
Daffin, Nona, Aya dan anak-anak lain yang turut dalam pertengkaran itu, semua dikumpulkan dalam satu sidang kecil oleh guru pengawas perkemahan. Pertengkaran mereka dinilai mengganggu seluruh acara perkemahan itu sehingga guru pengawas menghukum mereka dengan membersihkan seluruh area perkemahan.
Tentunya hal itu membuat Nona protes keras, karena yang ia lakukan hanyalah menegur Laura cs karena menimbulkan suara yang mengganggu. Begitu juga dengan Aya yang memprotes bahwa dirinya hanya diam dan berusaha melerai tapi malah menjadi korban yang rambutnya ikut ditarik oleh anak-anak itu.
Akan tetapi berbeda dengan Laura. Gadis yang sudah terpikat pada pesona Daffin itu, justru tersenyum dan menerima hukuman yang diberikan guru pada mereka. Melihat Daffin juga dihukum, membuat Laura berpikir bahwa dia bisa memanfaatkan keadaan ini untuk mendekati Daffin.
Laura tentu belum mengetahui bahwa Daffin sudah memiliki pacar. Di kepalanya sempat terbersit pikiran itu, namun ia membulatkan tekadnya untuk merebut Daffin jika ia memang sudah memiliki pacar.
Begitu membubarkan diri dari sidang kecil itu, Aya, Nona dan Daffin melanjutkan membangun tenda mereka. Sementara Laura cs tidak melakukannya karena tenda mereka telah dipasang oleh anggota geng yang lain. Laura dan kedua teman perempuannya justru berkumpul dan membahas masalah perasaannya pada Daffin.
“Lau, yakin kamu mau deketin cowok itu?” tanya gadis yang memakai kalung nama Bonita.
“Beneran lah, liat aja tuh mukanya udah merah gitu” ledek satu gadis lain yang bernama Diana.
Laura memukul kedua teman yang meledeknya. Dia memang memiliki kontrol dan sangat mendominasi dalam gengnya. Ia meminta kedua temannya untuk mencari cara agar dia bisa mendekati Daffin. Dia juga menyuruh mencaria informasi apakah Daffin mempunyai pacar atau tidak.
Di sisi lain Aya mulai mencium gelagat yang mengancam dari sikap Laura. Ketika teman-teman gadis itu sibuk menarik rambut Nona, Aya memperhatikan sikap Laura yang terus memandang ke arah Daffin yang berusaha melerai mereka.
Sebagai sesama perempuan, tentu Aya tahu betul arti dari pandangan itu. Dia bisa membaca bahwa Laura menaruh hati pada pacarnya, dan itu sangat mengganggunya.
Aya menceritakan pendapatnya pada Daffin, tapi ia justru ditertawakan oleh pacarnya itu.
“Cie, akhirnya cemburu lagi?” ledek Daffin.
Dengan cepat Aya memberinya hadiah pukulan punggung yang menyakitkan hingga berhasil membuat Daffin meringis kesakitan.
“Bisa serius nggak?”
Daffin langsung menutup mulutnya saat melihat gadisnya mulai mengeluarkan sifat aslinya lagi.
"Awas aja kalau dia berani macem-macem! Atau kamu yang macem-macem..” kata Aya mengancam.
“Emang kenapa kalau aku?” goda Daffin.
Dengan mata berapi-api, Aya mengatakan akan mengajak Daffin ke kebun binatang dan akan memasukkannya dalam kandang singa.
Tentu saja Daffin tertawa keras mendengar candaan Aya itu. Ia selalu menganggap omelan dan kemarahan Aya adalah hal yang menggemaskan. Dan semakin sering Aya mengomelinya, semakin sering juga Daffin jatuh cinta pada gadis itu.
***
Hari kedua camping diisi dengan acara perlombaan. Hari yang sangat dibenci Daffin, karena dia harus menuruti keinginan Aya untuk mengikuti lomba pasangan demi sebuah handphone.
Memang merk dari ponsel itu begitu menarik perhatian anak-anak, terlebih harganya yang mahal dan prestisnya yang tinggi. Tetapi melakukan perlombaan seperti itu membuat Daffin malu. Bahkan Daffin juga sempat menawarinya membelikan ponsel baru dengan merk yang sama, tapi bukan itu yang Aya inginkan.
Dengan klise gadis itu mengatakan bahwa yang dia inginkan adalah kenangan dan perjuangan Daffin sebagai pacarnya. Ia ingin mendapat sesuatu yang diraih dengan usahanya sendiri.
Bagi Daffin alasan itu cukup menyentuh meski agak menggelikan kepribadiannya yang dingin. Tapi apapun itu selama dia bisa melakukannya, Daffin akan melakukannya demi Aya. Mengingat apa yang sudah dilalui gadis itu karena dirinya, satu handphone atau perlombaan memalukan pun tak akan cukup menggantinya.
