
Aya meninggalkan Arka dengan emosi yang meluap. Ia bahkan tak menyesal telah menampar Arka. Aya tak habis pikir kenapa anak itu bisa melakukan seburuk itu pada Daffin, yang tak lain adalah adiknya sendiri. Inilah alasan Aya sebisa mungkin menghindari Arka begitu tahu tentang perasaannya. Selain karena rumor, Aya sendiri sudah merasa tidak pernah nyaman berada di samping Arka.
Dengan menahan amarahnya, Aya turun mencari Daffin. Sejak pagi dia juga belum melihatnya di sekitar sekolah. Ia mencarinya kemanapun yang memungkinkan Daffin berada di sana. Tapi belum sempat menemukannya, tiba-tiba Aya merasa pusing. Langkahnya menjadi sedikit goyah. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding kelas, dan mencoba berdiam diri terlebih dahulu.
Aya merasakan dirinya seperti teringat akan sesuatu yang terlupakan dari ingatannya. Ada beberapa bayangan yang sekilas terlintas di benaknya. Ia melihat bayangan dirinya yang tengah tak sadarkan diri di suatu tempat. Lalu bayangan itu berganti menjadi bayangan dirinya yang tengah digendong oleh seseorang. Sayangnya Aya tak bisa melihat wajah orang itu. Dan akhirnya Aya jatuh pingsan di depan kelas Daffin.
Satu jam kemudian Aya membuka matanya dan melihat Daffin berada di dekatnya. Ia tertidur dengan tangan yang sedang memegang tangan Aya.
“Fin..” ucap Aya lirih namun cukup untuk membuat Daffin terbangun.
“Hei, apa kamu baik-baik aja?” tanyanya lembut.
Ternyata Daffin membawa Aya ke ruang kesehatan sekolah. Ia melihat Aya yang terjatuh setelah kembali dari gudang.
Aya mengangguk dan Daffin membalasnya dengan senyumnya yang manis. Beberapa saat setelahnya pintu ruang kesehatan dibuka oleh seseorang yang tak lain adalah Arka.
Raut wajah Aya berubah cemas dan berusaha terus memalingkan pandangannya dari Arka. Daffin yang belum tahu permasalahan di antara mereka berdua, hanya menyapa Arka seperti biasa. Namun saat Arka mencoba mendekati Aya, Daffin melihat ekspresi Aya berubah menjadi tak nyaman. Ia bahkan terus menggenggam tangan Daffin dan genggamannya semakin erat.
“Kamu kenapa?” bisik Daffin.
Aya hanya menggeleng kecil karena Arka tengah menatapnya. Daffin seperti mengetahui kode dari gerak gerik Aya yang aneh, akhirnya mengajak Aya keluar dari ruang kesehatan.
“Gue mau antar Aya pulang dulu, tolong lu ijinin ke guru!” kata Daffin pada Arka.
“Oh, oke” jawab Arka pendek.
Namun Daffin tidak membawa Aya pulang ke rumahnya. Dia membawanya ke suatu tempat yang tak seorang pun tahu bahwa Daffin pernah ke sana. Tempat itu adalah tempat persembunyian Daffin selain Rumah Kampung.
Aya melihat sebuah rumah yang sangat asri dengan taman bunga kecil yang ada di halaman depan. Rumah itu dikelilingi pagar kayu dan pepohonan di sekitarnya. Tidak akan ada yang percaya bahwa rumah itu masih di dalam kota Jakarta.
“Fin, ini dimana?” tanya Aya.
“Masuklah! Ini rumahku” jawab Daffin.
Aya tak percaya ini rumah Daffin. Sebab yang Aya tahu rumah Daffin adalah yang ia tinggali bersama Arka.
“Ini rumah pemberian nenek untukku. Nggak ada yang tahu soal rumah ini, termasuk Arka” ujar Daffin.
Aya penasaran dengan cerita Daffin, tapi ia tak berani menanyakannya lebih lanjut karena takut menyinggung atau menyakiti perasaannya.
“Ay, aku tahu kamu nyembunyiin sesuatu soal Arka. Gimana kalau kita selesaikan semuanya di sini, hari ini juga” kata Daffin.
