Please Don't Forget Me

Please Don't Forget Me
12 | Are You Ready, Kayla?



"Nasi telah menjadi bubur dan kayu telah menjadi abu. Tiada yang bisa aku sesali untuk hari ini dan seterusnya. Semuanya telah terjadi."


🏅Kayla Syafira🏅


🏅🏅🏅


Gelap. Merupakan sesuatu yang pertama aku lihat ketika membuka mata.


Sepi, sunyi, dan tidak ada warna selain hitam. Entah ada dimana aku sekarang, tetapi aku tau jika ini adalah dunia mimpi.


Satu menit, dua menit kegelapan masih menyelimuti mataku hingga secercah cahaya, mirip sebuah bintang kecil mulai terlihat dari arah depanku yang kemudian disusul dengan kemunculan cahaya lain.


Kini gelap sirna, tergantikan dengan pemandangan langit malam. Bulan terlihat sempurna di atasku. Awan-awan gelap juga terlihat bergumpal di beberapa sisi membuat kesan malam terlihat lebih nyata.


Aku menatap sekeliling. Tidak ada ujung dari pandanganku ini. Bintang dan hitam. Sebenarnya aku ada di dimensi apa?


Kembali, sebuah cahaya kecil mulai terlihat. Tapi kali ini warnanya bukan putih melainkan kuning emas. Cahaya itu semakin membesar hingga setinggi dua meter.


Sebuah kabut mulai menyelimuti cahaya itu dan tak lama setelah itu seseorang terlihat keluar.


Seorang wanita dengan pakaian berwarna senada dengan cahaya, kuning. Wanita itu mengenakan baju yang mirip dengan seorang penyihir dalam film fantasi yang pernah aku lihat, hanya saja dia tidak membawa tongkat dan sapu terbang melainkan membawa sebuah buku, dan tudung yang menutupi sebagian rambutnya.


Wanita itu membuka tudungnya, wajahnya terlihat. Cantik, aku menebak jika usianya sekitar dua puluh tujuh tahun. Rambutnya tergerai bebas hingga sepinggang.


Wanita itu tersenyum kepadaku, "Hai," sapanya.


Kikuk, saat aku sibuk menatap wanita itu, dia malahan menyapaku. Semoga saja dia tidak risih dengan pandanganku barusan.


"Hai, juga." Aku menjawabnya dengan senyuman, kaku pastinya.


Menurut sebuah penelitian, seseorang yang muncul dalam mimpi pasti pernah dilihat di dunia nyata, meskipun tidak sengaja. Tapi penelitian itu tidak sesuai denganku.


Sudah beberapa hari aku bermimpi dan bertemu dengan seseorang yang wajahnya sangat asing bagiku. Mungkin saja aku tidak pernah bertemu dengannya. Dan di dalam mimpi itu, aku seakan bisa mengendalikannya. Aneh memang. Mirip lucid dream, hanya saja latar tempat yang muncul selalu di luar nalarku.


"Selamat, kamu sudah menjadi bagian dari kami. Tak lama lagi keinginanmu akan terwujud, dan kamu bisa dengan bebas menikmati hidupmu itu," ujarnya. Wanita itu telah berdiri di depanku beberapa senti.


"Bagian dari apa?" tanyaku bingung. Dan untuk keinginan terbesar, aku belum berani mengatakannya. Apakah kalimat yang aku ucapkan saat ulang tahun itu benar-benar terwujud?


"Seiring dengan berjalannya waktu,  kamu akan tahu jawabannya," jelasnya. Selalu jawaban rancu yang aku dapatkan di setiap pertanyaan dalam mimpiku. "Apakah kamu juga tidak menanyakan tentang keinginanmu itu? Atau kamu tidak percaya hal itu?"


Aku menggaruk rambutku yang tidak gatal. Bukan itu maksudku. Tapi keinginanku ini sangatlah aneh. Sulit untuk dilogika dengan akal sehat. Dan sulit untuk dikabulkan, jika tidak menggunakan sihir. Tapi apakah masih ada sihir di zaman sekarang? Lol.


"Kamu diam, berarti kamu masih ragu. Tapi tak apa, setalah kamu membuka mata, semuanya akan terjawab." Wanita itu seakan tau isi pikiranku. "Lupakan itu. Ada hal penting lainnya yang harus aku katakan padamu."


"Hal penting apa?" tanyaku membeo. Entah kenapa kali ini aku seperti orang bodoh yang tak bisa menggunakan otak dengan baik saat berbicara dengan lawan bicara.


"Kamu telah setuju dengan penawaran yang kami berikan. Yang berarti kamu telah siap dengan risiko yang akan terjadi.


"Tidak ada kata menyerah sebelum kamu menyelesaikan semua tantangan yang ada. Dan tidak ada kata lelah yang akan kamu rasakan saat kamu melewati setiap langkahnya."


Kenapa aku harus mencerna sendiri kalimat-kalimat itu? Dan kenapa selalu kalimat tidak pasti yang aku dengar? Aku membutuhkan penjelasan, tapi saat aku menanyakannya bukan jawaban yang aku dapat melainkan kalimat lain yang sama membingungkannya.


Aku membiarkan dia berkata kembali. Toh aku juga bingung mau merespon apa.


"Semua orang bisa menjadi lawan bagimu atau justru kamu akan mendapatkan teman. Tidak ada yang tahu jawabannya setelah kamu sendiri yang merasakannya.


