
Di ruangan yang sunyi dan hanya ada bunyi jam yang berdetik itu, Daffin dan Arka saling berdiam diri. Tidak ada satupun yang mengucapkan sesuatu. Dan pada akhirnya Daffin lah yang pertama kali membuka pembicaraan mereka.
“Gue nunggu penjelasan dari lo, Ar”
“Bukannya lo udah tahu semuanya?” jawab Arka santai.
Daffin belum sepenuhnya mengetahui bahwa Arka telah melakukan banyak hal di belakangnya. Ia hanya tahu soal Arka yang telah membuat Aya tak sadarkan diri dan terbangun di Rumah Kampung, dan perkara ucapannya pada Aya di atap.
Namun dengan cerdik, Arka tidak memulai pembicaraan lebih dulu karena ia juga belum tahu apa yang sudah Daffin ketahui soal dirinya.
“Gue tahu lo suka sama Aya, tapi apa harus lo bilang seperti itu ke dia?”
“Apa lo udah nggak yakin bisa ngrebut Aya dari gue dengan usaha lo sendiri?” lanjutnya lagi.
Arka tersenyum sinis mendengar sindiran Daffin. Ia berasumsi Daffin belum tahu soal dirinya yang terlibat dengan Benny dan Nona.
“Lo tenang aja. Nanti tiba saatnya dimana lo akan menyesal pernah ngomong gini ke gue” jawabnya sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Tunggu!”
Daffin menghentikan niat Arka untuk meninggalkannya. Ia memandang kakaknya sepersekian detik sebelum akhirnya memberinya bogem mentah yang cukup kuat hingga membuat ujung bibirnya sedikit berdarah.
“Ini terakhir kali lo nyentuh Aya. Kalau lo nekat membuatnya pingsan lagi seperti di rumah kampung, lo akan habis sama gue” ancam Daffin.
Arka sedikit terkejut karena tak menyangka Daffin sudah mengetahui tentang hal itu. Namun dia berusaha menyembunyikannya dengan senyuman liciknya dan berlalu meninggalkan Daffin.
Di dalam kamarnya, Arka memasang wajah tidak terima. Ia melihat hasil pukulan Daffin di wajahnya melalui cermin. Seumur hidup dirinya tidak pernah merasakan dipandang rendah seperti ini.
“Lo liat aja, Fin. Aya nggak akan lama bareng lo”
Sementara itu Daffin menelepon Aya untuk mengajaknya pergi mengunjungi seseorang yang ia kenal saat di panti rehabilitasi. Orang itu adalah dokter yang mengenal Daffin dengan baik dan sangat dekat dengannya. Bahkan ia mengatakan jika Daffin kembali terjerumus narkoba, ia akan menjadi orang yang paling awal membantunya untuk rehabilitasi.
Daffin ingin meminta tolong pada dokter itu untuk berkonsultasi mengenai obat yang pernah dimasukkan dalam dirinya dan Aya. Namun sebelum mereka berangkat menemui dokter itu, Aya mempunyai pendapat lain.
Aya pikir itu akan percuma, karena sudah beberapa hari sejak kejadian itu terjadi, dan Daffin melupakan itu. Tapi ada satu cara untuk mengetahuinya, yaitu bertanya pada pelakunya langsung.
Daffin akhirnya setuju untuk bertanya pada Arka dan Nona. Ia meminta Aya untuk tidak melakukan apapun, dan mempercayakannya pada Daffin.
***
Aya dan Daffin sepakat untuk mengatakan yang sesungguhnya pada Haira dan Dipa tentang perbuatan Arka. Haira yang biasanya memandang Arka dengan penuh kekaguman akan sikapnya yang lembut, kini berganti emosi dan amarah yang meluap-luap. Ia tak menyangka Arka akan menyakiti kakaknya seperti itu.
Seminggu setelah ultimatum Daffin pada Arka, mereka tidak lagi berkomunikasi atau bertemu satu sama lain. Daffin juga menghimbau Aya, Haira, dan Dipa untuk tidak kembali mendatangi Rumah Kampung. Ia memutuskan untuk menyewakan rumah neneknya itu karena memang semua furnitur dan bangunannya masih tergolong bagus.
Setelah memutuskan hubungan dengan para trouble maker itu, kini mereka harus bersiap dan fokus mengurus masalah sekolah mereka. Daffin dan Aya kembali dipanggil guru karena mereka sering absen dan nilainya juga menurun.
