
"Sang dalang permainan sudah mulai memberikan petunjuk, sebuah jawaban tak lama lagi akan ditemukan."
🏅Kayla Syafira🏅
🏅🏅🏅
Sudah tujuh malam aku bermimpi di tempat ini. Dan sudah tujuh hari pula aku diacuhkan oleh semua orang.
Rasanya sangat sakit. Apalagi ketika bertemu dengan kedua orang tua. Mereka sama sekali tidak mengenalku. Hanya beberapa menit kami bertatap mata, mereka mulai mengingatku. Setelah aku pergi lalu datang lagi, ingatan mereka tentang diriku sirna seketika.
Bermacam cara sudah aku lakukan. Kepada Ayah, Ibu, dan kepada teman-temanku. Namun, tetap saja hasilnya. Mereka kembali lupa.
Pernah aku memperlihatkan fotoku bersama Reta. Sahabatku terlihat bingung saat melihatnya. Ah, aku sudah tau respon itu. Terlalu sering aku lihat mimik wajah itu di kedua orang tuaku.
"Kamu mengingatku?" tanyaku dengan harapan besar ada memori kecil yang tertinggal di ingatannya.
Namun, takdir tetaplah takdir. Reta menggeleng, berkata jika ia tidak mengingat. "Maaf, aku sama sekali tidak mengingatmu."
Ini memang kesalahanku. Aku yang memintanya dan aku harus siap menanggung resikonya.
Jika biasanya teman-temanku datang melihatku berlomba ketika olimpiade, kemarin lusa, aku hanya diantar oleh beberapa guru. Tidak ada satupun murid yang ikut. Semuanya sibuk belajar di kelas.
Meskipun aku mendapat juara satu dalam olimpiade sains itu, tidak ada yang heboh.
Aku jadi teringat kejadian satu bulan yang lalu ketika aku kembali ke sekolah membawa piala besar. Teman-temanku bersorak ria, terutama teman sekelasku. Setelah lomba selesai, mereka berlomba untuk mentraktirku di kantin.
Tapi sekarang. Ada yang mengucapkan selamat saja itu adalah sebuah keajaiban. Aku kembali ke sekolah, meletakkan piala dan mendapatkan uang saku lalu kembali ke kelas. Tidak ada yang istimewa.
Ah sudahlah, memang ini takdir yang harus aku jalani. Lelah jika aku memikirkannya selalu.
Aku duduk di bibir ranjang. Menarik rambutku frustasi. Arghh... Dunia mimpi dan dunia nyata semakin menekanku. Aku semakin kesepian.
Awalnya aku menikmati semua hal yang ada di menara ini. Melihat matahari terbit ketika aku bangun- aku tidak pernah melihat matahari terbenam di sini, melihat benda-benda yang ada di ruangan ini, menikmati suasana tenang dan udara segar di atas menara. Namun, sifat bosan manusia selalu muncul ketika sesuatu yang sama terus terjadi berulang. Dan mungkin aku sudah ada pada titik tersebut.
Aku mengambil gulungan kertas yang diberikan oleh burung phoenix pekan lalu. Terlihat semakin lusuh karena aku beberapa kali membuka dan memasukannya ke dalam saku.
Permainan sudah dimulai. Yang berarti aku sedang berada dalam sebuah permainan. Aku tidak tau siapa yang bisa membuat dimensi seperti ini. Terlalu di luar logika jika bisa menciptakan permainan yang pesertanya adalah manusia asli dengan latar tempat dunia mimpi. Apakah ada alat khusus untuk mengambil mimpi seorang sehingga bisa diubah?
Petualangan besar sudah menantimu. Bermakna jika bukan hanya tempat ini yang menjadi akhir dari sebuah permainan. Ini masih awal, dan mungkin saja sudah ada puluhan tempat dan pertanyaan di dalamnya. Ini adalah teka-teki dan aku harus menyelesaikannya. Pasti ada jalan keluar dan tugasku adalah mencarinya.
Baiklah. Mungkin aku sudah tertinggal jauh oleh peserta lain. Aku sudah menyia-nyiakan tujuh hariku.
