Please Don't Forget Me

Please Don't Forget Me
10 | Everything Will be Change



"Disaat usiaku bertambah, disaat itu pula semuanya akan berubah."


🏅Kayla Syafira🏅


🏅🏅🏅


Nyatanya semua kalimat penolakan yang aku lontarkan sama sekali tidak didengar oleh Ibuku.


"Buat apa sih, Bu, pake acara aneh-aneh segala buat ngerayain ulang tahun aku? Aku udah besar, Bu. Jadi gak perlu acara-acara ngerayain ulang tahun segala," tanyaku beberapa hari lalu, saat aku berusaha mencegah niat Ibuku.


Ibuku yang saat itu sedang menyiram bunga pun tidak menghentikan aktivitasnya. "Emangnya acara ulang tahun cuma untuk anak kecil?" jawabnya sarkastik.


"Ya, enggak sih. Tapi kan ini berbeda buat aku, Bu." Aku tetap berusaha untuk membujuk Ibuku.


Tapi tetap saja. Jika kedua orang tuaku sudah menentukan keputusan, maka keputusan itu tidak pernah bisa diganggu gugat oleh siapapun. Tanpa kecuali diriku.


Dan disinilah aku berada. Di taman bunga Ibuku.


Sudah dari tadi siang, Ayah dan Ibuku sibuk mendesain taman ini agar terlihat match dengan tema ulang tahunku kali ini.


Aku juga heran. Kenapa harus disini segala? Bukankah acara ini hanya dihadiri oleh sahabatku dan beberapa  tetanggaku, anak kecil tentunya. Kenapa harus se-repot ini? Kenapa tidak di ruang tamu saja?


Aku tidak berani menanyakan semua unek-unekku kepada Ibuku untuk saat ini, yang ada aku langsung digas, dan disuruh untuk tidak banyak tanya. "Lebih baik kamu bantu Ibu saja."


Beruntung sekarang adalah hari libur, jadi tidak ada acara-acara mengagetkanku segala yang membuatku harus merespon pura-pura terkejut.


Pukul tiga siang, semuanya sudah tertata rapi. Tidak perlu nyeleneh dan tidak perlu mewah. Semuanya terlihat sederhana, sesuai dengan rencana Ibuku kemarin.


Tema yang Ibuku ambil adalah lesehan. Semuanya berada di atas rumput yang beralaskan karpet kotak-kotak berwarna hitam putih. Ada tulisan yang terletak diantara pohon beringin. 'Happy Birthday, Kayla. Wish You All the Best.' Begitulah tulisannya.


Satu-dua buket bunga ditata rapi di sudut-sudut taman ini. Sebenarnya Ibuku tidak menyetujui ide Ayahku yang satu ini. Terlalu disayangkan jika bunga-bunga yang telah lama Ibu rawat harus dipotong dan dibuang setelah tidak digunakan. Tapi setelah membujuk beberapa kali, akhirnya Ibuku luluh juga.


"Bolehlah, Bu. Ini hanya satu tahun sekali. Lagian besok juga bisa tumbuh lagi, lebih lebat malahan." Seperti itulah kalimat yang Ayahku lontarkan untuk membuat Ibuku mau mengorbankan bunga kesayangannya.


Mirip dengan tema musim panas, hanya saja acara ulang tahun ini dilaksanakan di malam hari.


🏅🏅🏅


Pukul enam sore, semuanya sudah tertata rapi di atas karpet. Makanan ringan, berbagai jenis minuman, dan nasi tumpeng sudah ada disana. Lampu warna-warni juga telah dinyalakan beberapa menit yang lalu oleh Ayahku.


Aku dan Ibu berjalan keluar dari dapur membawa kue ulang tahun. Ada nama dan usiaku di kue tersebut. Ada Ayahku disana, beliau sedang duduk di salah satu kursi, menikmati cemilan yang ada sembari menikmati senja yang telah sirna.


"Wah, cantik banget putri Ayah," pujinya ketika melihatku mengenakan gaun berwarna pink dengan hiasan bunga palsu yang menempel di ujungnya.


Jujur aku sangat risih menggunakan pakaian seperti ini. Ini semua karena Ibu, dia memaksaku habis-habisan untuk mengenakannya. Jika boleh memilih, lebih baik aku mengenakan kaos oblong dan celana pendek saja. Toh yang datang juga cuma beberapa orang saja bukan? Kenapa jadi ribet seperti ini?!


Aku membalasnya dengan cemberut. "Aku risih tau, Yah, make pakaian aneh kayak gini."


Ibuku meletakkan kue buatannya di tengah karpet. Beliu duduk di bibir karpet tersebut. "Kata siapa aneh, Sayang. Kamu cantik banget malam ini."


Ya ya ya... Terserah Ibu saja.


Tamu pertama datang. Rafa dan Ibunya berjalan masuk ke dalam taman ini yang langsung disambut dengan ceria oleh Ibuku.


.


Tamu demi tamu mulai berdatangan, yang semuanya adalah tetanggaku. Jumlahnya tidak lebih dari sepuluh orang.


Yah, seperti yang aku katakan di awal. Acara ini adalah acara ulang tahun yang sederhana. Hanya beberapa orang saja yang datang.


Dari pintu masuk aku melihat Reta datang, dia mengenakan dress berwarna jingga.


Sahabatku tersenyum, menyapa beberapa orang lalu berjalan ke arahku. "Wow. You look so gorgeous tonight."


