
Aya mengerjapkan matanya saat melihat Divo berdiri di depannya, bersama dengan Daffin di sampingnya.
“Kenapa dia di sini?” batin Aya.
“Ay, kamu nggak apa-apa?” tanya Daffin.
“Oh, iya. Aku nggak apa-apa”
Aya menoleh ke arah Divo yang menatapnya penuh arti. Mendadak Aya teringat dengan tatapan itu. Tatapan lembut dan hangat milik mantan pacar terindahnya.
Melihat Aya terdiam dan terpana saat memandang laki-laki di depannya, Daffin mulai tak suka. Dengan sengaja ia menyenggol tangan Aya agar gadis itu segera sadar bahwa ada pacar yang sedang bersamanya. Dan usahanya berhasil, Aya merasa malu dan langsung mengalihkan pandangannya.
“Kamu apa kabar, Ay?” tanya Divo lagi.
“Baik, Div” jawab Aya pendek.
Aya terus menjawab pertanyaan Divo dengan kalimat pendek-pendek. Setelah Divo meninggalkan mereka berdua untuk memulai pertandingan, Aya merasa ada yang aneh. Ia bisa merasakan ada hawa dingin yang menyeruak di sekitarnya. Seketika ia pun menoleh ke arah Daffin yang sudah menghujaninya dengan tatapan memicing penuh kecemburuan.
“Ouh, pandangannya menusuk sekali!” seru Aya seraya tersenyum tengil.
“Masih bisa nyindir? Itu Divo siapa? Kenal banget kayaknya” omel Daffin.
Seperti biasa, Aya selalu suka memanfaatkan kecemburuan Daffin untuk menggodanya. Sama seperti Daffin yang suka melihat Aya mengomelinya, ia pun menyukai ekspresi Daffin sangat tengah cemburu padanya.
“Dia mantan aku” jawab Aya santai.
Mata Daffin seketika melotot mendengar pengakuan Aya.
“Mantan? Mantan gebetan kayak si Fino?”
“Bukan lah, mantan ya mantan pacar!” tegas Aya.
Ia langsung melirik Daffin untuk melihat reaksinya. Dan seperti dugaannya, wajah cemburu yang berusaha ia tutupi, kini mulai menghiasi wajah Daffin. Lucunya lagi, Daffin langsung merajuk. Sepanjang permainan dimulai, Daffin hanya diam dan fokus pada pertandingan. Dia bahkan sedikit menggeser tempat duduknya dan menciptakan jarak di antara mereka.
Bukannya panik karena pacarnya merajuk, Aya justru semakin brutal dalam menggoda Daffin. Ia berteriak mendukung dan meneriakkan nama Divo, sampai-sampai ia lupa bahwa dia harus mendukung sekolahnya sendiri.
Emosi Daffin makin diuji saat laki-laki bernama Divo itu kembali mendekati Aya yang berada di tribun. Dengan sangat jelas, si Divo berusaha mendekati Aya kembali.
“Ay, kamu sibuk nggak?” tanya Divo.
“Mm, nggak. Ada apa?”
“Aku mau ajak kamu nonton. Mau nggak?” tanya Divo lagi.
Aya mengatupkan kedua bibirnya untuk mengalihkan ekspresi terkejutnya. Ia mulai gugup saat Divo melontarkan ajakan itu di depan Daffin. Namun Aya dengan tegas menolak ajakan itu. Biar bagaimana pun Divo hanyalah masa lalunya. Dan saat ia menoleh ke tempat duduk Daffin, ternyata dia sudah meninggalkan Aya.
“Astaga, gue ditinggal” gerutu Aya.
Ia pun meninggalkan tribun untuk menuju kantin karena perutnya sudah mulai keroncongan.
Sementara itu, Daffin yang dikira meninggalkan Aya, ternyata sedang membelikannya minuman di mesin jual otomatis yang ada di sekitar aula olahraga. Ia tak memberitahu Aya karena saat itu dia tengah berbicara dengan Divo. Dan ketika Daffin kembali, ia tak menemukan Aya. Yang ia temukan justru Laura yang menunggu seolah tahu kalau Daffin akan datang
“Hai, Fin. Lagi nyari si Aya?” tanya Laura.
“Iya.”
“Wah gimana dong, dia baru aja pergi sama anak Bina Bangsa” lanjut Laura dengan senyuman liciknya.
“Tadi aku denger dia diajakin nonton film gitu sama tuh anak BinBang”
Daffin pergi dengan wajah kesal yang mungkin belum pernah Aya lihat. Ia meninggalkan sekolah tanpa memberitahu Aya. Dengan mudah Daffin menelan semua omongan Laura yang jelas tak benar. Ia bahkan tak mengonfirmasinya lebih dulu pada pacarnya.
