Our High School

Our High School
Be with You



Daffin dan Aya akhirnya memutuskan untuk kembali menjalin hubungan. Dengan berbagai pemikiran dan pertimbangan, mereka memilih untuk melupakan semuanya. Baik masalah obat, kafe Benny, masalah ayahnya, ataupun Arka.


Setelah mengalami semua itu, mereka baru menyadari bahwa selama ini masa indah sekolah mereka terlewat begitu saja.


Harusnya mereka menghabiskan waktu sekolah mereka dengan bergaul dengan anak seusia mereka, makan dan nonton film bersama-sama, dan pergi ke tempat yang bagus bersama juga. Tapi yang Daffin dan Aya lakukan hanyalah terlibat dalam urusan kriminal yang tidak tahu kapan akan berhenti.


Memutuskan hal seperti ini bukan hal yang mudah, mereka tahu bahwa kemungkinan masalah-masalah itu akan datang lagi atau melebar kemana-mana, namun mereka tidak akan menghindar. Mereka melakukan ini hanya untuk menyenangkan diri mereka sendiri.


Tanpa disadari oleh Daffin dan Aya, ternyata hubungan percintaan mereka sudah berjalan selama seratus hari, jika masa putus mereka tidak dihitung. Dan hal itu ternyata menjadi bahan adu argumen di antara mereka berdua hari itu.


“Ini hari jadi yang ke seratus, Fin!” seru Aya.


“Ya enggak dong, kan dipotong pas kamu mutusin aku itu” jawab Daffin santai.


Mereka berdua mendebatkan hal itu hampir selama satu jam. Perihnya lagi, mereka melakukannya di depan Nona yang sudah menggerutu sejak awal.


“Hei, kalian sengaja kan ngelakuin ini di depan gue?” protes Nona.


Sejak Aya memutuskan kembali menerima Daffin, ia pun mulai menerima Nona sebagai teman. Aya melihat Nona telah banyak melakukan perubahan. Selain perubahan fisik, sikapnya juga menjadi lebih baik.


“Ya diitung lah, Fin. Itu kan bagian dari hubungan. Lagian putusnya kan nggak lama” kilah Aya.


Daffin pun membalasnya lagi sesuai apa yang menurutnya benar. Mereka berdua kompak mengabaikan keberadaan Nona di depannya. Hingga akhirnya Nona merajuk dan berniat beranjak pergi. Ia memberi hadiah gebrakan meja agar kedua sejoli itu menyadari keberadaannya.


Brakk


“Bener-bener ya kalian, kalau mau pacaran jangan ngajak gue lagi deh!” teriak Nona.


Daffin dan Aya kompak menertawakan tingkah Nona yang merajuk. Sebenarnya mereka sadar, hanya saja mereka memang terlalu larut dalam perdebatan mereka. Ditambah lagi, Aya suka sekali menggoda dan menjahili Nona.


“Maaf, maaf, udah sini makan dulu!” kata Aya.


Melihat Aya mulai tersenyum dan tertawa, Daffin pun ikut tersenyum bahagia.


Setelah sekian lama akhirnya dia bisa melihat Aya tertawa kembali. Ia bisa mendengar omelannya lagi. Dan yang paling penting adalah Aya tidak lagi menjauhinya.


Pun begitu dengan Nona. Ia dan Daffin selalu mencuri waktu untuk saling pandang sejenak ketika melihat usaha mereka berhasil.


Sebenarnya Nona lah yang awalnya memberi saran pada Daffin untuk membiarkan Aya dengan waktunya sendiri. Dan Daffin pun setuju dengan saran itu.


Ia juga merasa Aya butuh waktu untuk menerima dan melupakan semua hal buruk yang terjadi padanya.


Beruntungnya usahanya berhasil. Aya bisa menerima Daffin kembali dan ia juga kembali pada dirinya yang lama.


Hari itu pun tidak selesai hanya dengan perdebatan soal jumlah hari jadian mereka. Aya mengomeli Daffin karena ternyata dirinya mempunyai nilai yang lebih bagus daripada Aya. Padahal selama ini Daffin sering membolos dan tidak terlihat belajar apapun, tapi ia malah mendapat nilai tinggi untuk ujian akhir semesternya.


“Kamu bohongin aku ya? Kamu curang, kan?” desak Aya tak terima.


