
Arka melihat adiknya yang mengerang kesakitan dalam ruangan kecil itu. Ia menerobos barisan penjaga yang melarangnya masuk.
"Fin, sadar Fin!" teriak Arka sambil berusaha menyadarkan Daffin dengan memukul-mukul wajahnya.
Tapi anak itu tidak menggubris, ia terus mengerang kesakitan karena tidak diberi obat. Entah apa yang diberikan pada anak itu, tapi dia berulang kali merasakan perubahan dari sakit, tiba-tiba senang, cemas, bahkan pingsan.
"Kalian apakan adikku?" teriak Arka pada semua orang yang ada di ruangan itu.
Mereka hanya tertawa kecil melihat Arka yang berusaha membantu adiknya. Tanpa pikir panjang Arka langsung memapahnya berdiri dan berjalan keluar. Untungnya Daffin sedang dalam keadaan pingsan. Karena jika dia membawanya dalam kondisi yang kesakitan atau agresif, Arka akan kesulitan.
Boni dan Benny melihat kedatangan Arka dan dirinya yang sedang membawa adiknya keluar. Namun mereka hanya membiarkan Arka dan Daffin pergi dengan senyum sinis mereka. Tentu saja Arka merasa lega karena dibiarkan keluar begitu saja. Jika Benny menghadang dan menyuruh anak buahnya menyerang mereka, dia tidak mungkin bisa melawan.
Arka membawa Daffin ke Rumah Kampung terlebih dahulu agar tidak menarik perhatian orang-orang. Ia juga menelepon Aya yang sedari tadi menghubunginya entah sudah yang ke berapa.
"Ay, Daffin di Rumah Kampung.."
Sebelum Arka menyelesaikan kalimatnya, Aya sudah menutup teleponnya. Dia sudah langsung berlari menuju Rumah Kampung untuk menemui pacarnya. Sudah sehari lebih Aya menghubungi Daffin dan tidak mendapatkan hasil apapun. Ia mengkhawatirkan sekaligus merindukan pacarnya itu
Begitu tiba di sana, Aya terkejut dan menangis sejadinya saat melihat sang pacar tengah terbaring tak sadarkan diri. Arka menceritakan kejadian yang terjadi di kafe.
"Dia sakaw?" tanya Aya sedih.
"Iya, tapi aku nggak tahu obat apa yang disuntik ke Daffin" jawab Arka.
"Trus gimana?"
Arka dan Aya memikirkan cara untuk membantu Daffin, namun mereka sangat kebingungan harus memulainya dari mana.
Di tengah kebingungan mereka, Daffin yang semula tak sadarkan diri, tiba-tiba memanggil nama Aya. Spontan gadis itu langsung menubruknya dan memeluk Daffin.
"Ay.." bisik Daffin lirih.
"Fin, kamu udah sadar?" tanya Arka.
"Dasar bodoh! Apa-apaan ini semua? Kenapa kamu kesana sendirian?" oceh Aya sambil memukul-mukul Daffin.
Daffin yang masih meringis kesakitan, menangkap tangan Aya yang melayang hendak mendarat di tubuhnya. Lantas ia menggenggam tangan Aya seraya tersenyum.
"Pacarnya sakit malah dipukuli.." kelakarnya.
Aya kembali menangis melihat Daffin yang masih bisa bercanda disaat dirinya sendiri dalam bahaya. Ia masih saja mengomelinya dengan kata-kata konyol yang membuat Daffin tidak habis pikir dengan pacarnya itu.
"Nggak mau tahu. Aku mau terus ngomelin kamu biar kapok" jawab Aya.
Hampir setengah jam sejak Daffin tersadar, dan mereka berdua malah saling olok dan adu omelan. Melihat semua itu secara langsung di depan matanya, Arla hanya diam dan tersenyum kecut. Ia tahu Aya dan Daffin menjalin hubungan spesial, ia juga sudah berusaha mengikhlaskan Aya. Tetapi ia tak menyangka akan sesulit ini menahan rasa cemburunya saat mereka mengumbar kemesraan tanpa mengingat dirinya yang masih berada di situ.
"Hei, kalian! Aku masih di sini kali.." teriak Arka dari ruangan lain di rumah itu.
