
Daffin menelepon nomor yang digunakan Arka untuk menghubunginya. Namun Arka tidak mengangkat telepon Daffin.
Sesaat setelahnya, Arka mengirimkan pesan bahwa ia tidak bisa berbicara dengannya lewat telepon. Ia hanya akan mengabarinya lewat pesan singkat.
“Lo dimana? Gue akan kesana!” tulis Daffin.
Lama Arka membalas pesan Daffin. Hingga beberapa menit kemudian ia membalas dan memberitahu dimana posisinya berada saat ini.
Gue di rumah lo.
Daffin terkejut begitu membaca pesan dari Arka. Bagaimana dia bisa tahu rumah yang selama ini ia sembunyikan? Pikiran itu mengganggu Daffin selama perjalanan menuju rumahnya.
Daffin meminjam motor teman sekelasnya untuk mengejar waktu. Sebab Arka bisa saja berubah pikiran dan kembali menghilang.
Setelah hampir setengah jam berkendara, akhirnya Daffin bisa melihat wajah Arka. Wajah yang berubah menjadi pucat, kurus dan tak terurus. Dihampirinya Arka yang terlihat sedikit ketakutan dan menjaga jarak dengan Daffin.
“Lo dari mana aja, Ar?” tanya Daffin pelan.
“Sejak kabur dari gudang itu, gue sembunyi di sini” jawabnya.
“Trus lo makan apa?”
Arka menunjuk beberapa bungkus mie instan yang ada di pojok ruangan tempat mereka mengobrol. Arka juga menceritakan bagaimana ia bisa menemukan tempat itu.
Hari dimana ia membawa Aya ke rumah itu, ternyata Arka membuntuti mereka. Ia juga pernah membuntuti Nona dengan maksud untuk mencari bahan agar Daffin mencurigai Nona sebagai dalang dari masalah yang menimpa Aya.
“Terus masalah kematian ayahnya Aya gimana?” tanya Daffin.
“Gue emang nggak sengaja dorong beliau, Fin. Tapi gue nggak tahu kalau itu bisa membunuh beliau. Dorongan gue juga nggak keras-keras banget” terangnya.
Seumur hidup Daffin mengenal Arka, baru kali itu ia melihatnya menangis. Entah tangisan itu hanya show atau memang berasal dari hatinya, Daffin tidak tahu pasti.
Daffin memutuskan untuk membiarkan Arka tinggal di rumahnya. Ia tidak mungkin membiarkannya terus diburu atau luntang lantung di jalanan. Arka pun sudah kehilangan sekolahnya. Ia tak harus kehilangan hidupnya juga.
Satu hal yang Daffin minta dari Arka adalah agar dia tidak mengkhianatinya untuk kedua kali. Ia membiarkan Arka karena Daffin memikirkan Aya. Ia masih ingin menghajarnya saat itu juga, tapi Daffin menahannya.
“Kalau lo ngerasa gue berkhianat lagi, lo bisa bunuh gue, Fin” jawab Arka.
“Gue nggak akan ngelakuin itu. Kalau lo berkhianat, gue pastiin lo bakal menderita seumur hidup lo” ancam Daffin.
Ia pun meninggalkan Arka setelah ia terlelap dengan sendirinya. Sebelum ia menyalakan motornya, Daffin melihat banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Aya dan Nona.
Daffin pun membaca pesan dari Nona terlebih dahulu, karena ia merasa Aya telah mengetahui bahwa ia berbohong padanya.
Lu gila ya? Aya nelpon gue tanya soal konsultasi kesehatan. Untung gue ngeh kalo lo bohong. Gue jawab sesuai skenario yang lo buat. Sekarang lo dimana?
“Sial!” gerutu Daffin.
Ia pun menarik napasnya dan mencoba menelepon Aya.
Tuut
“Halo!” suara Aya terdengar lesu.
“Hei, tadi kamu nelpon? Ada apa?” tanya Daffin berpura-pura tak tahu.
“Kamu dimana? Belum pulang?”
“Ini baru mau pulang. Kamu mau aku mampir? Mau dibawain sesuatu?” tanya Daffin mencoba mengalihkan topik.
Aya mengiyakan dan meminta dibawakan martabak manis. Daffin merasa lega setelah merasa Aya tidak mengetahui kebohongannya. Ia juga berterimakasih pada Nona karena telah membantunya dengan sigap. Ia meneleponnya dan mengatakan akan menemuinya besok di sekolah dan berjanji akan menceritakan semuanya.
***
Daffin meminta Nona menemuinya di area belakang sekolah, tempat yang sama saat Nona membawanya waktu itu.
“Oke, gue siap dengerin!” kata Nona.
Daffin menceritakan semua tentang pertemuannya dengan Arka, dan apa yang mereka bicarakan. Nona pun tak memberikan reaksi apapun selain menghela napasnya.