"Tidak ada waktu pasti kamu bisa menyelesaikan tantangan itu. Semua tergantung kecerdasan dan kekuatan yang kamu miliki. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, atau bahkan seumur hidup. Semuanya akan terjawab nanti.


"Selalu ada ujung dari sebuah perjuangan. Jika kamu bisa menyelesaikannya, ada hal lain yang tidak bisa dibayangkan orang lain.


"Penyesalan akan selalu ada, dan semoga kamu tidak terpuruk karena hal itu."


Wanita itu berhenti berkata sejenak yang kemudian melanjutkan kalimatnya. "Satu pesan dariku. Ikuti kata hatimu, dimanapun kamu berada. Jangan mudah terpengaruh sekitarmu karena mungkin itu jebakan bagimu. Semuanya akan baik-baik saja jika kamu mau mengikuti apa yang ada dalam dirimu, bukan paksaan melainkan sebuah keharusan."


"Selamat berjuang, Kayla."


🏅🏅🏅


Aku mengucek mata. Pagi hari, hujan tadi malam sudah berhenti.


Aku menatap ke luar jendela. Masih terlihat gelap meskipun jam sudah menunjukkan pukul setengah enam.


Satu dua tetes air bergerak mengalir dari daun ke daun dan berakhir di rerumputan.


Aku beranjak duduk, menyenderkan punggung ke kepala ranjang. Memikirkan mimpi yang baru saja terjadi. Sebenarnya apa yang dikatakan wanita itu?


Lima menit pikiranku tetap tak memiliki ujung. Semuanya terlihat rumit. Perkataannya sangat rancu. Apa benar, keinginanku akan terkabul? Semuanya terdengar impossible.


Tidak mau membuang waktu, aku menggerakkan badan menuju kamar mandi, membersihkan tubuh dan segera berangkat sekolah.


Hari senin, yang berarti akan ada upacara. Aku tidak mau berurusan dengan satpam nantinya jika aku datang terlambat.


Pukul enam lebih lima belas aku turun menuju ruang makan. Sudah ada Ibuku dan Ayahku disana.


"Selamat pagi, Ayah. Selamat pagi, Ibu." Seperti biasa, aku selalu memberi mereka sapaan pagi yang hangat dan ceria untuk memulai aktivitas hari ini.


"Pagi," jawab Ayahku singkat.


Kenapa Ayahku menjawab sesingkat itu. Bahkan tidak ada nadanya, datar. Dan Ibuku juga masih sibuk mengolesi roti, tanpa ada niat menatap dan membalas sapaanku. Tidak seperti biasanya. Ada masalah kah? Atau jangan-jangan mereka marah karena kejadian tadi malam? Ibuku mengira kalau aku mengajak teman-temanku datang tanpa memberi tahunya? Jika iya, kenapa beliau bisa secuek itu? Tidak seperti biasanya.


Keluargaku bukanlah keluarga yang menyimpan setiap masalah tanpa ada niat untuk menyampaikannya ke anggota keluarga lain. Semuanya terbuka. Apapun masalahnya selalu bisa selesai dengan baik.


"Ibu marah ya sama Kayla?" tanyaku dengan nada lirih.


"Silakan dimakan rotinya, setelah itu berangkat. Hati-hati di jalan." Bukan jawaban yang aku dapatkan melainkan dua tangkup roti isi selai yang disodorkan ke arahku.


Aku menatap Ayahku. Beliau masih sibuk dengan korannya. Cangkir kopinya sudah ludes, menyisakan ampas. Sepenting itukah berita yang ada di kertas lebar itu sampai melupan anaknya yang sedang duduk disampingnya ini?


"Baik, Bu."


Aku memakan sarapan pagi ini dengan rasa kecewa bercampur sedih. Kenapa mereka mencampakkanku? Sebesar itukah salahku sampai mereka seakan-akan lupa dengan anaknya?


Aku berdiri setelah tegukan susu terakhir. "Kayla berangkat dulu, Yah, Bu."


Aku menyalami tangan mereka berdua dan segera menuju garasi untuk mengambil sepeda disana. Aku belum berani menanyakan kenapa mereka bisa bersikap seperti itu, takut jika masalah ini semakin besar karena hati mereka belum bisa berdamai.


Menuntun sepeda, yang biasa aku gunakan untuk ke sekolah saat Ayahku libur keluar gerbang. Aku berdiam beberapa detik di depan gerbang.


Cairan bening tiba-tiba jatuh ke tanganku. Aku mendongak, bukan hujan yang jatuh melainkan air mataku yang menetes.


Mereka tidak pernah sedingin dan secuek itu kepadaku. Tapi pagi ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku mereka membuatku kecewa. Mereka sudah mencampakkanku. Tanpa alasan pasti dan tanpa pembahasan.


Aku kira dengan piala dan penghargaan yang aku dapatkan bisa membuat mereka bangga dan memperlakukanku dengan baik. Tapi aku salah. Semuanya tidak akan pernah sama. Semuanya akan berubah.


Aku mengelap mata agar pandanganku kembali normal. Aku harus berangkat sekolah. Jika tidak aku bisa terlambat karena jalanan Ibu Kota tidak bisa diajak bekerja sama.


-To be Continued-


A/n: Terima kasih sudah membaca cerita Please don't forget me. Semoga kalian suka dengan part kali ini.


Jangan lupa untuk menekan tombol vote dan memberikan komentar.


See you on next chapter :)


Salam, Nu_Khy