Aya dan Daffin adalah pasangan yang aneh. Padahal mereka baru saja kembali menyambung tali cinta, tapi dengan sembrono mereka mempertaruhkannya lagi. Aya dengan mudahnya membuat Daffin cemburu pada hal-hal yang harusnya tak perlu. Sementara Daffin juga masih saja mudah terpengaruh oleh ucapan musuhnya sendiri.
Setelah pertandingan selesai, Aya tak menemukan Daffin di manapun. Ia mencoba meneleponnya tapi tak diangkat oleh pacarnya. Padahal Aya ingin mengajaknya nonton setelah menolak ajakan si Divo.
“Kenapa sih nih anak? Tumben banget” gumam Aya.
Saat ia mengutak-atik ponselnya, Laura yang sedang berjalan di dekatnya pun memberhentikan langkahnya.
“Kasian banget ditinggal Daffin pulang..” celetuk Laura.
Aya yang mendengar celetukan itu pun tanpa ragu langsung menghentikan langkah Laura.
“Apa maksud lo bicara kayak gitu?” hardik Aya.
“Lah emang bener lo ditinggal Daffin. Dia kan emang udah pulan!” kata Laura mengejek.
Aya membiarkan langkah Laura berlanjut menjauh darinya. Ia kembali mencoba menghubungi Daffin dan masi saja tak berhasil. Tanpa menunggu lama, Aya langsung keluar dari area sekolah dan menuju rumah Daffin.
Begitu tiba di rumah itu, Aya justru tak mendapati Daffin sama sekali. Karena terlalu lelah, Aya tak bisa langsung kembali ke rumahnya karena ia tertidur di rumah Daffin.
Aya terbangun ketika langit sudah berubah menjadi hitam. Ia juga kaget setengah mati saat melihat Daffin duduk di sebelahnya dan memandangnya dengan pandangan tak percaya.
“Astaga, ngagetin aja sih!” teriak Aya.
“Kamu tuh udah berani banget ya, tidur di rumah cowok sendirian tanpa ada siapapun” kata Daffin.
“Cih, aku nungguin kamu tahu!”
“Siapa yang nyuruh nungguin?” kata Daffin lagi.
“Oh gitu? Udah ninggalin aku sendirian di sekolah, disamperin sampe ditungguin malah diomelin? Yaudah aku pulang aja!” cerocos Aya.
“Ninggalin? Yang ada kamu yang ninggalin aku karena pergi sama tuh cowok!” balas Daffin.
“Pergi sama cowok siapa? Orang aku..”
Aya menghentikan ucapannya dan mulai berpikir. Kenapa bisa ada perbedaan komunikasi antara mereka berdua? Apa Daffin tahu bahwa dia telah diajak oleh Divo untuk menonton film?
“Kenapa diem? Ketauan kan! Udah punya pacar masih aja nerima ajakan mantan!” kata Daffin.
“Ohhh, itu? Kamu tahu darimana kalau Divo ngajakin aku nonton film?”
“Laura yang ngomong.”
“Cih, kalau Laura yang ngomong aja langsung percaya. Kalau aku enggak?” protes Aya.
Merasa perdebatan itu tak akan cepat selesai, Aya menutup mulut Daffin dengan jarinya. Ia menjelaskan bahwa ia memang diajak oleh Divo untuk menonton film, tapi Daffin melewatkan sesuatu, yaitu penolakan Aya. Ia tidak menerima ajakan itu dan berusaha mencari Daffin untuk mengajaknya nonton, tapi dia malah meninggalkannya sendirian.
“Aku minta maaf karena udah godain kamu dan bikin kamu cemburu sama Divo..”
“..tapi aku nggak pernah sekalipun berniat deket-deket apalagi balikan sama dia.”
“Karena aku sayangnya sama kamu, bukan sama Divo. Jadi nggak usah cemburu lagi, ya! Aku minta maaf!” pungkas Aya.
Hati Daffin seketika meleleh. Ucapan dan sikap Aya sangat berhasil membuatnya trenyuh dan salah tingkah pada saat yang bersamaan. Karena itu, Daffin memberinya ciuman di bibir Aya yang seketika membuatnya terkejut. Meski Aya menyukai itu, tapi dia langsung menyadarkan dirinya dan segera melepas ciuman Daffin.
“Ini bahaya, Fin. Aku nggak mau kebablasan dan jadi ibu muda” ucap Aya lirih.
Aya mengira Daffin akan menerima alasan itu. Tapi dia malah membalas ucapannya.
“Aku bisa menahannya. Aku bukan cowok brengsek. Aku cuma mau melakukan ini sekali lagi”