“Iya. Terus masalah Benny cs udah lo urus belum? Gue nggak mau mereka ganggu Aya lagi” kata Daffin.
“Udah, lo tenang aja!” jawab Nona.
Daffin memang berusaha mengembalikan hidup Aya yang tenang seperti sebelum mengenalnya. Ia mencoba menghapus nama Aya dari semua orang-orang yang dulu mengejarnya. Memang tak semudah yang Daffin pikirkan, tapi berkat bantuan Nona akhirnya mereka bisa melakukannya dengan rapi.
Nona membuat Benny cs tak bisa lagi mengancamnya dan anak-anak lain. Ia menggunakan kecerdikannya dan kerjasamanya dengan anak buah Benny yang ingin membelot dan melepaskan diri darinya. Berkat perhitungan dan strategi dari Daffin juga, mereka bisa mendapatkan buku catatan mengenai seluruh transaksi penjualan obat Benny cs.
Nona dengan lantang dan berani mengancam Benny akan memberikan buku itu pada polisi jika dirinya atau teman-temannya merasa terancam. Ia juga menggunakan nama Benny sebagai ancaman pada kelompok lain yang juga pernah mengejar mereka.
“Kalau dari awal lo seperti ini, mungkin lo bisa gue angkat jadi adik gue, Non” kelakar Daffin.
“Dih, ogah! Orang dari dulu gue suka sama lo” balas Nona disusul dengan tawanya yang khas.
Naasnya, percakapan candaan itu didengar oleh Aya hanya pada bagian ucapan Nona saja.
“Lagi pada clbk?” sindirnya.
Mendengar suara Aya muncul tiba-tiba di belakang mereka, sontak membuat Daffin dan Nona terperanjat. Terlebih Daffin yang seperti trauma akan diputuskan lagi oleh gadis cerewet itu.
“Ay, Ay! Nggak gitu!” seru Daffin.
“Lo kok masih cemburuan aja sih sama gue?” tanya Nona dengan nada menggodanya.
Sementara mereka berdua sibuk mencari alasan, Aya hanya menatap mereka dengan tatapan mengintimidasi. Tapi seketika wajahnya berubah tertawa karena sudah tidak tahan lagi dengan sandiwaranya.
“Kalian lucu banget kalau ketakutan gitu” kata Aya sambil tertawa keras.
Daffin dan Nona pun hanya saling pandang dengan penuh keheranan.
“Tapi bagus, setidaknya aku tahu wajah ini kalau kalian beneran selingkuh di belakangku” lanjut Aya lagi.
“Ay!” teriak Daffin dan Nona bersamaan.
“Oya, aku mau tanya lagi sama kalian” kata Aya sambil menyeka air matanya yang keluar gara-gara terlalu banyak tertawa.
Daffin dan Nona yang mulai kesal kini mulai gugup dan terdiam lagi. Entah kenapa setiap Aya membicarakan sesuatu yang sepertinya penting, mereka berdua akan merasa gugup dan takut tanpa alasan yang jelas.
“Apa, Ay?” tanya Daffin.
“Hmm, kapan kalian akan jujur sama aku?”
Daffin dan Nona memasang wajah tak berdosa dan seolah tak tahu apa maksud dari pertanyaan Aya.
“Apa maksud lo?” tanya Nona.
“Kapan kalian jujur kalau kemarin kalian bohong soal konsultasi kesehatan itu?” tanya Aya lagi.
Glekk
Nona dan Daffin sama-sama menelan ludah mereka. Mereka bingung bagaimana Aya bisa mengetahui kebohongan mereka, padahal Nona sudah mengikuti skenario Daffin saat Aya meneleponnya.
Mereka berdua pun masih terdiam karena tak tahu harus menjawab apa. Akan lebih bahaya lagi kalau Aya meminta mereka menjawab satu pertanyaan tak terduga dalam waktu yang bersamaan.
“Kalian kok diem? Bingung ya, aku tahu dari mana?” lanjut Aya terkekeh, ia suka sekali melihat raut wajah mereka berdua yang ketakutan dan bingung.
“Ay, soal itu..” Daffin mencoba menjelaskan, tapi Nona mencegahnya dengan memegang lengan bajunya.
“Oke, oke! Gue jujur! Kemarin gue minta Daffin nemenin gue ketemu sama Arka. Puas lo?” teriak Nona kesal karena merasa dipermainkan oleh Aya yang bertele-tele.
Daffin tak percaya Nona menutupi semuanya seperti itu. Nona pasti berpikiran jika dirinya yang mengungkapkan cerita soal Arka, Aya akan kembali memutuskannya.
Tapi yang mereka lihat, justru Aya yang memasang wajah tersenyumnya.
“Kalian bisa tolong aku nemuin Arka nggak?” tanya Aya.
Daffin dan Nona merasa sedang naik roller coaster yang membuat jantung mereka naik turun karena ucapan Aya.