
Aya berlari meninggalkan tempat itu. Ia bahkan sudah tak peduli atau malu saat semua anak memandanginya yang sedang menangis di sepanjang jalan.
Aya memilih kembali ke kelas setelah menyeka semua air matanya. Ia tidak ingin mengakhiri hari pertamanya di tingkat akhir dengan melewatkan satu pelajaran pun.
Beruntung saat itu bel segera berbunyi, sehingga baik Daffin, Arka atau Nona tidak bisa mengikuti mereka masuk ke dalam kelas, karena kelas mereka semua berbeda.
Daffin ingin mengejar Aya, tetapi Arka menahannya dengan beralasan membiarkan Aya sendirian adalah hal yang tepat saat itu.
Dan keputusan Daffin mengikuti saran dari Arka membuat Aya kembali murka padanya. Ia bahkan memblokir nomor Daffin dan Nona.
Begitu kelas terakhir selesai, Aya langsung berlari secepat mungkin menuju gerbang sekolah. Dia terus berusaha menghindari bertemu dengan anak-anak yang membuatnya muak hari itu.
“Dasar! Ternyata kalian sama aja!” gerutu Aya sepanjang jalan.
Begitu ia sampai di rumah, Aya mengambil box besar yang ada di atas lemari kamarnya. Ia meminta Haira untuk menggantikan shiftnya di toko kue mereka sementara Aya akan mengepak semua barang-barang yang diberikan Daffin padanya.
“Kamu berantem lagi sama kak Daffin?” tanya Haira.
Aya tidak menjawab. Ia hanya sibuk mencari barang-barang yang tersebar di seluruh sudut kamarnya. Dan saat itu giliran ponsel Haira yang terus berdering karena nomor Daffin telah diblokir oleh Aya.
“Halo” ucap Haira sambil melangkah keluar dari kamar Aya.
Karena terlalu fokus dengan aktifitasnya, ia tidak menyadari bahwa Daffin telah berdiri di depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka.
Melihat Aya yang terus memasukkan barang-barang yang ia kenali, Daffin pun masuk ke kamar tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.
“Ay, apa-apaan ini? Kenapa kamu masukin semua barang-barang ini ke kardus?” tanya Daffin.
Aya langsung terperanjat saat mendengar dan melihat Daffin sudah berada di belakangnya. Ia pun langsung merutuki Haira karena telah memasukkan orang yang dia benci ke dalam kamarnya dan tanpa ijinnya.
“Ngapain lo kesini?” tanya Aya ketus.
Mendengar Aya mengubah panggilannya, Daffin baru menyadari bahwa pacarnya sedang dalam kondisi semarah itu. Daffin melangkah mendekat tapi Aya justru berteriak padanya untuk keluar dari kamarnya.
Takut akan membuat keributan di rumah Aya, Daffin pun memutuskan untuk meninggalkan kamar Aya dan menunggunya di halaman rumah.
“Nggak berhasil, kak?” tanya Haira yang masih mencuci tas miliknya.
“Dia marah banget kayaknya” jawab Daffin sembari menggeleng.
“Emang berantem kenapa lagi sih? Perasaan baru balikan kemarin” ucap Haira.
Daffin menceritakan soal Laura serta menjelaskan niat dan rencana awal mereka hingga terjadinya salah paham itu. Begitu mendengar kata Laura, Haira mengernyit.
"Laura? Si anak geng yang suka bully itu?”
“Iya, kok kamu tahu?” balas Daffin.
Haira tidak mengenal Laura secara langsung, ia hanya mengetahui namanya dari cerita anak-anak di sekolahnya yang pernah merasakan risakan dari Laura dan gengnya. Laura terkenal bukan hanya merisak teman satu sekolahnya, tetapi juga siswa dari sekolah lain.
“Mereka itu legend, Kak. Nggak ada yang berani ngelawan mereka” kata Haira.
Tiba-tiba obrolan mereka berhenti setelah Aya keluar dari balik pintu sambil membawa sebuah kotak kardus besar berisi barang-barang pemberian Daffin.
Aya langsung meletakkan kotak kardus itu di depan Daffin dengan cukup keras.
“Nih aku balikin semua barang-barang lo!” seru Aya dengan nada yang dingin.
Daffin langsung meraih tangan Aya dan menariknya agar lebih mendekat.
“Dengerin lo dulu? Apa tadi lo dengerin gue? Lo dengerin pendapat gue? Enggak!” teriak Aya.
