Our High School

Our High School
Penculikan



Sebenarnya malam itu juga Daffin ingin langsung mencari keberadaan Arka, tapi ponselnya yang hilang membuat semuanya menjadi rumit. Akhirnya setelah memikirkan semua dengan matang, Daffin mengajak Pristy ke tempat lain. Meski malam sudah sangat larut, mereka tetap pergi. Daffin berpikir jika Arka dibalik semua ini, berarti ada campur tangan Laura juga di dalamnya. Jika itu terjadi, percuma mereka membawa Pristy ke rumah Daffin atau Aya, karena mereka akan bisa menemukannya.


Untungnya Daffin masih memegang sedikit uang, karena dia tidak memiliki kenalan lain yang bisa dipercaya, akhirnya Daffin membawa Pristy ke sebuah penginapan sederhana. Ia juga berpesan pada gadis itu agar dia menjaga dirinya. Daffin memberi nomor Aya agar dia bisa menghubungi mereka.


“Kamu jangan pernah bukain pintu buat siapapun kecuali aku atau Aya. Kamu paham?” kata Daffin.


“Apa mereka akan terus mengejarku?” tanya Pristy masih dengan ekspresi ketakutannya.


“Kamu tenang aja, aku akan secepatnya menyelesaikan masalah ini”


Pristy masuk ke penginapan itu dengan keadaan tertatih. Luka di sekujur tubuhnya masih bisa ia rasakan. Daffin dan Aya pernah meminta Pristy untuk melaporkan kejadian ini ke polisi. Ditambah melihat keadaan Pristy, yang setelah dilecehkan seperti itu, dan penuh luka, harusnya dia berada di tempat yang sangat aman. Terlebih dia sangat trauma setelah kejadian itu. Akan tetapi ancaman yang dikirimkan ke ponsel Aya tak bisa diabaikan begitu saja. Laura bisa melakukan hal yang lebih gila daripada ini, bahkan mungkin sampai bisa mengancam nyawa.


Setelah meninggalkan Pristy di penginapan itu, Daffin menuju rumah Aya. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi Daffin tak peduli. Ia harus membicarakan masalah itu saat ini juga, pikirnya. Daffin tak mau kehilangan Aya untuk kesekian kalinya lagi.


Begitu sampai di rumah Aya, dia pun mengetuk pintu. Tapi sayangnya yang keluar justru Haira. Dengan sedikit canggung dan malu akhirnya Daffin pun meminta bantuan Haira untuk mempertemukannya dengan Aya.


“Berantem lagi, Kak?” tanya Haira.


“Enggak, bisa kamu panggilin bentar nggak? Aku nggak akan lama” jawab Daffin dengan memasang wajah seolah tak terjadi apapun.


Akhirnya dengan penuh rasa penasaran, Haira pun memanggil Aya. Awalnya gadis itu tidak bersedia bertemu dengan Daffin. Dia menyuruh Haira untuk berkata bohong bahwa Aya sudah tertidur. Tetapi setelah Haira meyakinkan kakaknya bahwa mungkin saja dia ingin membahas hal penting, akhirnya dia pun bersedia keluar menemuinya.


“Ada apa lagi?” tanya Aya sedikit cuek.


Melihat sikap Aya yang masih dingin padanya, Daffin pun langsung mengatakan tujuannya datang menemuinya.


“Maaf ganggu kamu malam-malam. Tadi Pristy udah ngomong soal siapa yang ngelakuin itu sama dia” kata Daffin.


Raut wajah Aya langsung kaget. Ia merasa lega sedikit tercengang karena secepat ini dia mengatakan itu. Aya pikir Pristy masih enggan membahas masalah itu.


“Kok bisa? Kamu nanya gimana sama dia?” tanya Aya.


Daffin menceritakan proses Pristy yang menemukan foto keluarganya bersama Arka. Dan dia memberi reaksi panik setelah melihat foto itu.


“Jadi, Arka?”


“Iya. Setidaknya menurut pernyataan Pristy” jawab Daffin.


“Bener-bener tuh anak, kenapa dia semakin brutal gini sih?” gerutu Aya.


Daffin berjalan mendekat ke tempat Aya berdiri. Dengan perlahan dia memegang tangan Aya dan mereka saling bertatapan.


