Please Don't Forget Me

Please Don't Forget Me
07 | Mimpi yang Nyata



"Terlalu kebetulan jika aku dan dia mengalami hal yang salah. Namun, kenyataan mematahkan semua asumsiku tentang hal ini."


πŸ…Kayla SyafiraπŸ…


πŸ…πŸ…πŸ…


Aku menerjapkan mata beberapa kali,Β  hingga sebuah sinar matahari mulai menelisik masuk ke dalam pandanganku.


Dengan mata sedikit menyipit, aku melihat sekeliling. Tunggu, ini bukan kamarku. Dimana aku?


Beberapa detik aku baru paham jika aku sedang berdiri di tengah pendopo yang luasnya sekitar 40 meter.


Pendopo ini berbentuk segi 5 dengan 5 pasak di setiap sudutnya. Bunga-bunga merambat dan tertata rapi di setiap titik pendopo. Mawar, tulip, lili, kamboja, dan lainnya.


Apakah ini mimpi? Batinku mulai bertanya. Tetapi jika ini mimpi, kenapa semua ini terlihat sangat nyata?


Aku menepuk pipiku. Sakit. Apakah ini nyata? Aku kembali bertanya pada diriku sendiri. Seingatku aku sedang tertidur di kamar. Kenapa tiba-tiba aku ada disini?


Di saat aku sedang mencari jawaban kejadian janggal ini, dua orang muncul dari arah kananku.


Seorang lelaki dan perempuan dengan usia sekitar 29 tahun. Sang perempuan mengenakan jubah berwarna putih, mirip seorang sarjana dengan tudung di kepalanya. Dan sang laki-laki tak jauh berbeda, hanya warna jubahnya saja yang berbeda. Dia mengenakan jubah berwarna hitam.


Dua orang itu memangkas jarak denganku. Dan sekarang sudah tepat di depanku.


"Hai," sapa sang perempuan. Dia menurunkan tudungnya dan barulah aku bisa melihat dengan jelas wajahnya.


"Hai," balasku kikuk, melambaikan tangan dengan kaku.


"Kamu sudah siap, Kayla?" Kini giliran sang lelaki yang bertanya, tanpa melepas tudungnya.


Tunggu, kenapa dia bisa tahu namaku? Seingatku, aku tidak pernah melihat dan berkenalan dengan dua orang di depanku ini. Siap untuk apa? Dan bagaimana-,


"Kamu tidak perlu tahu kami mengetahui namamu darimana, Kayla Syafira. Semuanya sudah tertera dalam buku ini." Perempuan itu memperlihatkan sebuah buku dengan sampul berwarna hijau lumut. Tebalnya sekitar 5 senti.


"Tapi... bisakan kalian berdua menjelaskan apa maksud dari ini? Jujur aku tidak tahu apa-apa." Aku mencoba bertanya, berharap mereka mau menjelaskan.


"Waktu kami tidak banyak. Fajar tak lama lagi akan muncul, Kayla." Bukan penjelasan yang aku dapatkan, melainkan kalimat yang sama sekali aku tidak paham.


Lihatlah matahari di luar. Ini sudah siang. Kenapa lelaki itu mengatakan jika fajar akan muncul? Aneh. "Tapi, sekarang kan sudah-"


Perempuan di depanku mengatupkan tangan, lalu membukanya. Ada sebuah gulungan kertas disana. Entah darimana ia mendapatkannya. "Terimalah gulungan ini, dan segera ambil keputusanmu itu."


"Dan ingat, hanya ada sekali penawaran yang tidak semua orang akan mendapatkannya. Jika kamu menyetujuinya, keinginan terbesarmu akan terwujud. Meskipun itu terdengar mustahil."


πŸ…πŸ…πŸ…


Aku langsung menegakkan badanku. Beberapa butir peluh menempel di dahiku.


Astaga, ini hanyalah mimpi. Tetapi kenapa terlihat sangat nyata? Dan hei!


Aku terkejut bukan main ketika melihat genggaman tangan kananku. Gulungan ini, gulungan kertas yang tadi ada di tangan perempuan itu sekarang ada di genggamanku.


Aku melemperkan kertas ini saking terkejutnya. Melihatnya lebih lekat dari jarak beberapa senti.


Benar. Gulungan kertas ini ada di dalam mimpiku ini.


Sebuah gulungan kertas dengan tali berwarna merah darah dengan ikatan berbentuk pita. Astaga! Ada apa ini sebenarnya?!


Aku melihat jam dinding. Ya Tuhan! Sudah pukul enam. Aku harus bersiap, jika tidak aku bisa telat masuk sekolah.


Mengambil kembali gulungan kertas itu dan meletakkannya di nakas. Menyibakkan selimut dan berlari ke kamar mandi.


Tidak memerlukan waktu lama, aku keluar dari kamar mandi dengan handuk menyelimuti tubuhku.


Aku mengeringkan tubuh dan mengenakan seragam. Tak lupa, aku bercermin sebentar untuk mematutkan diri sebelum keluar dari kamar.


Setelah semuanya siap, aku mengambil tas dan turun ke ruang makan untuk sarapan.


Sudah ada Ibu yang sedang mengolesi roti dengan selai coklat dan Ayahku sedang membaca majalah dengan secangkir kopi di depannya.


"Selamat pagi, Ayah, Ibu." Aku menyapa mereka dengan senyuman. Aku menarik kursi dan mendudukinya.


Ibuku yang sedang menuangkan susu menjawab sapaanku, begitu pula dengan Ayahku.


"Ini sarapannya, Sayang. Cepat dimakan, setelah itu kamu berangkat." Ibuku menyuguhkan sepiring roti dan segelas susu.


