
Selama di sekolah, Daffin mencoba menghindari Aya, Arka, dan Nona. Namun ia memberitahu Aya bahwa jika ia terlihat menjaga jarak darinya saat di sekolah, itu karena dia tidak mau Aya semakin kesulitan menangani rumor tentang mereka.
Aya setuju dengan rencananya, karena memang rumor ia menjadi gadisnya Daffin masih ada di daftar menu gibah anak-anak, meski sudah agak mereda. Tentu saja Daffin tidak memberitahunya bahwa ia sedang mengawasi Arka dan Nona.
"Cih, awas aja kalau ini kamu jadikan alasan buat deket cewek lain" gerutu Aya setelah membaca pesan konfirmasi dari Daffin.
"Lagi ngapain, Ay?"
Tiba-tiba suara Arka dari belakang mengejutkannya. Ia menjawab sekedarnya dan melarikan diri menuju kelas. Aya pun sebenarnya tengah menjaga jarak dari Arka. Perasaan yang pernah diungkapkan oleh Arka padanya, membuatnya sedikit tak nyaman. Hal yang membuatnya melakukan itu sebab Arka mengungkapkannya setelah tahu bahwa Aya sudah berpacaran dengan Daffin.
Melihat Aya melarikan diri, Arka mendengus kesal. Ia pun pergi menuju aula olahraga untuk bermain basket.
Ternyata disana sudah ada Daffin dan beberapa anak lain yang sudah bermain lebih dulu. Arka pun bergabung dan Daffin menyetujuinya. Ia berpikir bisa memulai memantau Arka dari sekarang.
Setelah bermain beberapa menit, Arka dan Daffin beristirahat di pinggir lapangan basket. Daffin menyodorkan sebotol air minum pada Arka. Ia pun langsung menerima dan meneguk air pemberian Daffin.
"Itu air dari Nona" celetuk Daffin tiba-tiba.
Arka secara refleks menyemburkan air yang tengah diminumnya. Ia melihat ke arah Daffin dengan tatapan tajam. Melihat reaksi Arka yang gelagapan dan memuntahkan air pemberiannya, membuat Daffin sedikit curiga. Menurutnya, Arka tidak harus memuntahkan air itu meskipun Nona benar yang memberikannya. Itu menandakan ada sesuatu antara Arka dan Nona, entah apapun itu.
"Canda doang, kenapa heboh banget sampe nyembur" kelakar Daffin sambil tertawa.
Sementara Arka hanya diam sembari mengelap wajahnya yang penuh dengan air hasil semburannya. Wajahnya sedikit panik dan ada raut emosi tak terima. Daffin yang bisa melihat keanehan itu, mencoba mencairkan suasana dengan mengajaknya bermain basket lagi.
Namun Arka yang tampak badmood memilih pergi dari aula olahraga. Daffin melihatnya pergi dan mengejarnya. Sambil merangkul Arka, ia mencoba memulai aksi pantauannya.
"Lo masih marah ama gue gara-gara tadi?" tanyanya.
"Lagian kenapa disemburin, emang kenapa kalau dari Nona beneran?" lanjutnya
"Lepasin!" sentak Arka sambil melepas tangan Daffin dari bahunya.
Sikap Arka yang semakin jelas bahwa dia sedang marah ini, membuat Daffin semakin yakin bahwa ia tengah menyembunyikan sesuatu. Ia pun meninggalkan Arka dan beralih mencari Nona.
Gadis itu sengaja pindah ke sekolah demi mencari Daffin. Tapi hal seekstrem itu tidak bisa ia lakukan sendiri, mengingat Nona juga bukan berasal dari keluarga yang mampu. Meskipun ia juga menjadi pekerja di tempat Benny, hasilnya tak akan cukup untuk bisa membuatnya pindah sekolah dan membayar biaya awal masuk ke sekolah ini.
Sekolah mereka memang tergolong memiliki biaya yang cukup mahal, karena termasuk dalam kategori sekolah swasta. Biaya masuknya saja bisa mencapai jutaan. Jika Nona bisa membiayai dirinya sendiri hanya dengan uang hasil bekerjanya di kafe Benny, itu tidak mungkin. Karena sepengetahuan Daffin, kepindahannya termasuk sangat cepat.
