Please Don't Forget Me

Please Don't Forget Me
02 | Hukum Archimedes



"Suatu benda yang dicelupkan sebagaian atau seluruhnya ke dalam zat cair akan mengalami gaya ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut."


๐Ÿ…Archimedes๐Ÿ…


๐Ÿ…๐Ÿ…๐Ÿ…


"Kayla."


"Kay."


Manik mataku bergerak ke arah sumber suara dan menemukan tiga siswi SMP Kita Bisa yang sedang berlari ke arahku.


Satu diantaranya aku mengenalnya dan sisanya, aku tidak tau. Mungkin temannya temanku. Aku berpikir positif.


"Tumben datang lebih awal?" tanyaku heran kepada Reta, teman sebangku-ku. Pasalnya gadis itu selalu datang sepuluh menit sebelum bell masuk. Dan ini, masih ada sekitar dua puluh lima menit sebelum pelajaran dimulai.


"Hehe, gak papa sih. Lagi pengin berangkat awal aja. Dan kenalin ini tetangga gue." Reta mempersilahkan kedua temannya berkenalan denganku.


Aku menyalami tangan mereka secara bergantian, saling memperkenalkan diri masing-masing.


"Oiya, Kay. Aku mau nanya sama kamu. Tolong bantuannya ya," ujar gadis bernama Sela. Aku tau dari name tag di bajunya. Dia membuka tas dan mengambil buku big boss yang aku yakini berisi tugas.


Aku menatap badge kelas yang menempel di lengan kiri baju kedua gadis itu. Kelas VIII D dan VIII G.


"Sekalian punyaku ya. Semalem aku mencoba mengerjakan, tapi aku tidak bisa sama sekali." Satu lagi, Anik. Gadis itu juga melakukan hal yang sama seperti Sela.


Sebenarnya aku sudah tau maksud mereka mendekatiku. Tapi, mau bagaimana lagi? Bukankah Ayah sudah berkata kepadaku untuk selalu menjadi manusia yang bermanfaat dan mau membatu sesama?


Aku tersenyum, agak kikuk dan dibalas oleh Reta. "Maaf ya, Kay. Soalnya aku juga tidak bisa. Jadi aku tanyain aja sama kamu. Secara, kamu kan Einsteinnya SMP Kita Bisa."


"Iya-iya, terserah kamu aja lah, Ta. Tapi kita ngerjainnya jangan disini ya, banyak murid dan guru yang lalu-lalang. Kan gak lucu aku ngajarin kalian di depan gerbang." Entah ini lucu atau tidak, yang jelas aku ingin cepat-cepat pergi sebelum murid lain melihatku sedang membantu mengerjakan tugas.


Sela yang sedang membenarkan resleting tasnya pun menurut, begitu juga dengan Anik. "Oh, iya. Gimana kalau di gazebo aja?"


Aku mengangguk, ide bagus. Hanya tempat itu yang ada, karena aku yakin penjaga perpustakaan belum datang.


"Udah ayok. Keburu masuk ini. Nanti Bu Nuni datang lagi," kata Anik menyeret tanganku dan tangan Reta.


Memperjelas saja, Bu Nuni adalah guru fisika yang mengajar kelas VIII E sampai kelas VIII H.


Aku menatap jam di pergelangan tanganku, masih ada tujuh belas menit.


Usai melepas sepatu, kami duduk membentuk lingkaran. Sela dan Anik mulai membuka tugas-tugas yang belum mereka selesaikan.


"Aku gak mudeng ini, mohon dibantu untuk mengerjakan ya, Kayla." Pertama Anik, dia membuka pertanyaan yang diberikan oleh Bu Nuni.


Aku membaca sekilas.


Jelaskan teori fisika tentang Hukum Archimedes dan penerapannya dalam bidang teknik!


Astaga! Memang pertanyaan cuma satu, tapi yang menjadi masalah itu adalah jawabannya. Tidak cukup menulis materi itu hanya dalam lima belas menit. "Soal ini menurutku tidak sulit, Anik. Di perpustakaan saja banyak buku yang menjelaskan materi ini."


Anik memanyunkan bibirnya. "Iya aku tau, tapi yang menjadi masalah sekarang adalah perpustakaan itu belum buka. Jadi aku tidak bisa meminjam buku materi ini," kata Anik sedikit ketus.


Reta menatapku dan Anik bergantian. "Eits, daripada kalian ribut, mending Kayla jelaskan saja materi itu secara ringkas. Dan Anik bisa mencatatnya di buku."


"Baiklah."