Aku menerimanya, dan mengucapkan terima kasih. Aku mengambil setangkup roti selai dan memakannya.


Ayahku melepas kaca matanya, bukan rabun tetapi memang sudah kebiasaan jika beliau membaca majalah selalu mengenakan benda itu. Kaca mata itu diletakkan di meja, ia menyeruput kopinya. "Ngomong-ngomong sayang, lusa kamu ulang tahun kan? Kamu mau dirayakan atau tidak?"


"Ya harus dirayakan dong. Ya meskipun kecil-kecilan kayak tahun lalu." Bukan aku yang menjawab, melainkan Ibuku.


"Tapi, Bu. Kayla kan sudah besar. Gak usah dirayain aja ya, Bu." Aku tidak setuju dengan jawaban Ibuku kali ini.


"Sudah kamu makan aja, lalu berangkat. Ayahmu tidak bisa mengantar kamu ke sekolah hari ini," sahut Ibuku dengan nada mengusir


"Iya iya. Ngomong aja kalau kalian mau bahas ulang tahunku, kan?" ujarku malas. "Udahlah, Kayla berangkat dulu."


Aku meneguk susu terakhir. Kemudian beranjak untuk berangkat.


"Kayla berangkat dulu."


"Wa'alaikum salam. Hati-hati di jalan. Love you," jawab Ibuku sedikit berteriak karena aku sudah berada di ruang tamu.


Iya, Bu. Aku hanya menjawabnya di dalam hati.


πŸ…πŸ…πŸ…


Pukul enam lebih dua puluh. Aku berdiri di halte menunggu bus yang biasa aku naiki datang.


Aku mengenakan hodie berwarna merah marun dengan tudung menutup kepalaku. Aku juga mengenakan masker agar orang-orang tidak mengenalku.


Dua menit, bus itu baru datang. "Ayok, Neng." Tanpa diberi instruksi kedua kali aku langsung naik ke dalam.


Sudah banyak murid yang ada di dalam kendaraan roda empat ini. Hampir setengahnya bersekolah di SMP Kita Bisa, sekolahku.


Mengembuskan napas, aku berjalan menuju kursi yang tersisa.


Aku merasa sedikit risih dan canggung karena harus duduk di tengah-tengah. Kenapa hanya bangku ini yang tersisa?!


"Eh, tunggu. Itu Kayla kan?"


"Mana mana?"


"Itu lho yang baru datang. Itu!"


"Ah masa sih?!"


"Iya, liat makanya jangan makan mulu."


Aku memilih untuk menundukkan kepala, pasti sekarang mereka sedang melihat ke arahku.


"Kamu Kayla?"


Astaga, hampir saja aku terlonjak karena perempuan yang ada di sampingku tiba-tiba menepuk pundakku.


"Eh, iya." Aku menjawab pelan.


"Itu tuh, teman-teman kamu pada nunjuk-nunjuk kamu. Teman sekolahmu kayaknya."


Aku bersyukur karena perempuan ini tidak satu sekolah denganku, jadi dia tidak tau apa-apa tentang diriku.


"Pagi, Kayla," sapa seorang. Dia telah berdiri di sampingku. "Kamu kenapa? Kok pake masker? Sedang flu? Atau jangan-jangan...." Orang itu tidak melanjutkan kalimatnya.


Jangan-jangan apa, ya ampun?!


"Jangan-jangan dia kena virus. Iyuhh." Seorang penumpang lain menyahut.


Aku mendongak, menoleh ke samping kiri untuk mengetahui siapa yang menyapaku tadi.


Seorang siswi, satu sekolah denganku. Pantas saja dia tau aku.


Aku melepas maskerku dan memasukannya ke dalam saku. Sudah ketahuan penyamaranku. Semuanya sia-sia. "Ada apa ya?" tanyaku.


"Kan benar! Dia Kayla!"


Astaga dragon. Haruskah seheboh itu?


"Kebetulan banget ini. Aku ada PR yang belum selesai. Kamu bisa bantu kan?" Siswi itu menatap penumpang yang ada di bangku seberangku. "Heh kamu pindah dulu gih."


Penumpang itu langsung nurut. Berdiri dan pindah ke bangku yang semula diduduki siswi ini.


Dia membuka tasnya, hendak mengambil bukunya yang bertepatan dengan berhentinya bus yang aku naiki.


Seseorang naik. Lelaki mengenakan hodie hitam. Tunggu, aku tau dia. Dia lelaki yang waktu itu duduk disampingku. Astaga, kenapa ada dia sih? Dan hei apa yang ada di tangannya?


"Eh, gak jadi lah. Udah selesai tugasku. Terima kasih." Tanpa balasan dariku, siswi yang tadi di seberangku beranjak dan kembali pindah ke belakang. Aku tidak tau apa alasannya.


Oke, tidak masalah. Toh aku tidak rugi bukan?


Kembali ke lelaki itu. Dia memilih berdiri karena semua bangku telah penuh terisi. Suasana bus yang semula ramai kini langsung hening. Kenapa ini? Apa gara-gara ada lelaki itu? Sebenarnya siapa sih dia?


Aku menatap lamat tangan lelaki itu. Sebuah gulungan kertas dengan tali berwarna merah darah. Sama seperti gulungan kertas yang ada di dalam mimpiku tadi malam.


Apa maksudnya? Kenapa lelaki itu juga memiliki gulungan kertas itu?


Terlalu kebetulan jika aku dan dia sama-sama memiliki gulungan kertas yang sama di waktu yang sama pula.


-To be Continued-


A/n: Terima kasih sudah membaca cerita Please don't forget me. Jangan lupa untuk menekan tombol vote dan memberikan komentar.


Semoga kalian suka dengan part kali ini. See you on next chapter :)


Salam, Nu_Khy