Ia langsung berbalik dan berjalan kembali masuk ke kamarnya. Tapi ia kembali keluar dan mendekat ke arah Daffin sambil memberikan sebuah cincin yang pernah Daffin berikan padanya.
“Kita putus, Fin!” kata Aya dengan lirih.
Daffin berniat menarik tangan Aya kembali, akan tetapi yang dia lakukan hanyalah berteriak dengan mulutnya.
“Enggak! Aku nggak mau!”
Melihat teriakannya berhasil membuat Aya berhenti, Daffin pun melanjutkan ucapannya.
“Oke, aku salah karena nggak dengerin kamu dulu! Aku minta maaf!”
“Tapi aku nggak mau putus sama kamu, Ay!” teriak Daffin lagi.
Karena suara Daffin begitu keras, beberapa tetangga Aya ada yang melihat dari jalan depan rumahnya. Takut menjadi salah paham, Aya mendekati Daffin agar dia tidak berteriak lagi. Tetapi Aya tetap menyuruh Haira berada di sana untuk menjadi penengah. Ia juga tidak menyuruh Daffin masuk ke dalam rumah dan tetap berada di halaman.
“Sekarang katakan!” ucap Aya.
“Aku memang sempat ngira rencana Arka itu lumayan, tapi aku nggak tahu kalau kamu bakal semarah ini karena rencana itu” kata Daffin.
“Lo kira gue marah cuma karena diminta ngomong itu? Lo salah besar!” ucap Aya.
Aya menceritakan soal telepon dari Laura yang ia terima dari ponsel Daffin. Ia mengatakan bahwa apa yang ia dengar sudah sangat jelas untuk menjadi bukti bahwa Laura dan Arka bekerja sama.
“Arka itu nggak berubah! Sama sekali enggak!” teriak Aya.
Daffin dan Haira yang sedari tadi mendengarkan cerita Aya, hanya bisa terdiam dan tak bisa berkata-kata.
"Tapi yang paling gue benci adalah ketidakpercayaan lo sama gue, Fin!” pungkas Aya.
Untuk yang terakhir, Daffin tidak menahan Aya yang sudah kembali masuk ke dalam rumah dan meninggalkannya.
Daffin masih terpaku beberapa saat sebelum akhirnya berpamitan dengan Haira dan meninggalkan rumah itu sambil membawa kotak yang Aya tinggalkan.
Sepanjang jalannya, ia tidak bisa berpikir jernih lagi. Di dalam hatinya ia berjanji akan membuat perhitungan dengan Arka. Ia tidak akan peduli lagi dengan hidupnya jika apa yang ia dengar ini benar adanya.
Tetapi ia juga berpikir, jika ia menyerang Arka dengan cara seperti ini, yang ada dia akan mengelak dan mencari alasan. Ia harus mencari cara lain agar Arka tidak bisa berkelit dan mengakui semuanya. Daffin memutuskan untuk berpura-pura tidak mengetahui hal ini dan tetap mendukung keputusan Arka.
Daffin juga tidak akan mengatakan hal ini pada Nona. Gadis itu bisa saja keceplosan dan malah merusak rencananya.
***
Laura dan gengnya mengadakan pesta kecil karena telah berhasil membuat Daffin dan Aya berpisah. Yang lebih menjengkelkan lagi bagi Daffin, mereka mengadakan pesta itu di atap yang biasa ia gunakan bersama Aya.
Mereka terus mengumpat dan mengolok Aya yang telah kalah dalam pertarungan memperebutkan Daffin.
“Congrats Lau! Sekarang tinggal mikir cara ngedapetin Daffin" kata Bonita.
“Kalian tenang aja. Hal kayak gitu mudah buat Laura” jawab Laura sambil meneguk kola yang ada di depannya.
Daffin yang ternyata juga berada di atap itu, mulai kesal dan emosi melihat kelakuan mereka. Namun kekesalannya tidak berhenti sampai di situ. Pamungkasnya ketika dia melihat ada yang baru datang bergabung dengan mereka.
Ketika dia mengintip dari tempat persembunyiannya, Daffin tidak bisa berkata apapun lagi. Bagaimana tidak, dalam waktu yang bersamaan dia melihat Arka datang dan menyapa Laura cs dengan sumringah. Parahnya lagi, ada seseorang yang mengekor di belakangnya. Dan orang itu adalah Nona.