
"Sekuat dan setegar apapun seorang, pasti akan ada waktu di mana dia mengatakan 'aku lelah,' dan menyerah."
π Kayla Syafira π
π π π
"Baiklah, Anak-anak. Apakah tidak ada dari kalian yang bisa menjelaskan materi ini?" tanya Bu Mira, guru IPS kelasku.
Pukul sebelas lebih tiga puluh. Suasana kelas seketika menjadi hening karena pertanyaan horor dari Bu Mira. Siswa-siswi langsung berpura-pura membaca buku atau menulis sesuatu.
"Hei! Apakah tidak ada yang ingin mendapat nilai tambahan di mapel Ibu?" Guru yang berusia kepala tiga itu kembali bertanya, nadanya naik beberapa oktaf.
Masih sama. Malahan ada yang tiba-tiba izin ke toilet takut namanya disebut dan disuruh maju oleh Bu Mira.
Bu Mira berjalan ke tengah kelas. "Haruskah Kayla lagi yang akan mendapatkan nilai tambahan? Kalau boleh jujur, buku nilai Ibu sudah penuh dengan nama Kayla."
Ya begitulah kenyataannya. Selalu aku dan aku. Sudah lebih dari dua puluh kali aku maju ke depan dan menjelaskan materi yang sedang kami diskusikan ini.
"Baiklah. Jika tidak ada yang mau, Ibu terpaksa menulis nama Kayla Syafira yang ke dua puluh satu di dalam buku nilai Ibu." Guru IPS itu berjalan dan kembali duduk di kursinya. "Silahkan, Kayla. Maaf Ibu nyuruh kamu maju lagi."
Astaga, Bu! Ini sudah yang ke tujuh kalinya aku maju ke depan untuk hari ini. Dan empat kali aku maju menjelaskan materi yang dibilang tidak singkat. Tadi pagi matematika, aku sudah tiga kali menjelaskan dan mengerjakan soal, dua puluh jumlahnya. Dan di pelajaran ke dua, fisika, aku juga diperintah oleh Bapak Asmudi untuk menjelaskan materi tentang getaran dan gelombang serta memberikan beberapa contoh soal latihan.
Dan sekarang, aku harus bercerita tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam memperoleh kemerdekaan?!
Ya Tuhan. Aku ingin mengeluh sekarang. Aku lelah. Otakku ingin beristirahat. Hari ini saja.
"Eh, iya Bu. Gak papa kok, Bu." Aku menjawabnya dengan tersenyum, terpaksa tentunya.
Aku mencomot buku catatan yang selalu aku bawa ketika ke sekolah. Menjadikannya sebagai pegangan agar aku tidak kikuk saat menjelaskan. Ya, meskipun aku sudah tau semuanya.
"Semangat, Kayla." Reta mengepalkan tangannya, memberikan dukungan. "Dan maafkan kami."
"Makasih, Kayla. Kamulah malaikat kelas VIII A." Kini Bobi yang berkata, siswa yang duduk di belakangku.
Aku memberi tanda OK dengan ibu jari dan telunjuk. Semuanya akan selalu berjalan seperti ini.
Aku maju ke depan, mulai menjelaskan materi yang sudah aku hafal. Tanggal, bulan, tahun kejadian, semuanya aku sebutkan agar teman-temanku bisa mencatatnya dengan kumplit.
Dua puluh menit aku menjelaskan 1 BAB materi tersebut. Beberapa kali temanku mengeluh karena kesal menulis dan beberapa kali pula Bu Mira menyuruhnya untuk tetap menulis.
Bibirku sudah kering, ludahku sudah tidak bisa mengeluarkan lebih banyak lagi. Aku lelah. Benar-benar lelah. Berbicara selama itu tanpa jeda. "Dan tepat pada 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia telah mencapai pada puncaknya, membuka perjuangan baru di negara yang baru."
Aku mengakhiri sesi penjelasanku dengan kalimat tersebut. "Itulah yang bisa saya sampaikan. Jika ada yang mau menambahkan atau bertanya, saya persilahkan. Terima kasih."
"Udah jelas tidak ada lah, Kayla. Penjelasan darimu terlalu perfect. Jadi teman-temanmu tidak ada yang bisa menambahkan. Betul kan?"
"Betul, Bu!" seru semua orang yang ada di kelas.
"Baiklah. Kayla, kamu bisa duduk kembali. Terima kasih." Bu Mira beranjak berdiri. Menambahkan beberapa kata yang menurutku tidak penting.
Masih ada satu jam pelajaran. Aku tidak ingin kejadian ini kembali terulang. Berdiri selama dua puluh menit dengan bibir terus bergerak menjelaskan materi baru.
Aku mengacungkan tangan ketika Bu Mira sedang menjelaskan materi baru.
"Iya, Kayla. Ada apa? Ibu belum menyuruh kamu untuk bertanya lho," ujarnya terlampau percaya diri.
Aku menggelengkan kepala. "Eh enggak, Bu. Saya mau izin ke toilet," kataku dengan tersenyum.
"Oh kirain. Yaudah mangga atuh. Jangan ditahan," jawabnya mempersilahkan.
"Terima kasih."
Aku segera beranjak dan keluar kelas. Berlari ke toilet yang jarang digunakan. Toilet yang letaknya paling pojok dan belakang.
