Terima kasih sudah membaca cerita Please don't forget me. Semoga kalian suka dengan part kali ini.
Dunia mimpi akan datang tak lama lagi. Tetap stay dan tunggu lanjutannya ya...
Jangan lupa untuk menekan tombol vote dan memberikan komentar. Karena vote dan comment itu gratis. Hehe...
See you on next chapter :)
Salam, Nu_Khy.