Aku memutar bola mata malas. "Aku bosen, Ta. Semua orang bilang seperti itu. Dan kamu adalah yang terakhir karena memang kamu datang paling akhir."


Reta tertawa. "Ya maap. By the way acaranya sudah mulai kah?" tanyanya. "Selamat Ulang Tahun, Kayla Syafira. Semoga apapun yang kamu inginkan terkabul. Maaf cuma bawa ini buat kamu." Reta mengeluarkan sebuah kotak kado dari tote bag-nya.


Aku menerima bungkusan kado darinya. "Makasih. Udah gapapa, makan-makan aja yuk."


Reta mengangguk.


Aku mengajaknya bergabung dengan yang lainnya. 5 anak kecil dan orang tua, sudah duduk di karpet yang disediakan.


Aku dan Reta memilih bergabung dengan anak-anak. Aku tidak mau ikut campur urusan orang tua, apalagi emak-emak. Pasti semuanya akan dibahas jika mereka berkumpul.


Masih ada 5 menit sebelum acara tiup lilin dilaksanakan.


Pukul 19.55.


Bel rumahku tiba-tiba berbunyi, yang berarti ada orang datang. Siapa lagi? Bukankah semuanya sudah ada disini? Rekan kerja Ayahku kah?


"Siapa lagi?" tanyaku kepada Reta yang dibalas dengan gelengan. Dia juga tidak tau.


"Biar Ayah lihat." Ayahku yang sedang duduk segera beranjak dan berjalan menuju pagar rumah.


Satu menit setelah itu, Ayahku kembali. Disusul dengan beberapa anak dibelakangnya.


Tunggu, mereka adalah murid SMP Kita Bisa, sekolahku. Ngapain mereka kesini?


"Happy birthday, Kayla." Mereka bersama-sama mengucapkan kalimat itu membuat suasana taman semakin ramai.


Ada lebih dari dua puluh orang yang baru datang ke rumahku ini. Beberapa diantaranya berada di teras karena taman ini tidak muat. Astaga! Apakah mereka juga ingin ikut merayakan ulang tahunku ini? Tapi siapa yang mengundang mereka?


"Ya ampun. Banyak banget teman-teman kamu, Kayla. Sampai gak muat taman ini. Kenapa kamu gak bilang kalau kamu juga mengundang teman sekolahmu? Kan kalau kamu manggil mereka, Ibu bisa siapin lebih meriah lagi."


"Aku gak manggil mere-"


"Emm, Tante, kami teman sekolah Kayla. Maaf ikut nimbrung acara ini," ujar salah satu dari mereka memotong perkataanku.


"Eh, gak papa. Makin ramai makin asik kan? Ayuk duduk, jangan malu-malu. Maaf tempatnya sempit jadi kalian harus desak-desakan deh. Kayla gak bilang sih kalau kalian juga diundang jadi Tante cuma nyiapin sedikit makanan."


Astaga, Bu. Aku tidak mengundang mereka! Mereka datang sendiri! Bersama-sama maksudnya. Tidak ada yang mengundang mereka, Bu!


Tunggu, kenapa mereka membawa tas sekolah? Untuk apa?


"Mmm, Tante. Setelah acara ini, kami boleh kan meminta putri Tante yang paling cantik untuk membantu mengerjakan tugas kami. Hanya mengajarinya." Salah satu siswa mengatakan itu, meskipun lirih, tapi aku bisa mendengarnya.


"Eh, iya boleh-boleh. Selagi Kayla bisa, dia akan mengajari kalian kok."


Oke sekarang aku paham maksud kedatangan mereka semua ke rumahku. Aku tidak mau mengatakannya lagi. Kalian sudah paham bukan?!


"Baiklah, inti dari acara ini telah tiba waktunya. Kayla, sini sayang. Tiup lilinnya," kata Ibu yang sudah mengangkat roti ulang tahunku.


Aku mendekati Ibuku, berdiri di depannya dan bersiap untuk meniupnya.


"Make a wish, Kay!" seru Reta dari  belakangku.


Pasti. Aku memejamkan mata, mulai mengucapkan permohonanku dalam hati.


"Tuhan, terima kasih Engkau masih memberiku waktu untuk bisa melihat dunia yang ke 14 tahun ini. Aku sangat bersyukur. Terima kasih, Tuhan.


"Tetapi, bolehkan aku meminta satu permintaan kepada-Mu?


"Aku hanya ingin menjadi manusia biasa, aku ingin mereka lupa jika aku adalah Kayla Syafira si genius. Aku ingin kembali normal. Please, aku tidak ingin memiliki otak secerdas ini. Aku lelah, aku ingin semuanya kembali seperti semula. Saat mereka menganggapku seperti siswi lain, tidak lebih. Aku ingin hidup tenang, yang tidak dicari orang lain hanya karena mereka memerlukan bantuanku. Tuhan, tolong kabulkanlah permintaanku."


Aku membuka mata dan meniup empat belas lilin yang menyala di atas roti.


Suara riuh tepuk tangan langsung terdengar saat semua lilin padam.


Aku tersenyum, semuanya akan berubah. Tak lama lagi.


-To be Continued-


A/n: Terima kasih sudah membaca cerita Please don't forget me. Semoga kalian suka dengan part kali ini.


Dan setelah ini, petualangan Kayla akan dimulai. Semuanya keinginan Kayla akan terwujud. Apakah dia akan bahagia? Atau sebaliknya?


Jangan lupa untuk menekan tombol vote dan memberikan komentar 🔥


See you on next chapter :)


Salam, Nu_Khy.