Our High School

Our High School
Sikap Aneh Daffin dan Aya



Daffin dan Aya segera melepas ciuman mereka sebelum daya untuk menahan diri semakin habis. Mendadak mereka terlihat canggung satu sama lain. Daffin pun langsung mengajak Aya pulang sebelum malam semakin larut.


Sepanjang perjalanan, mereka masih saja terdiam. Entah kenapa malam itu mereka merasa malu untuk pertama kalinya selama pacaran. Aya yang cerewet seketika berubah menjadi introvert. Sementara Daffin yang selalu bersikap dingin dan tegas, mendadak juga bersikap canggung.


Hingga mereka sampai ke rumah pun, keheningan itu masih berlangsung. Lucunya, saat Daffin akan berpamitan, Aya pun mengatakan hal yang sama di saat yang berbarengan dengan Daffin. Dan adegan ‘kau duluan’ pun tiba-tiba muncul di tengah mereka.


“Kamu aja yang pulang duluan!” kata Aya.


“Enggak, kamu aja yang masuk duluan!” balas Daffin.


“Kamu aja! Aku akan masuk setelah melihatmu pergi”


Setelah melakukan hal itu beberapa kali dan tetap tak ada yang mengalah, akhirnya Daffin menyudahinya dengan memilih untuk beranjak lebih dahulu.


Sembari melambaikan tangannya, Daffin berpamitan hingga menghilang di belokan yang ada di sekitar rumah Aya.


Aya melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah yang memerah. Ia juga merasa tubuhnya tiba-tiba panas dan gerah. Apa yang dialaminya malam itu membuatnya tersenyum tanpa henti hingga membuat Haira curiga.


“Kamu kenapa, Kak? Kok senyum-senyum sendiri?”


“Aku? Nggak, nggak apa-apa!” jawab Aya dengan nada yang aneh.


Melihat sikap kakaknya yang tiba-tiba berubah aneh, Haira meyakini bahwa ada yang terjadi padanya. Ia juga yakin hal itu adalah hal yang bagus baginya. Tidak hanya sekali dua kali Haira melihat sikap Aya yang seperti ini. Setelah mengingatnya lagi, Haira menemukan tiga alasan Aya akan bersikap aneh seperti itu.



Saat dia membayangkan bertemu idola kesukaannya.


Saat dia mendapat crush baru


Dan saat ada wishlist Aya yang terlaksana.


Mendadak Haira yang penasaran pun menelaah alasan-alasan itu. Jika hanya membayangkan idolanya, wajah Aya tak akan semerah ini. Tidak cocok. Jika dia mendapat crush baru, itu juga mustahil karena Haira tahu Aya sangat menyukai Daffin. Tidak mungkin. Dan yang ketiga, saat ada daftar keinginannya yang terwujud.


Untuk alasan yang satu ini, Haira harus melihat buku catatan milik Aya. Dan lucunya ia tahu dimana Aya menyimpan buku itu. Setelah menunggu Aya masuk ke kamar mandi, akhirnya Haira menemukan buku itu. Sikap jahil dan keisengannya muncul saat itu juga.


Ia langsung membuka dan membaca tulisan Aya mengenai daftar keinginannya. Dan setelah membacanya beberapa menit, Haira bisa menyimpulkan apa yang sedang dialami gadis itu.


“Cih, mentang-mentang udah mau lulus” gumam Haira sambil tersenyum geli.


***


Dua hari setelah melewati dan memenangkan babak penyisihan, tim sekolah Aya dan Divo kembali bertemu di semifinal. Hari itu ada yang berbeda dari tribun penonton. Ada sepasang muda mudi yang duduk bersebelahan dan saling mencuri pandang. Daffin dan Aya masih tenggelam dalam rasa canggung yang luar biasa.


Padahal sebelumnya mereka saling sindir dan adu argumen, tapi saat itu mereka berubah bak pengantin baru yang masih malu-malu. Keduanya pun kompak memegang ponsel milik mereka dan tertunduk menatap layar ponsel itu.


Rupanya mereka saling berbicara dengan menggunakan aplikasi pengirim pesan. Entah kapan dan bagaimana hal itu dimulai, tapi Daffin dan Aya mulai asyik berkirim pesan walaupun sedang duduk berdampingan.