Bukan tanpa alasan aku pergi kesana. Aku hanya ingin menyendiri. Membolos satu jam pelajaran untuk menenangkan pikiran yang sejak tadi sudah berkecamuk tidak jelas.
Aku memilih asal bilik toilet karena bangunan ini selalu kosong. Rumor yang bermunculan kalau toilet ini berhantu menjadi alasan murid-murid tidak mau kesini.
Masa bodoh dengan berita itu. Aku sama sekali tidak memedulikannya.
Beruntung, toilet di sekolah ini adalah toilet duduk. Jadi aku bisa lama-lama menyendiri disini.
Dan disinilah tangisku meledak. Mati-matian aku menahan air mataku ketika di lorong kelas dengan menundukkan kepala agar tidak keluar.
Aku sudah lelah. Aku sudah tidak tahan lagi dengan keadaanku yang seperti ini.
Dan sekarang aku benar-benar lelah. Kenapa kejadian itu harus terjadi? Dan kenapa harus aku yang menjadi korbannya? Demi apapun, jika ada mesin waktu aku akan membelinya, berapapun harganya agar aku bisa kembali ke kejadian 3 tahun silam.
Kenapa waktu itu aku tidak mati saja? Kenapa aku perlu diselamatkan?! Kenapa?!
Tiga tahun lalu, aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah gadis biasa yang memiliki kepintaran di bawah standar.
Sudah sering aku mendengar gunjingan dan ejekan dari teman-teman karena aku terlalu bodoh.
Dan hanya dalam satu hari. Semuanya berubah. Disaat ada sebuah mobil melaju kencang lalu menabrakku dan di saat itu pula duniaku berubah.
Ibuku pernah berkata kepadaku kalau aku mengalami koma selama 6 bulan. Dan dokter juga mengatakan jika aku tidak bisa berpikir normal waktu itu.
Namun, Tuhan berkata lain. Di suatu malam. Malam yang begitu menguras air mata kedua orang tuaku, saat ada kabar kalau aku sudah mati.
"Kami telah berjuang semampu kami, Bu. Maaf kami tidak bisa menyelamatkan putri Ibu," ujar dokter kala itu kepada Ibuku.
Dalam situasi tersebut Ayah dan Ibuku hanya bisa menangis dan terus memohon kepada dokter untuk berusaha lebih lagi agar aku bisa selamat.
Dan jawaban sang dokter masih sama. Hingga ketika suster hendak melepas semua alat medis yang menempel di tubuhku, Ibuku masih bersikeras untuk tidak melakukannya. Berharap napasku kembali dan aku bisa membuka mata.
Dan disaat itulah Tuhan memberikan keajaiban-Nya. Elektrokardiograf-alat perekam detak jantung- yang semulanya hanya garis lurus mulai berubah, membentuk sebuah garis naik turun yang terus berjalan.
Ayah dan Ibuku langsung memelukku, menciumiku dan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena Dia mau mengembalikan nyawa anak satu-satunya.
Dan dua Minggu setelah kejadian itu, aku bisa membuka mata. Di waktu itulah, takdirku berubah, perkataan dokter kala itu salah total. Menjadikanku Kayla yang tak lagi diinjak dan dihina.
Tok tok tok!
"Kayla buka pintunya. Aku tau kamu ada di dalam. Kayla."
Seseorang membuyarkan lamunanku akan masa lalu. Aku menatap jam di tanganku, sudah waktunya pulang.
"Kayla," panggilnya dengan menggedor pintu toiletku.
Reta. Aku kenal dengan suaranya. Tapi bagaimana dia bisa tau kalau aku ada disini?
Aku segera menghapus air mataku. Membasuh wajahku dengan air agar tidak terlalu terlihat kalau aku habis menangis.
Aku membuka pintu dan sebuah pelukan hangat Reta langsung terjun di tubuhku. Aku membalas pelukannya.
"Astaga, Kayla. Kenapa kamu membolos? Aku khawatir kamu kenapa-kenapa," ujarnya masih dalam pelukan.
Aku menggeleng kecil. "Aku baik-baik saja, Ta. Aku hanya ingin menyendiri," kataku sembari melepas pelukannya dan tersenyum.
"Bagaimana kamu tau aku ada di sini?" tanyaku heran.
"Aku tau karena kita sahabat. Dan aku tau kalau kamu izin ke toilet bukan untuk buang air atau cuci muka. Aku tau dari mimik wajahmu, Kayla. Wajahmu terlalu polos untuk berbohong." Dia tersenyum, manis.
Ingin sekali aku memeluknya, tapi seruan dari pak Dadang, kang kebun membuatku mengurungkan niat.
"Eh, Mbak kok belum pada pulang? Udah sore ini," kata pak Dadang yang melihat kami berada di toilet angker ini.
Reta menoleh dan terkekeh kepada pak Dadang. "Ini juga mau pulang kok, Pak."
"Yaudah pulang atuh."
"Iya pak, iya."
"Pulang nih."
"Iya!"
-To be Continued-
A/n: Terima kasih sudah membaca cerita Please don't forget me. Semoga kalian suka dengan part kali ini.
Pembaca yang bijak adalah pembaca yang bisa menghargai karya orang lain.
Jangan lupa untuk vote dan comment. See you on next chapter :)
Salam, Nu_Khy