
Hari itu Daffin belum mengetahui bahwa Aya telah kembali diculik. Ia masih fokus dengan pikirannya mencari Arka dan cara untuk meladeni permainan Laura.
Semua pelajaran yang harusnya masuk penuh ke dalam otaknya pun perlahan tak lagi dia perhatikan. Bahkan ketika wali kelasnya mengumumkan bahwa sebentar lagi akan ada uji coba ujian tengah semester, Daffin juga tak mendengarnya.
Karena kelasnya berbeda dengan Aya, Daffin tak tahu bahwa Aya tak masuk sekolah. Dan pada saat jam istirahat tiba, ada seorang anak yang mengenal Daffin dan Aya menghampiri Daffin ke kelasnya.
"Fin, lo tau nggak kenapa Aya nggak masuk hari ini?" tanya gadis itu.
"Aya nggak masuk?" tanya Daffin balik.
"Lah emang kalian udah putus? Dia nggak bilang? Dia nggak masuk" jawab gadis itu.
Meski sedikit heran karena Aya tak mengatakan apapun, Daffin mengatakan pada gadis itu bahwa dia akan mencari tahu soal Aya.
Setelah gadis itu pergi dari kelasnya, Daffin langsung mencari Laura di kelasnya.
"Hai baby, kamu nyari aku?" tanya Laura dengan penuh percaya diri.
Dia bahkan berani menyambut Daffin dengan pelukan. Menahan diri, Daffin hanya diam sambil melepaskan pelukan itu secara perlahan.
"Apa lo nemui Aya?" tanya Daffin tanpa basa-basi.
Laura mundur perlahan dan tersenyum memicing. Dia seperti sudah tahu bahwa Daffin akan mencarinya untuk alasan itu.
"Kamu kesini cuma buat nyari dia? Kenapa? Kenapa tanya aku?" tanya Laura dengan wajah sok polos.
"Laura, gue udah capek ikutin permainan lo. Hentikan sekarang juga! Apa lo nemui Aya?"
Tapi Laura hanya menggidikkan bahunya seolah mengejek Daffin yang sudah kesal karena menunggu jawaban darinya.
"Oke, kalau mau lo kayak gini" ucap Daffin.
Saat Daffin berbalik, Laura memberhentikan langkahnya dengan mengucapkan sesuatu.
"Kalau kamu mau selamatkan Aya, putuskan hari ini juga bahwa kamu akan meninggalkan dia! Selamanya! Dan kamu jadi pacar aku!"
Daffin kembali membalikkan badannya dan menatap penuh kecurigaan.
"Selamatkan? Lo ngapain Aya, huh?" teriak Daffin emosi.
"Tenang beib! Kalau kamu mau tahu, aku tunggu sampai jam pulang sekolah. Temui aku di depan ruang kelas ini kalau kamu setuju jadi pacarku!" lanjut Laura.
"Jangan bermimpi!" jawab Daffin.
Dia pun meninggalkan kelas Laura setelah menendang sebuah kursi. Ia sedikit meragukan ucapan Laura yang membahas soal Aya. Tapi melihat Laura cukup berani dan mampu, pikirannya mulai terganggu. Dan Wajah Laura pun juga langsung berubah drastis setelah Daffin pergi. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan menekan beberapa tombol di atasnya. Seperti mengirimkan sebuah pesan.
***
Sementara di gudang itu, Aya masih bergerak sekuat mungkin untuk melepaskan semua ikatan yang mengikat dirinya. Ia juga berusaha mengeluarkan sumpalan di mulutnya dengan lidahnya.
Setelah pria asing itu melecehkan dirinya dengan berbagai sikap yang tak pantas, dia meninggalkan Aya kembali sendirian di dalam gudang gelap itu.
Sebenarnya Aya merasa sangat ketakutan, air matanya masih belum berhenti mengalir. Apalagi saat pria itu melecehkan dirinya dengan sentuhan dan secara verbal. Dalam pikirannya dia hanya bisa memanggil Daffin agar menolongnya, meski ia tahu itu mustahil.
Saat pikiran Aya masih berspikulasi tentang orang itu, pintu gudang kembali terbuka. Kali ini datang seseorang yang wajahnya sudah sangat ia kenali, Arka.