Aku keluar menuju balkon bangunan tinggi ini. Menatap ke bawah untuk melihat seberapa tinggi kaki menara. Seandainya aku memiliki rambut panjang seperti Rapunzel mungkin aku tidak perlu mencari jalan keluar dari menara ini. Tapi aku bukan dia, pemilik rambut emas yang bisa bersinar ketika bernyanyi. Aku adalah Kayla, gadis yang hanya memilih rambut sepinggang.
Ah sudah lupakan ide gila untuk turun menggunakan rambut. Tidak semudah itu sang dalang permainan membuat jawaban.
Aku kembali masuk ke dalam. Mencari sesuatu yang terlihat ganjil dan mencolok.
Tempat pertama yang aku geladah adalah kasur. Mencari sesuatu yang mungkin bisa menuntunku keluar. Namun, tidak ada apa-apa di tempat tidur ini.
Aku menatap empat lukisan yang menempel di dinding, lebih lamat dan lebih teliti. Pasti ada maksud tertentu gambar-gambar tersebut diletakkan di menara ini.
Lukisan pertama tidaklah terlihat aneh. Hanya ada gambar kerajaan dan taman bunga tulip. Begitu juga dengan lukisan kedua, hanya ada kegelapan dan serangga malam di sana.
Mataku menoleh ke lukisan ketiga. Bulan terlihat memancarkan sinarnya ke salah satu bunga tulip. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, bunga tersebut tidak terletak di tengah cahaya bulan.
"Satu kejanggalan kecil saja bisa menjadi pertanda jika ada petunjuk yang aku cari di sana," batinku.
Terlalu ceroboh jika sang pelukis menggambarnya tidak simetris karena ketiga lukisan yang lain terlihat simetris.
Aku menatap arah cahaya bulan. Jika sinar tersebut diteruskan, maka akan menunjuk ke sebuah meja. Ya, sebuah meja.
Segera aku berlari ke sana. Hanya tempat ini yang belum aku periksa. Dan semoga saja ada jawaban yang aku cari.
Aku langsung mengobrak-abrik benda yang ada di meja ini. Ada banyak sekali gulungan kertas tua di sini. Bermacam warna dan ukuran.
Aku mulai membuka gulungan demi gulungan tanpa ada yang terlewat. Semuanya berisi tentang kisah suatu kerajaan. Dan beberapa diantaranya berisi gambar peta suatu daerah yang tidak aku ketahui namanya.
Aku membuka laci yang ada di bawah meja. Ada beberapa gulungan kertas di sana. Aku menyingkirkan gulungan kertas lain yang sudah diperiksa dan menggantikannya dengan gulungan yang aku temukan. Hanya ada satu harapanku kali ini. Semoga aku menemukannya.
Aku membuka gulungan pertama. Sebuah surat. Aku yakin bukan ini yang aku perlukan. Aku membuka gulungan kedua. Sama, sebuah surat tertulis gulungan kedua.
Tinggal satu gulungan. Aku mulai membukanya, melihat tulisan apalagi yang tertera disana.
Astaga! Begitu terkejutnya aku ketika melihat tulisan ini. Tulisan ini, adalah tulisan aksara Jawa kuno. Aku paling tidak bisa membaca huruf-huruf yang semua bentuknya hampir mirip semua.

Apa benar, jika gulungan kertas ini adalah petunjuk dari teka-teki yang dari tadi aku cari?
Cuma ada satu cara untuk mengetahuinya. Aku harus bisa mengartikan tulisan ini. Besar kemungkinan jika kertas ini adalah petunjuknya.
Tapi bagaimana aku bisa membacanya? Aku harus belajar terlebih dahulu aksara ini. Dan di sini tidak ada buku yang berisi tulisan aksara Jawa kuno.
Aku harus bangun dan mulai mencari cara untuk menemukan buku berisi tulisan Jawa kuno itu. Hanya itu jalan yang bisa aku lakukan. Dan hanya itu cara yang ada.
-To be Continued-
A/n: Terima kasih sudah membaca cerita Please don't forget me. Semoga kalian suka dengan part kali ini.
Ngomong-ngomong adakah yang bisa baca tulisan itu? Orang Jawa mana suaranya?
Jangan lupa untuk menekan tombol vote dan memberikan komentar. See you on next chapter :)
Salam, Nu_Khy