“Kamu percaya sama aku, kan? Aku nggak mungkin ngelakuin hal serendah itu” kata Daffin.


Aya hanya terdiam tak membalas perkataan Daffin. Setelah melihat waktu semakin malam, dan obrolan mereka dirasa sudah cukup, dia pun meminta Daffin untuk segera pulang.


***


Setelah masuk ke area sekolah, orang pertama yang Daffin temui adalah Laura. Dia seolah sudah seperti menunggu kedatangan Daffin. Dan ketika melihat Daffin berjalan sendirian tanpa Aya, senyum liciknya pun merekah.


“Hai, Fin!” sapa Laura dengan tangan terlambai santai di udara.


“Nggak usah sok ramah depan gue!” jawab Daffin sambil berjalan melewati Laura.


Tapi beberapa anak yang mengekor Laura seperti anteknya itu, langsung menghadang dan memberhentikan langkah Daffin.


“Minggir!”


“Daffin, apa kamu tahu kenapa Aya segitu percayanya sama jebakan yang aku buat?” tanya Laura.


Langkah Daffin terhenti, ia memutuskan akan meladeni Laura untuk melihat seperti apa sikap dia selanjutnya.


“Apa maksud lo ngomong kayak gitu?” tanya Daffin.


“Dia itu nggak segitu cintanya sama kamu, Fin. Dia percaya kalau kamu yang ngelakuin itu” kata Laura sambil tertawa lebar.


“Sebenarnya apa maumu?” tanya Daffin dingin.


Laura dengan penuh percaya diri meminta Daffin berpisah dari Aya dan dia yang harus memutuskan Aya. Daffin juga tidak boleh bertemu Aya lagi selamanya. Laura akan memberikan penjagaan ketat di sekitar Daffin agar dia tidak bertemu lagi dengan Aya.


Dan mendengar permintaan konyol semacam itu, Daffin pun tersenyum kecut. Dia tak percaya Laura bisa juga bertindak bodoh seperti itu.


“Kalau gue nggak mau?” tantang Daffin.


“Lo akan kehilangan Aya!” jawab Laura dengan tatapan yang berubah dingin tajam menusuk.


Mendengar ancaman itu, Daffin tak lagi menanggapinya. Dia harus berpikir keras untuk melindungi Aya dari gadis psikopat ini.


Sementara itu jauh di belakang mereka, Aya melihat percakapan Daffin dan Laura. Hatinya sedikit cemburu, apalagi semalam dia menyetujui rencana Daffin untuk menjaga jarak dengannya untuk sementara. Ia juga sudah muak dengan sikap dan kelakuan Laura.


Dan baru saja berjalan beberapa langkah, ada dua orang yang membekap Aya dari belakang dengan sapu tangan penuh obat tidur. Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Aya tak sadarkan diri dan diseret oleh dua orang asing itu. Sayangnya lagi dia masih berada di luar sekolah, sehingga tak ada cctv yang bisa menjangkau dirinya.


Dan hari itu, Aya kembali diculik. Ia dibawa ke sebuah gudang yang penuh dengan kayu bakar dan material bangunan lain. Aya belum sadarkan diri selama lima jam. Dan ketika dia sudah membuka kedua matanya, yang pertama kali ia rasakan adalah kaki dan tangannya yang sakit karena diikat. Mulutnya juga disumpal, matanya pun tidak bisa melihat karena ditutup dengan kain.


Dan satu suara yang muncul di dekatnya saat itu, begitu asing baginya. Sempat terbersit bahwa Arka yang melakukan semua ini, tapi suara orang yang mendekatinya sama sekali tak ia kenal. Suara itu semakin dekat dengan dirinya. Ia juga merasakan tangan orang itu menyentuh area terlarangnya. Dalam hati Aya sangat ketakutan dan overthingking.


“Siapa lo?” teriak Aya.


Orang itu hanya tertawa keras hingga memenuhi ruangan gudang itu. Dia sempat menjauh tapi dengan lancang ia kembali mendekat sambil menciumi Aya.


“Lepasin!” teriak Aya histeris dan berusaha berontak.


“Tenang baby! Kau aman bersamaku” kata orang misterius itu.