Please Don't Forget Me

Please Don't Forget Me
05 | Seorang Lelaki Misterius



"Ada yang mengatakan jika orang misterius selalu menarik perhatian. Bukan karena penampilannya yang aneh, melainkan karena sikapnya. Dan aku setuju dengan pedapat itu."


πŸ…Kayla SyafiraπŸ…


πŸ…πŸ…πŸ…


Bel pulang telah berbunyi delapan menit yang lalu. Dan di sinilah aku berada. Di halte bus menunggu kendaraan roda empat tersebut datang.


Reta sempat mengajakku pulang bareng, tapi aku menolaknya karena kita berbeda arah. Dan akhirnya dia lebih dulu pulang.


Aku kembali menatap ponsel yang sedari tadi aku pegang. Ada satu pesan yang dikirim oleh Ayahku.


Sayang, Ayah minta maaf ya gak bisa jemput kamu hari ini. Ada meeting dadakan. Kamu pulang naik bus aja ya. Sekali lagi Ayah minta maaf. Love you.


Masih tetap sama kalimatnya. Tidak akan berubah meskipun aku melihatnya berkali-kali.


Jangan heran jika aku diperbolehkan membawa benda tipis ini ke sekolah. Sebenarnya ada larangan membawa ponsel atau sejenisnya ke sekolah, tapi entah alasan apa sekolah mengizinkanku membawanya. Aku menyetujuinya saja, toh tidak ada masalah bukan?


Aku mengenakan jaket yang sempat Ayah berikan tadi pagi, menutup kepalaku dengan ketu berharap orang lain tidak mengenaliku. Aku bersyukur karena Ayahku sempat melemparkan jaket ini kepadaku.


Aku menatap jam di tanganku. Pukul satu lebih tiga puluh sembilan menit. Masih ada enam menit sebelum bus biasanya datang.


Aku memilih berdiri karena tempat duduk halte telah penuh terisi murid-murid SMP Kita Bisa yang sama-sama menunggu angkutan itu.


Namun tiba-tiba sebuah tepukan mendarat di pundakku. Sontak aku menoleh dan melihat siapa pelaku tersebut.


"Syukurlah, Kayla. Kamu belum pulang." Seorang siswi perempuan. Kelas VIII. Aku tau dari identitas yang menempel di bajunya. "Aku butuh banget bantuanmu. Sekarang," ujarnya kemudian. Siswi itu mengatur napasnya yang saling berkejaran.


"Mmm... Ada apa ya? Kok kamu keliatan capek banget," tanyaku sembari memasukkan ponsel ke saku rok. "Bukannya sekarang udah jam pulang?"


"Iya. Ini udah jam pulang. Tapi Bu Mira menyuruhku untuk mengumpulkan tugasnya hari ini juga. Dan aku belum selesai," jelasnya cepat. "Aku bisa dihukum jika tidak mengumpulkannya hari ini."


"Terus apa hubungannya dengan aku?" tanyaku dengan alis bertaut.


"Kayla, please tolong aku. Tugasku belum selesai. Tolong bantu aku. Please..." Siswi itu memohon, mengatupkan kedua tangannya.


"Tapi aku mau pulang, dan tiga menit lagi bus itu datang. Jika aku membantumu aku bisa ketinggalan bus itu." Aku menolaknya dengan mengucapkan alasan yang ada. Berharap siswi itu mau pergi meninggalkanku dan kembali mengerjakan tugasnya.


"Please, Kay. Masih ada waktu, lagian bus itu juga belum datang." Siswi itu terus memohon yang membuatku risih.


Iya, aku tau sekarang memang belum datang. Tapi tak lama lagi pasti kendaraan itu datang.


"Maaf, aku gak bisa bantu kamu kali ini. Aku harus pulang. Ada tugas lain di rumah." Aku tetap kukuh menolak. Karena sekali aku ketinggalan bus, maka aku harus menunggu 35 menit lagi. "Itu busnya udah keliatan." Aku menunjuk ke arah kanan, tepat di kendaraan berwarna merah tersebut.


"Dasar pelit! Ngomong aja gak mau bantu aku! Sok-sokan nyari alesan segala! Aku tau kamu itu pintar dan aku bodoh. Tapi bisakah kamu menghargai orang yang lebih rendah darimu?" ujar siswa itu, raut kesal sangat tertera di wajahnya.


"Maaf, aku harus pulang." Aku memasang kembali penutup kepala jaketku dan berjalan masuk ke dalam bus.


"Dasar manusia pilih kasih! Tidak bisa menghargai orang lain! Najis! Aku gak butuh bantuanmu lagi. Dasar sok pintar! Cih!" seru gadis itu setelah aku masuk ke dalam bus. Samar, tapi aku masih bisa mendengarnya.


Inilah yang tidak aku sukai. Selalu ada orang yang keras kepala meminta bantuanku. Meskipun aku menolaknya karena ada hal lain yang harus aku lakukan.


Dan selalu kalimat buruk yang aku dengar setelahnya. Membuatku merasa bersalah.


