Please Don't Forget Me

Please Don't Forget Me
06 | Never Give Up



"Sejatinya setiap manusia mampu melakukan hal di luar batas kemampuannya. Dan semua itu tergantung niat dan kemauan. Jika kamu mau, maka semuanya akan terwujud."


πŸ…Kayla SyafiraπŸ…


πŸ…πŸ…πŸ…


Aku membuka pagar rumahku. Ada Ibu disana, sedang menyiram bunga di taman yang dibuat sendiri.


Bermacam-macam bunga tertanam subur di taman itu. Mawar, tulip, lili, dan lainnya. Hampir semua bunga ada dan tertata rapi di tanah dengan panjang 10 kali 15 meter.


Aku mengucapkan salam dan menyalami tangan Ibuku. "Kayla pulang, Bu."


"Eh, anak kesayangan Ibu udah pulang. Ayah ada meeting ya?" jawabnya sembari memetik beberapa bunga.


Aku mengangguk, "iya. Tadi Ayah baru ngabarin aku. Jadi pulangnya naik bus deh. Dan Ibu tau gak? Kalau tadi ada orang yang aneh gitu."


Jangan heran jika semua hal yang terjadi padaku selalu aku ceritakan kepada Ibu. Selain menjadi orang teristimewa yang pernah ada selain Ayah, Ibuku juga menjadi pendengar ceritaku yang paling setia.


"Ah masa sih?" tanyanya tidak percaya. "Palingan juga orang biasa. Atau jangan-jangan kamu suka lagi sama dia, jadi kamu bilang dia aneh."


Aduh, kenapa Ibuku malah menggodaku sih. "Astaga Ibu. Kayla kenal juga tidak. Masa suka sih sama dia. Memang sih dia lumayan tampan. Tapi kan-"


"Tuh kan. Udahlah, Kayla. Kalau suka bilang aja, kenapa. Nanti diambil orang kamunya ngambek lagi," potong Ibuku yang semakin gencar menggodaku.


"Tau ah, Ibu. Kayla masuk dulu," ujarku pura-pura kesal. Berjalan melewati Ibuku.


Ibuku malah tertawa, "Kayla. Kayla."


Aku menaiki tangga untuk menuju kamarku. Membuka pintu kamar dan meletakkan tas serta mengganti pakaian.


Aku merebahkan tubuh di kasur. Menghirup dan mengembuskan napas beberapa kali untuk merilekskan pikiran.


"Kayla. Itu Rafa udah nungguin di rumah!" Suara toa Ibuku terdengar dari taman.


Astaga aku lupa. Sekarang adalah waktunya aku mengajari Rafa, anak tetanggaku. Lebih tepatnya nge-les anak tersebut.


Baru lima menit pikiranku bisa bersantai, dan sekarang harus bekerja lagi. "Iya, Bu. Aku sedang bersiap-siap."


Aku menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuh agar tidak terlalu bau. Setelah itu berjalan menuruni tangga dan pergi ke rumah Rafa.


Sebenarnya ini adalah permintaan Ibuku untuk mengajari anak itu materi yang belum paham di sekolah. Aku mengiyakan saja, toh anak itu masih duduk di bangku kelas 3 SD, dan mungkin aku tidak harus mengeluarkan pikiran ekstra, tetapi kesabaran ekstra.


πŸ…πŸ…πŸ…


Pukul enam sore, aku baru kembali ke rumah. Sudah hampir 2 jam aku berada di rumah Rafa, yang biasanya hanya 45 menit.


Itu semua karena ada saudara Rafa yang kebetulan berkunjung ke sana. Dan kebetulan juga, anak itu ada tugas yang belum selesai. Atau mungkin dia sengaja ke rumah Rafa untuk meminta bantuan padanya agar aku mau membantu mengerjakannya?


Entahlah. Yang jelas sekarang aku lelah. Sangat lelah. Entah itu fisik maupun pikiran. Hampir sehari penuh aku berkutik dengan berbagai soal. SD, SMP, bahkan ada juga yang menanyaiku pelajaran SMA. Dan semua aku iyakan, selain siswi di halte itu tentunya.


Dan kini aku harus mengerjakan tugasku. Ditambah beberapa hari lagi aku harus mengikuti olimpiade sains tingkat nasional yang pastinya membutuhkan persiapan matang karena ini demi sekolah dan daerahku.


Aku memilih mengambil handuk, pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Mungkin berendam dengan air hangat bisa menghilangkan semua rasa lelah ini.


"Kayla. Makan malam dulu, sayang," panggil Ibuku dari dapur.