Namun jika ia benar-benar bisa membayar, berarti ada orang yang membantunya. Dan entah bagaimana firasat Daffin tertuju pada Arka. Karena dia memiliki uang yang cukup banyak dari orang tua mereka yang memang tergolong kaya.
Daffin tidak pernah menunjukkan bahwa dirinya adalah anak orang kaya. Semenjak ia masuk dalam dunia narkoba, dan memutuskan tinggal bersama neneknya, ia menganggap dirinya bukan lagi bagian dari keluarga kaya itu.
Dengan semua pemikiran Daffin ini, ditambah kecurigaannya pada Arka dan Nona, ia memantapkan diri memantau semua pergerakan mereka berdua.
Setelah meninggalkan Arka dengan emosinya, Daffin mencari keberadaan Nona. Ia melihat gadis itu tengah bercanda dengan teman-teman satu gengnya. Ia pun mendekati Nona dan mengajaknya ke tempat lain. Tentu saja Nona menyambutnya dengan ekspresi sumringah luar biasa. Teman-temannya pun menyoraki mereka dengan antusias.
Begitu Daffin mengajaknya ke area gudang belakang, Nona mendekatinya dengan berani.
"Nggak usah main-main. Gue cuma mau tanya, obat apa itu?"
Nona tersenyum dan memundurkan langkahnya. Seolah sudah siap dengan jawabannya, Nona menatap Daffin dan menjawabnya.
"Aku akan jawab kalau kamu mau jadi pacarku, dan putuskan si ****** itu"
Kesal dan frustasi mulai menyerang Daffin saat itu. Menghadapi gadis ini tak semudah yang ia pikir. Daffin pun mulai melancarkan rencananya.
"Gue dengar dari Arka, lo yang nyuruh mereka buat masukin obat itu ke gue. Apa itu benar?" desaknya lagi.
"Hah? Aku?" tanya Nona sedikit terkejut tapi ia tutupi dengan tawanya.
"Dia bilang akan laporin lo ke polisi kalau lo nggak ngasih tahu soal obat itu" ancamannya dimulai.
Nona terdiam seolah memikirkan sesuatu. Daffin bisa melihat jebakannya mulai mempengaruhi mental gadis itu. Ia tahu betul bahwa Nona sangat benci dengan pengkhianatan. Ia mengejarnya hingga menyakiti Aya karena berpikir Daffin mengkhianatinya. Jika kecurigaannya benar, ia akan merasa Arka mengkhianatinya. Dan akan lebih mudah bagi Daffin untuk mencari informasi lainnya.
***
Arka yang meninggalkan Daffin berusaha menyembunyikan amarahnya yang mulai meluap. Ia menuju atap dan bertemu dengan Aya yang terkejut melihat kedatangannya.
"Hai, Ar!" sapa Aya.
"Hai!" balas Arka mengayunkan kelima jarinya.
Melihat Arka yang datang, Aya mencoba menghindarinya dengan berpamitan akan turun, namun Arka justru menahannya. Aya sedikit gugup namun berusaha tetap menjaga sikapnya. Arka tiba-tiba melangkah mendekatinya dan memegang tangan Aya.
"Kenapa, Ay?"
"Huh?" Aya tidak mengerti arah ucapan Arka.
"Kenapa kamu nggak putus aja sama Daffin dan jadi pacarku?" lanjutnya.
Aya tidak mengira ucapan itu yang akan keluar dari mulut Arka. Ia tahu betul bahwa ia dan adiknya berpacaran, tetapi kenapa dia bisa mengatakan hal sekurang ajar itu padanya. Namun Aya masih menanggapinya dengan candaan, meski tahu Arka tengah serius dengan ucapannya.
"Apa maksudmu, Ar? Jangan bercanda begitu!"
"Aku nggak lagi bercanda. Kamu tahu itu" jawabnya.
Aya mulai merasa kesal dengan sikap Arka. Mau tak mau ia harus membuatnya jelas dan tegas agar Arka tidak lagi membuatnya tidak nyaman.
"Kamu tau aku pacaran sama Daffin, dia adikmu sendiri, Ar! Apa kamu gila?" teriaknya pada Arka.
"Daffin pecandu, Ay. Dia nggak akan bisa sembuh. Apa kamu mau terus sama orang bermasalah seperti dia?"
Aya kehabisan kata-kata saat mendengar kalimat itu. Tangannya tak bisa ditahan hingga akhirnya sebuah tamparan mendarat di pipi Arka.