"Hai, Ay!" sapa Arka dengan wajah yang terlihat santai.
Aya berhenti bergerak. Matanya kini menyorot tajam pada sosok yang berdiri di depannya. Melihat Aya tak membalas sambutannya, Arka pun mendekat dan melepaskan sumpalan yang ada di mulut Aya. Tanpa diduga, si Aya langsung meludahi ke arah wajah Arka seketika setelah dia melepas sumpalannya.
"Dasar bajingan!" ucap Aya dengan geram.
Arka terkejut namun dia tutupi dengan senyuman liciknya seperti biasa. Setelah membersihkan wajahnya, Arka kembali mendekati Aya. Kali ini dia duduk berjongkok di depan Aya. Wajahnya berada tepat di depan wajah Aya yang masih menyorotinya dengan tajam.
"Kamu tau? Apa yang aku suka dari kamu, Ay?" kata Arka.
"Aku gak peduli!" jawab Aya.
"Kepolosan dan keceriaan kamu."
Kini Aya membuang mukanya agar tidak memandang wajah Arka yang memuakkan baginya. Namun sekarang Arka berdiri dan juga menarik Aya untuk berdiri.
"Tapi semenjak kamu kenal sama Daffin apalagi pacaran sama dia, aku muak ngeliat kalian berdua" lanjutnya.
"Nggak usah nyalahin Daffin! Ini semua ulah lo sendiri!" teriak Aya.
"No! Ini semua karena kamu!" teriak Arka balik.
Arka bergerak sambil mencengkeram kerah seragam Aya dengan kencang. Kali ini wajahnya sudah berubah. Ada sorot mata yang penuh dengan kebencian di dalamnya. Arka mengatakan bahwa semua hal yang terjadi padanya selama ini adalah hasil dari rasa cintanya pada Aya. Semenjak ia bertemu dengan Aya di atap gedung sekolah saat itu, Arka sudah menaruh perhatiannya pada Aya. Semakin lama ia mengenal dan bergaul dengan gadis itu, rasa suka Arka berubah menjadi cinta. Namun setelah bertemu dengan Daffin, ia mulai menahan kekesalannya setiap melihat Aya berinteraksi dengan Daffin.
Arka berusaha menjatuhkan Daffin dengan kembali melibatkan dirinya pada narkoba. Ia berharap Aya akan memandangnya buruk dan meninggalkan Daffin. Tapi yang ada justru dia semakin dekat dengannya.
"Jadi maksud lo, ini semua karena gue?" tanya Aya tak percaya.
Arka mengiyakan dengan gerakan kepalanya. Dan saat ponselnya berbunyi, perhatiannya mulai teralihkan. Ia menerima panggilan telepon yang datang.
Setelah beberapa saat menerima telepon itu, wajah Arka mulai berubah.
"Huh, sampai akhir dia masih saja sok" gumam Arka.
"Arka! Lepaskan gue!"
Tiba-tiba Aya berteriak hingga membuat Arka memalingkan wajahnya. Dengan perlahan ia mendekati Aya. Bukan untuk melepaskan ikatannya, melainkan melakukan hal yang tak terduga.
Arka memegang wajah Aya dengan keras dan langsung menciumnya dengan hebat. Seberapa pun kerasnya usaha Aya untuk melepaskan diri, Arka tak membiarkannya lolos.
"Dia masih saja sok peduli denganmu!" ucap Arka lirih di depan wajah Aya yang mulai menangis.
Arka kembali mencengkeram Aya dalam genggamannya. Kali ini dia bahkan lebih berani dari sekedar mencium bibir Aya. Dia mulai menggerayangi tubuh Aya hingga membuat gadis itu merasa jijik.
"Aku pengen tahu reaksi Daffin kalau tahu ceweknya pulang dalam keadaan sudah tidak perawan" kata Arka.
Mendengar ucapan gila itu, mata Aya langsung membelalak. Ia ingin teriak tapi mulutnya langsung ditutup dengan bibir Arka yang mulai ******* bibirnya.
Dan hari itu, Aya telah kehilangan kesucian dirinya yang selama ini ia jaga.