Our High School

Our High School
Keputusan



Aya terbangun dalam sebuah ruangan yang asing baginya. Ruangan bernuansa biru itu penuh dengan foto-foto Daffin dari berbagai angle . Otak Aya langsung mengetahui kamar siapa itu.


Ia juga melihat Daffin dan Nona yang duduk sedikit jauh darinya. Meskipun lirih, Aya dapat mendengar suara Daffin dan Nona yang tengah membicarakan dirinya.


“Apa yang harus kita lakukan, Fin?” tanya Nona.


“Kita harus menemukan Arka dan minta penjelasan darinya” jawab Daffin memelankan suaranya.


Tiba-tiba mata Aya menerawang menembus langit-langit kamar itu. Dia kembali mengingat sesaat sebelum dirinya tak sadarkan diri. Ia mulai meneteskan air matanya. Suara isakan tangis yang awalnya ia tahan pun akhirnya mulai terdengar hingga menarik perhatian Daffin dan Nona.


“Ay, kamu udah bangun? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Daffin sambil menghampiri Aya.


Aya mulai bangun dari tempat tidur dan menerima air minum pemberian Nona.


Setelah menenangkan diri dan menghentikan isak tangisnya, Aya mulai bertanya pada Daffin dan Nona mengenai foto yang mereka lihat semalam.


“Apa kalian bisa jelaskan padaku apa yang terjadi? Apa maksud dari foto itu?”


Daffin dan Nona saling melempar pandang, dan memutuskan untuk menjawab pertanyaan Aya.


Ia menceritakan bahwa Nona mendapatkan foto itu dari anak buah Benny. Mereka mengatakan ketiga orang itu bukan anak buah Benny yang sesungguhnya. Mereka adalah anak buah dari kelompok preman lain yang sudah lama menjadi rival Benny dalam dunia jual beli obat terlarang.


Mereka menyusup di kelompok Benny untuk mencari tahu kelemahan mereka. Di tengah jalan saat rencana itu berlangsung, Arka secara kebetulan bertemu dengan mereka dan mulai bergaul dengan orang-orang itu.


Saat Arka merasakan kecemburuannya pada Daffin dan Aya sudah mencapai batasnya, ia meminta ketiga orang itu untuk ‘mengerjai’ Aya. Dan memang benar, mereka langsung mengikuti Aya hingga ke toko kuenya waktu itu.


“Lalu dari mana kalian tahu soal ini?”


“Ada teman dia di kelompok itu dan mengenal tiga orang itu” jawab Daffin.


Aya terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.


“Lalu soal ayahku?”


“Kami belum tahu pasti soal itu, Ay” sahut Nona.


“Kamu tenang aja, aku sama Nona akan mencari tahu soal ini” ujar Daffin sambil mengelus pipi aya yang basah dengan air matanya.


Aya hanya menarik napas dan menghembuskannya pasrah. Ia pun bangkit dari tempat tidur Nona dan bergegas keluar dari kamar itu. Daffin mengikutinya setelah memberi kode pada Nona untuk meneleponnya nanti. Nona pun mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan Daffin sebelum Aya terbangun.


Ia menelepon seseorang dan menyuruhnya mencari tahu soal keberadaan Arka. Nona menyuruh orang suruhanya itu untuk mencari anak yang dicari Daffin ketika berada di atap bersama Aya. Anak yang mengatakan sesuatu soal Arka. Anak yang Daffin tak tahu wajahnya seperti apa karena kehilangan jejaknya.


Daffin menyuruhnya memeriksa cctv yang ada di sekitar tangga menuju atap. Ia membodohkan dirinya sendiri saat tidak terpikirkan cara tersebut.


“Lo cari anak yang turun dari atap di tanggal dan jam itu. Kabari gue kalau udah dapet!” ucap Nona sambil menutup teleponnya.


***


Aya berubah menjadi pendiam setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Ia lebih banyak berdiam diri di suatu tempat seperti taman atau tempat sepi yang ada di sekolah.