Kebetulan hari itu juga adalah hari dimana nilai ujian akhir semester dua diumumkan. Tanpa diduga oleh siapapun, ternyata kelas Daffin memperoleh nilai paling tinggi secara paralel alias antar kelas. Dan dia memiliki nilai yang paling tinggi juga di seluruh angkatannya.


“Apa maksudmu? Aku belajar, kamu aja yang nggak merhatiin aku” jawab Daffin.


“Mana ada belajar, sering bolos gitu” Aya tetap mengeyel.


“Aku belajar dimana aja, nggak harus di sekolah” lanjut Daffin.


“Kali ini gue beneran mau pergi!” teriak Nona.


Ia pun meninggalkan Daffin dan Aya di bangku taman sekolah. Meski tahu Nona telah pergi, mereka pun masih terus berdebat.


Aya merasa tidak terima karena Daffin ternyata memiliki otak yang sangat pintar. Ia lebih tidak menduganya daripada tidak mau menerimanya.


Akhirnya Daffin bercerita bahwa sebenarnya dia memang tidak terlalu sering belajar, tapi dia memiliki ingatan yang cukup kuat dan cepat. Jadi ketika dia belajar atau mendengarkan dengan fokus, materi apapun akan mudah masuk dan bersemayam di ingatannya.


“Wuah, apa kamu sejenius itu?” tanya Aya tak percaya.


“Iyaaa, makanya kamu nggak usah khawatir. Kamu nggak akan hilang dari pikiran aku”


Gombalan Daffin membuat Aya berhenti mengomel dan tersipu malu. Ia tak pernah mengira Daffin bisa segombal itu, padahal Daffin yang dulu Aya kenal adalah anak yang dingin dan cuek.


“Kamu godain cewek lain pakai gombalan gini juga?” tanya Aya tiba-tiba.


“Kumat lagi” gumam Daffin.


***


Sudah hampir satu bulan sejak kejadian di gudang itu bersama Arka. Dan keberadaannya saat ini tidak diketahui oleh siapapun.


Ada hal yang Aya dan Nona tidak ketahui. Daffin memang nampak melupakan semua kejadian yang mereka alami, tapi sebenarnya ia tetap berusaha mencari Arka.


Pernah satu kali Aya menanyakan hal itu padanya, namun ia dengan tegas mengatakan bahwa ia tidak ingin membahasnya terlebih dahulu. Ia mengatakan akan lebih fokus dengan sekolah dan hubungannya bersama Aya.


Begitu juga dengan Nona. Daffin tidak mengatakan bahwa ia masih mencari Arka, tapi ia hanya mengatakan kalau sewaktu-waktu dia mungkin membutuhkan bantuan Nona.


Namun sekeras apapun mencarinya, tanpa sepengetahuan Aya dan Nona, Daffin tetap kesulitan menemukan Arka. Semua tempat yang memungkinkan ia bersembunyi di sana, sudah Daffin jelajahi, dan semua nihil.


Andai ia menemukan Arka pun, yang akan dia lakukan hanyalah mengetahui alasan dan cerita yang sesungguhnya. Sisanya terserah waktu yang mengurusnya.


Meski Arka bukan saudara kandungnya, tapi ia tetaplah kakaknya. Daffin tidak bisa membiarkan Arka semakin terjerumus dalam dunia gelap yang pernah menjatuhkannya.


Ketika ia tengah memikirkan cara apa lagi untuk mendapatkan Arka, tiba-tiba ia terpikirkan akan sesuatu.


Sesuatu yang mungkin bisa membantunya mendapatkan info mengenai keberadaan Arka.


Tapi sayangnya ia membutuhkan bantuan seseorang untuk itu. Dan kemungkinan orang itu mau membantunya sangatlah sedikit. Lagi-lagi pikiran Daffin buntu. Dalam hatinya ia merutuki Arka yang membuatnya repot seperti ini.


Ting


Tiba-tiba ponsel Daffin berbunyi di tengah-tengah kebersamaannya bersama Aya. Ia pun membuka pesan yang masuk di ponselnya.


Mata, bahu, dan seluruh gerakan tubuh Daffin tampak lega setelah menbaca pesan itu.


Pesan itu dari Arka.


Ia segera mengantongi ponselnya dan mencari alasan untuk berpamitan dengan Aya. Karena jika gadis itu curiga, bisa membahayakan hubungannya kembali.


Akhirnya ia memutuskan memakai Nona sebagai alasannya. Ia mengatakan akan mengantar Nona konsultasi kesehatan ke dokter kenalannya. Dan beruntungnya Aya mempercayainya begitu saja.