Wali kelas mereka mengatakan bahwa mereka tidak akan naik kelas jika terus seperti ini. Bahkan mungkin tidak akan bisa lulus dan kuliah. Beliau meminta salah satu murid yang menjadi juara paralel sekolah untuk menjadi tutor sebaya bagi Aya dan Daffin.
Dan betapa terkejutnya Aya ketika tahu bahwa tutor mereka adalah seorang siswa yang sangat Aya kenal. Dia adalah Fino, teman seangkatan mereka yang tergolong murid idaman para guru dan siswi-siswi seluruh angkatan. Fino adalah murid pandai yang memiliki banyak kemampuan, termasuk menjadi Kapten Tim Basket, ia juga anggota ekstrakurikuler musik.
Dan murid seperti itulah yang akan menjadi tutor dan mentor untuk Daffin dan Aya. Lucunya lagi, Fino adalah mantan crush-nya si Aya. Mereka pernah menjalin kedekatan saat mereka duduk di kelas sepuluh. Aya dikenal sebagai ketua klub penggemar Fino saat itu. Sayangnya mereka tidak berlanjut menjadi sepasang muda mudi yang dimabuk cinta, karena Fino adalah anak yang terlalu menurut pada kedua orang tuanya. Mereka melarang sang anak untuk berpacaran dan fokus untuk belajar.
Saat Aya mengetahui Fino menjadi tutornya, tentu saja dia senang sekaligus malu karena mantan gebetannya tahu bahwa nilainya jelek. Tapi tidak dengan Daffin. Dia yang mengenal Fino dari teriakan para gadis saat menonton pertandingan basket, mulai tak menyukai ide tutor sebaya itu.
Ia memang belum tahu sejarah antara pacarnya dan Fino, tapi ia bisa merasakan Aya adalah salah satu dari gadis-gadis yang suka berteriak itu. Bahkan ia sudah mulai merasa cemburu sebelum memulainya.
“Apa kamu mengenalnya?” tanya Daffin curiga.
“Tentu saja kenal, dia teman sekelasku tahun lalu” jawab Aya cuek sambil malu-malu.
“Kenapa wajahmu merah gitu? Trus ada apa dengan ekspresi malu-malu itu?” desak Daffin.
“Apa maksudmu? Aku biasa aja” kilah Aya, ia tak percaya Daffin begitu cepat menyadarinya.
Daffin melangkah mendekati Aya hingga gadis itu beringsut mundur. Lantas ia membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya sekarang berada di jarak yang kritis dengan wajah Aya yang memang mulai memerah. Tapi bukan karena memikirkan cinta pertamanya yang kembali muncul, melainkan karena posisi Daffin yang sangat berbahaya baginya.
“Sudah kubilang wajahmu merah, lihat ini!” ucap Daffin sambil memegang pipi Aya dengan lembut.
Aya menahan napasnya sebisa mungkin. Kini jarak antara wajahnya dan wajah Daffin hanya tinggal lima sentimeter.
“He..hei, kamu terlalu dekat” ucap Aya gemetar.
“Kenapa emangnya?” goda Daffin.
“Apa kamu bosan hidup? Kalau guru lihat gimana, atau anak-anak lain?”
Aya memandang wajah Daffin yang tersenyum dengan ujung bibirnya. Dia baru sadar setelah sedekat ini dengannya, bahwa Daffin memang memiliki mata yang indah. Dia tampan tapi tidak membosankan.
“Kalau guru ngeliat, paling hanya dihukum sama kamu. Kalau anak-anak lihat, aku malah seneng” kata Daffin.
“A..apa maksudmu senang?” tanyanya sambil terus menahan sedikit napasnya karena gugup. Daffin masih belum mau mundur dari posisinya.
“Karena sejak hari ini, aku mau kita go public”
Aya menelan ludahnya. Ia tak tahu Daffin akan senekat itu.
“Apa? Kamu gila? Kamu tahu mereka akan..”
Aya lagi-lagi terkejut dengan ulah Daffin yang membuatnya bisa jantungan setiap saat. Kali ini dia membuat Aya menutup mulutnya dengan cara yang tak pernah Aya bayangkan selama ini.
“Kamu benar-benar..” ucap Aya lirih.
“Kenapa? Kamu nggak mau?” goda Daffin untuk kesekian kali.
“Mm, bukan nggak suka..tapi..”
Lagi-lagi Daffin ‘menyerangnya’ dengan kecupan bibir kedua.