Ketiga gadis itu terlahir dengan sendok emas di mulut mereka. Orang tua ketiganya mempunyai pengaruh yang tinggi di sekolah itu. Itulah sebabnya ketiga gadis itu cukup ditakuti oleh anak-anak lain.
Laura cukup mendapatkan informasi mengenai Daffin, tetapi satu hal yang tidak ia dapatkan adalah nama dari pacar Daffin. Ia hanya mendapatkan info bahwa Daffin mempunyai pacar, tapi tidak dengan namanya.
“Apa kalian bener-bener nggak tahu siapa gadis sialan itu?” teriak Laura.
“Udah kubilang nggak dapet, Lau!” teriak Diana.
Masalah itu cukup menurunkan mood Laura hari itu. Dia bahkan tidak mau mengikuti acara perlombaan yang diadakan panitia perkemahan.
Dan saat acara perlombaan itu dimulai, Daffin cukup terkejut karena lawannya adalah Fino yang berpasangan dengan Nona. Melihat pohon lawan yang sudah ditentukan panitia, Daffin mendengus kesal. Sebab dalam kategori lomba Pasangan yang Ditukar, peserta laki-laki harus menggendong peserta peserta perempuan yang merupakan pasangan lawan. Dan lawan Daffin adalah Fino dan Nona.
Tidak perlu membahas Daffin yang harus menggendong Nona, sebab Aya sudah kebal dengan gadis aneh itu. Tapi masalahnya adalah Aya yang harus digendong oleh Fino, yang tak lain adalah mantan gebetan Aya.
Daffin mulai cemburu meski tahu itu hanyalah permainan. Ia selalu kesal saat Aya memasang wajah manisnya di depan Fino. Ia tahu betul itu hanyalah sikap yang dibuatnya untuk menggoda Daffin, dan itu berhasil.
Aya tertawa puas saat melihat raut wajah Daffin yang merengut dan cemburu ketika tahu pasangannya adalah Fino.
“Utu..utu..pacarku cemburu banget ya?” goda Aya.
“Hentikan! Atau aku akan membuatmu menyesal” balas Daffin.
Aya tidak mempedulikan ancaman Daffin, dan terus meledeknya dengan menjulurkan lidahnya keluar.
Saat perlombaan berlangsung, Aya berusaha keras melemparkan anak panah tepat di sasaran. Sementara Fino berusaha keras untuk membuat Aya gagal melempar agar dia dan Nona menang. Begitu juga dengan tim lain.
Tapi tidak dengan tim Daffin dan Nona. Daffin sibuk mengamati permainan Fino, memastikan agar tangannya tak macam-macam saat menggendong pacarnya. Sementara Nona sibuk mengejek seseorang dengan menggelayutkan lengannya di leher Daffin.
“Lo ngapain?” tanya Daffin heran.
“Lagi manas-manasin orang yang dari tadi menatapmu” jawab Nona dengan senyum palsunya.
Daffin menoleh ke arah yang disebutkan oleh Nona. Ternyata yang dimaksud adalah Laura yang sedari tadi memperhatikan dirinya dan Nona.
Pasalnya, ketika perlombaan pasangan itu dimulai, Bonita dan Diana melihat Daffin menggendong Nona. Secara otomatis otak mereka berpikir bahwa Nona adalah pacar Daffin. Mereka salah paham karena tidak mengerti sistem perlombaan itu.
Mereka pun melaporkan hal itu pada sang ketua geng yang memang sudah memaksa mereka untuk mencari pacar Daffin. Lucunya lagi, Nona yang sudah diberitahu oleh Aya mengenai firasatnya soal Laura, sengaja menggoda mereka dengan terus menempel pada Daffin. Tentunya semua itu dilakukan Nona dengan mengantongi ijin dari gadisnya Daffin. Dengan cerita itulah Nona dan Aya berhasil membuat Laura cs salah paham mengira Nona adalah pacar Daffin.
Saat Daffin mendengar rancangan cerita itu, ia tak bisa menahan tawanya. Ia kembali jatuh cinta pada Aya. Bagaimana dia berpikir melindungi pacarnya dengan cara seperti itu.
“Gemesin banget!” ucap Daffin sambil tersenyum ke arah Aya yang memberinya kedipan satu mata.
Hal itu sontak membuat Nona mendengus dan menurunkan dirinya dari gendongan Daffin. Ia mulai mual melihat kelakuan Daffin dan Aya. Dan secara otomatis Aya yang memenangkan perlombaan itu karena lawan finalnya telah turun dari gendongan.