Bahkan Aya dan Daffin tidak lagi fokus pada pertandingan basket yang mereka tonton. Hingga pertandingan itu berakhir pun mereka terus saja saling mengirimkan pesan cinta. Dan hal-hal yang mereka obrolkan di aplikasi pengirim pesan itu adalah hal-hal yang sama sekali belum pernah mereka ucapkan. Hal-hal absurd nan menggelikan dan sangat bukan style mereka.


“Kamu udah makan belum tadi?”


“Kamu cantik banget hari ini”


“Nanti kita pulang bareng ya”


Pesan-pesan itulah yang mereka tulis dan saling kirimkan. Sangat menggelitik.


Mereka bahkan tak menyadari bahwa ada Laura dan Divo yang berdiri bersebelahan dan menatap mereka dari jauh, dengan tatapan tajam dan menusuk.


Padahal mereka berdua hanya melihat tampilan Daffin dan Aya yang menunduk menatap ponsel dan tersenyum sendirian. Tapi mereka bisa merasakan ada aura cinta di antara mereka. Dan itu membuat Laura cemburu. Divo yang sudah lama tak berkontak dengan Aya pun ikut merasakan kecemburuannya yang datang entah dari mana. Padahal ia sudah tidak pernah berhubungan dengan Aya, ia baru saja bertemu kembali dengannya saat pertandingan pertama. Tapi Divo sudah merasa cemburu tatkala Daffin mencuri pandang ke arah Aya dengan tatapan penuh cinta.


“Lo Divo, kan? Mantan pacar Aya?” celetuk Laura tiba-tiba.


Divo menoleh ke arah gadis yang belum ia kenal.


“Kok lo tahu?”


Bermula dari percakapan singkat itu, Laura mengajak Divo bertemu di luar sekolah untuk menyampaikan keinginannya. Laura dengan gamblang mengajak Divo berkongsi untuk membuat Daffin dan Aya kembali putus.


“Tunggu sebentar! Lo tahu dari mana gue mantannya Aya?” tanya Divo curiga.


“Ada lah, lo nggak perlu tahu soal itu. Yang penting kita pikirkan cara jitu buat misahin mereka” jawab Laura.


“Gimana caranya?”


Seperti biasanya, Laura tak pernah mengajak orang bekerja sama tanpa menyiapkan suatu rencana terlebih dahulu. Kali ini dia tidak mau rencananya gagal lagi. Ia memastikan Divo tidak akan berkhianat ataupun membuat usaha mereka gagal.


Sementara Laura dan Divo sibuk menyusun rencana, si Daffin dan Aya akhirnya berhenti berkomunikasi melalui ponsel mereka. Daffin yang terlalu gemas, tak bisa menahan lagi untuk berbicara secara langsung dengan pacarnya.


Ia pun langsung menggenggam tangan Aya dan mengajaknya pergi ke kantin seperti biasa. Masih ada pipi yang kemerahan, dan suasana canggung yang tersisa. Tapi Aya sudah berani tertawa dan menjahili Daffin seperti biasanya. Akhirnya mereka menjadikan alasan dibalik rasa canggung itu sebagai bahan tertawaan dan untuk menggoda satu sama lain.


“Aku udah bilang kemarin, itu bahaya, kamu malah ngeyel!” gerutu Aya.


“Dih, kamunya juga seneng, kan?” serang Daffin.


“Apa iya? Sok tahu!”


“Terus maksudnya nggak suka gitu?” cecar Daffin.


Aya sedikit kebingungan dan gelagapan dengan pertanyaan Daffin yang menjebak. Ia pun menjawabnya dengan gerutuan tak jelas yang keluar di sepanjang jalan saat kembali menuju ruang kelas.


Entah sedang kasmaran atau memang tak memikirkan Laura lagi, Daffin yang biasanya waspada, hari itu mengendurkan tingkat kewaspadaan dirinya. Saat ia berjalan ke belakang sekolah untuk mencari kursi, tiba-tiba ada yang menyerangnya dari arah belakang dan menutup mulutnya dengan sapu tangan yang diberi obat tidur.


Seketika tubuh Daffin tumbang. Beberapa orang membawanya ke suatu tempat yang nampak sudah mereka siapkan. Ada sebuah bangunan bekas rumah dinas yang terletak di sisi lain gedung kelas sekolah. Mereka membawa Daffin ke tempat itu.


Di dalam ruangan itu, sudah ada sosok gadis yang tengah duduk di atas sebuah matras dengan keadaan yang menyedihkan. Ia memakai baju sekolah yang sudah robek dan compang camping, rambutnya acak-acakan, dan ada sebuah luka kecil berdarah di sudut bibirnya.