"Hukum Archimedes ditemukan oleh Archimedes pada tahun 187-212 sebelum masehi. Hukum ini menjelaskan tentang hukum yang berlaku pada benda ketika diletakkan di zat cair." Aku mulai menjelaskan materi yang sudah hafal di luar kepala.


"Sedangkan ketika sebuah benda diletakkan di zat cair, maka massa benda tersebut akan berkurang. Sehingga benda tersebut lebih ringan ketika diangkat di dalam zat cair daripada di darat. Hal itu karena adanya gaya ke atas yang ditimbulkan oleh air dan diterima benda."


"Astaga, Kay. Ini tangan manusia, bukan tangan robot. Jadi jangan terlalu cepat ketika menjelaskan." Anik merasa kewalahan ketika harus menulis semua materi yang diucapkan olehku.


Aku mengembuskan napas, sabar Kay. "Jadi, aku harus mendikte kamu? Bukankan sudah aku bilang, kamu tulis materi yang penting saja. Aku hanya menjelaskan materi itu agar kamu paham. Bukannya malah menulis semua yang aku katakan."


"Aduh. Bisakah kalian bisa lebih cepat untuk menyelesaikan tugas itu? Ayolah, hanya ada sepuluh menit. Dan bel akan berbunyi. Tugasku belum dikerjakan." Sela merasa gemas dengan kami berdua.


"Tidak adakah teman kelas kalian yang bisa mengerjakannya?" Aku bertanya ketus. "Masa' iya, satu kelas tidak ada yang paham dengan materi itu. Kemana saja kalian ketika guru sedang menjelaskan?"


Reta mengelus pundakku, "Kay, semakin banyak kamu mengatakan hal yang tidak perlu, semakin banyak pula waktu yang terbuang."


Iya, aku tau Reta. Aku tau! Coba kamu berada di posisiku, pasti kamu juga akan merasakan bagaimana kesalnya menjelaskan materi kepada orang yang banyak protes.


"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulutku. "Baiklah, aku hanya memberi tahu point-point pentingnya saja."


"Oke. Udah ayok. Keburu telat juga." Anik kembali bersiap menulis.


"Iya-iya, lagian siapa juga yang nyuruh kalian ngerjain tugas pas waktunya mepet banget."


"Iya, kita salah. Ayuk, sudah siap ini tanganku," pungkas Anik tidak mau meladeni perkataanku.


Oke. "Benda dalam hukum Archimedes dibagi menjadi tiga macam. Yaitu benda tenggelam, melayang, dan terapung."


Aku menjelaskan sementara Anik sibuk menulis.


"Benda dikatakan tenggelam, jika massa benda lebih besar dari massa zat cair tersebut. Dan benda dikatakan melayang jika massa benda sama dengan massa zat cair tersebut. Sedangkan..."


"Aku paham, aku paham," ujar Anik memotong penjelasanku.


Memang tidak sopan. "Syukurlah. Kamu bisa menambahkannya sendiri nanti di kelas."


Aku melirik ke arah jam tanganku. Masih ada 7 menit 37 detik. "Dan penerapan hukum Archimedes dalam bidang teknik bisa kita lihat di kran otomatis pada penampung air, pada kapal selam, dan juga pada hidrometer."


Aku menerangkan materi tersebut sesingkat mungkin. Bukan karena waktunya yang semakin berkurang, tetapi memang permintaan gadis itu sendiri.


Anik merenggangkan tangannya, lelah karena menulis dengan cepat. Gadis itu menatapku. "Penjelasannya sih?" tanyanya.


Kedua alisku bertaut. "Bukankah dalam pertanyaan itu, hanya menyebutkan saja? Yang harus dijelaskan itu apa hukum Archimedes, dan penerapannya tidak perlu. Toh kamu bisa menjabarkan sendiri kan?" tanyaku sarkastis.


Gadis itu menggaruk tengkuknya. "Iya sih. Okelah, makasih ya, Kay. Maaf sudah merepotkanmu." Anik beranjak berdiri, memakai sepatunya asal dan langsung berlari menuju lorong kelasnya.


Meninggalkan kami bertiga.


"Sama-sama." Hanya dalam hati aku menjawabnya. Entahlah, aku tidak mau berpikir akan hal-hal tidak baik terhadap sikap Anik kepadaku dan sahabatku.


-To be Continued-


A/n: Aduh, aku jadi keinget pelajaran SMP. wkwkwk...


Semoga kalian suka dengan part kali ini.


By the way, adalah diantara kalian yang masih duduk di bangku SMP? Sama seperti Kayla yang duduk di kelas delapan?


Terima kasih sudah membaca cerita Please, don't forget me. Vote dan comment selalu aku nanti :)


Salam, Nu_Khy