Aku terpaksa mengakhiri kegiatan berendam yang tidak bisa aku sebut demikian. Masa' iya berendam cuma 2 menit? Ah sudahlah.


Aku mengeringkan tubuh dan rambutku. Memakai baju tidur dan segera turun untuk makan malam.


Hanya ada Ibu di sana. "Ayah belum pulang, Bu?" tanyaku retorik.


"Eh, iya ini. Kata Ayah meetingnya belum selesai. Sudah gih dimakan. Nanti dingin gak enak lho supnya," jawab Ibuku dengan meletakkan makanan kesukaanku ke mangkuk.


Aku menarik kursi, mengambil sendok dan mulai memakan sup terenak sedunia. "Terima kasih, Ibu."


"Iya, sayang. Oiya, kok tadi kamu pulangnya sore banget sih? Gak kayak biasanya. Tadi mau Ibu jemput lho ke rumah Rafa, takut kamu ketiduran atau diculik. Hehe..." tanyanya dan duduk di depanku. Mengambil nasi dan lauk.


Aku terkekeh. Menelan makanan yang ada di mulut. "Tadi ada yang minta bantuin mengerjakan tugas, Bu. Jadi Kayla bantu deh."


Aku dan Ibuku saling berbagi cerita, hingga makanan yang ada di mangkukku ludes.


Aku berniat membantu Ibuku mencuci piring, tapi beliau menolaknya. "Udah kamu ke kamar aja. Belajar setelah itu istirahat. Jangan malam-malam tidurnya. Jangan begadang."


"Iya Bu," jawabku. "Love you." Setelah itu aku melaksanakan apa yang di katakan Ibuku. Ke kamar, duduk di kursi belajar dan mulai membuka tugas yang tadi diberikan oleh bu guru dan pak guru.


Pukul sembilan aku baru selesai mengerjakan tugas dari Bu Maya. Ternyata memerlukan banyak waktu juga untuk mengerjakan tugas Bahasa Indonesia. Hampir semuanya Soal cerita dan jawabannya tidak ada di dalam teks. Lalu untuk apa teks tersebut?


Entahlah, aku tidak ingin ambil pusing akan hal tersebut karena ada tugas lain yang harus aku laksanakan. Mempelajari beberapa materi olimpiade yang belum matang di otakku.


Aku menata kembali buku bahasa Indonesia dan mulai membuka buku yang tebalnya 10 senti. Mencari halaman yang kemarin malam belum aku selesaikan.


Setengah jam berkutik dengan rumus-rumus, mataku mulai terasa berat. Aku meneplak pipiku, tidak terlalu keras agar kantukku bisa menghilang. Mengambil gelas air minum yang selalu aku sediakan di nakas dan meminumnya.


Aku berjalan menuju balkon rumah, menyejukkan otak dan mataku. Malam hari, suasana jalanan mulai lengang. Lampu-lampu rumah mulai padam menyisakan cahaya dari teras dan jalanan.


Bagi orang lain, mungkin sekarang sudah waktunya istirahat. Mengisi energi kembali untuk esok hari. Tetapi hal itu pengecualian bagiku. Aku harus bisa menahan kantuk dan lelah hingga pukul setengah sebelas ataupun lebih.


Sungguh, jiwa dan ragaku sangat lelah menjalani semua ini. Tetapi semua kembali ke prinsip awal hidupku. Memanfaatkan waktu dengan baik untuk belajar agar bisa menjadi kebanggaan orang tua serta bisa membantu sesama agar tidak menyesal kelak.


Akan tetapi, sampai kapan aku harus menyiksa tubuhku seperti ini. Sudah terlalu banyak penghargaan yang aku dapatkan. Sampai-sampai ayahku membelikan aku lemari besar khusus piala yang aku menangkan di setiap lomba.


Baiklah. Selagi aku masih kuat, maka aku akan menjalaninya.


Aku kembali masuk ke dalam kamar karena suhu udara luar semakin dingin. Menutup pintu serta jendela dan kembali menuju meja belajar.


Mataku menatap ke lemari besar yang terletak di samping kiri kasur tidurku. Mungkin ini adalah piala yang ke seratus yang akan aku pajang di lemari itu.


Satu setengah jam, aku habiskan untuk mempelajari hal baru serta melatih mengerjakan soal-soal yang telah disediakan di buku ini hingga aku terlelap tidur di meja belajar.


-To Be Continued-


A/n: Terima kasih sudah membaca cerita Please don't forget me sampai part ini. Jangan lupa untuk menekan tombol vote dan comment ya.


Semoga kalian suka dengan part kali ini. And see you on next chapter :)


Salam, Nu_Khy