Our High School

Our High School
Kangen



Daffin menolong Nona yang terjatuh karena didorong oleh Arka dan menubruknya. Untungnya Nona tidak terluka sama sekali.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Daffin.


“Aku nggak apa-apa, Fin” jawab Nona sambil membersihkan kotoran di bajunya.


Daffin menghampiri ketiga anak yang membawanya ke gudang itu. Dia bertanya pada mereka mengenai Arka secara lengkap dan detil.


Mereka menangkap Arka karena dia masih memiliki hutang atas obat yang ia minta dari bos mereka. Daffin memejamkan matanya karena tak percaya anak itu terlibat semakin jauh dengan obat-obatan terlarang.


Daffin juga bertanya mengenai keterlibatan Arka dengan ketiga orang yang menurut informasi adalah anggota dari kelompok Kapak Putih. Tiga orang yang tertangkap cctv berjalan dengan ayah Aya malam itu, dan tertangkap foto bersama Arka juga.


Menurut informan Nona, ketiga anak itu juga anggota dari Kapak Putih. Harusnya mereka juga tahu mengenai masalah ini.


Dan benar, mereka tahu masalah itu. Malam itu, sebenarnya mereka tengah mengejar Arka untuk menagih hutangnya. Dan saat mereka menemukannya, Arka bernegosiasi dengan ketiga orang itu, seperti yang tertangkap dalam foto. Setelahnya, ketiga orang itu menuju rumah Aya untuk menjemput ayahnya Aya. Arka lah yang menghubungi ayah Aya dengan mengatakan akan melukai anaknya jika dia tidak mau keluar saat itu juga.


Arka terpaksa melakukannya, karena ketiga orang itu tahu bahwa Aya dekat dengan Arka saat itu. Mereka menyuruh Arka meminta uang pada ayah Aya untuk membayar mereka, dengan anaknya sebagai ancaman. Tentu saja Arka mengarang bahwa Aya telah terlibat dengan obat-obatan terlarang.


Sayangnya ayah Aya langsung mempercayainya, dan beliau langsung menemui mereka. Tetapi sebenarnya beliau tidak bersedia membayar mereka secara langsung malam itu juga. Beliau meminta waktu untuk mengumpulkan uangnya, karena jumlah yang mereka minta sangat banyak. Namun secara mengejutkan Arka menjadi terlalu emosi karena gagal meyakinkan beliau. Ia pun secara tidak sengaja mendorong ayah Aya hingga tersungkur ke tanah.


Karena gugup, Arka melarikan diri, berikut ketiga orang yang mengejarnya. Namun ayah Aya masih bisa terbangun setelah pingsan selama beberapa menit. Beliau bisa pulang hingga ke rumah. Namun sayangnya beliau menghembuskan napas terakhirnya di dalam kamar.


Sebenarnya memang benar ayah Aya meninggal karena serangan jantung, namun ada beberapa penyebab dari faktor luar seperti kepala terantuk aspal yang menyebabkan syok dan pendarahan. Sayangnya entah kenapa dokter hanya menyebutkan serangan jantungnya sebagai penyebab kematian beliau.


Sementara Arka yang melarikan diri berusaha menyadarkan dirinya dan kembali menemui Aya untuk menyembunyikan keterlibatannya. Walaupun sebenarnya ia sangat takut karena ia mengira ayahnya meninggal murni karena dorongannya.


“Kalian tahu darimana cerita ini?” tanya Daffin curiga.


“Cerita kayak gini mah gampang tersebar di antara sesama anggota” jawab salah satu dari anak itu.


Daffin dan Nona pun meninggalkan gudang. Sepanjang jalan mereka berdua terdiam karena masih mencerna semua cerita itu, dan apa yang harus dilakukan setelahnya.


Terlebih Daffin yang memikirkan bagaimana caranya menyampaikan hal ini pada Aya.


***


Daffin dan Nona seperti kembali menemui jalan buntu, walaupun satu kebenaran telah terbuka. Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti sejenak dari semua urusan itu.


Sementara Aya masih saja mendiamkan dan menjauh dari Daffin dan semua yang berkaitan dengannya.


Aya menjalani hari-harinya dengan menjadi murid yang biasa saja. Ia juga sudah memutuskan untuk melupakan masalah ayahnya. Ia juga memutuskan tidak ingin berhubungan kembali dengan Daffin. Aya hanya ingin segera naik kelas dan lulus tanpa ada masalah apapun lagi.