Daffin dan Aya yang masih saja beradegan hate to love mendadak diam dan menahan malu saat mendengar suara Arka. Akhirnya setelah Daffin merasa lebih baik, mereka mulai membahas masalah Daffin yang dicekoki obat oleh anak buah Benny.
Daffin ingat saat-saat mereka menahan Daffin agar tidak bisa keluar. Lalu mereka menyuntikkan sesuatu yang membuatnya kehilangan kesadaran. Namun Daffin sendiri juga tidak tahu obat apa yang disuntikkan padanya. Ia pernah menjajal banyak obat, tapi ia belum pernah merasakan efek yang berbeda seperti ini. Ia hanya merasa kepalanya seperti terbakar, tubuhnya sakit luar biasa, dan ada perasaan emosional yang sulit dijelaskan.
"Tapi gue lihat Nona disana, dia bilang sesuatu tapi gue lupa" ujarnya.
"Apa? Gadis sialan itu lagi?" teriak Aya tak terima.
"Kalau gitu kita coba tanya Nona, Fin!" kata Arka.
Daffin dan Aya setuju untuk mencari Nona dan bertanya padanya. Mereka harus bergerak cepat agar Daffin segera tahu langkah apa yang harus dia lakukan. Mereka harus tahu obat apa yang dimasukkan ke dalam tubuh Daffin. Karena bisa saja obat itu memiliki semacam obat penolak efek sampingnya.
Karena biar bagaimanapun, Daffin tidak mau kembali ke panti rehabilitasi. Ia memiliki satu trauma saat tengah memperbaiki hidupnya di sana.
***
Aya menyuruh Daffin untuk sementara tidak masuk sekolah dengan alasan sakit, tetapi dia menolak. Dia harus tetap sekolah dengan suatu alasan yang tak diungkapkannya pada sang pacar. Ia hanya menutupinya dengan candaan bahwa dia harus menaikkan nilainya.
Harusnya itu memang dilakukan olehnya layaknya pelajar pada umumnya. Tetapi Daffin menggunakannya sebagai candaan. Ia harus melindungi Aya karena kemungkinan mereka mengejar Aya masih ada.
Ada sesuatu yang Daffin belum ceritakan pada Aya dan Arka saat di Rumah Kampung. Pada saat dia tidak sadarkan diri, ada beberapa saat kesadarannya kembali. Ia memang belum bisa membuka matanya saat itu, tetapi dia bisa mendengar suara-suara di sekitarnya.
Dan saat itu, Daffin mendengar suara Arka di ruangan tempat dia berada. Daffin mengenali betul suara kakaknya, sehingga dia merasa lega bahwa kakaknya datang untuk menyelamatkannya. Dan memang, Arka datang untuk menyelamatkan dirinya. Tapi sesaat sebelum suara Arka yang berteriak, Daffin mendengarnya bicara dengan seseorang. Dia mengatakan sesuatu pada orang tersebut.
"Sembunyikan obatnya, aku akan mengurusnya dan gadis itu"
Dan setelahnya Daffin kembali tak sadarkan diri. Ia sempat melupakan cerita bagian ini, tapi begitu Daffin mengingatnya, ia memutuskan tak menanyakannya pada sang kakak. Ia masih berpikir itu adalah suara orang lain yang mirip. Namun keanehan-keanehan yang ia tahu soal Arka, tidak bisa membuatnya diam saja.
Ia memutuskan menyelidiki Arka mulai dari sekolah. Apakah dia benar ada hubungannya dengan kejadian kemarin. Dan soal pesan masuk itu juga akan ia selidiki. Meski ia berusaha menolaknya, tapi ia punya firasat bahwa Arka ada hubungannya dengan semua ini. Untuk itu ia merasa harus menjaga Aya, mengingat beberapa kali ada keterlibatan orang lain di dalamnya.
Dan kecurigaannya mulai kembali terbuka saat pagi ini dia melihat Arka berjalan bersama Nona menuju sekolah. Padahal ia tahu betul Arka tidak nyaman berada di sekitar Nona, tapi kenapa dia bisa berangkat sekolah bersama Nona?
Daffin pun memutuskan mengawasi Arka dan Nona mulai dari hari ini dan mulai dari tingkah mereka di sekolah.