“Apa maksudmu, Fin”
Karena Daffin nampak sangat serius, dan Aya sudah merasa jengah dengan sikap Arka, akhirnya dia setuju untuk mereka saling membuka semuanya saat itu juga.
Aya menceritakan tentang ucapan Arka padanya saat mereka di atap. Daffin tak terlalu terkejut mendengar hal itu. Justru yang membuat Daffin sedikit terkesiap adalah saat Aya menceritakan saat-saat dia melihat bayangan dirinya sesaat sebelum pingsan.
“Maksudmu, kamu ingat ada yang gendong kamu gitu?” tanyanya.
Aya mengangguk. Ia juga mengatakan bahwa ada yang memberinya sesuatu saat ia antara sadar dan tidak. Ia tidak tahu apa yang diberikan orang itu padanya.
“Apa kamu ingat siapa orangnya?"
“Enggak, tapi aku nggak ingat ini kapan, Fin” ujar Aya.
Daffin yang sudah lama curiga, kembali mengingat pesan masuk di ponsel Arka saat Aya menghilang waktu itu. Dia menceritakannya pada Aya yang spontan langsung menganga tak percaya.
“Jadi Arka yang..” ucap Aya terputus.
“Kemungkinan besar iya, tapi kita nggak ada bukti, Ay” jawab Daffin.
Aya tak bisa mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Bagaimana bisa Arka melakukan hal segila itu. Ia bahkan tak tahu apa yang dimasukkan dalam dirinya hingga tak sadarkan diri. Parahnya lagi ketika Aya bangun, ia tak mengingat apapun yang terjadi padanya. Bahkan dengan santai ia terbangun sambil mengomeli Daffin yang mencarinya seharian penuh kala itu. Arka benar-benar sudah gila, pikir Aya.
Daffin menenangkan Aya dengan memeluk dan menepuk punggungnya. Ia tahu Aya sangat terpukul. Daffin juga merasa bersalah karena telah lalai menjaga Aya. Jika terjadi sesuatu yang lebih buruk dari hal kemarin, Daffin tak akan memaafkan Arka dan dirinya sendiri.
Ia juga menceritakan saat dirinya berada di kafe Benny dan ingin mengembalikan obat-obatan yang dibawanya, ia dihadang dan diberi obat yang membuatnya roboh.
Cerita mereka berakhir saat jam dinding berdentang menandakan waktu tengah malam tiba. Daffin dan Aya tertidur di ruang tamu.
***
Sementara itu Arka yang merasa ulahnya mulai dicurigai oleh Daffin, mencoba berpikir bagaimana cara untuk menutupinya. Ia juga memikirkan bagaimana mengurus Aya yang semakin merepotkan baginya.
Ya, selama ini Arka sangat cemburu melihat hubungan Aya dan Daffin. Setelah Aya menolaknya waktu itu, Arka merasa Aya menjaga jarak dengannya. Dan karena itulah Arka merasa harga dirinya terluka.
Dia juga merasa Daffin terlalu banyak menyuruhnya ini dan itu. Bahkan urusan Nona juga dia lemparkan padanya.
Karenanya, Arka melakukan semua hal yang selama ini dicurigai oleh Daffin dan Aya. Dia yang membuat Aya pingsan dan menyuruh orang untuk membawanya ke Rumah Kampung. Dia juga yang memasukkan obat pada Aya sehingga dia tak bisa mengingat apapun, dan terbangun seperti baru saja tertidur. Ia juga yang menyuruh anak buah Benny memberinya obat. Dia juga lah yang membantu Nona membiayai biaya pindah sekolahnya agar dia bisa membuat Daffin menjauh dari Aya.
Dan Arka masih belum menyerah. Meskipun dia tahu kemungkinan dia akan diserang Daffin dan Aya, dia tidak akan berhenti. Harga dirinya sudah terlanjur jatuh. Ia akan tetap berusaha memisahkan Daffin dan Aya walaupun harus kehilangan hubungan keluarga mereka. Arka akan tetap merebut Aya dari tangan Daffin.
Dan saat dia sampai di rumah, Daffin sudah menunggunya di ruang tamu dengan posisi mengancam. Arka pun juga sudah siap jika malam itu salah satu diantara mereka akan ada yang roboh.