Hari itu untuk kesekian kali Aya berpapasan dengan Daffin dan Nona, yang entah kenapa mulai berjalan berdua kemana-mana. Namun Aya tak peduli, apapun hubungan mereka berdua, dia tetap mengabaikannya. Sebenarnya Daffin lah yang meminta Nona tetap bersamanya, demi menjaga Aya dari rumor apapun. Ia berusaha menunjukkan bahwa Aya tidak ada hubungan apapun dengannya. Ia tidak mau melibatkan Aya lagi. Meski hatinya sakit karena merindukan pacarnya yang cerewet dan selalu mengomelinya.


Namun di balik wajah datar dan sikap dingin Aya, sebenarnya ia juga merindukan Daffin. Ia selalu mencari tempat sepi di sekolah hanya agar bisa menangis tanpa diketahui siapapun.


Seperti hari itu, Aya berjalan menuju atap setelah melihat Daffin dan Nona yang selalu berjalan berdua. Ia berusaha mencari tempat lain untuk meluapkan kesedihannya, tapi semua tempat itu dipenuhi anak-anak lain.


Ia pun menangis sepuas hatinya saat semua kenangannya bersama Daffin di atap itu kembali terlintas di pikirannya. Mereka menjadikan tempat itu sebagai tempat yang berarti bagi mereka.


“Aku kangen banget, Fin” ucapnya sambil menyeka air matanya.


Tanpa sepengetahuan Aya, Daffin ternyata juga sering berada di atap semenjak diputuskan oleh gadis itu. Dan hari itu pun tanpa disengaja ia juga sedang berada di sana, namun berada di sisi yang agak tersembunyi.


Daffin mendengar seseorang terisak dan menangis sambil menyebut namanya. Ia mengenali suara itu dan langsung keluar dari persembunyiannya dengan perlahan.


Daffin melihat sebuah punggung yang ia kenali. Tampilan belakang yang sering ia lihat. Dan suaranya yang semakin jelas milik siapa. Ia sengaja berdiri diam di belakang Aya untuk mengamati apa yang dilakukan gadis itu.


Aya yang tak tahu keberadaan Daffin di belakangnya, tetap meneruskan tangis dan curhatannya pada udara kosong.


“Maafin aku, Fin. Aku udah jahat sama kamu” katanya lagi.


“Aku pengen banget dipeluk kamu, Fin” tangisnya malah kembali pecah setelah mengatakan hal itu.


Tiba-tiba Aya dikejutkan dengan seseorang yang memeluknya dari belakang tanpa ragu. Ia berontak namun dengan cepat orang itu segera memegang tangannya sambil membisikkan sesuatu yang membuat Aya langsung terdiam.


“Aku juga kangen sama kamu, Ay” ucap Daffin.


“Please, kita begini dulu ya, sebentar aja!”


Aya mengenali suara itu. Air matanya pun kembali pecah.


“Lepaskan!” kata Aya sambil meraih tangan Daffin.


“Kamu bilang pengen aku peluk?” tanya Daffin.


Aya tetap meronta meminta dilepaskan dari pelukan Daffin. Karena gadis itu terus berontak, Daffin pun akhirnya melepaskan Aya.


Namun tanpa diduga, Aya malah berbalik dan memeluk Daffin dengan erat. Dia membenamkan dirinya dalam pelukan laki-laki itu.


Daffin yang awalnya terkejut, wajahnya mulai menuai senyum. Ia memeluk Aya lebih erat untuk beberapa saat sebelum akhirnya melepaskan pelukannya.


Daffin memandang wajah Aya yang terlihat mulai kurus. Ia menyapu air mata gadis itu dengan jari-jarinya yang panjang dan besar.


“Kamu kurus banget” kata Daffin sambil tersenyum.


“Aku nggak doyan makan” jawab Aya.


“Karena mikirin aku?” goda Daffin lagi.


Aya hanya tersipu malu dan kembali memeluk Daffin sebentar sebelum mereka memutuskan untuk turun karena mendengar bel berbunyi.


Mereka tidak membahas apapun hari itu. Daffin dan Aya hanya membiarkan diri mereka sejenak terhanyut dalam romansa anak muda di masa-masa sekolah mereka. Perasaan yang wajar, namun sulit mereka tangani di antara sulitnya kehidupan yang harus di jalani di usia muda mereka.