Sudahlah, Kayla. Selalu ada cobaan yang datang menimpamu. Dan hanya ada satu cara kamu melewatinya, 'sabar.' Ujarku terhadap diriku sendiri.


"Ayok neng, udah mau jalan ini busnya. Buruan atuh duduk," seru sang sopir yang membuatku terbangun dari lamunan ini.


"Eh, iya pak."


πŸ…πŸ…πŸ…


Seorang penumpang naik, menarik perhatianku yang sedari tadi sedang menikmati suasana kota.


Lelaki dan seorang pelajar. Dia berhenti sebentar, bola matanya bergerak menyusuri seisi bus untuk mencari kursi kosong yang tersisa. Yang kemudian kembali berjalan.


Lelaki itu terus berjalan, hingga berhenti tepat di samping kursi yang aku tumpangi. Lelaki itu langsung duduk disampingku, tanpa meminta izin padaku.


Eh? Untuk apa dia meminta izin kepadaku? Ini kan kendaraan umum. Jadi bebas dong siapa saja boleh duduk di kursi manapun.


Aku melihat ke sekeliling, tidak ingin besar kepala. Dan aku tau alasannya. Semua kuris telah terisi, jadi wajar dia duduk disampingku.


Lelaki dengan tinggi sekitar 170 senti dan memiliki rambut yang tertata rapi meskipusn sudah jam pulang sekolah, begitu juga dengan seragam yang dikenakan. Wajahnya tampan dan hidungnya mancung sempurna. Kulitnya berwarna putih cerah tanpa ada goresan luka disana. Alisnya mirip ulat bulu, tebal dan hitam.


Astaga Kayla! Kenapa kamu terus menatap lelaki disampingmu itu?!


Lelaki itu meletakkan tasnya di depan, mengambil buku dan mulai membacanya.


Cukup Kayla! Kenapa kamu ini?! Tidak biasanya kamu memerhatikan seseorang dengan begitu detail. Apalagi dia adalah orang asing bagimu.


"Ada yang salah denganku?" tanyanya dengan menatap ke arahku. Dan di saat itu pula mata kami saling bertemu.


Sial! Aku tertangkap basah telah memperhatikannya. Terbukti dia merasa risih karena tatapanku ini dan bertanya kepadaku.


Aku menggeleng gagap. "Eh, eng-gak, enggak ada kok." Aku memalingkan wajah kearah kaca, melihat pemandangan jalanan dan pohon-pohon yang terlihat berlarian.


Tidak ada balasan. Lelaki itu kembali membaca buku yang ada di tangannya. Aku mengintipnya dari balik jaket yang aku gunakan.


Ohh, aku tau buku itu. Buku tentang Olimpiade Nasional. Mungkin dia akan mengikuti lomba tersebut. Pungkasku. Berarti dia adalah anak yang cerdas.


Tapi kenapa dia terlihat sangat pendiam? Sangat tidak acuh kepada orang di sekitarnya. Bahkan sesekali aku melihat gadis yang ada disebelahnya -bukan aku- mengajaknya bicara. Tapi lelaki ini masih saja diam. Terus fokus kepada buku di depannya.


Ah memang lelaki yang sangat misterius. Memang sih tampangnya lumayan ganteng, gak lumayan lagi sih, memang udah ganteng. Tapi sifatnya itu sangatlah dingin.


Bus kembali berhenti. Dan beberapa penumpang kembali naik, mereka, yang kebanyakan pelajar, memilih berdiri karena semua kursi telah penuh terisi.


Lima belas menit, bus tidak berhenti lagi. Dan selama itu pula pikiranku masih fokus kepada lelaki di sampingku ini.


Hingga aku beranjak berdiri, agak ragu untuk mengatakan kepada lelaki ini jika aku harus ke depan memberi tau supir karena tak lama lagi aku sampai tujuanku berhenti.


Aku menggeleng. Kenapa ragu? Kamu malu? Memang siapa dia? "Permisi, aku harus ke depan."


Lelaki itu tak menoleh. Hanya menutup bukunya dan menggeser kakinya keluar agar aku bisa lewat.


Aku berjalan ke depan. Memberi tahu sang supir untuk berhenti di halte berikutnya.


Empat puluh lima detik, akhirnya bus berhenti. Aku membayar ongkos dan berjalan turun dari bus ini.


Aku sempat menoleh ke belakang. Dan lelaki itu, lelaki yang tadi disampingku memperhatikanku. Entah apa tujuannya.


Entahlah, aku tidak tau siapa dia. Dan aku tidak peduli kepadanya. Yang jelas, dia adalah lelaki yang dingin dan misterius.


-To be Continued-


A/n: Hay, terima kasih sudah membaca cerita Please don't forget me sampai part ini. Semoga kalian tetap suka dengan cerita absurd ini.


Jangan lupa untuk menekan tombol vote dan memberikan komentar untuk part ini.


See you on next chapter....


Salam, Nu_Khy