Bahkan ia juga menjaga jarak dengan Daffin. Sudah tiga hari ia tidak menghubungi Daffin atau menerima telepon darinya. Ia juga tidak membalas satu pun pesan yang dikirimkan Daffin padanya.


Ia benar-benar tidak menghiraukan lagi semua masalah yang terjadi padanya selama beberapa bulan terakhir. Yang dia lakukan hanyalah berangkat sekolah dan pulang langsung menuju rumahnya. Kegiatan lainnya pun hanya ia lakukan dengan pergi ke toko kuenya untuk bekerja seperti biasa menggantikan adik dan ibunya.


Hari itu seperti biasa giliran dirinya yang menggantikan sang adik di toko. Ponselnya terus berbunyi karena Daffin terus meneleponnya.


Haira memperhatikan kakaknya yang terus mengabaikan panggilan itu. Ia bisa melihat ada sesuatu yang aneh dengan kakaknya.


“Kamu nggak angkat telepon dari Kak Daffin? Kalian berantem?” tanya Haira.


“Enggak” jawab Aya pendek sambil terus mengerjakan pekerjaannya.


Aya mendengar lonceng pintu tanda ada orang yang masuk, ia pun segera keluar dari dalam dapur untuk menyambut pelanggan tersebut.


Namun yang ia lihat adalah dua orang yang tampak mencurigakan sedang berdiri di depan pintu masuk tokonya. Mereka menghadang pintu seperti tidak akan membiarkan Aya keluar melewatinya. Mereka terlihat masih seumuran atau hanya berjarak sedikit dengan usianya.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Aya sopan.


“Apa kau yang namanya Aya?” tanya salah seorang dari dua orang itu.


“Iya, kau siapa?”


“Jadi kamu yang nolak Arka dan malah pacaran sama Daffin?”


Aya mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengenal anak-anak ini, tapi mereka bahkan mengetahui hal itu.


“Kalian siapa?” seru Aya mulai ketakutan begitu mendengar nama Arka disebut.


Mereka tidak menjawab pertanyaan itu dan justru mendekati Aya dengan sigap. Mereka berusaha menarik Aya untuk membawanya keluar dari tempat itu. Aya berusaha berontak dan teriak tapi sedang tidak ada orang lain di toko kuenya.


Aya masih terus berusaha melepaskan diri dari anak-anak itu. Namun dirinya tak sekuat mereka hingga akhirnya malah dia terseret sampai ke luar toko.


Ia begitu ketakutan melihat mereka akan membawanya. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Ia kembali berteriak tapi anak-anak itu malah membekap mulutnya.


Namun beberapa saat setelahnya, terdengar suara kaki yang berlari dan meneriakkan namanya. Aya dan anak-anak itu spontan menoleh untuk melihat siapa orang tersebut.


Aya melihat Daffin berlari ke arah anak-anak itu dan menendang mereka hingga tersungkur ke tanah. Daffin juga langsung menarik tangan Aya dan melarikan diri. Anak-anak itu juga mengejar Daffin dan Aya. Mereka berlari mengitari komplek bahkan hingga keluar dari jalan besar.


Mereka berdua bisa terlepas dari anak-anak itu setelah masuk ke dalam sebuah gang kecil tempat dulu Daffin dan Haira bertemu.


Aya melepas genggaman tangan Daffin setelah melihat keadaan sudah sedikit aman. Namun dengan sigap Daffin kembali meraih tangannya dan memeluknya erat.


“Diamlah sebentar! Aku kangen sama kamu” ucap Daffin.


Aya yang tadinya berusaha melepas pelukan Daffin, kini membiarkan laki-laki itu memeluknya lebih erat.


“Kenapa kamu ngindarin aku selama ini?” tanya Daffin.


“Pengen aja”


Daffin terkejut dengan jawaban Aya. Ia melepas pelukannya dan memandang wajah gadis itu dengan penuh tanda tanya. Begitu pun dengan Aya yang menatapnya dengan wajah datar.


“Apa maksud kamu?” tanya Daffin.


“Aku mau kita putus” jawab Aya.